Karya Tulis
18 Hits

Bab 6 Tauhid Meneguhkan Kekuasaan


وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِرُسُلِهِمْ لَنُخْرِجَنَّكُمْ مِنْ أَرْضِنَا أَوْ لَتَعُودُنَّ فِي مِلَّتِنَا فَأَوْحَىٰ إِلَيْهِمْ رَبُّهُمْ لَنُهْلِكَنَّ الظَّالِمِينَ وَلَنُسْكِنَنَّكُمُ الْأَرْضَ مِنْ بَعْدِهِمْ  ذَٰلِكَ لِمَنْ خَافَ مَقَامِي وَخَافَ وَعِيدِ

Orang-orang kafir berkata kepada Rasul-rasul mereka: "Kami sungguh-sungguh akan mengusir kamu dari negeri kami atau kamu kembali kepada agama kami".  Maka Tuhan mewahyukan kepada mereka: "Kami pasti akan membinasakan orang-orang yang lalim itu dan Kami pasti akan menempatkan kamu di negeri-negeri itu sesudah mereka. Yang demikian itu (adalah untuk) orang-orang yang takut (akan menghadap) ke hadirat-Ku dan yang takut kepada ancaman-Ku."

(Qs. Ibrahim: 13-14)

Pelajaran (1): Penguasa Kafir yang Otoriter

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِرُسُلِهِمْ لَنُخْرِجَنَّكُمْ مِنْ أَرْضِنَا

Orang-orang kafir berkata kepada Rasul-rasul mereka: "Kami sungguh-sungguh akan mengusir kamu dari negeri kami.

Para penguasa kafir yang tidak bertauhid akan membuat kegaduhan di dalam negeri. Dengan sikap angkuh dan sombongnya, mereka akan mengusir para rasul dan utusan Allah dari tempat tinggal mereka. Sebaliknya, jika yang berkuasa adalah orang-orang beriman yang mempunyai tauhid kuat, mereka tidak akan mengusir orang orang beriman dari kampung halaman mereka,  bahkan tidak pula mengusir penduduk yang berbeda agama,  atau memaksa mereka untuk masuk agama Islam. Belum ada sejarah yang menyebutkan hal itu. Sebaliknya, sejarah telah mencatat begitu banyak para penguasa kafir mengusir umat Islam dari tempat tinggal mereka dan memaksa mereka untuk pindah agama.  Di dalam al-Quran disebutkan berapa contoh, diantaranya:

(1)  Raja Namrud

Raja Namrud yang memiliki tubuh besar dan kekar serta mempunyai kekuasaan yang besar memaksa Nabi Ibrahim untuk menyembah berhala.  Ketika Nabi Ibrahim menolaknya dan justru menghancurkan berhala-berhala yang mereka sembah, Raja Namrud marah, dan memerintahkan untuk membakar nabi Ibrahim. Dia dibakar hanya karena menyembah Allah Yang Maha Esa. Kisah ini diabadikan dalam al-Qur'an sebagaimana dalam firman Nya,

قَالُوا حَرِّقُوهُ وَانْصُرُوا آلِهَتَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ فَاعِلِينَ

“Mereka berkata: "Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak". (Qs. al-Anbiya’: 68)

(2) Ashabul Ukhdud

Adalah Yusuf bin Syarahbil, penguasa kafir di Najran, wilayah Yaman, dia menggali parit yang dipenuhi api, kemudian melempar orang orang yang beriman ke dalam parit tersebut, hanya karena mereka tetap teguh memegang ajaran tauhid, menyembah Allah saja,  mereka tidak mau  kembali kepada agama nenek moyang mereka yang terbiasa menyembah berhala. Peristiwa tragis ini diabadikan dalam al-Quran, sebagaimana firman Allah,

 قُتِلَ أَصْحَابُ الْأُخْدُودِ (4) النَّارِ ذَاتِ الْوَقُودِ (5) إِذْ هُمْ عَلَيْهَا قُعُودٌ (6) وَهُمْ عَلَى مَا يَفْعَلُونَ بِالْمُؤْمِنِينَ شُهُودٌ (7) وَمَا نَقَمُوا مِنْهُمْ إِلَّا أَنْ يُؤْمِنُوا بِاللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ (8)

“Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit. yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji,(Qs. al-Buruj: 4-8)

(3) Fir’aun

Raja Ramses II, adalah Fir’aun, penguasa Mesir yang memaksa penduduknya untuk menyembah dirinya. Nabi Musa diutus Allah untuk mengingatkannya agar dia hanya menyembah Allah saja. Tetapi Fir’aun tetap saja bersikukuh bahwa dirinya adalah Tuhan. Kisah ini dijelaskan oleh Allah di dalam al-Qur’an, diantaranya adalah firman-Nya, 

