Karya Tulis
22 Hits

Doa Agar Kehormatan Terjaga


Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu,

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, 
أنَّ النبيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يقول  : اللّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى
“Bahwasanya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa  berdoa :"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, terjaga (dari perbuatan yang merusak kehormatan) dan kekayaan." (HR. Muslim)
Pelajaran dari Hadits di atas:
Pelajaran Pertama: Selalu Berdoa
)كان يقول( “Beliau selalu berdoa” 
Di dalamnya terdapat kata kerja lampu (past tense) yang diikuti dengan kata kerja sekarang (present tense) menunjukkan suatu perbuatan yang dikerjakan secara terus menerus (continues). Artinya beliau melantunkan doa secara terus menerus, tidak hanya sekali saja. Ini sesuai dengan hadist ‘Aisyah radhiyallahu 'anha, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ قَالَ وَكَانَتْ عَائِشَةُ إِذَا عَمِلَتْ الْعَمَلَ لَزِمَتْهُ 
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus (dilakukan) meskipun sedikit.” Al-Qasim berkata, “‘Aisyah, bila beliau mengerjakan suatu amalan, maka beliau mengerjakannya secara kontinyu.” (HR. Muslim)
Pelajaran Kedua: Aku Memohon Kepada-Mu
)إِنِّيْ أَسْأَلُك( “Aku Memohon kepada-Mu”
Hal ini menunjukkan bahwa beliau senantiasa memohon kepada Allah untuk membantu dalam setiap urusannya, baik urusan dunia maupun Akhirat. Inilah inti dari ibadah kepada Allah, yaitu seorang hamba merasa dirinya adalah makhluk yang lemah, tidak mempunyai daya dan kekuatan apapun di dunia ini, maka dia akan selalu meminta pertolongan kepada Dzat Yang Maha Kuasa, yaitu Allah subhanahu wa ta'ala. 
Pelajaran Ketiga: Doa Mengandung Empat Hal
Doa di atas mengandung empat hal penting yang dibutuhkan setiap muslim di dalam hidupnya. Keterangannya sebagai berikut:
Pertama: Petunjuk (الْهُدَى)
Diantara empat hal yang diminta Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kepada Allah, maka yang paling penting bagi seorang muslim adalah meminta petunjuk. 
Untuk mendapatkan petunjuk dari Allah, tidak ada jalan lain, kecuali melalui ajaran nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Oleh karenanya, setiap muslim diperintahkan untuk mempelajari hadist-hadits Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, agar mengetahui petunjuk yang ada di dalamnya. 
Secara umum hidayah bisa dibagi menjadi dua: (1) Hidayatu al-Irsyad atau Hidayatu al-Bayan. (2) Hidayatu at-Taufiq. Masing-masing akan diterangkan di bawah ini secara singkat;
(1). Hidayatu al-Irsyad atau Hidayatu al-Bayan atau al-Hidayah al-‘Amah adalah petunjuk menuju suatu jalan. Sebagai contoh, jika seseorang tersesat di jalan, dan tidak tahu ke mana harus melangkah, maka dia diperintahkan untuk bertanya kepada orang yang mengetahui jalannya. Orang yang mengetahui jalan dan mampu menunjukkan orang yang tersesat tersebut dikatakan orang yang bisa memberi petunjuk (Hidayatu al-Irsyad). 
Oleh karena itu, hidayah dalam bentuk ini, bisa dilakukan oleh siapa saja, yang penting dia mengetahui ilmunya. Tanpa ilmu maka tidak mungkin dia bisa memberikan petunjuk kepada orang lain. Di dalam pepatah Arab disebutkan, 
فاقد الشيء لا يعطيه 
“Orang yang tidak memiliki sesuatu itu, tidak akan bisa memberinya kepada orang lain.”
Hidayatu al-Irsyad inilah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau mempunyai ilmu tentang Islam yang beliau dapatkan dari Allah melalui wahyu, maka beliau mengajarkannya kepada orang lain. Inilah yang dimaksud di dalam firman Allah,  
وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ 
“Dan sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (Qs. asy-Syura: 52)
Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri juga membutuhkan hidayah dalam bentuk ini. Dahulu beliau adalah orang yang tidak mengetahui ilmu dan al-Qur’an, kemudian Allah memberikan Hidayatu al-Irsyad dengan mengajarkannya al-Qur’an. Ini sebagaimana di dalam firman-Nya, 
كَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (al-Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah al-Kitab (al-Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan al-Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (Qs. asy-Syura: 52)
Juga sesuai dengan firman-Nya, 
أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَى (6) وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَى (7) وَوَجَدَكَ عَائِلًا فَأَغْنَى (8)
“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu? Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.” (Qs. adh-Dhuha: 6-8)
