Karya Tulis
56 Hits

Bab 3 Doa Menghilangkan Kesedihan


عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَكُنْتُ أَخْدُمُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا نَزَلَ فَكُنْتُ أَسْمَعُهُ كَثِيرًا يَقُولُ :

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ

“Dari Anas bin Malik, ia berkata, “Aku melayani Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam saat beliau singgah dan aku selalu mendengar beliau banyak berdo'a:

“Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari (sifat) gelisah, sedih, lemah, malas, kikir, pengecut, terlilit hutang dan dari kekuasaan.” 

(HR. al-Bukhari, 6369)

 

        Pelajaran dari hadits di atas;

Pertama, Menjadi Relawan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam

Anas bin Malik merupakan salah satu sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang banyak meriwayatkan hadits dari beliau. Sewaktu kecil, ibunya yang bernama Ummu Sulaim datang kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, seraya berkata, “Wahai Rasulullah, aku ingin mewakafkan anakku ini untuk kepentingan Islam dan untuk membantu segala keperluanmu. Silakan perintahkan apa saja kepada anakku ini.”

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan agar Anas bin Malik ini menjadi orang yang shalih, panjang umur dan banyak anaknya. Dan ternyata benar, beliau hidup sampai berusia 103 tahun, dan termasuk generasi sahabat yang paling terakhir wafat (pada tahun 93 H) di Basrah.

Kedua, Banyak Berdoa

Anas bin Malik menceritakan bahwa beliau banyak mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sering berdoa, baik ketika sedang muqim maupun sedang safar. Ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak mengingat Allah di dalam seluruh aktifitas hidupnya. Inilah ciri hamba Allah yang hakiki.

Nabi Musa ‘alaihi as-salam dalam setiap aktifitasnya terutama dalam safarnya juga selalu berdoa dan mengingat Allah. Diantaranya adalah;

(1)  Ketika memukul orang hingga mati tanpa sengaja, beliau berdoa, sebagaimana firman Allah,  

قَالَ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي فَغَفَرَ لَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Musa mendoa: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku." Maka Allah mengampuninya, sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. al-Qashash: 16)

(2) Ketika dikejar tentara Fir’aun, beliau berdoa, sebagaimana firman Allah,

فَخَرَجَ مِنْهَا خَائِفًا يَتَرَقَّبُ قَالَ رَبِّ نَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

“Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir, dia berdoa: "Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu".” (Qs. al-Qashash: 21)

(3) Ketika dalam perjalanan menuju negeri Madyan, beliau minta petunjuk kepada Allah, sebagaimana firman-Nya,

وَلَمَّا تَوَجَّهَ تِلْقَاءَ مَدْيَنَ قَالَ عَسَى رَبِّي أَنْ يَهْدِيَنِي سَوَاءَ السَّبِيلِ

Dan tatkala ia menghadap ke jurusan negeri Madyan ia berdoa (lagi): "Mudah-mudahan Tuhanku memimpinku ke jalan yang benar".” (Qs. al-Qashash: 22)

(4) Ketika lapar dan kehausan, beliau berdoa di bawah pohon, sebagaimana firman Allah,

فَسَقَى لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّى إِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ

“Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa: "Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku".” (Qs. al-Qashash: 24)

Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hal ini meminta perlindungan kepada Allah dari delapan perkara. Setiap dua perkara saling berdekatan maknanya, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu al-Qayim di dalam bukunya Badai’ al-Fawaid (2/433). 

Delapan perkara tersebut adalah: (a) kegelisahan dan kesedihan, (b) kelemahan dan kemalasan, (c) sifat pengecut dan bakhil, (d) terlilitnya hutang dan penguasaan laki-laki.

Ketiga, Berlindung dari Kegelisahan dan Kesedihan

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ

Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari (sifat) gelisah dan sedih.

Al-Hamm (kegelisahan) dan al-Hazan (kesedihan), keduanya sama-sama membuat jiwa menjadi tidak tenang dan tidak nyaman. Tidak seorangpun menginginkan jiwa yang gelisah dan sedih.

Adapun perbedaan antara keduanya, bahwa al-Hamm adalah kegelisahan terhadap hal-hal yang mungkin akan terjadi di masa mendatang. Sedang al Hazan adalah kesedihan terhadap sesuatu yang telah terjadi atau kehilangan sesuatu yang dicintai.

