Karya Tulis
26 Hits

Bab 5 Memohon Ditutup Aib


اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي وَمَالِي اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي وَآمِنْ رَوْعَاتِي وَاحْفَظْنِي مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ وَمِنْ خَلْفِي وَعَنْ يَمِينِي وَعَنْ شِمَالِي وَمِنْ فَوْقِي وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِي

“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu ampunan dan keselamatan dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu ampunan dan keselamatan di dalam menjalankan dienku, duniaku, keluargaku dan hartaku. Ya Allah, tutupilah auratku, dan berikan rasa aman dari rasa takutku, lindungilah kami dari bahaya yang datang dari hadapanku, dari belakangku, dari samping kananku, dari sampaing kiriku dan dari atasku dan aku berlindung kepada-Mu dari bahaya yang datang tak disangka dari bawahku.”

(HR. Ibnu Majah, 3861. Dari Ibnu ‘Umar)

 

Doa di atas termasuk dalam rangkaian dzikir pagi dan petang, sebagaimana diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkan membaca doa ini di waktu pagi dan petang.

Pelajaran dari hadits di atas;

Pertama, Ampunan dan Keselamatan

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu ampunan dan keselamatan dunia dan akhirat.

Doa di atas mencakup dua permohonan, yaitu permohonan ampunan dari Allah dan permohonan kesehatan. Ampunan dari Allah adalah wujud dari keselamatan di akhirat, sedangkan kesehatan adalah wujud keselamatan di dunia. 

Oleh karenanya Nabi Adam ‘alaihi as-salam ketika turun pertama kali ke dunia berdoa meminta ampunan Allah. Sebab tanpa ampunan Allah, seseorang akan merugi, walaupun dia memiliki jabatan dan kekayaan.

Allah berfirman,

قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Keduanya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (Qs. al-A’raf: 23)

Kedua, Keselamatan dalam Keluarga dan Harta

 اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي وَمَالِي

“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu ampunan dan keselamatan di dalam menjalankan dienku, duniaku, keluargaku dan hartaku.”

Doa di atas mencakup empat permohonan, yaitu: (1) ampunan dan keselamatan pada agama, (2) keselamatan di dunia, (3) keluarga dan (4) harta. Yang paling penting dari keempat itu adalah keselamatan agama maka didahulukan pada doa tersebut. Keselamatan agama ini mencakup keselamatan akhirat.

Adapun keselamatan dunia mencakup dua hal, yaitu keselamatan keluarga dan harta.

(1) Keselamatan Keluarga

Keluarga sangat penting di dalam kehidupan seorang muslim karena walaupun bergelimang dengan harta, tetapi jika tidak memiliki keluarga, tetap saja ada yang kurang dalam hidupnya. Karena kebahagiaan seseorang di dunia mencakup kebahagiaan lahir dan batin. Kebahagiaan lahir terwujud dengan adanya harta, sedangkan kebahagiaan batin dengan adanya keluarga.

Nabi Adam ‘alaihi as-salam ketika berada di surga dengan seluruh kenikmatan yang tersedia di dalamnya tetap merasa ada yang kurang karena dia hidup sendiri tidak ada teman yang bisa diajak berbicara dan bercengkrama. Maka Allah menciptakan Siti Hawa dari tulang rusuknya agar kebahagiaan Nabi Adam di surga menjadi lebih sempurna. Dan ini adalah rahasia kenapa Allah subhanahu wa ta’ala ketika menyebut surga sering diiringi dengan menyebut pasangan-pasangannya yang disucikan. Sebagaimana firman-Nya,

وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ كُلَّمَا رُزِقُوا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِزْقًا قَالُوا هَذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ وَأُتُوا بِهِ مُتَشَابِهًا وَلَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ وَهُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan : "Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu." Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya.” (Qs. al-Baqarah: 25)

(2) Keselamatan Harta

Adapun keselamatan harta juga penting. Walaupun memiliki istri dan keluarga, akan tetapi jika tidak memiliki harta dan uang maka istri dan anak akan merasa kesusahan, bahkan tidak jarang yang jatuh sakit dan meninggal dunia.

Ketiga, Menutupi Aib

 اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي وَآمِنْ رَوْعَاتِي

Ya Allah, tutupilah auratku, dan berikan rasa aman dari ketakutanku.”