(2). Hidayatu at-Taufiq atau al-Hidayah al-Khassah adalah petunjuk dengan cara menggerakan hati seseorang agar dia berjalan pada jalan yang lurus, sebagaimana dikehendaki oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Hidayah dalam bentuk ini hanya dimiliki Allah saja, tidak satu pun dari manusia yang sanggup melakukannya, bahkan seorang Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam sekalipun tidak sanggup memberikan hidayah kepada pamannya Abu Thalib, sebagaimana firman Allah,  
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ 
“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. (Qs al-Qashshash: 56)
Sebelumnya, Nabi Nuh tidak sanggup memberikan hidayah kepada anaknya, sebagaimana firman Allah, 
وَهِيَ تَجْرِي بِهِمْ فِي مَوْجٍ كَالْجِبَالِ وَنَادَى نُوحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يَا بُنَيَّ ارْكَبْ مَعَنَا وَلَا تَكُنْ مَعَ الْكَافِرِينَ (42) قَالَ سَآوِي إِلَى جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ قَالَ لَا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِلَّا مَنْ رَحِمَ وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِينَ (43)
”Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: ‘Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.’ Anaknya menjawab: ‘Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!’ Nuh berkata: ‘Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang.’ Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan. (Qs. Hud: 42-43)
Nabi Nuh dan Nabi Luth tidak sanggup memberikan hidayah kepada istrinya, sebagaimana di dalam firman-Nya, 
ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ كَفَرُوا امْرَأَتَ نُوحٍ وَامْرَأَتَ لُوطٍ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَقِيلَ ادْخُلَا النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِينَ 
“Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): "Masuklah ke dalam Jahannam bersama orang-orang yang masuk (Jahannam)." (Qs. at-Tahrim: 10)
Syekh al-‘Utsaimin di dalam salah satu ceramahnya menyebutkan bahwa (al-Huda) jika disebut secara sendiri, maka mencakup dua macam hidayah yang diterangkan di atas. Tetapi jika ada keterangan di belakangnya, maka maknanya akan mengikuti keterangan tersebut apakah masuk dalam Hidayatu al-Irsyad, atau Hidayatu at-Taufiq. 
Kedua: Ketakwaan (التُّقَى)
Lafazh (at-Tuqa) adalah istilah lain dari at-takwa, berasal dari waqa-yaqi-wiqayatan yang artinya menjaga dari sesuatu, sebagaimana firman-Nya, 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ 
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (Qs. at-Tahrim: 6)
Juga sebagaimana di dalam hadist ‘Adi bin Hatim radhiyallahu 'anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 
فَاتَّقُوْا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ، فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ
“Maka berlindunglah kalian dari api neraka, walaupun dengan separuh kurma. Barang siapa tidak memilikinya maka hendaklah dengan kata-kata yang baik”. (HR. al-Bukhari)
Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu ditanya tentang pengertian takwa, maka beliau berkata kepada yang bertanya: ”Apakah anda pernah berjalan di jalan yang penuh dengan duri? Dia menjawab “Iya”. Beliau pun bertanya lagi: ”Apa yang engkau kerjakan (ketika melewatinya)? Dia menjawab: “Aku akan berhati-hati melewatinya supaya tidak terkena duri.” Maka Abu Hurairah berkata: “Itulah hakikat takwa.”
Berkata Ibnu al-Mu’taz:
خَلِّ الذنــوبَ صَــغيــرَها  … كَبيــــــرَها ذاكَ التُقى واصنَع كَمَاشٍ فوقَ أر 
 ضِ الشَـوك يَحْــذرُ مــــا يــَـرى لا تحقِرنَّ صغيـــــــــرةً  …   إنَّ الجِبـــالَ مِن الحَصــى
“Tinggalkan dosa kecil dan besar, itulah ketakwaan, dan berbuatlah seperti orang yang berjalan di atas jalan yang berduri, berhati-hati terhadap yang dia lihat. Maka jangan meremehkan dosa kecil, sesungguhnya gunung itu berasal dari kerikil (yang kecil).”
Adapun ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menyebutkan pengertian takwa sebagai berikut
الخوف من الجليل و العمل بالتنزيل و الرضا بالقليل و الاستعداد ليوم الرحيل
“Takut kepada Allah Yang Maha Agung, mengamalkan al-Qur’an yang diturunkan, ridha dengan sesuatu yang sedikit, persiapan untuk hari kepergian (ke Akhirat).” 
Pengertian takwa yang disampaikan ‘Ali bin Thalib di atas menggambarkan bahwa inti dari takwa adalah rasa takut kepada Allah dan membentengi diri dari siksa-Nya. 
Syekh Shalih al-Maghamisi di dalam salah satu ceramahnya menyebutkan bahwa (al-Huda) adalah ilmu yang bermanfaat, sedangkan (at-Tuqa) adalah amal sholeh. 
Ketiga: Kehormatan (الْعَفَاف)
(Al-‘Afaf) artinya adalah menahan diri dari hal yang tidak pantas, baik berupa perkataan, maupun perbuatan. 
Dalam hadits di atas, lafazh (al-‘Afaf) disebutkan setelah (at-Tuqa) adalah penyebutan dari suatu yang umum, yaitu ketakwaan (at-Tuqa) kepada suatu yang khusus, yaitu penjagan diri (al-‘Afaf). Karena makna takwa adalah melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan, sedangkan makna al-‘Afaf adalah menjaga diri dari apa yang larang oleh Allah. 
