Karya Tulis
123 Hits

Doa Lailatul Qadar


‘Aisyah radhiyallahu ‘anha  bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana menurutmu jika aku mendapatkan Lailatul Qadar, apa yang harus aku baca?” kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda; “Ucapkan

 ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha  bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana menurutmu jika aku mendapatkan Lailatul Qadar, apa yang harus aku baca?” kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda; “Ucapkan, 
اللَّهُمَّ إنَّك عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan senang memaafkan, maka maafkanlah kesalahanku.” (HR. at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad. Hadist ini dishahihkan oleh at-Tirmidzi dan al-Hakim)
Pelajaran dari Hadist di atas:
Pelajaran Pertama: Sosok ‘Aisyah
‘Aisyah radhiyallahu ‘anha sebagai seorang wanita shalihah sering bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang masalah-masalah agama. Ini menunjukkan bahwa beliau adalah sosok wanita yang haus akan ilmu agama. Maka tidak aneh jika di kemudian hari, beliau menjadi wanita ahli fiqih tempat rujukan para sahabat dan tabi’in tentang ilmu agama. 
Hendaknya para wanita Muslimah mengambil suri tauladan dari beliau dalam menjaga semangat menuntut ilmu. 
Pelajaran Kedua: Banyak Bertanya
  Salah satu cara menuntut ilmu yang efektif adalah banyak bertanya kepada ulama. Cara seperti ini juga dilakukan oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu 'anhu. 
قيل لابن عباس: أنَّى اصبت هذا العلم؟ قال: لسان سَؤُول، وقلب عقول.
  Suatu ketika Ibnu ‘Abbas pernah ditanya: “Bagaimana engkau mendapatkan ilmu sebanyak ini?” Beliau pun menjawab: “Lisan yang banyak bertanya, dan hati yang banyak merenung (mempelajari).”
  Ini sesuai dengan firman Allah, 
وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ 
  “Kami tiada mengutus rasul-rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.” (Qs. al-Anbiya’: 7) 
Pelajaran Ketiga: Rasulullah Membimbing Istri-istrinya
  Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam selalu mengajari dan membimbing istri-istrinya untuk memahami ajaran-ajaran Islam. Hal ini memberikan pesan kepada para suami, agar terus menuntut ilmu agama, agar bisa membimbing istri dan keluarga kepada jalan yang benar. 
  Pelajaran Keempat: Lailatul Qadar
Lailatul Qadar adalah malam yang penuh kemuliaan dan keberkahan. Malam tersebut lebih baik dari beribadah seribu bulan di malam yang lain, sebagaimana firman-Nya, 
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ 
  “Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan.” (Qs. al-Qadar: 3)
Juga firman-Nya, 
  إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ 
  “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.” (Qs.ad-Dukhan:3)
  Oleh karena itu, malam tersebut harus diisi dengan ibadah-ibadah yang berkualitas sehingga mendatangkan pahala yang besar. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengetahui keutamaan malam tersebut, sehingga beliau bertanya kepada Rasulullah tentang doa yang dianjurkan untuk dibaca di dalamnya. 
  Pelajaran Kelima: Doa Lailatul Qadar
  Doa lailatul qadar di atas mengandung tiga poin yang sangat penting: 
  Poin (1): (إنَّك عَفُو) artinya Engkau Maha Pengampun
  Poin ini mengajarkan kepada kita agar di dalam berdoa selalu menyebut Asmaul Husna terlebih dahulu sebelum menyampaikan permintaan kita kepada Allah, sebagaimana firman-Nya, 
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
  “Hanya milik Allah asmaul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (Qs. al-A’raf: 180)
  Poin (2): (تُحِبُّ الْعَفْوَ) artinya Engkau Mencintai Sifat Pemaaf 
Hal itu menunjukkan perbuatan Allah yang mulia, yaitu mencintai. Allah mencintai sifat pemaaf dan mencintai sifat-sifat baik lainnya. Allah juga mencintai orang-orang yang berbuat baik. 
  Di antara orang-orang yang dicintai Allah adalah sebagai berikut: at-Tawwabin: orang-orang yang bertaubat, al-Mutathahirin: orang-orang yang suka bersuci (Qs. al-Baqarah: 222), al-Muqshithin: orang-orang yang adil (Qs. al-Maidah: 42), al-Muttaqin: orang-orang yang takwa (Qs. Ali Imran: 76), al-Muhsinin: orang-orang yang suka berbuat kebaikan (Qs. Ali Imran: 134), al-Mutawakkilin: orang-orang yang bertawakal (Qs. Ali Imran: 159), as-Shabirin: orang-orang yang sabar (Qs. Ali Imran: 146).