Dua sifat yang dimiliki oleh para wali Allah, yaitu mereka tidak merasa khawatir dengan sesuatu yang belum terjadi di masa mendatang dan mereka tidak sedih dengan sesuatu yang sudah terjadi di masa lalu. Allah berfirman,

أَلا إِنَّ أَوْلِيَاء اللّهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ الَّذِينَ آمَنُواْ وَكَانُواْ يَتَّقُونَ

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (Qs. Yunus: 62-63)

Orang yang sering gelisah dan sedih menunjukkan lemah imannya kepada Allah. Hal itu, karena segala sesuatu yang sudah terjadi maupun yang akan terjadi, tidaklah lepas dari taqdir Allah.

Orang beriman akan selalu percaya dengan taqdir Allah, yang baik maupun yang buruk. Dia tidak akan berbangga diri dengan apa yang didapat dan tidak akan putus asa dengan yang luput darinya. Ini teringkas di dalam firman Allah,

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ (22) لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ (23)

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (Qs. al-Hadid: 22-23)

Keempat: Berlindung dari Sifat Lemah dan Kemalasan

 وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ

“(Dari sifat) lemah dan malas.”

Al-‘Ajz (lemah) dan al-Kasal (malas) keduanya menjadi penyebab rasa tidak nyaman dalam jiwa, karena lemah dan malas akan menjadi penghalang seseorang untuk mendapatkan sesuatu yang dicintainya dan membahagiakan dirinya.

Al-‘Ajzu (lemah) adalah tidak adanya kemampuan diri untuk mengerjakan sesuatu walau sebenarnya dia punya kemauan. Seperti halnya seseorang yang ingin menyantuni anak yatim tetapi tidak mempunyai uang atau ingin merubah kemungkaran tetapi tidak mempunyai kekuatan. sedangkan al-Kasal (malas) adalah tidak adanya kemauan untuk melakukan pekerjaan, walaupun sebenarnya dia mampu. Seperti halnya seseorang yang sehat dan mempunyai waktu longgar, tetapi tidak ada kemauan untuk pergi ke masjid, atau seseorang yang kaya raya, tetapi tidak ada keinginan untuk melaksanakan ibadah haji atau berinfaq di jalan Allah.

Ringkasnya bahwa al-’Ajzu adalah seseorang yang mempunyai kemauan tetapi tidak mempunyai kemampuan, sedangkan al-Kasal adalah seseorang yang mempunyai kemampuan tetapi tidak mempunyai kemauan.

Malas adalah salah satu sifat orang munafik di dalam beribadah. Allah berfirman,

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. (Qs. an-Nisa’: 142)

Kelima, Berlindung dari Sifat Pengecut dan Kikir

Al-Jubnu (pengecut) dan al-bukhlu (kikir) keduanya menunjukkan kecemasan dan kekhawatiran yang ada di dalam dirinya tentang nasib jiwa dan hartanya di masa mendatang, maka dia menjadi pengecut dan kikir. Pengecut (penakut) menurut KBBI adalah merasa gentar (ngeri) menghadapi sesuatu yang dianggap akan membawa bencana, atau tidak berani dalam menderita. Sifat pengecut ini lebih kepada kekhawatiran terhadap keselamatan badan dan jiwanya. Sedangkan kikir adalah sifat khusus untuk orang yang takut kehilangan harta walaupun dibelanjakan di jalan Allah.

Pengecut dan Kikir adalah dua sifat orang munafik. Dia sangat takut kehilangan jiwa dan hartanya. Munafik adalah orang yang sangat mencintai dunia, dia menjual agamanya demi dunia, berpura-pura masuk Islam untuk menyelamatkan jiwa dan hartanya. Karakter ini mirip dengan orang Yahudi. Keduanya seringkali bekerja sama untuk menyingkirkan umat Islam, dan berusaha meraih keuntungan dunia sebanyak mungkin walau dengan cara-cara yang keji.

