Karya Tulis
341 Hits

Bab 5 Tauhid Membuka Keberkahan


وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰۤى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَـفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ  مِّنَ السَّمَآءِ وَالْاَرْضِ وَلٰـكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا  كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.

(Qs. al-A'raf: 96)

 

Pelajaran (1): Penduduk di Suatu Negeri  

وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰۤى

“Dan sekiranya penduduk negeri.”

Ahlul Qura (اَهْلَ الْقُرٰۤى) adalah penduduk suatu negeri. Qura berasal dari kata Qaraya yang berarti berkumpul.  Ahlul Qura   adalah penduduk yang berkumpul dan menetap di suatu wilayah dan tidak pindah-pindah lagi. Orang sering menyebutnya sebagai desa, kota, atau negara. (Ibnu Faris, Mu’jam Maqayis al-Lughah: 5/78)  

 Ini mirip dengan kata ‘Qarara’ yang berarti tetap.  ‘Al-Qarurah’ adalah botol dimana air jika dimasukkan ke dalamnya menjadi tetap dan tidak tumpah. ‘Qurratu A'yun’ adalah penyejuk mata,  karena mata jika melihat istri dan anak yang shalih akan merasa nyaman dan tetap ingin melihat mereka terus serta tidak mau pindah. Ada yang mengatakan bahwa ‘Qurratu’ adalah dingin, maksudnya bahwa jika melihat istri dan anak, mata menjadi dingin, karena air mata yang dingin pertanda kebahagiaan, berbeda dengan air mata yang panas, pertanda kesedihan.

Pelajaran (2): Iman dan Takwa 

اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا

“Mereka beriman dan bertakwa.”

Apa bedanya Iman dan Takwa?  

(1) Beriman adalah membenarkan dan menyakini rukun Iman yang enam.  Atau orang orang yang mengaku diri mereka beriman. Di sini mengesankan bahwa iman mereka baru permulaan dan belum sempurna.  Maka harus dilengkapi dan disempurnakan dengan takwa.  Bukankah ayat ayat seperti ini sangat banyak di dalam al-Qur’an, diantaranya di dalam firman Allah,  

يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَـنْظُرْ نَـفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۚ  وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗ  اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan.(Qs. al-Hasyr: 18)

Juga di dalam firman-Nya,

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْـتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim." (Qs. Ali 'Imran: 102)

Juga di dalam firman-Nya,

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا  

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar," (Qs. al-Ahzab : 70)

Iman dan takwa jika berkumpul, akan menjadi kekuatan Tauhid yang luar biasa. 

(2) Bisa dikatakan juga bahwa Iman disini maksudnya mentauhidkan Allah, dan menyembah-Nya, sedang takwa adalah menjauhi dari syirik dan maksiat kepada Allah. Karena makna takwa adalah takut, yaitu takut terhadap adzab Allah dengan menjauhi maksiat. (Tafsir al-Qurthubi: 7/255, Tafsir al-Manar:  9/22)

Di dalam suatu do’a yang diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam berdoa,  

اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ

“Ya Allah, jadikanlah untuk kami bagian dari rasa takut kepadaMu yang dapat menghalangi kami dari perbuatan maksiat (kepadaMu). Jadikanlah untuk kami bagian dari ketaatan kepadamu yang dapat menyampaikan kami kepada surgamu. (HR. at-Tirmidzi, dan beliau berkata: Hadits ini Hasan Shahih)

Hadist tersebut jika digabung dengan ayat-ayat sebelumnya, akan membentuk sebuah kesimpulan bahwa Iman adalah ketaatan yang mengantarkan ke surga, sedang takwa adalah rasa takut kepada adzab Allah yang menghalangi seseorang dari maksiat, dan maksiat yang paling besar adalah syirik.  

Pelajaran (3): Pembuka Keberkahan

لَـفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَآءِ وَالْاَرْضِ

“Pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi.”

