Karya Tulis
66 Hits

Bab 2 Memperbaiki Agama, Dunia dan Akhirat


 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ:

 اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِي دِينِي الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِي وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الَّتِي فِيهَا مَعَاشِي وَأَصْلِحْ لِي آخِرَتِي الَّتِي فِيهَا مَعَادِي وَاجْعَلْ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِي فِي كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلْ الْمَوْتَ رَاحَةً لِي مِنْ كُلِّ شَرٍّ

Dari Abu Hurairah, dia berkata; "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdoa sebagai berikut:

“Ya Allah ya Tuhanku, perbaikilah bagiku agamaku sebagai benteng urusanku; perbaikilah bagiku duniaku yang menjadi tempat kehidupanku; perbaikilah bagiku akhiratku yang menjadi tempat kembaliku! Jadikanlah ya Allah kehidupan ini mempunyai nilai tambah bagiku dalam segala kebaikan dan jadikanlah kematianku sebagai kebebasanku dari segala kejahatan!”

(HR. Muslim, 4897)

 

Hadits di atas mengandung lima hal yang sangat penting dalam hidup seorang muslim. Adapun keterangannya sebagai berikut;

 

Pertama, Perbaikan Agama

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِي دِينِي الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِي

“Ya Allah perbaikilah bagiku agamaku sebagai benteng urusanku.”

Yang paling untuk diperbaiki dalam hidup seorang muslim adalah urusan agama. Karena agama adalah pegangan setiap muslim dalam menghadapi segala problematika hidup. Agama akan memberikan solusi dalam setiap masalah. Di dalamnya ada petunjuk Allah, penerang dalam kegelapan, penentram di kala galau, penyejuk hati di saat gundah gulana.

Dengan agama, orang bisa kuat dalam menghadapi segala musibah, tegar dalam setiap bencana, tegak ketika terjadi benturan.

Agama ini terwujud dalam al-Qur’an dan hadits Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (Qs. al-Isra’: 82)

Salah satu makna perbaikan agama adalah perbaikan dalam kualitas dan kuantitas dalam beragama. Ini tersebut di dalam doa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخَذَ بِيَدِهِ وَقَالَ يَا مُعَاذُ وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ فَقَالَ أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ لَا تَدَعَنَّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ تَقُولُ اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Dari Mu'adz bin Jabal bahwa Rasulullah shallAllahu wa'alaihi wa sallam menggandeng tangannya dan berkata: "Wahai Mu'adz, demi Allah, aku mencintaimu." Kemudian beliau berkata: "Aku wasiatkan kepadamu wahai Mu'adz, janganlah engkau tinggalkan setiap selesai shalat untuk mengucapkan, “Ya Allah, bantulah aku untuk berdzikir dan bersyukur kepadaMu serta beribadah kepada-Mu dengan baik.” (HR. Abu Daud, 1301)

Hadits di atas memerintahkan setiap muslim agar meminta bantuan kepada Allah dalam memperbaiki perkara agamanya, yang intinya ada tiga, yaitu:

(1) selalu ingat kepada Allah (mengingat nikmat-Nya, takut adzab-Nya dan akan kembali kepada-Nya),

(2) untuk selalu mensyukuri nikmat Allah yang begitu banyak,

(3) memperbaiki kualitas dan kuantitas ibadah, baik ibadah mahdhah maupun ibadah muamalah.

Meminta bantuan kepada Allah adalah inti penghambaan kepada-Nya, sebagaimana firman Allah,

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya kepada Engkau lah kami menyembah dan hanya kepada Engkau kami memohon pertolongan.” (Qs. al-Fatihah: 5)

Kedua, Perbaikan Dunia

وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الَّتِي فِيهَا مَعَاشِي

“Dan perbaikilah bagiku duniaku yang menjadi tempat kehidupanku.”

Islam adalah agama realistis yang sesuai dengan kenyataan, agama yang membumi yang menyapa masyarakat, bukan agama yang berisi teori-teori yang susah dipraktekkan. Tetapi agama yang ajarannya dapat dipahami dan mudah dipraktekkan oleh masyarakat. Salah satu buktinya, perintah untuk memperbaiki kondisi hidup di dunia ini. Islam tidak memerintahkan umatnya untuk meninggalkan urusan dunia dan membiarkan manusia hidup hanya di pojok-pojok masjid.

Suatu ketika Umar bin al-Khaththab mendapatkan pemuda yang selalu di masjid sibuk dengan ibadah dan doa yang berisi meminta rezeki. Tetapi doa tersebut tidak diiringi dengan usaha dan kerja keras, maka Umar memarahi pemuda tersebut dan mengatakan kepadanya,

إن السماء لا تمطر ذهبا ولا فضة

“Sesungguhnya langit tidak akan mengirimkan hujan emas dan perak.” 

Di dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.” (Qs. al-Qashshash: 77)

Ini sesuai dengan doa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika duduk di antara dua sujud.

عن ابن عباس ، رضي الله عنه قال : كان النبي صلى الله عليه وسلم يقول بين السجدتين : « رب اغفر لي وارحمني واهدني وعافني وارزقني »

“Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika duduk di antara dua sujud berdoa, ‘Ya Allah, ampunilah aku, rahmati aku, berikan hidayah kepadaku, berilah keselamatan bagiku, dan berikan kepadaku rezeki’.” (HR. Thabrani, 565)

Doa dalam hadits di atas menggabungkan antara permintaan akhirat dan dunia. Permintaan akhirat ada tiga, yaitu: ampunan, rahmat dan hidayah. Sedangkan permintaan dunia ada dua, yaitu: keselamatan dan rezeki.

 

Ketiga, Perbaikan Akhirat.

