Karya Tulis
26 Hits

Bab 6 Memohon Rezeki yang Halal


اللَّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

“Ya Allah, cukupkanlah aku dengan kehalalan-Mu sehingga tidak memerlukan keharaman-Mu, dan berikan kepadaku kekayaan dengan karunia-Mu sehingga tidak butuh kepada selain-Mu.”

(HR. at-Tirmidzi dari Ali bin Abi Thalib. Abu Isa mengatakan: hadits ini hasan gharib)

 

Pelajaran dari hadits di atas;

Pertama, Memohon Rezeki yang Halal

اللَّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ

Ya Allah cukupkanlah aku dengan yang halal dari yang haram.”

(1) Doa ini berisi tentang permohonan kepada Allah agar diberikan rezeki yang halal dan dicukupkan dengannya. Artinya bagaimana caranya supaya rezeki yang diberikan oleh Allah menjadi cukup untuk keperluan hidup diri dan keluarganya, sehingga tidak menoleh dan mencari rezeki yang haram.

(2) Adapun pernyataan orang awam: ‘Mencari rezeki yang haram saja susah, apalagi yang halal’ ini merupakan pernyataan orang yang tidak beragama atau yang lemah imannya. Karena dia tidak yakin bahwa rezeki dan karunia Allah itu sangat luas, bahkan lebih luas dari langit dan bumi. Allah berfirman,

وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ

“Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (Qs. al-A’raf: 156)

Begitu juga di dalam firman-Nya,

 لَهُ مَقَالِيدُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ إِنَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Kepunyaan-Nya-lah perbendaharaan langit dan bumi; Dia melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan(nya). Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Qs. asy-Syura: 12)

(3) Ketika Qarun dengan seluruh kekayaannya yang sangat melimpah ditenggelamkan oleh Allah ke dalam tanah, maka orang-orang yang ingin menjadi kaya seperti Qarun mencari dengan cara yang haram, yang penting kaya, tiba-tiba berbalik arah dan menyadari bahwa ternyata rezeki itu di tangan Allah, diberikan kepada hamba-hamba yang dikehendaki-Nya. Allah berfirman,

وَأَصْبَحَ الَّذِينَ تَمَنَّوْا مَكَانَهُ بِالْأَمْسِ يَقُولُونَ وَيْكَأَنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَوْلَا أَنْ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا لَخَسَفَ بِنَا وَيْكَأَنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ

“Dan jadilah orang-orang yang kemarin mencita-citakan kedudukan Karun itu, berkata: "Aduhai, benarlah Allah melapangkan rezki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hambanya dan menyempitkannya; kalau Allah tidak melimpahkan karunia-Nya atas kita benar-benar Dia telah membenamkan kita (pula). Aduhai benarlah, tidak beruntung orang- orang yang mengingkari (nikmat Allah)." ” (Qs. al-Qashash: 82)

(4) Rezeki yang halal akan mempengaruhi diterimanya amal seseorang.  Ini sesuai dengan hadist Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا، وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِيْنَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِيْنَ، فَقَالَ تَعَالَى : (( يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا )) وَقَالَ تَعَالَى : ((يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ )) ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ: أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ: يَا رَبِّ، يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ ؟

“Sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Sesungguhnya Allah Ta’ala memerintahkan kepada kaum mukminin seperti yang Dia perintahkan kepada para rasul. Maka, Allah Ta’ala berfirman, ‘Wahai para Rasul! Makanlah dari (makanan) yang baik-baik, dan kerjakanlah kebajikan’ (Qs. al-Mu’minun: 51) dan Allah Ta’ala berfirman, ‘Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari rezeki yang baik yang Kami berikan kepada kalian’ (Qs. al-Baqarah: 172) kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan orang yang lama bepergian; rambutnya kusut, berdebu, dan mengangkat kedua tangannya ke langit seraya berdoa, ‘Wahai Rabb-ku, wahai Rabb-ku,’ sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan diberi kecukupan dengan yang haram, bagaimana doanya akan dikabulkan?” (HR. Muslim) 

Ini dikuatkan dengan hadits dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika selesai shalat Subuh dan mengucapkan salam, beliau berdoa,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا

”Ya Allah, Aku meminta kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, dan amal yang diterima, juga rizki yang baik.” (HR. Ahmad)

Hadits di atas menunjukkan bahwa pertama kali yang dimintakan kepada Allah adalah ilmu yang bermanfaat. Dengan ilmu yang bermanfaat itu, seseorang akan bisa membedakan rezeki yang halal dari yang haram. Setelah mendapatkan rezeki yang halal, maka amalan ibadahnya akan diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

(5) Ketaatan bisa menyebabkan seseorang mendapatkan tambahan rezeki dari Allah subhanahu wa ta’ala dari arah yang tidak disangka. Ini sesuai dengan hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barangsiapa ingin lapangkan pintu rizqi untuknya dan dipanjangkan umurnya hendaknya ia menyambung tali silaturrahmi.” (HR. al-Bukhari, 5527)