Kata (al-‘Afaf) tersebut juga di dalam firman Allah,  
وَلْيَسْتَعْفِفِ الَّذِينَ لَا يَجِدُونَ نِكَاحًا حَتَّى يُغْنِيَهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ 
“Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya.” (Qs an-Nur: 33)
(Wal-Yasta’fif) pada ayat di atas diartikan menahan diri dari perbuatan maksiat, seperti pacaran dan perzinaan dengan cara berpuasa dan tidak memandang yang haram jika belum mampu menikah sampai Allah memberikan kemampuan kepadanya. 
Juga di dalam firman Allah, 
وَمَنْ كَانَ غَنِيًّا فَلْيَسْتَعْفِفْ وَمَنْ كَانَ فَقِيرًا فَلْيَأْكُلْ بِالْمَعْرُوفِ
“Barang siapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barang siapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut.” (Qs. an-Nisa: 6) 
Kata (al-‘Afaf) juga disebutkan di dalam hadis Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu 'anhu, 
إِنَّ نَاسًا مِنْ الْأَنْصَارِ سَأَلُوا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَعْطَاهُمْ ثُمَّ سَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ ثُمَّ سَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ حَتَّى نَفِدَ مَا عِنْدَهُ فَقَالَ : ( مَا يَكُونُ عِنْدِي مِنْ خَيْرٍ فَلَنْ أَدَّخِرَهُ عَنْكُمْ ، وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ ، وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ ، وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنْ الصَّبْرِ 
“Bahwasanya sekelompok orang Anshar meminta sesuatu kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, maka beliau memberinya, kemudian mereka memintanya lagi, maka beliau pun memberinya, kemudian mereka memintanya lagi, maka beliau pun memberinya lagi, sehingga habislah yang ada pada beliau. Kemudian beliau bersabda, ‘Harta apapun yang saya miliki, tidaklah saya simpan dari kalian. Barang siapa yang menahan diri untuk tidak meminta-minta, maka Allah akan menjaga kehormatannya dan memenuhi kebutuhannya. Barang siapa yang merasa kaya, maka Allah akan memperkaya dirinya. Barang siapa yang melatih diri untuk bersabar, maka Allah akan memberikan kesabaran kepadanya. Tidaklah seseorang diberi sesuatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas dari pada kesabaran’.” (HR. al-Bukhari dan Muslim) 
Menurut al-Qari di dalam Mirqah al-Mafatih (4/1311) bahwa (yasta’fif) dalam hadits di atas adalah menahan diri untuk tidak meminta-minta. 
Adapun makna (Yu’iffahu Allahu) menurut Ibnu ath-Thin di dalam Fathu al-Bari (11/304) adalah: “Akan dicukupkan rezekinya oleh Allah, atau akan diberi sifat al-Qana’ah” 
Manfaat (al-‘Afaf) 
Dari perkataam para ulama di atas bisa disimpulkan bahwa manfaat (al-‘Afaf) adalah; (1) Dijaga kehormatannya oleh Allah (2). Diberikan kecukupan rezeki oleh Allah (3). Diberi sifat al-Qana’ah di dalam dirinya (4). Jika dia menjaga diri dari para wanita, maka akan dimudahkan urusan pernikahannya dan menjaganya dari fitnah wanita.
Bentuk-bentuk al-‘Afaf
Al-‘Afaf atau al-‘Iffah mempunyai beberapa bentuk, diantaranya adalah sebagai berikut;
(1). ‘Iffatu al-Jawarih, yaitu menjaga anggota badannya, seperti tangan, kaki, mata, telinga dan kemaluannya dari perbuatan haram
(2). Al-‘Iffah fi Kasbi al-Mal, yaitu menjaga diri dari meminta-minta kepada manusia dan menghindari dari pekerjaan yang haram. 
(3). Al-‘Iffah ‘An Wuqu’ fi al-Fahisyah, yaitu menjaga diri dari terjerumus dalam perzinaan dan tidak mendekatinya serta tidak melihat hal-hal yang menyebabkan hawa nafsunya bergelora. 
Keempat: Kekayaan (الْغِنَى)
Yang dimaksud ‘kekayaan’ di sini adalah kekayaan hati. Yaitu hati yang tidak membutuhkan seseorang kecuali hanya kepada Allah subhanahu wa ta'ala saja. Maka, didapatkan orang yang kaya hatinya, dia tidak mudah tergiur dengan kekayaan yang dimiliki orang lain, tidak pula ingin merebutnya tanpa hak. Orang seperti ini bisa masuk dalam katagori ‘qana’ah’, yaitu puas dengan apa yang Allah berikan kepadanya. 
Banyak ayat dan hadits yang menjelaskan tentang qana’ah (kaya hati) diantaranya: 
(1) Firman Allah subhanahu wa ta'ala, 
وَلا تَمُدَّنَ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجاً مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَى
“Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya.  Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal.” (Qs. Taha: 131) 
(2) Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadist Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu,
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
 “Kekayaan bukanlah karena banyaknya harta, melainkan kayanya jiwa.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