وَأَصْلِحْ لِي آخِرَتِي الَّتِي فِيهَا مَعَادِي

“Perbaikilah bagiku akhiratku yang menjadi tempat kembaliku.

Yang dimaksud dengan perbaikan akhirat di sini mencakup tiga hal, yaitu;

(1) Perbaikan ketika sakaratul maut agar mendapatkan husnul khatimah.

(2) Agar bisa menjawab pertanyaan malaikat di alam kubur dan diselamatkan dari adzab kubur.

(3) Agar di akhirat kelak dimasukkan ke dalam surga dan diselamatkan dari siksa neraka.

Di antara dalil-dalil yang menunjukkan hal ini adalah sebagai berikut;

Firman Allah subhanahu wa ta’ala,

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ

  “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (Qs. Ibrahim: 27)

Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan ayat di atas (Allah meneguhkan orang-orang beriman dalam kehidupan akhirat) adalah ketika sakaratul maut dan ketika di alam kubur.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala,

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (Qs. Ali Imran: 185)

Ayat di atas menunjukkan bahwa kesuksesan yang hakiki adalah kesuksesan akhirat, dengan dijauhkan dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga.

Sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Dari Mu'adz bin Jabal, ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa yang akhir perkataannya (sebelum meninggal dunia) 'LAA ILAAHA ILLALLAAH’ maka ia akan masuk surga".” (HR. Abu Daud, 2709)

Hadits di atas menunjukkan perbaikan akhirat yaitu mampu mengucapkan kalimat tauhid di akhir hidupnya.

Cita-cita agar mendapatkan husnul khatimal pernah dinyatakan oleh Umar bin al-Khaththab. Beliau berkata, “Ya Allah matikan aku dalam keadaan syahid di kota Rasul-Mu (Kota Madinah).” Dan doa tersebut dikabulkan oleh Allah ketika beliau dalam keadaan beliau menjadi imam shalat Subuh di Masjid Nabawi dibunuh oleh orang kafir yang bernama Abu Lu’lu’ al-Majusi.

Keempat, Hidup untuk Menambah Kebaikan.

وَاجْعَلْ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِي فِي كُلِّ خَيْرٍ

Jadikanlah ya Allah kehidupan ini mempunyai nilai tambah bagiku dalam segala kebaikan.

Doa ini menunjukkan kebolehan meminta kepada Allah panjang umur jika hal itu bisa menambah pundi-pundi kebaikan sebagai bekal untuk menghadap Allah di akhirat kelak. Dan sebaik-baik orang adalah yang panjang umurnya dan banyak kebaikannya, sebagaimana di dalam hadits,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُسْرٍ أَنَّ أَعْرَابِيًّا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ خَيْرُ النَّاسِ قَالَ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ

“Dari 'Abdullah bin Busr, seorang badui bertanya: Wahai Rasulullah, siapa orang terbaik itu? Rasulullah Shallallahu 'alahi wa Salam menjawab: "Orang yang panjang umurnya dan baik amalnya".” (HR. at-Tirmidzi, 2251)

Jadi, jika seseorang diberikan oleh Allah panjang umur maka hendaknya dia bersyukur. Karena pada hakekatnya Allah memberikan kesempatan kepadanya untuk memperbanyak amal shalih dan mengejar kekurangan-kekurangan pada masa lalu.

Diriwayatkan dari Thalhah bin Ubaidillah bahwasanya beliau bermimpi dan bertemu dengan dua orang yang sudah meninggal duluan. Yang satu lebih panjang umurnya. Padahal sewaktu hidupnya amalannya kalah dengan orang yang lebih pendek umurnya. Tetapi di akhirat, derajatnya jauh lebih tinggi daripada yang umurnya pendek. Hal itu karena dia berkesempatan memperbanyak amal shalih di sisa umurnya termasuk bertemu lagi dengan bulan Ramadhan pada tahun berikutnya.

Meminta panjang umur itu hanya dilakukan ketika kita masih hidup sehat, sebelum datang sakaratul maut. Adapun ketika datang sakaratul maut, maka permintaan itu tidak ada manfaatnya. Sebagaimana di dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ

“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: "Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?" (Qs. al-Munafiqun: 10)

Kelima, Mati untuk Istirahat dari Dosa.

وَاجْعَلْ الْمَوْتَ رَاحَةً لِي مِنْ كُلِّ شَرٍّ

“Dan jadikanlah kematianku sebagai kebebasanku dari segala dosa.

Hadits di atas menunjukkan kebolehan seseorang meminta mati jika kematian menjadi sarana untuk menghentikan dari dosa-dosa dan maksiat. Ini dikuatkan dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala,

قَالَتْ يَا لَيْتَنِي مِتُّ قَبْلَ هَذَا وَكُنْتُ نَسْيًا مَنْسِيًّا

“Dia berkata: "Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan."”

Ayat di atas menunjukkan kebolehan meminta mati jika hidup ini hanya dipenuhi dengan maksiat atau hidupnya menyebabkan orang lain bermaksiat. Hal ini dikuatkan dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدُكُمْ الْمَوْتَ لِضُرٍّ نَزَلَ بِهِ فَإِنْ كَانَ لَا بُدَّ مُتَمَنِّيًا فَلْيَقُلْ اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتْ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِي وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتْ الْوَفَاةُ خَيْرًا ليِ

“Dari Anas bin Malik dia berkata; "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda: 'Janganlah ada seseorang di antara kalian yang mengharapkan kematian karena tertimpa kesengsaraan. Kalau terpaksa ia harus berdoa, maka ucapkanlah; 'Ya Allah, berilah aku kehidupan apabila kehidupan tersebut memang lebih baik bagiku dan matikanlah aku apabila kematian tersebut memang lebih baik untukku.' (HR. Muslim, 4840)