Karya Tulis
164 Hits

Bab 4 Tauhid dan Kesejahteraan Ekonomi


 

لِإِيلَافِ قُرَيْشٍ (1) إِيلَافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ (2) فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ (3) الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ (4)

 

“Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.”

(Qs. Quraisy:1-4)

 

Pelajaran (1): Quraisy dan Bakat Kepimpinan

لِإِيلَافِ قُرَيْشٍ

“Karena kebiasaan orang-orang Quraisy.”

Allah menciptakan manusia dalam berbagai ragam sifat dan karakter. Ada yang memiliki sifat dan berkarakter keras, lembut, lamban, cekatan, cuek, egois, perhatian kepada orang lain, aktif, pasif dan sifat-sifat lainnya.

Allah memilih dari sekian banyak manusia, orang-orang yang membawa risalah-Nya, memperjuangkan ajaran-Nya, dan memimpin manusia dan mengarahkan mereka kepada jalan yang benar. Diantara yang menjadi pilihan Allah untuk menjadi utusan-Nya adalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wa sallam yang berasal dari suku Quraisy. Kenapa dari suku Quraisy? Karena pada diri suku tersebut terdapat sifat-sifat kepemimpinan yang tidak dimiliki suku-suku yang lain. Oleh karenanya, Allah menamakan salah satu surat dalam al-Qur’an dengan Surat Quraisy, mengingat banyak kelebihan yang dimiliki suku Quraisy tersebut, sehingga mereka berhak menjadi pemimpin dunia.

Ini sesuai dengan hadist Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

 الأَئِمَّةُ مِنْ قُرَيْشٍ

“Pemimpin itu dari Quraisy.(HR. Ahmad. Hadist ini dishahihkan oleh al-Arnauth)  

Pelajaran (2): Sarat Pengalaman dan Jaringan yang Luas

إِيلَافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ

“(Yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas.

Salah satu sifat dan kebiasaan suku Quraisy yang baik dan menyebabkan mereka berhak menjadi pemimpin adalah kebiasaan mereka melakukan perjalanan jauh keluar negeri untuk berdagang. Terdapat lima hal yang positif dalam kebiasaan ini:

(1). Suku Quraisy terbiasa hidup di alam yang keras dan tandus, yaitu berupa padang pasir yang membentang luas, disertai dengan udara dan cuaca yang kadang sangat ekstrim dan berubah-rubah, dari yang sangat dingin kemudian sangat panas. Mereka mampu bertahan hidup dalam cuaca yang demikian. Ditambah dengan gunung-gunung batu yang mengelilingi kota mereka. Ini menunjukkan bahwa mereka adalah suku yang terbiasa menghadapi tantangan dan mampu bertahan ketika menghadapi berbagai kesulitan.

(2). Mereka keluar dari kampung halaman mereka untuk mempertahankan hidup, yaitu dengan berdagang dan pergi ke luar kota. Ini menunjukkan bahwa mereka adalah suku yang mempunyai kemauan keras dan tidak mudah menyerah dengan keadaan. Mereka telah teruji di dalam menghadapi berbagai rintangan dan keadaan yang tidak ramah.

(3). Ketika pergi ke luar negeri, tentunya mereka akan menghadapi berbagai karakter manusia yang mereka temui selama perjalanan. Mereka mampu menghadapinya, dan sabar terhadap hal-hal yang tidak menyenangkan dari tutur kata, sikap, perbuatan orang-orang yang mereka temui.

(4). Di dalam perjalanan tersebut, mereka menemukan banyak hal-hal yang baru bagi kehidupan mereka, dari bangunan-bangunan, jalan-jalan yang berliku-liku, ciptaan ciptaan Allah di alam semesta, berbagai macam binatang yang jinak maupun yang buas, cuaca dan udara yang selalu berubah-ubah dan hal-hal lain yang patut dijadikan pelajaran yang sangat berharga dalam kehidupan mereka.