    (3) Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits ‘Abdullah bin ‘Amru radhiyallahu 'anhu,
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ
  “Telah sukses orang yang masuk Islam dan diberi rezeki yang cukup serta merasa puas dengan pemberian Allah.” (HR. Muslim) 
    (4). Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu,
انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ, وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ, فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اَللَّهِ عَلَيْكُمْ 
“Lihatlah orang yang di bawah kalian dan janganlah melihat orang di atas kalian, karena yang demikian itu lebih layak bagi kalian agar kalian tidak memandang hina nikmat Allah yang dilimpahkan kepada kalian.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
    (5) Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu,
وَارْضَ بِمَا قَسَمَ اللَّهُ لَكَ تَكُنْ أَغْنَى النَّاسِ 
“Ridhalah terhadap segala sesuatu yang Allah berikan kepadamu, niscaya kamu akan menjadi orang yang paling kaya.” (HR. at-Tirmidzi)
    (6) Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits ‘Ubaidillah bin Muhshan radhiyallahu 'anhu,
مَنْ أصْبَحَ مِنْكُمْ آمِناً في سربِهِ ، مُعَافَىً في جَسَدِهِ ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ ، فَكَأنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا بِحَذَافِيرِهَا 
“Barang siapa yang pagi harinya merasa aman di tempat tinggalnya, sehat badannya, memiliki makanan hari itu, seolah dia telah mendapatkan kekayaan dunia.” (HR. at-Tirmidzi)
(7) Sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kepada Abu Dzar radhiyallahu 'anhu:
يَا أَبَا ذَرٍّ , أَتَرَى كَثْرَةَ الْمَالِ هِيَ الْغِنَى ؟ " , قَالَ: قُلْتُ: نَعَمْ يَا رَسُولَ اللهِ هِيَ الْغِنَى . قَالَ: " وَتَرَى أَنَّ قِلَّةَ الْمَالِ هِيَ الْفَقْرُ ؟ " , قَالَ: قُلْتُ: نَعَمْ يَا رَسُولَ اللهِ هِيَ الْفَقْرُ . قَالَ: " لَيْسَ كَذَلِكَ , إِنَّمَا الْغِنَى غِنَى الْقَلْبِ , وَالْفَقْرُ فَقْرُ الْقَلْبِ
“Wahai Abu Dzar, apakah engkau memandang bahwa banyaknya harta itulah yang disebut kaya?”  Berkata Abu Dzar: “Betul, wahai Rasulullah”. Beliau bertanya lagi, “Apakah engkau memandang bahwa sedikitnya harta itu berarti fakir?” Berkata Abu Dzar: “Betul, wahai Rasulullah.” Lantas beliau pun bersabda, “Sesungguhnya yang disebut kaya adalah kayanya hati. Sedangkan fakir adalah fakirnya hati.” (HR. Ibnu Hibban)
Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Atsqalani di dalam Fathu al-Bari (11/272) berkata: “Ringkasnya, bahwa orang yang mempunyai sifat kaya hati, akan selalu puas dengan apa yang diberikan Allah kepadanya, tidak berkeinginan menambah sesuatu tanpa ada keperluan, begitu juga tidak akan memaksakan diri  di dalam mencari (harta) dan tidak pula di dalam memintanya. Tetapi justru dia ridha dengan apa yang sudah dibagikan Allah, seakan-akan dia mempunyai (harta) terus. Sebaliknya orang yang mempunyai sifat miskin jiwa, dia tidak puas dengan apa yang diberikan kepadanya, tetapi justru selalu mencari tambahan dari mana saja yang memungkinkan. Kemudian jika tidak mendapatkan apa yang dia cari, dia akan sedih seakan-akan dia orang yang tidak mempunyai harta.”
Kesimpulan 
Doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di atas termasuk doa-doa yang terbaik dan utama, karena di dalamnya mengandung permohonan kepada Allah tentang empat hal yang bermanfaat bagi kehidupan seorang muslim di dunia dan akhirat. 
Berkata Syekh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di di dalam Bahjatu Qulubi al-Abrar (249), “Doa di atas termasuk salah satu doa yang paling mencakup dan paling bermanfaat, karena mengandung permintaan kebaikan dunia dan akhirat. Adapun (Al-Huda) adalah ilmu yang bermanfaat, da (at-Tuqa) adalah amal shalih serta meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Dengan keduanya agama ini menjadi baik. Karena agama ini berisi dua hal; (1) ilmu-ilmu yang bermanfaat dan pengetahuan-pengetahuan yang mengandung kebenaran. Ini tercakup dalam (al-Huda). (2). Melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya. Ini tercakup di dalam (at-Tuqa). Adapun (al-‘Afaf) adalah menahan diri dari meminta kepada makhluk serta tidak tergantung kepada mereka. Sedangkan (al-Ghina) adalah merasa kaya dengan rezeki Allah dan merasa cukup serta merasa tenang hatinya dengannya. Dengan itu semua, sempurnalah kebahagiaan hidup di dunia, dan hatinya menjadi tentram. Inilah hakikat kehidupan yang baik, al-Hayatu at-Tayyibah. Oleh karenanya, siapa saja yang diberikan al-Huda, at-Tuqa, al-‘Afaf dan al-Ghina, maka dia telah mencapai kebahagiaan (dunia dan akhirat), serta mendapatkan segala yang diinginkan dan selamat dari yang dikhawatirkan.”
Wallahu A’lam.Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, 