وَنَادَى فِرْعَوْنُ فِي قَوْمِهِ قَالَ يَاقَوْمِ أَلَيْسَ لِي مُلْكُ مِصْرَ وَهَذِهِ الْأَنْهَارُ تَجْرِي مِنْ تَحْتِي أَفَلَا تُبْصِرُونَ

“Dan Firaun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata: "Hai kaumku, bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku; maka apakah kamu tidak melihat (nya)? (Qs. az-Zukhruf: 51)

Firman Allah,  

فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَى  

“(Seraya) berkata: "Akulah tuhanmu yang paling tinggi.” (Qs. an-Nazi’at: 24)

Firman Allah,

وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَاأَيُّهَا الْمَلَأُ مَا عَلِمْتُ لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرِي 

Dan berkata Firaun: "Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku.” (Qs. al-Qashas: 38)

Firman Allah,

قَالَ لَئِنِ اتَّخَذْتَ إِلَهًا غَيْرِي لَأَجْعَلَنَّكَ مِنَ الْمَسْجُونِينَ 

“Firaun berkata: "Sungguh jika kamu menyembah Tuhan selain aku, benar-benar aku akan menjadikan kamu salah seorang yang dipenjarakan".(Qs. asy-Syu’ara: 29)

 

Pelajaran (2): Pengusiran Ahli Tauhid

لَنُخْرِجَنَّكُمْ مِنْ أَرْضِنَا

Kami sungguh-sungguh akan mengusir kamu dari negeri kami.

  1. Inilah karakter para penguasa kafir sejak zaman dahulu hingga sekarang. Banyak ayat yang menjelaskan hal tersebut selain ayat di atas, diantaranya sebagai berikut:

(1). Pengusiran Nabi Syu’aib (Qs. al-A’raf: 88)

(2). Pengusiran Nabi Luth (Qs. an-Naml: 56)

(3). Pengusiran Nabi Musa (Qs. al-Isra’: 103)

(4). Pengusiran Nabi Muhammad (Qs. al-Anfal: 30, Qs. at-Taubah: 40, Qs. al-Isra’: 76)

Mereka lupa, bahwa wilayah yang mereka kuasai tersebut adalah wilayah yang Allah ciptakan sebelum mereka lahir di dunia ini. Bahkan Allah-lah yang menciptakan mereka dan menciptakan langit dan bumi. Maka, mestinya seluruh makhluk termasuk manusia harus tunduk dengan aturan Allah di bumi Allah ini, jika tidak mau ikut aturan Allah, silakan untuk keluar dari bumi Allah. 

Mengusir para rasul dan penyeru kebenaran dari kampung halaman mereka pada zaman sekarang mempunyai dua bentuk:

(1) Mengusir dari negara di mana mereka tinggal.  Ini terjadi di beberapa tempat, diantaranya: (a)  Pengusiran Pasukan Salib terhadap umat Islam dari Negeri mereka, Andalus. (b)  Pengusiran Pasukan Israel terhadap penduduk Palestina. (c) Pengusiran Penguasa Myanmar terhadap Etnis Rohingya Muslim dari wilayah Rakhine.

(2) Mengusir mereka dari rumah dan lingkungannya untuk dikucilkan di suatu tempat yang jauh,  atau di masukan ke dalam penjara. Ini seperti ancaman Fir’aun kepada Nabi Musa, sebagaimana di dalam firman-Nya (Qs. asy-Syu’ara’: 29) yang telah tersebut di atas.  

 

Pelajaran (3): Agama yang Dipaksakan

أَوْ لَتَعُودُنَّ فِي مِلَّتِنَا

Atau kamu kembali kepada agama kami.”

Menunjukkan bahwa agama mereka adalah agama pemaksaan, para penguasa dengan tangan besinya,  memaksa rakyatnya untuk masuk agama mereka.  Berbeda dengan agama Islam, tidak ada paksaan di dalamnya.  Barang siapa ingin beriman, maka berimanlah dengan kesadaran, sebaliknya barang siapa yang ingin kafir,  maka kafirlah dengan kesadaran. Masing-masing akan mendapatkan balasan sesuai dengan pilihannya.  Ini sesuai dengan firmanNya,

وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ

“Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barang siapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir". (Qs. al-Kahfi: 29)

 

Pelajaran (4): Kehancuran Penguasa Kafir

فَأَوْحَىٰ إِلَيْهِمْ رَبُّهُمْ لَنُهْلِكَنَّ الظَّالِمِينَ

Maka Tuhan mewahyukan kepada mereka: "Kami pasti akan membinasakan orang-orang yang lalim itu.