(5). Mereka akan bertemu dengan orang-orang yang hebat, berkenalan dengan para tokoh, pemimpin, ilmuwan serta orang-orang pintar lainnya, sehingga jaringan mereka semakin luas dan kokoh.

Ini sesuai dengan bait syair yang ditulis oleh Imam Syafi’i, salah satu ulama besar yang berasal dari keturunan suku Quraisy,

تغرب عن الأوطان تكتسب العلا        وسافر ففي الأسفار خمس فوائد

تفريج هـمٍّ واكتسـاب معيشـة            وعلـم وآداب وصحبـة مـاجد

فان قيل فـي الأسفار ذل وشدة         وقطع الفيافي وارتكاب الشدائـد

فموت الفتى خير له من حيـاته         بدار هوان بين واش وحـاسـد

Tinggalkan negaramu, niscaya engkau akan menjadi mulia, dan pergilah, karena bepergian itu mempunyai lima faedah.

Menghibur dari kesedihan, mendapatkan pekerjaan, ilmu dan adab, serta bertemu dengan orang-orang baik.

Jika dikatakan bahwa bepergian itu mengandung kehinaan, dan kekerasan, dan harus melewati jalan panjang, serta penuh dengan tantangan,

Maka bagi pemuda kematian lebih baik daripada hidup di kampung dengan para pembohong dan pendengki.

Pelajaran (3): Tauhid dan Perdagangan

إِيلَافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ  

“(Yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas.”

Berdagang adalah pekerjaan mulia, yang sangat dianjurkan di dalam Islam. Di dalam perdagangan terdapat beberapa kelebihan,  diantaranya:

(1) Melatih sifat mandiri dan tidak bergantung kepada gaji dari atasan.

Apa hubungannya dengan kepemimpinan dan tauhid? Jawabannya, bahwa orang yang hidupnya mandiri,  maka akan berpikir mandiri juga.  Dia sudah terlatih untuk memimpin dirinya  sendiri, maka Insya Allah akan bisa memimpin orang lain. 

Adapun hubungannya dengan tauhid, ada dua hal:

(b) Berdagang adalah pekerjaan yang keuntungannya tidak pasti, kadang mendapat keuntungan yang banyak, tetapi kadang mendapatkan kerugian yang besar. Oleh karenanya, dia selalu berdoa dan bertawakkal kepada Allah di dalam menghadapi ketidakpastian seperti ini. 

Seandainya dia berbohong kepada konsumen,  bisa saja tidak ketahuan, tetapi bagi pedagang muslim, bahwa Allah melihat seluruh perbuatannya,  maka bagaimanapun juga dia akan tetap jujur.

Penulis jadi teringat dengan kisah putri seorang penjual susu yang hidup pada zaman Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, ketika ibunya menyuruhnya untuk mencampur susu dengan air (memalsukan barang dagangan),  anak tersebut menolak perintah Ibunya.  Ibunya berkata: “Nak,  bukankah Umar bin al-Khattab tidak melihat kita?” Berkata sang anak: “Ibu,  walaupun ‘Umar bin al-Khattab tidak melihat kita, tapi bukankah Allah Maha Melihat?”

Mendengar pembicaraan tersebut,  ‘Umar bin al-Khattab yang kebetulan sedang ronda malam,  bergegas pulang,  menawarkan kepada anaknya ‘Ashim untuk menikahi putri penjual susu yang jujur tadi.  Dari keduanya,  lahir seorang cucu yang di kemudian hari menjadi pemimpin agung, yang sangat jujur dan mampu menyejahterakan seluruh rakyatnya,  serta menjadi contoh teladan bagi seluruh pemimpin yang datang sesudahnya. Dia adalah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz. 

Kisah di atas,  menunjukkan hubungan yang sangat erat antara pedagang yang jujur dengan kualitas kepemimpinan. Begitu juga terdapat hubungan yang sangat erat antara perdagangan dengan Tauhid.