أنَّ النبيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يقول  : اللّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى

“Bahwasanya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa  berdoa :"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, terjaga (dari perbuatan yang merusak kehormatan) dan kekayaan." (HR. Muslim)


Pelajaran dari Hadits di atas:

Pelajaran Pertama: Selalu Berdoa

)كان يقول( “Beliau selalu berdoa” 

Di dalamnya terdapat kata kerja lampu (past tense) yang diikuti dengan kata kerja sekarang (present tense) menunjukkan suatu perbuatan yang dikerjakan secara terus menerus (continues). Artinya beliau melantunkan doa secara terus menerus, tidak hanya sekali saja. Ini sesuai dengan hadist ‘Aisyah radhiyallahu 'anha, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ قَالَ وَكَانَتْ عَائِشَةُ إِذَا عَمِلَتْ الْعَمَلَ لَزِمَتْهُ 

“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus (dilakukan) meskipun sedikit.” Al-Qasim berkata, “‘Aisyah, bila beliau mengerjakan suatu amalan, maka beliau mengerjakannya secara kontinyu.” (HR. Muslim)

Pelajaran Kedua: Aku Memohon Kepada-Mu

)إِنِّيْ أَسْأَلُك( “Aku Memohon kepada-Mu”

Hal ini menunjukkan bahwa beliau senantiasa memohon kepada Allah untuk membantu dalam setiap urusannya, baik urusan dunia maupun Akhirat. Inilah inti dari ibadah kepada Allah, yaitu seorang hamba merasa dirinya adalah makhluk yang lemah, tidak mempunyai daya dan kekuatan apapun di dunia ini, maka dia akan selalu meminta pertolongan kepada Dzat Yang Maha Kuasa, yaitu Allah subhanahu wa ta'ala. 

Pelajaran Ketiga: Doa Mengandung Empat Hal

Doa di atas mengandung empat hal penting yang dibutuhkan setiap muslim di dalam hidupnya. Keterangannya sebagai berikut:

Pertama: Petunjuk (الْهُدَى)

Diantara empat hal yang diminta Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kepada Allah, maka yang paling penting bagi seorang muslim adalah meminta petunjuk. 

Untuk mendapatkan petunjuk dari Allah, tidak ada jalan lain, kecuali melalui ajaran nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Oleh karenanya, setiap muslim diperintahkan untuk mempelajari hadist-hadits Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, agar mengetahui petunjuk yang ada di dalamnya. 

Secara umum hidayah bisa dibagi menjadi dua: (1) Hidayatu al-Irsyad atau Hidayatu al-Bayan. (2) Hidayatu at-Taufiq. Masing-masing akan diterangkan di bawah ini secara singkat;

(1). Hidayatu al-Irsyad atau Hidayatu al-Bayan atau al-Hidayah al-‘Amah adalah petunjuk menuju suatu jalan. Sebagai contoh, jika seseorang tersesat di jalan, dan tidak tahu ke mana harus melangkah, maka dia diperintahkan untuk bertanya kepada orang yang mengetahui jalannya. Orang yang mengetahui jalan dan mampu menunjukkan orang yang tersesat tersebut dikatakan orang yang bisa memberi petunjuk (Hidayatu al-Irsyad). 

Oleh karena itu, hidayah dalam bentuk ini, bisa dilakukan oleh siapa saja, yang penting dia mengetahui ilmunya. Tanpa ilmu maka tidak mungkin dia bisa memberikan petunjuk kepada orang lain. Di dalam pepatah Arab disebutkan, 

فاقد الشيء لا يعطيه 

“Orang yang tidak memiliki sesuatu itu, tidak akan bisa memberinya kepada orang lain.”

Hidayatu al-Irsyad inilah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau mempunyai ilmu tentang Islam yang beliau dapatkan dari Allah melalui wahyu, maka beliau mengajarkannya kepada orang lain. Inilah yang dimaksud di dalam firman Allah,  

وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ 

“Dan sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (Qs. asy-Syura: 52)

Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri juga membutuhkan hidayah dalam bentuk ini. Dahulu beliau adalah orang yang tidak mengetahui ilmu dan al-Qur’an, kemudian Allah memberikan Hidayatu al-Irsyad dengan mengajarkannya al-Qur’an. Ini sebagaimana di dalam firman-Nya, 

كَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (al-Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah al-Kitab (al-Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan al-Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (Qs. asy-Syura: 52)

Juga sesuai dengan firman-Nya, 

أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَى (6) وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَى (7) وَوَجَدَكَ عَائِلًا فَأَغْنَى (8)

“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu? Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.” (Qs. adh-Dhuha: 6-8)

(2). Hidayatu at-Taufiq atau al-Hidayah al-Khassah adalah petunjuk dengan cara menggerakan hati seseorang agar dia berjalan pada jalan yang lurus, sebagaimana dikehendaki oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Hidayah dalam bentuk ini hanya dimiliki Allah saja, tidak satu pun dari manusia yang sanggup melakukannya, bahkan seorang Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam sekalipun tidak sanggup memberikan hidayah kepada pamannya Abu Thalib, sebagaimana firman Allah,  