  Poin (3): (فَاعْفُ عَنِّي) artinya Maka Maafkan Kesalahanku
Inilah tujuan utama dari doa ini, doa yang diucapkan pada Lailatul Qadar.  Padahal selama bulan Ramadhan, kita diperintahkan untuk memaksimalkan ibadah, dengan berpuasa, membaca al-Qur’an, shalat tarawih, qiyamul lail, dan berdoa.  Semua itu tujuannya hanya satu yaitu menggapai ampunan Allah. Ini juga bisa diartikan, bahwa ketakwaan yang menjadi tujuan orang-orang yang berpuasa Ramadhan adalah ketakwaan yang berbuah pada ampunan Allah, sebagaimana firman Allah, 
  وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ 
  “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (Qs. Ali Imran: 133) 
  Ayat di atas menunjukkan bahwa sebelum masuk surga, seseorang harus mendapatkan ampunan dari Allah terlebih dahulu. Tanpa ampunan Allah, seseorang tidak akan masuk surga. Begitu juga kalau tidak mendapatkan ampunan dan rahmat Allah, pasti manusia hidupnya akan merugi di dunia dan akhirat, sebagaimana di dalam firman-Nya,  
قَالاَ رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ 
  “Keduanya berkata: ‘Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi’.” (Qs. al-A’raf : 23) 
  Pelajaran Keenam: Makna al-‘Afwu
  Di dalam kamus Mu’jam Maqayis al-Lughah, Ibnu Faris menyebutkan bahwa akar kata dari al-‘Afwu mempunyai dua makna, yaitu membiarkan dan mencari. Dikatakan ‘Afa Allahu ‘an Khalqihi artinya Allah membiarkan hamba-hamba-Nya sehingga tidak mengadzab mereka. 
  Sebagian ulama mengatakan bahwa pada dasarnya al-‘Afwu mempunyai makna satu saja, yaitu membiarkan. Kemudian dari makna tersebut berkembang kepada makna-makna yang lain, seperti: punah, tanah yang belum terjamah, terhapus, kelebihan, menjadi banyak, kerelaan, dan lainnya, sebagaimana disebutkan oleh al-Jauhari di dalam Sihah al-Lughah. 
  Pertama: al-‘Afwu artinya membiarkan, sebagaimana contoh-contoh di bawah ini:
(a). ‘Afaa al-Manzilu: rumah tersebut rusak, karena dibiarkan dan tidak pernah diperhatikan. 
(b). ‘Afwathu ar-rihu: angin itu merobohkannya, yaitu membiarkannya roboh.  
(c). ‘Afa Allahu ‘anka: Allah menghapus dosa-dosamu, yaitu membiarkan dan tidak mengadzabmu.
(d). ‘Afauta an al-Haq: Engkau membiarkan dan tidak menuntut  hakmu (al-Fayumi, Misbah al-Munir).
  Kedua: al-‘Afwu artinya kelebihan.  
  Dalam hal ini, Allah berfirman, 
  مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ
  “Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan? Katakanlah: ‘Yang lebih dari keperluan’.” (QS. al-Baqarah: 219) 
Ayat di atas menjelaskan tentang syarat zakat, diantaranya bahwa harta yang wajib dizakati adalah harta yang lebih dari keperluan. Harta yang lebih itu biasa dibiarkan dan disimpan serta tidak disentuh, sehingga diwajibkan untuk dikeluarkan zakatnya. 
Pelajaran Ketujuh: (al-‘Afwu), (ash-Shafhu) dan (al-Ghafru)
  Tiga istilah di atas mempunyai beberapa beberapa perbedaan. Perbedaan tersebut terlihat di dalam firman Allah, 
  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ 
  “Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi, serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. at-Taghabun: 14)
Muhammad ath-Thahir ‘Asyur di dalam at-Tahrir wa at-Tanwir (28/285)  menjelaskan perbedaan antara ketiganya sebagai berikut:
  (Al-‘ Afwu) artinya membiarkan orang yang berbuat dosa dan kesalahannya sehingga tidak memberikan kepadanya hukuman, walaupun kadang dengan mencelanya. 
  Sedangkan (ash-Shafhu) artinya membiarkannya dan tidak memarahinya. 
  Adapun (al-Ghafru) artinya menghapus dosa dan kesalahan tersebut, dan tidak menyebarkannya.
Hal yang sama juga disampaikan oleh al-Baidhawi di dalam Anwar at-Tanzil wa Asraru at-Ta’wil (5/299).
  Kesimpulannya bahwa Allah dalam ayat di atas memerintahkan untuk berbuat baik kepada istri dan anak dari akhlak yang baik menuju yang lebih baik. Dan dari keutamaan menuju yang lebih utama. 
Wallahu A’lam. Aisyah radhiyallahu ‘anha  bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana menurutmu jika aku mendapatkan Lailatul Qadar, apa yang harus aku baca?” kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda; “Ucapkan, 