(3) Pedagang harus mempunyai sifat supel dan pandai bergaul, ramah, dan murah senyum, agar dagangannya laris dan laku keras. Dia memposisikan diri sebagai pelayan konsumen. Begitu juga seorang pemimpin harus memiliki sifat-sifat di atas, supaya kepemimpinannya diterima masyarakat, apalagi dia sebagai Pelayanan Umat. 

(4) Seorang Pedagang harus banyak relasi, agar barang dagangannya dikenal orang banyak.  Bahkan kadang dia harus pergi ke luar kota, atau bahkan ke luar negeri demi untuk mempromosikan atau menyalurkan barang dagangannya atau bahkan sekedar untuk belanja barang.  Ini sebagaimana yang dilakukan suku Quraisy yang dipuji Allah karena kebiasaan mereka melakukan perjalanan di musim panas ke Yaman dan musim dingin ke Syams.  Luasnya relasi dan banyaknya teman adalah modal dasar seorang pemimpin.

 

Pelajaran (4): Menyembah Tuhannya Ka'bah

 فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ

“Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah).”

Sebagai bentuk syukur atas nikmat tersebut mereka diperintahkan untuk menyembah Allah,  pemilik sekaligus penjaga Ka'bah,  simbol kekuatan dan kemuliaan orang Arab. 

 

 

 

Pelajaran (5): Negara yang Makmur dan Aman

الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ

“Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.”  

Kenapa harus menyembah Allah, Pemilik Ka'bah? Karena Pemilik Ka'bah juga Pemilik alam semesta ini. Pencipta langit,  bumi,  matahari,  bulan,  bintang.  Dialah yang menurunkan hujan, yang Memberi Makan orang orang yang lapar dan yang Memberikan Rasa Aman kepada orang  ketakutan.  

Tauhid ternyata berdampak positif kepada kesejahteraan ekonomi (أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوع) dan keamanan nasional (وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْف).  Bagaimana penjelasan ilmiahnya? 

Ketika seseorang yang menyakini bahwa Allah adalah satu-satunya pemberi rezeki, maka dia akan berbuat sebagai  berikut:

(1). Bersungguh sungguh mencari rezeki dengan cara yang halal serta tidak akan berbuat curang. 

(2). Meninggalkan secara total sistem riba yang sangat dimurkai Allah dan penyebab utama krisis ekonomi di setiap negara.

(3). Berdo'a  hanya kepada Allah, meminta rezeki yang halal dan thayyib, karena hanya Allah-lah satu satunya pemegang kunci- kunci rezeki. 

(4). Menginfakkan sebagian rezeki yang didapatnya kepada orang-orang yang membutuhkan. 

Jika empat hal itu dilaksanakan, insya Allah akan terwujud kesejahteraan ekonomi yang merata bagi seluruh rakyat di negara tersebut.

Adapun Keamanan Nasional bisa diwujudkan dengan langkah langkah sebagai berikut:

(1). Orang beriman merasa aman dalam dirinya sendiri  karena merasa selalu dijaga oleh Allah. Allah berfirman,

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ.

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Qs. al-An’am: 82)

(2). Orang Islam yang hakiki akan terwujud jika orang lain merasa aman dan selamat dari gangguan tangannya dan lisannya. Sebagaimana di dalam hadits ‘Abdullah bin ‘Amru radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Orang Islam adalah orang yang saudara-saudara muslim lainnya, selamat dari kejahatan lisan dan tangannya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

(3). Islam melarang umatnya untuk menyakiti,  berbuat ghibah,  mencela saudaranya. Bahkan melarang untuk melukai dan membunuhnya. 

Sebuah negara yang tidak mampu menyejahterakan rakyatnya dan menjadikan mereka hidup aman di tempat tinggalnya, disebut dengan negara yang gagal.

***