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ 

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. (Qs al-Qashshash: 56)

Sebelumnya, Nabi Nuh tidak sanggup memberikan hidayah kepada anaknya, sebagaimana firman Allah, 

وَهِيَ تَجْرِي بِهِمْ فِي مَوْجٍ كَالْجِبَالِ وَنَادَى نُوحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يَا بُنَيَّ ارْكَبْ مَعَنَا وَلَا تَكُنْ مَعَ الْكَافِرِينَ (42) قَالَ سَآوِي إِلَى جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ قَالَ لَا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِلَّا مَنْ رَحِمَ وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِينَ (43)

”Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: ‘Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.’ Anaknya menjawab: ‘Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!’ Nuh berkata: ‘Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang.’ Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan. (Qs. Hud: 42-43)

Nabi Nuh dan Nabi Luth tidak sanggup memberikan hidayah kepada istrinya, sebagaimana di dalam firman-Nya, 

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ كَفَرُوا امْرَأَتَ نُوحٍ وَامْرَأَتَ لُوطٍ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَقِيلَ ادْخُلَا النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِينَ 


“Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): "Masuklah ke dalam Jahannam bersama orang-orang yang masuk (Jahannam)." (Qs. at-Tahrim: 10)

Syekh al-‘Utsaimin di dalam salah satu ceramahnya menyebutkan bahwa (al-Huda) jika disebut secara sendiri, maka mencakup dua macam hidayah yang diterangkan di atas. Tetapi jika ada keterangan di belakangnya, maka maknanya akan mengikuti keterangan tersebut apakah masuk dalam Hidayatu al-Irsyad, atau Hidayatu at-Taufiq. 

Kedua: Ketakwaan (التُّقَى)

Lafazh (at-Tuqa) adalah istilah lain dari at-takwa, berasal dari waqa-yaqi-wiqayatan yang artinya menjaga dari sesuatu, sebagaimana firman-Nya, 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ 


“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (Qs. at-Tahrim: 6)

Juga sebagaimana di dalam hadist ‘Adi bin Hatim radhiyallahu 'anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 

فَاتَّقُوْا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ، فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ

“Maka berlindunglah kalian dari api neraka, walaupun dengan separuh kurma. Barang siapa tidak memilikinya maka hendaklah dengan kata-kata yang baik”. (HR. al-Bukhari)

Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu ditanya tentang pengertian takwa, maka beliau berkata kepada yang bertanya: ”Apakah anda pernah berjalan di jalan yang penuh dengan duri? Dia menjawab “Iya”. Beliau pun bertanya lagi: ”Apa yang engkau kerjakan (ketika melewatinya)? Dia menjawab: “Aku akan berhati-hati melewatinya supaya tidak terkena duri.” Maka Abu Hurairah berkata: “Itulah hakikat takwa.”

Berkata Ibnu al-Mu’taz:

خَلِّ الذنــوبَ صَــغيــرَها  … كَبيــــــرَها ذاكَ التُقى واصنَع كَمَاشٍ فوقَ أر 

 ضِ الشَـوك يَحْــذرُ مــــا يــَـرى لا تحقِرنَّ صغيـــــــــرةً  …   إنَّ الجِبـــالَ مِن الحَصــى

“Tinggalkan dosa kecil dan besar, itulah ketakwaan, dan berbuatlah seperti orang yang berjalan di atas jalan yang berduri, berhati-hati terhadap yang dia lihat. Maka jangan meremehkan dosa kecil, sesungguhnya gunung itu berasal dari kerikil (yang kecil).”

Adapun ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menyebutkan pengertian takwa sebagai berikut

الخوف من الجليل و العمل بالتنزيل و الرضا بالقليل و الاستعداد ليوم الرحيل

“Takut kepada Allah Yang Maha Agung, mengamalkan al-Qur’an yang diturunkan, ridha dengan sesuatu yang sedikit, persiapan untuk hari kepergian (ke Akhirat).” 

Pengertian takwa yang disampaikan ‘Ali bin Thalib di atas menggambarkan bahwa inti dari takwa adalah rasa takut kepada Allah dan membentengi diri dari siksa-Nya. 

Syekh Shalih al-Maghamisi di dalam salah satu ceramahnya menyebutkan bahwa (al-Huda) adalah ilmu yang bermanfaat, sedangkan (at-Tuqa) adalah amal sholeh. 

Ketiga: Kehormatan (الْعَفَاف)

(Al-‘Afaf) artinya adalah menahan diri dari hal yang tidak pantas, baik berupa perkataan, maupun perbuatan. 

Dalam hadits di atas, lafazh (al-‘Afaf) disebutkan setelah (at-Tuqa) adalah penyebutan dari suatu yang umum, yaitu ketakwaan (at-Tuqa) kepada suatu yang khusus, yaitu penjagan diri (al-‘Afaf). Karena makna takwa adalah melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan, sedangkan makna al-‘Afaf adalah menjaga diri dari apa yang larang oleh Allah. 