اللَّهُمَّ إنَّك عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan senang memaafkan, maka maafkanlah kesalahanku.” (HR. at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad. Hadist ini dishahihkan oleh at-Tirmidzi dan al-Hakim)

Pelajaran dari Hadist di atas:

Pelajaran Pertama: Sosok ‘Aisyah

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha sebagai seorang wanita shalihah sering bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang masalah-masalah agama. Ini menunjukkan bahwa beliau adalah sosok wanita yang haus akan ilmu agama. Maka tidak aneh jika di kemudian hari, beliau menjadi wanita ahli fiqih tempat rujukan para sahabat dan tabi’in tentang ilmu agama. 

Hendaknya para wanita Muslimah mengambil suri tauladan dari beliau dalam menjaga semangat menuntut ilmu. 

Pelajaran Kedua: Banyak Bertanya

  Salah satu cara menuntut ilmu yang efektif adalah banyak bertanya kepada ulama. Cara seperti ini juga dilakukan oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu 'anhu. 

قيل لابن عباس: أنَّى اصبت هذا العلم؟ قال: لسان سَؤُول، وقلب عقول.

  Suatu ketika Ibnu ‘Abbas pernah ditanya: “Bagaimana engkau mendapatkan ilmu sebanyak ini?” Beliau pun menjawab: “Lisan yang banyak bertanya, dan hati yang banyak merenung (mempelajari).”

  Ini sesuai dengan firman Allah, 

وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ 

  “Kami tiada mengutus rasul-rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.” (Qs. al-Anbiya’: 7) 

Pelajaran Ketiga: Rasulullah Membimbing Istri-istrinya

  Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam selalu mengajari dan membimbing istri-istrinya untuk memahami ajaran-ajaran Islam. Hal ini memberikan pesan kepada para suami, agar terus menuntut ilmu agama, agar bisa membimbing istri dan keluarga kepada jalan yang benar. 

  Pelajaran Keempat: Lailatul Qadar

Lailatul Qadar adalah malam yang penuh kemuliaan dan keberkahan. Malam tersebut lebih baik dari beribadah seribu bulan di malam yang lain, sebagaimana firman-Nya, 

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ 

  “Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan.” (Qs. al-Qadar: 3)

Juga firman-Nya, 

  إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ 

  “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.” (Qs.ad-Dukhan:3)

  Oleh karena itu, malam tersebut harus diisi dengan ibadah-ibadah yang berkualitas sehingga mendatangkan pahala yang besar. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengetahui keutamaan malam tersebut, sehingga beliau bertanya kepada Rasulullah tentang doa yang dianjurkan untuk dibaca di dalamnya. 

  Pelajaran Kelima: Doa Lailatul Qadar

  Doa lailatul qadar di atas mengandung tiga poin yang sangat penting: 

  Poin (1): (إنَّك عَفُو) artinya Engkau Maha Pengampun

  Poin ini mengajarkan kepada kita agar di dalam berdoa selalu menyebut Asmaul Husna terlebih dahulu sebelum menyampaikan permintaan kita kepada Allah, sebagaimana firman-Nya, 

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

  “Hanya milik Allah asmaul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (Qs. al-A’raf: 180)

  Poin (2): (تُحِبُّ الْعَفْوَ) artinya Engkau Mencintai Sifat Pemaaf 

Hal itu menunjukkan perbuatan Allah yang mulia, yaitu mencintai. Allah mencintai sifat pemaaf dan mencintai sifat-sifat baik lainnya. Allah juga mencintai orang-orang yang berbuat baik. 

  Di antara orang-orang yang dicintai Allah adalah sebagai berikut: at-Tawwabin: orang-orang yang bertaubat, al-Mutathahirin: orang-orang yang suka bersuci (Qs. al-Baqarah: 222), al-Muqshithin: orang-orang yang adil (Qs. al-Maidah: 42), al-Muttaqin: orang-orang yang takwa (Qs. Ali Imran: 76), al-Muhsinin: orang-orang yang suka berbuat kebaikan (Qs. Ali Imran: 134), al-Mutawakkilin: orang-orang yang bertawakal (Qs. Ali Imran: 159), as-Shabirin: orang-orang yang sabar (Qs. Ali Imran: 146).