Iman dan takwa yang membentuk Tauhid ini akan membuka peluang datangnya rezeki dan keberkahan dari Allah. Di sini Allah menggunakan kata (فَتَحْنَا) artinya "Kami bukakan" untuk mereka rezeki dan keberkahan.  Ini menunjukkan bahwa rezeki dan keberkahan itu sudah ada, cuma tertutup dari manusia karena maksiat dan kesyirikan.  Di dalam hadits Tsauban radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallahu ‘alahi wa sallam bersabda,

لا يَزيد في العُمْر إلا البِر، ولا يردُّ القدَرَ إلاَّ الدُّعاء، وإنَّ الرجل ليُحرم الرِّزقَ بالذنب يُصيبه

“Tidak bisa menambah umur, kecuali perbuatan baik (al-birr), dan tidak bisa menolak takdir kecuali do’a, dan sesungguhnya seseorang terhalang dari rezekinya karena perbuatan dosa yang dilakukannya.“ (HR. Ibnu Hibban dan al-Hakim, berkata al-Hakim: Sanadnya Shahih)

Kata (فَتَحْنَا) Kami Bukakan, mengesankan sesuatu yang menggembirakan para penduduk negeri yang beriman dan bertakwa. Berbeda dengan kata: (أغلقنا) Kami Tutupkan, yang mengesankan kesedihan dan kesengsaraan.  

Kata (بَرَكٰتٍ) menunjukkan bahwa yang dibuka oleh Allah bukan terbatas pada harta atau materi, tapi luas dari pada itu yaitu keberkahan.  Sedang arti Barakah adalah sesuatu yang mengandung kebaikan yang banyak dan menetap.  Dikatakan (al- Birkah) yaitu kolam karena di dalam kolam terdapat air, air ini mengandung banyak kebaikan dan manfaat, dan air ini menetap di dalam kolam tersebut dan tidak tumpah. 

 Di dalam Tafsir al-Manar (9/23) disebutkan bahwa al-Barakah mempunyai makna luas dan bersih, sebagaimana kolam air (birkatu al-maai). Dan mengandung sesuatu yang tetap dan tenang, sebagaimana unta yang duduk (baraka al-ba’ir). Kemudian beliau mengutip firman Allah,  

قِيلَ يَا نُوحُ اهْبِطْ بِسَلَامٍ مِنَّا وَبَرَكَاتٍ عَلَيْكَ وَعَلَى أُمَمٍ مِمَّنْ مَعَكَ وَأُمَمٌ سَنُمَتِّعُهُمْ ثُمَّ يَمَسُّهُمْ مِنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ  

“Difirmankan: "Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkatan dari Kami atasmu dan atas umat-umat (yang mukmin) dari orang-orang yang bersamamu. Dan ada (pula) umat-umat yang Kami beri kesenangan pada mereka (dalam kehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa azab yang pedih dari Kami. (Qs. Hud: 48)

Ayat di atas menyebutkan bahwa keberkahan hanya dikhususkan bagi orang-orang beriman (Nabi Nuh dan pengikutnya), dan umat yang bersama mereka (orang-orang beriman yang belum lahir), sedangkan materi dunia diberikan kepada orang kafir untuk sementara waktu, yang kemudian disusul dengan adzab yang pedih.

Ayat di atas juga menunjukkan perbedaan antara keberkahan dan kekayaan. Keberkahan akan mengantarkan kepada keselamatan dunia dan akhirat, sedang kekayaan hanya dinikmati sementara, jika tidak diiringi dengan keimanan, akan mengantarkan kepada kesengsaraan dan neraka.  

Kata (بَرَكٰتٍ) jama’ dari barakah, artinya keberkahan yang dibuka Allah bukanlah dari satu jenis, tetapi terdiri dari banyak jenis dan berbagai macam ragam dan corak, seperti turunnya hujan, cerah dan bersihnya udara, indahnya pemandangan, melimpahnya kekayaan alam, bahagianya penduduk, sehatnya keluarga dan anak-anak, melimpahnya rezeki yang datang dari berbagai arah dan lain-lainnya.