Kata (al-‘Afaf) tersebut juga di dalam firman Allah,  

وَلْيَسْتَعْفِفِ الَّذِينَ لَا يَجِدُونَ نِكَاحًا حَتَّى يُغْنِيَهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ 

“Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya.” (Qs an-Nur: 33)

(Wal-Yasta’fif) pada ayat di atas diartikan menahan diri dari perbuatan maksiat, seperti pacaran dan perzinaan dengan cara berpuasa dan tidak memandang yang haram jika belum mampu menikah sampai Allah memberikan kemampuan kepadanya. 

Juga di dalam firman Allah, 

وَمَنْ كَانَ غَنِيًّا فَلْيَسْتَعْفِفْ وَمَنْ كَانَ فَقِيرًا فَلْيَأْكُلْ بِالْمَعْرُوفِ

“Barang siapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barang siapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut.” (Qs. an-Nisa: 6) 

Kata (al-‘Afaf) juga disebutkan di dalam hadis Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu 'anhu, 

إِنَّ نَاسًا مِنْ الْأَنْصَارِ سَأَلُوا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَعْطَاهُمْ ثُمَّ سَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ ثُمَّ سَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ حَتَّى نَفِدَ مَا عِنْدَهُ فَقَالَ : ( مَا يَكُونُ عِنْدِي مِنْ خَيْرٍ فَلَنْ أَدَّخِرَهُ عَنْكُمْ ، وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ ، وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ ، وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنْ الصَّبْرِ 

“Bahwasanya sekelompok orang Anshar meminta sesuatu kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, maka beliau memberinya, kemudian mereka memintanya lagi, maka beliau pun memberinya, kemudian mereka memintanya lagi, maka beliau pun memberinya lagi, sehingga habislah yang ada pada beliau. Kemudian beliau bersabda, ‘Harta apapun yang saya miliki, tidaklah saya simpan dari kalian. Barang siapa yang menahan diri untuk tidak meminta-minta, maka Allah akan menjaga kehormatannya dan memenuhi kebutuhannya. Barang siapa yang merasa kaya, maka Allah akan memperkaya dirinya. Barang siapa yang melatih diri untuk bersabar, maka Allah akan memberikan kesabaran kepadanya. Tidaklah seseorang diberi sesuatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas dari pada kesabaran’.” (HR. al-Bukhari dan Muslim) 

Menurut al-Qari di dalam Mirqah al-Mafatih (4/1311) bahwa (yasta’fif) dalam hadits di atas adalah menahan diri untuk tidak meminta-minta. 

Adapun makna (Yu’iffahu Allahu) menurut Ibnu ath-Thin di dalam Fathu al-Bari (11/304) adalah: “Akan dicukupkan rezekinya oleh Allah, atau akan diberi sifat al-Qana’ah” 

Manfaat (al-‘Afaf) 

Dari perkataam para ulama di atas bisa disimpulkan bahwa manfaat (al-‘Afaf) adalah; (1) Dijaga kehormatannya oleh Allah (2). Diberikan kecukupan rezeki oleh Allah (3). Diberi sifat al-Qana’ah di dalam dirinya (4). Jika dia menjaga diri dari para wanita, maka akan dimudahkan urusan pernikahannya dan menjaganya dari fitnah wanita.

Bentuk-bentuk al-‘Afaf

Al-‘Afaf atau al-‘Iffah mempunyai beberapa bentuk, diantaranya adalah sebagai berikut;

(1). ‘Iffatu al-Jawarih, yaitu menjaga anggota badannya, seperti tangan, kaki, mata, telinga dan kemaluannya dari perbuatan haram

(2). Al-‘Iffah fi Kasbi al-Mal, yaitu menjaga diri dari meminta-minta kepada manusia dan menghindari dari pekerjaan yang haram. 

(3). Al-‘Iffah ‘An Wuqu’ fi al-Fahisyah, yaitu menjaga diri dari terjerumus dalam perzinaan dan tidak mendekatinya serta tidak melihat hal-hal yang menyebabkan hawa nafsunya bergelora. 

Keempat: Kekayaan (الْغِنَى)

Yang dimaksud ‘kekayaan’ di sini adalah kekayaan hati. Yaitu hati yang tidak membutuhkan seseorang kecuali hanya kepada Allah subhanahu wa ta'ala saja. Maka, didapatkan orang yang kaya hatinya, dia tidak mudah tergiur dengan kekayaan yang dimiliki orang lain, tidak pula ingin merebutnya tanpa hak. Orang seperti ini bisa masuk dalam katagori ‘qana’ah’, yaitu puas dengan apa yang Allah berikan kepadanya. 