  Poin (3): (فَاعْفُ عَنِّي) artinya Maka Maafkan Kesalahanku

Inilah tujuan utama dari doa ini, doa yang diucapkan pada Lailatul Qadar.  Padahal selama bulan Ramadhan, kita diperintahkan untuk memaksimalkan ibadah, dengan berpuasa, membaca al-Qur’an, shalat tarawih, qiyamul lail, dan berdoa.  Semua itu tujuannya hanya satu yaitu menggapai ampunan Allah. Ini juga bisa diartikan, bahwa ketakwaan yang menjadi tujuan orang-orang yang berpuasa Ramadhan adalah ketakwaan yang berbuah pada ampunan Allah, sebagaimana firman Allah, 

  وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ 

  “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (Qs. Ali Imran: 133) 

  Ayat di atas menunjukkan bahwa sebelum masuk surga, seseorang harus mendapatkan ampunan dari Allah terlebih dahulu. Tanpa ampunan Allah, seseorang tidak akan masuk surga. Begitu juga kalau tidak mendapatkan ampunan dan rahmat Allah, pasti manusia hidupnya akan merugi di dunia dan akhirat, sebagaimana di dalam firman-Nya,  

قَالاَ رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ 

  “Keduanya berkata: ‘Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi’.” (Qs. al-A’raf : 23) 

  Pelajaran Keenam: Makna al-‘Afwu

  Di dalam kamus Mu’jam Maqayis al-Lughah, Ibnu Faris menyebutkan bahwa akar kata dari al-‘Afwu mempunyai dua makna, yaitu membiarkan dan mencari. Dikatakan ‘Afa Allahu ‘an Khalqihi artinya Allah membiarkan hamba-hamba-Nya sehingga tidak mengadzab mereka. 

  Sebagian ulama mengatakan bahwa pada dasarnya al-‘Afwu mempunyai makna satu saja, yaitu membiarkan. Kemudian dari makna tersebut berkembang kepada makna-makna yang lain, seperti: punah, tanah yang belum terjamah, terhapus, kelebihan, menjadi banyak, kerelaan, dan lainnya, sebagaimana disebutkan oleh al-Jauhari di dalam Sihah al-Lughah. 

  Pertama: al-‘Afwu artinya membiarkan, sebagaimana contoh-contoh di bawah ini:

(a). ‘Afaa al-Manzilu: rumah tersebut rusak, karena dibiarkan dan tidak pernah diperhatikan. 

(b). ‘Afwathu ar-rihu: angin itu merobohkannya, yaitu membiarkannya roboh.  

(c). ‘Afa Allahu ‘anka: Allah menghapus dosa-dosamu, yaitu membiarkan dan tidak mengadzabmu.

(d). ‘Afauta an al-Haq: Engkau membiarkan dan tidak menuntut  hakmu (al-Fayumi, Misbah al-Munir).

  Kedua: al-‘Afwu artinya kelebihan.  

  Dalam hal ini, Allah berfirman, 

  مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ

  “Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan? Katakanlah: ‘Yang lebih dari keperluan’.” (QS. al-Baqarah: 219) 

Ayat di atas menjelaskan tentang syarat zakat, diantaranya bahwa harta yang wajib dizakati adalah harta yang lebih dari keperluan. Harta yang lebih itu biasa dibiarkan dan disimpan serta tidak disentuh, sehingga diwajibkan untuk dikeluarkan zakatnya. 

Pelajaran Ketujuh: (al-‘Afwu), (ash-Shafhu) dan (al-Ghafru)

  Tiga istilah di atas mempunyai beberapa beberapa perbedaan. Perbedaan tersebut terlihat di dalam firman Allah, 

  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ 


  “Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi, serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. at-Taghabun: 14)

Muhammad ath-Thahir ‘Asyur di dalam at-Tahrir wa at-Tanwir (28/285)  menjelaskan perbedaan antara ketiganya sebagai berikut:

  (Al-‘ Afwu) artinya membiarkan orang yang berbuat dosa dan kesalahannya sehingga tidak memberikan kepadanya hukuman, walaupun kadang dengan mencelanya. 

  Sedangkan (ash-Shafhu) artinya membiarkannya dan tidak memarahinya. 

  Adapun (al-Ghafru) artinya menghapus dosa dan kesalahan tersebut, dan tidak menyebarkannya.

Hal yang sama juga disampaikan oleh al-Baidhawi di dalam Anwar at-Tanzil wa Asraru at-Ta’wil (5/299).

  Kesimpulannya bahwa Allah dalam ayat di atas memerintahkan untuk berbuat baik kepada istri dan anak dari akhlak yang baik menuju yang lebih baik. Dan dari keutamaan menuju yang lebih utama. 

Wallahu A’lam.