Kesimpulannya bahwa maksud dari ‘Keberkahan’ pada ayat di atas adalah kebaikan yang banyak dan menetap bagi negeri yang penduduknya beriman dan bertakwa kepada Allah.  Keberkahan tidak harus berupa kekayaan, karena kekayaan tidak menjamin penduduknya baik dan bahagia.  Lihatlah negara negara maju dan kaya seperti Swedia, Jepang, Amerika Serikat jumlah penduduknya yang bunuh diri sangat tinggi. Justru di negara negara miskin atau berkembang yang mayoritas muslim seperti Indonesia, Mesir, Pakistan sangat sedikit jumlah penduduknya yang bunuh diri. 

Ayat yang serupa adalah firman Allah,

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَى أُمَمٍ مِنْ قَبْلِكَ فَأَخَذْنَاهُمْ بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُونَ (42) فَلَوْلَا إِذْ جَاءَهُمْ بَأْسُنَا تَضَرَّعُوا وَلَكِنْ قَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (43) فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ (44) فَقُطِعَ دَابِرُ الْقَوْمِ الَّذِينَ ظَلَمُوا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (45)

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri. Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras dan setan pun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan. Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami-pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. Maka orang-orang yang lalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” (Qs. al-An’am: 42-45)

Ayat di atas mengandung beberapa pelajaran, diantaranya adalah sebagai berikut;

(1) Allah mengutus para Rasul kepada manusia agar mereka menyembah Allah, tetapi mereka menentangnya dan berpaling dari kebenaran.

(2) Akibat kemaksiatan tersebut, Allah menurunkan siksaan di dunia dengan turunnya musibah, gempa, tanah longsor, kekeringan, penyakit menular dan berbagai kesulitan hidup.

(3) Tujuan Allah menimpakan berbagai musibah, agar mereka kembali ke jalan yang benar dan bertaubat.

(4) Ternyata mereka justru ingkar dan enggan bertaubat, maka Allah berikan kesenangan dan kenikmatan sementara berupa rezeki, kemajuan ekonomi, kemakmuran, sebagai bentuk sindiran kepada mereka.

(5) Dengan kenikmatan yang diberikan Allah tersebut, mereka bertambah lupa dan bertambah angkuh, maka tibalah saatnya Allah menghancurkan mereka sehancur-hancurnya di dunia ini dan tidak tersisa sedikit pun dari mereka.

(6) Di akhirat nanti mereka juga diadzab dengan adzab yang lebih dahsyat dari adzab dunia.

Jadi, kadang-kadang kenikmatan dan kemakmuran yang  dimiliki orang-orang kafir para penentang kebenaran adalah kenikmatan materi yang semu, yang belum tentu pemiliknya bahagia dan lapang hati mereka. Itupun hanya sementara sebagai sindiran dari Allah, kemudian berakhir dengan adzab yang pedih di dunia sebelum adzab yang lebih besar di akhirat.

Ini mirip dengan firman Allah,

وَلَنُذِيقَنَّهُمْ مِنَ الْعَذَابِ الْأَدْنَى دُونَ الْعَذَابِ الْأَكْبَرِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Dan sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebahagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat); mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Qs. as-Sajdah: 21)

Pelajaran (4): Hujan adalah Berkah

بَرَكٰتٍ  مِّنَ السَّمَآءِ وَالْاَرْضِ

Keberkahan dari langit dan bumi.”