Sejarah mencatat bahwa kedatangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Madinah, membuat orang Yahudi dan penguasa di kota tersebut terganggu. ‘Abdullah bin Ubay bin Salul, salah satu tokoh kafir di kota tersebut berpura-pura masuk Islam, karena ditinggalkan para pengikutnya. Jadi tujuannya untuk menyelamatkan muka, harta dan jiwanya dari kaum muslimin, walaupun hatinya sangat benci terhadap Islam. Seringkali dia bekerja sama dengan orang-orang Yahudi untuk memerangi Islam.

Di dalam al-Qur’an disebutkan sifat orang Yahudi yang takut mati dan cinta dunia, diantaranya adalah firman Allah,

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan".” (Qs. al-Jumu’ah: 8)

Begitu juga firman Allah,

وَلَتَجِدَنَّهُمْ أَحْرَصَ النَّاسِ عَلَى حَيَاةٍ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ يُعَمَّرُ أَلْفَ سَنَةٍ وَمَا هُوَ بِمُزَحْزِحِهِ مِنَ الْعَذَابِ أَنْ يُعَمَّرَ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِمَا يَعْمَلُونَ 

“Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya daripada siksa. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (Qs. al-Baqarah: 96)

Kedua sifat itu tentunya merupakan penyakit jiwa yang harus dihilangkan dari diri setiap muslim. Selain membahayakan akhirat dan agamanya, juga membahayakan  dunia dan kesehatannya.

Keenam, Berlindung dari Lilitan Hutang dan Penguasaan Orang

  Ghalabat ad-Dain (lilitan hutang) dan Qahru ar-Rijal (penguasaan orang), dua hal yang sering beiringan dan melekat satu dengan yang lainnya. Hal itu, karena seseorang yang punya hutang yang melilit dan tidak sanggup melunasinya, dia akan dibawah kontrol dan kekuasaan orang yang menghutanginya. Kapan saja dia bisa menyita barang-barang dan harta miliknya sebagai bayaran atas hutangnya.

Sebagian orang, rela mengorbankan apa saja yang dimilikinya, bahkan menjual kehormatan dirinya untuk membayar hutangnya... Na’udzubillah min dzalik.

Di dalam hadist riwayat Aisyah radhiyallahu ‘anha disebutkan,

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَدْعُو فِي الصَّلَاةِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَفِتْنَةِ الْمَمَاتِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ

“Dari 'Aisyah  bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dalam shalat membaca do'a: “ Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah Al Masih ad-Dajjal, dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kehidupan dan fitnah kematian. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan dosa dan hutang.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)  

Apa hubungan antara perbuatan dosa dan hutang, sehingga Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menggabungkan antara keduanya? Ya, karena orang yang sering berhutang, biasanya dia akan berbuat dosa. Dia sering berjanji akan melunasi hutang tersebut pada tanggal sekian, tapi ketika ditagih, dia mangkir dan memberikan alasan-alasan. Inilah perbuatan dosa.

Begitu juga, seseorang yang berhutang sering kali berkata bohong. Ketika ditagih hutangnya, dia berusaha untuk mencari alasan-alasan yang kebanyakan dibuat-buat, padahal kenyataannya tidak seperti itu. Oleh karenanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menggabungkan antara kedua sifat itu, karena saling berdekatan dan saling terkait.

Di dalam hadits tersebut, ada seseorang berkata kepada beliau, "Kenapa tuan banyak meminta perlindungan dari hutang?" Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam menjawab,

إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا غَرِمَ حَدَّثَ فَكَذَبَ وَوَعَدَ فَأَخْلَفَ

"Sesungguhnya seseorang apabila berhutang dia akan cenderung berkata dusta dan berjanji lalu mengingkarinya."

  Kesimpulan

Dari keterangan di atas, kita mengetahui bahwa delapan sifat di atas (gelisah, sedih, lemah, malas, pengecut, bakhil, hutang yang melilit dan penguasaan orang) adalah hal-hal yang membuat hidup kita tidak tenang dan hati kita tidak tentram. Semuanya itu akan menimbulkan berbagai macam penyakit dunia dan akherat. Oleh karenanya, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk selau berdo’a kepada Allah meminta perlindungan kepada-Nya atas delapan hal di atas. Mudah-mudahan Allah menunjukkan kita kepada jalan-Nya dalam kehidupan ini. Amin.