Doa ini mencakup dua hal, yaitu: (1) memohon agar ditutup aurat (cela), dan (2) meminta rasa aman dari rasa takut. Dua hal ini sangat penting di dalam kehidupan seorang hamba.

(1) Ditutup aurat.

Maksud aurat di sini adalah segala sesuatu yang seseorang malu untuk dibuka. Aurat di sini meliputi: aurat fisik dan non-fisik. Aurat fisik seperti: aurat dalam tubuh kita yang tidak boleh diperlihatkan kecuali kepada yang halal. Sedangkan aurat non-fisik berupa dosa-dosa dan kesalahan kita.

Dalam doa ini lebih ditekankan kepada permohonan untuk ditutup aurat non-fisik yaitu dosa-dosa dan kesalahan. Banyak ayat al-Qur’an dan hadits yang menunjukkan hal ini. Di antaranya adalah;

رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ

“Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti.” (Qs. Ali Imran: 193)

Seorang muslim diperintahkan untuk menutupi auratnya sendiri dan aurat saudaranya.

Menutupi auratnya sendiri sesuai dengan hadits Zaid bin Aslam bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَصَابَ مِنْ هَذِهِ الْقَاذُورَاتِ شَيْئًا فَلْيَسْتَتِرْ بِسِتْرِ اللَّهِ فَإِنَّهُ مَنْ يُبْدِي لَنَا صَفْحَتَهُ نُقِمْ عَلَيْهِ كِتَابَ اللَّهِ

“Barangsiapa terjerumus pada perbuatan kotor ini maka hendaknya dia menutupinya dengan perlindungan Allah, Barangsiapa memberitahukan perbuatannya kepada kami, maka akan kami tegakkan atasnya hukum Allah.” (HR. Malik, 1299)

Menutupi aurat orang lain sesuai dengan hadits ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Dan siapa yang menutupi (aib) seorang muslim maka Allah akan menutup aibnya pada hari kiamat.” (HR. al-Bukhari, 2262)

(2) Diberikan rasa aman dari ketakutan.

Rasa aman adalah salah satu faktor penting dalam kebahagiaan seseorang. Tanpanya seseorang akan selalu diliputi perasaan takut, galau dan cemas. Oleh karena itu Allah subhanahu wa ta’ala menjanjikan orang yang menyembah-Nya untuk mendapatkan rasa aman. Allah berfirman,

فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ (3) الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ (4)

“Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka'bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.” (Qs. Quraisy: 3-4)

Rasa aman didapatkan dengan meningkatkan tauhid dan meninggalkan syirik. Allah berfirman,

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Qs. al-An’am: 82)

Para wali Allah akan selalu merasa aman dan tidak ada rasa takut pada diri mereka. Allah berfirman,

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Qs. Yunus: 62)

Keempat, Dijaga dari Musibah

 وَاحْفَظْنِي مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ وَمِنْ خَلْفِي وَعَنْ يَمِينِي وَعَنْ شِمَالِي وَمِنْ فَوْقِي وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِي

“Jagalah kami dari bahaya yang datang dari hadapanku, dari belakangku, dari samping kananku, dari samping kiriku dan dari atasku dan aku berlindung kepada-Mu dari bahaya yang datang tak disangka dari bawahku.”

Doa ini mengandung permohonan kepada Allah agar dijaga dari musibah yang datang dari segala arah. Ini mencakup musibah agama dan musibah dunia.

(a) Adapun musibah agama, maknanya memohon kepada Allah agar dijaga dari godaan syethan yang datang dari berbagai arah. Ini sesuai dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala,

 

 قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ (16) ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ (17)

“Iblis menjawab: "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (Qs. al-A’raf: 16-17)

(b) Adapun musibah dunia maknanya memohon kepada Allah agar dihindarkan dari musibah dan bencana dunia yang datang dari berbagai arah; (1) dari depan seperti tabrakan; (2) dari belakang seperti diterkam binatang buas, digigit binatang berbisa; (3) dan (4) dari sisi kanan dan kiri seperti keserempet mobil terjepit pintu, (5) dari arah atas seperti reruntuhan bangunan, pohon yang tumbang, hujan batu, gunung meletus, tanah longsor; (6) dari bawah seperti gempa, banjir, terseret pusaran air. Untuk yang terakhir ini adalah yang paling dahsyat di antara yang lain, maka disertai dengan menyebut keagungan Allah.

***