Sumber sumber Keberkahan itu ada di langit dan bumi. Keberkahan di langit, seperti hujan yang turun ke bumi memberikan kehidupan bagi mereka yang kehausan dan tertimpa musim paceklik dan kemarau yang berkepanjangan. Allah berfirman,

اللَّهُ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ فَتُثِيرُ سَحَابًا فَيَبْسُطُهُ فِي السَّمَاءِ كَيْفَ يَشَاءُ وَيَجْعَلُهُ كِسَفًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ فَإِذَا أَصَابَ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ (48) وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلِ أَنْ يُنَزَّلَ عَلَيْهِمْ مِنْ قَبْلِهِ لَمُبْلِسِينَ (49) فَانْظُرْ إِلَى آثَارِ رَحْمَتِ اللَّهِ كَيْفَ يُحْيِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا إِنَّ ذَلِكَ لَمُحْيِ الْمَوْتَى وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (50)

"Allah-lah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang Dia kehendaki, dan menjadikannya bergumpal-gumpal, lalu engkau lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila Dia menurunkannya kepada hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki tiba-tiba mereka bergembira. Padahal walaupun sebelum hujan diturunkan kepada mereka, mereka benar-benar telah berputus asa. Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Allah menghidupkan bumi setelah mati (kering). Sungguh, itu berarti Dia pasti (berkuasa) menghidupkan yang telah mati. Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu." (Qs. ar-Rum: 49-50)

Para ulama menyebutkan bahwa kata (hujan) dalam al-Qur’an maknanya adalah rezeki. Sebagaimana di dalam firman Allah, 

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا (12)

"Maka aku berkata (kepada mereka), Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, sungguh, Dia Maha Pengampun, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu." (Qs. Nuh: 10-12)

Barakah dari bumi,  maknanya tumbuh tumbuhan yang subur yang menghasilkan berbagai macam buah buahan dan sayur sayuran untuk dimakan oleh manusia bahkan oleh binatang ternak, sebagaimana firman-Nya,

فَلْيَنْظُرِ الْإِنْسَانُ إِلَى طَعَامِهِ (24) أَنَّا صَبَبْنَا الْمَاءَ صَبًّا (25) ثُمَّ شَقَقْنَا الْأَرْضَ شَقًّا (26) فَأَنْبَتْنَا فِيهَا حَبًّا (27) وَعِنَبًا وَقَضْبًا (28) وَزَيْتُونًا وَنَخْلًا (29) وَحَدَائِقَ غُلْبًا (30) وَفَاكِهَةً وَأَبًّا (31) مَتَاعًا لَكُمْ وَلِأَنْعَامِكُمْ (32)

“Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. Kami-lah yang telah mencurahkan air melimpah (dari langit), kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya, lalu di sana Kami tumbuhkan biji-bijian, dan anggur dan sayur-sayuran, dan zaitun dan pohon kurma, dan kebun-kebun (yang) rindang, dan buah-buahan serta rerumputan. (Semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk hewan-hewan ternakmu.(Qs. Abasa: 24-32)

Allah juga berfirman,

وَالْأَرْضَ بَعْدَ ذَلِكَ دَحَاهَا (30) أَخْرَجَ مِنْهَا مَاءَهَا وَمَرْعَاهَا (31) وَالْجِبَالَ أَرْسَاهَا (32) مَتَاعًا لَكُمْ وَلِأَنْعَامِكُمْ (33)

“Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya. Ia memancarkan darinya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. Dan gunung-gunung dipancarkan-Nya dengan teguh, (semua itu) untuk kesenangan kalian dan untuk binatang-binatang ternakmu.)Qs. an-Nazi'at: 30-33)

Allah juga berfirman,

الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ مَهْدًا وَسَلَكَ لَكُمْ فِيهَا سُبُلًا وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْ نَبَاتٍ شَتَّىٰ كُلُوا وَارْعَوْا أَنْعَامَكُمْ  إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِأُولِي النُّهَىٰ

Yang telah menjadikan bagi kalian bumi sebagai hamparan dan Yang menjadikan bagi kalian di bumi ini jalan-jalan, dan menurunkan dari langit air hujan. Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam. Makanlah dan gembalakanlah binatang-binatang kalian. Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal.” (Qs. Thaha: 53-54)

Pada zaman modern ini barakah dari bumi bisa berarti kekayaan sumber daya alam (SDA) yang melimpah seperti petroleum, timah, gas alam, nikel, tembaga, bauksit, timah, batu bara, emas, dan perak.