Sudah menjadi sunnatullah (hukum alam), bahwa setiap penguasa kafir yang mengusir para rasul dan  utusan Allah,  begitu juga mengusir para ulama dam penyeru kebenaran,  maka akan berakhir dengan kehancuran penguasa tersebut.  Ini dikuatkan oleh firman Allah,

وَإِنْ كَادُوا لَيَسْتَفِزُّونَكَ مِنَ الْأَرْضِ لِيُخْرِجُوكَ مِنْهَا وَإِذًا لَا يَلْبَثُونَ خِلَافَكَ إِلَّا قَلِيلًا (76) سُنَّةَ مَنْ قَدْ أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنْ رُسُلِنَا وَلَا تَجِدُ لِسُنَّتِنَا تَحْوِيلًا (77)

“Dan sesungguhnya benar-benar mereka hampir membuatmu gelisah di negeri (Mekkah) untuk mengusirmu daripadanya dan kalau terjadi demikian, niscaya sepeninggalmu mereka tidak tinggal, melainkan sebentar saja. (Kami menetapkan yang demikian) sebagai suatu ketetapan terhadap rasul-rasul Kami yang Kami utus sebelum kamu dan tidak akan kamu dapati perubahan bagi ketetapan Kami itu.(Qs. al-Isra': 76-77)

Di dalam Tafsir Ibnu Katsir (5/101) disebutkan bahwa ayat ini menurut sebagian ulama diturunkan kepada para kafir Quraisy, ketika mereka ingin mengusir Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari (Mekkah), maka Allah mengancam dengan ayat ini, yaitu jika mereka benar-benar mengusir Rasulullah, maka mereka tidak akan bisa tenang tinggal di Mekkah kecuali sebentar saja. Dan itulah yang terjadi, ketika beliau hijrah dari Mekkah karena tekanan dan intimidasi terhadapnya menguat, para kafir Quraisy tidak lagi tinggal di Mekkah kecuali hanya satu tahun setengah, sampai Allah mentakdirkan terjadi perang Badar, dan mereka banyak yang terbunuh dalam perang tersebut. Sungguh Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya.

Kata (رَبُّهُم) pada ayat di atas, memberikan isyarat dan pesan bahwa umat Islam mempunyai Rabb, yang selalu mengawasi dan membimbing mereka ke jalan yang lurus  serta menolong mereka pada saat mereka membutuhkan pertolongan. Pertolongan Allah ini biasanya datang ketika umat Islam pasrah penuh kepada Allah dan tidak mengharap sedikit  dari manusia, sebagaimana yang tersebut di dalam (Qs. Ali Imran: 123, Qs. al-Anfal: 26, dan Qs. Yusuf: 110)

 

Pelajaran (5): Kemenangan Ahli Tauhid

وَلَنُسْكِنَنَّكُمُ الْأَرْضَ مِنْ بَعْدِهِمْ ذَلِكَ لِمَنْ خَافَ مَقَامِي وَخَافَ وَعِيدِ

Kami pasti akan menempatkan kamu di negeri-negeri itu sesudah mereka. Yang demikian itu (adalah untuk) orang-orang yang takut (akan menghadap) ke hadirat-Ku dan yang takut kepada ancaman-Ku.”  

Setelah mereka dihancurkan oleh Allah, maka Allah mewariskan bumi dan negeri ini kepada orang-orang yang beriman, khususnya yang mempunyai tauhid yang kuat.

Ahli Tauhid yang akan mewarisi bumi ini dari tangan para penguasa kafir adalah mereka yang mempunyai dua sifat, sebagaimana yang disebutkan pada ayat di atas, yaitu:

(1) Takut kepada Keagungan Allah pada hari kiamat.

(2) Takut akan ancaman dan adzab Allah. Ini sesuai dengan firman Allah,

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tingga(nya).” (Qs. an-Nazi’at: 40-41)

Ayat di atas mengisyaratkan kepada kita bahwa orang yang takut terhadap keagungan Allah pada hari kiamat, maka dia akan berusaha menahan hawa nafsunya dari melanggar apa-apa yang dilarang oleh Allah. Jika demikian adanya, maka orang seperti ini berhak mendapatkan pertolongan Allah dan berhak mendapatkan kemenangan dan akan mewarisi bumi Allah ini dari orang-orang kafir.

Ayat-ayat serupa terdapat di beberapa surat al-Qur’an diantaranya,

(1)  Tentara Allah pasti akan menang dan mendapatkan pertolongan Allah. (Qs. ash-Shaffat: 171-173)

(2)  Allah dan Rasul-Nya akan menang. (Qs. al-Mujadilah: 21)

(3)  Bumi ini akan diwariskan kepada hamba-hamba Allah yang shalih. (Qs. al-Anbiya’: 105)

(4)  Bumi ini akan diwariskan kepada hamba-hamba Allah yang bertakwa. (Qs. al-A’raf: 28) 

***