Banyak ayat dan hadits yang menjelaskan tentang qana’ah (kaya hati) diantaranya: 

(1) Firman Allah subhanahu wa ta'ala, 

وَلا تَمُدَّنَ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجاً مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَى

“Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya.  Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal.” (Qs. Taha: 131) 

(2) Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadist Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu,

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

 “Kekayaan bukanlah karena banyaknya harta, melainkan kayanya jiwa.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

    (3) Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits ‘Abdullah bin ‘Amru radhiyallahu 'anhu,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ

  “Telah sukses orang yang masuk Islam dan diberi rezeki yang cukup serta merasa puas dengan pemberian Allah.” (HR. Muslim) 

    (4). Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu,

انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ, وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ, فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اَللَّهِ عَلَيْكُمْ 

“Lihatlah orang yang di bawah kalian dan janganlah melihat orang di atas kalian, karena yang demikian itu lebih layak bagi kalian agar kalian tidak memandang hina nikmat Allah yang dilimpahkan kepada kalian.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

    (5) Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu,

وَارْضَ بِمَا قَسَمَ اللَّهُ لَكَ تَكُنْ أَغْنَى النَّاسِ 

“Ridhalah terhadap segala sesuatu yang Allah berikan kepadamu, niscaya kamu akan menjadi orang yang paling kaya.” (HR. at-Tirmidzi)

    (6) Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits ‘Ubaidillah bin Muhshan radhiyallahu 'anhu,

مَنْ أصْبَحَ مِنْكُمْ آمِناً في سربِهِ ، مُعَافَىً في جَسَدِهِ ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ ، فَكَأنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا بِحَذَافِيرِهَا 

“Barang siapa yang pagi harinya merasa aman di tempat tinggalnya, sehat badannya, memiliki makanan hari itu, seolah dia telah mendapatkan kekayaan dunia.” (HR. at-Tirmidzi)

(7) Sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kepada Abu Dzar radhiyallahu 'anhu:

يَا أَبَا ذَرٍّ , أَتَرَى كَثْرَةَ الْمَالِ هِيَ الْغِنَى ؟ " , قَالَ: قُلْتُ: نَعَمْ يَا رَسُولَ اللهِ هِيَ الْغِنَى . قَالَ: " وَتَرَى أَنَّ قِلَّةَ الْمَالِ هِيَ الْفَقْرُ ؟ " , قَالَ: قُلْتُ: نَعَمْ يَا رَسُولَ اللهِ هِيَ الْفَقْرُ . قَالَ: " لَيْسَ كَذَلِكَ , إِنَّمَا الْغِنَى غِنَى الْقَلْبِ , وَالْفَقْرُ فَقْرُ الْقَلْبِ

“Wahai Abu Dzar, apakah engkau memandang bahwa banyaknya harta itulah yang disebut kaya?”  Berkata Abu Dzar: “Betul, wahai Rasulullah”. Beliau bertanya lagi, “Apakah engkau memandang bahwa sedikitnya harta itu berarti fakir?” Berkata Abu Dzar: “Betul, wahai Rasulullah.” Lantas beliau pun bersabda, “Sesungguhnya yang disebut kaya adalah kayanya hati. Sedangkan fakir adalah fakirnya hati.” (HR. Ibnu Hibban)

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Atsqalani di dalam Fathu al-Bari (11/272) berkata: “Ringkasnya, bahwa orang yang mempunyai sifat kaya hati, akan selalu puas dengan apa yang diberikan Allah kepadanya, tidak berkeinginan menambah sesuatu tanpa ada keperluan, begitu juga tidak akan memaksakan diri  di dalam mencari (harta) dan tidak pula di dalam memintanya. Tetapi justru dia ridha dengan apa yang sudah dibagikan Allah, seakan-akan dia mempunyai (harta) terus. Sebaliknya orang yang mempunyai sifat miskin jiwa, dia tidak puas dengan apa yang diberikan kepadanya, tetapi justru selalu mencari tambahan dari mana saja yang memungkinkan. Kemudian jika tidak mendapatkan apa yang dia cari, dia akan sedih seakan-akan dia orang yang tidak mempunyai harta.”

Kesimpulan 

Doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di atas termasuk doa-doa yang terbaik dan utama, karena di dalamnya mengandung permohonan kepada Allah tentang empat hal yang bermanfaat bagi kehidupan seorang muslim di dunia dan akhirat. 

Berkata Syekh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di di dalam Bahjatu Qulubi al-Abrar (249), “Doa di atas termasuk salah satu doa yang paling mencakup dan paling bermanfaat, karena mengandung permintaan kebaikan dunia dan akhirat. Adapun (Al-Huda) adalah ilmu yang bermanfaat, da (at-Tuqa) adalah amal shalih serta meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Dengan keduanya agama ini menjadi baik. Karena agama ini berisi dua hal; (1) ilmu-ilmu yang bermanfaat dan pengetahuan-pengetahuan yang mengandung kebenaran. Ini tercakup dalam (al-Huda). (2). Melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya. Ini tercakup di dalam (at-Tuqa). Adapun (al-‘Afaf) adalah menahan diri dari meminta kepada makhluk serta tidak tergantung kepada mereka. Sedangkan (al-Ghina) adalah merasa kaya dengan rezeki Allah dan merasa cukup serta merasa tenang hatinya dengannya. Dengan itu semua, sempurnalah kebahagiaan hidup di dunia, dan hatinya menjadi tentram. Inilah hakikat kehidupan yang baik, al-Hayatu at-Tayyibah. Oleh karenanya, siapa saja yang diberikan al-Huda, at-Tuqa, al-‘Afaf dan al-Ghina, maka dia telah mencapai kebahagiaan (dunia dan akhirat), serta mendapatkan segala yang diinginkan dan selamat dari yang dikhawatirkan.”

Wallahu A’lam.