Pelajaran (5): Bersyukur terhadap Nikmat

 وَلٰـكِنْ كَذَّبُوْا

“Akan tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami).”

Jika suatu negeri diberikan kelimpahan harta dan sumber daya alam, maka wajib bagi mereka untuk bersyukur kepada Allah dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, agar nikmat tersebut langgeng dan ditambah oleh Allah, sebagaimana firman-Nya,

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (Qs. Ibrahim: 7)

Tetapi justru mereka mendustakan para Rasul dan para pembawa kebenaran,  maka Allah mencabut nikmat-nikmat tersebut dari mereka. Ini sesuai dengan firman-Nya,

كَدَأْبِ اٰلِ فِرْعَوْنَ وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ كَفَرُوْا بِاٰيٰتِ اللّٰهِ  فَاَخَذَهُمُ اللّٰهُ بِذُنُوْبِهِمْ اِنَّ اللّٰهَ قَوِيٌّ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

"(Keadaan mereka) serupa dengan keadaan pengikut Fir'aun dan orang-orang yang sebelum mereka. Mereka mengingkari ayat-ayat Allah, maka Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosanya. Sungguh, Allah Maha Kuat lagi sangat keras siksa-Nya." (Qs. al-Anfal: 52)

Ayat ini ditutup dengan firman-Nya,

فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

“Maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.

Akibat perbuatan maksiat mereka, bukan hanya dicabut nikmat Allah yang begitu banyak,  bahkan Allah menimpakan adzab yang pedih kepada mereka. Allah berfirman,

قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ أَصْبَحَ مَاؤُكُمْ غَوْرًا فَمَنْ يَأْتِيكُمْ بِمَاءٍ مَعِينٍ

“Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku jika sumber air kamu menjadi kering; maka siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu?(Qs. al-Mulk: 30)

Pelajaran (6): Takut terhadap Musibah  

Salah satu tanda kuatnya Tauhid seseorang adalah takut kepada adzab Allah yang datang setiap saat pada waktu dan arah yang tidak disangka sangka. Jika penduduk suatu negeri mempunyai rasa takut terhadap adzab Allah, maka Allah akan menjaga mereka dan melindungi dari segala mara bahaya. Dan kalau kita renungi secara seksama penyebab kehancuran suatu negeri dan mundurnya suatu bangsa adalah karena tidak ada rasa takut kepada adzab Allah. Allah berfirman,

أَفَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَىٰ أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا بَيَاتًا وَهُمْ نَائِمُونَ  أَوَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَىٰ أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا ضُحًى وَهُمْ يَلْعَبُونَ  أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ ۚ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ

Maka apakah penduduk kota-kota itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk kota-kota itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalah naik ketika mereka sedang bermain-main? Maka apakah mereka merasa aman dari adzab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dari adzab Allah kecuali orang-orang yang merugi.(Qs. al-A'raf: 97-99)

Oleh karenanya, kita diperintahkan untuk selalu memohon kepada Allah agar dihindarkan dari musibah yang datang mendadak dari arah yang tidak disangka-sangka. Di dalam hadist Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu 'anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ، وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ، وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ، وَجَمِيعِ سَخَطِكَ

“Ya Allah, saya berlindung kepada-Mu dari hilangnya nikmat-Mu, dan dari pindahnya keselamatan yang Engkau berikan, dan dari kedatangan sangsi-Mu yang tiba-tiba, serta dari seluruh murka-Mu.” (HR. Muslim)

Kesimpulannya, yang membedakan antara negeri yang bertauhid dan negeri yang tidak bertauhid adalah adanya rasa takut penduduknya kepada adzab Allah. 

***