(6) Maksiat bisa menyebabkan terhambatnya rezeki. Sebagaimana hadits dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا يَزِيدُ فِي الْعُمْرِ إِلَّا الْبِرُّ وَلَا يَرُدُّ الْقَدَرَ إِلَّا الدُّعَاءُ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ

“Tidaklah akan bertambah umur (seseorang) kecuali dengan kebaikan, dan tidaklah akan dapat menolak takdir kecuali doa. Sesungguhnya seseorang akan ditahan rezekinya karena dosa yang dia lakukan.” (HR. Ibnu Majah, 4012. Hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan al-Hakim. Berkata al-Busyairi di az-Zawaid sanadnya hasan.)

Kedua, Memohon Kekayaan dari Karunia Allah

وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

“Berikan kepadaku kekayaan dari karunia-Mu sehingga tidak butuh kepada selain-Mu.”

(1) Hadits di atas menunjukkan kebolehan memohon kekayaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala karena Dia memang Maha Kaya yang kekayaan-Nya tidak terbatas. Allah berfirman,

هُمُ الَّذِينَ يَقُولُونَ لَا تُنْفِقُوا عَلَى مَنْ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ حَتَّى يَنْفَضُّوا وَلِلَّهِ خَزَائِنُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَفْقَهُونَ

“Mereka orang-orang yang mengatakan (kepada orang-orang Anshar): "Janganlah kamu memberikan perbelanjaan kepada orang-orang (Muhajirin) yang ada disisi Rasulullah supaya mereka bubar (meninggalkan Rasulullah)." Padahal kepunyaan Allah-lah perbendaharaan langit dan bumi, tetapi orang-orang munafik itu tidak memahami.” (Qs. al-Munafiqun: 7)

(2) Kekayaan sangat penting dalam kehidupan seorang mukmin. Karena tanpa kekayaan seorang mukmin tidak bisa banyak berbuat dan beramal shalih. Dia tidak bisa berinfak, membayar zakat, berkurban, melaksanakan ibadah haji dan umrah, membantu anak yatim dan fakir miskin, dan amal-amal shalih lain yang membutuhkan harta. Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan bahwa harta atau kekayaan adalah tonggak kehidupan, sebagaimana firman-Nya,

وَلَا تُؤْتُوا السُّفَهَاءَ أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ قِيَامًا وَارْزُقُوهُمْ فِيهَا وَاكْسُوهُمْ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلًا مَعْرُوفًا

“Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik.” (Qs. an-Nisa: 5)

(3) Di dalam doa duduk di antara dua sujud, seorang mukmin diperintahkan untuk memohon kepada Allah akan lima hal; tiga untuk kepentingan akhirat, yaitu ampunan, rahmat, hidayah, dan dua untuk kepentingan dunia, yaitu keselamatan (kesehatan) dan rezeki (harta kekayaan). sebagaimana hadits Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika duduk di antara dua sujud,

عن ابن عباس ، رضي الله عنه قال : كان النبي صلى الله عليه وسلم يقول بين السجدتين : « رب اغفر لي وارحمني واهدني وعافني وارزقني »

“Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika duduk di antara dua sujud berdoa, ‘Ya Allah, ampunilah aku, rahmati aku, berikan hidayah kepadaku, berilah keselamatan bagiku, dan berikan kepadaku rezeki’.” (HR. at-Thabrani, 565)

Permohonan untuk mendapatkan dunia mencakup dua hal: kesehatan dan rezeki, karena kesehatan tanpa harta dapat berujung kepada sakit, sengsara kemudian kematian.

(4) Harta sangat penting dalam meneguhkan keimanan seseorang karena kemiskinan bisa mendekatkan kepada kekafiran. Sebagaimana di dalam hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كَادَ الْفَقْرُ أَنْ يَكُونَ كُفْرًا، وَكَادَ الْحَسَدُ أَنْ يَغْلِبَ الْقَدَرَ

“Hampir-hampir kefakiran itu bisa menyebabkan kekufuran dan hampir-hampir hadas itu bisa mendahului takdir.” (HR. al-Baihaqi, di dalam Syu’abu al-Iman (9/12) no. hadits 6188)

Berkata di dalam Faidhu al-Qadir (4/542): “Berkata al-Hafizh al-Iraqi, ‘Di dalam hadits di atas ada kelemahan.’ Berkata as-Sakhawi, ‘Seluruh jalur periwayatan mengalami kelemahan.’”

Hadits di atas walaupun dhaif secara sanad, tetapi shahih secara matan. Ini dikuatkan dengan hadits Abi Bakrah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekafiran dan kefakiran (kemiskinan) dan siksa kubur.” (HR. Ahmad, 19487. Hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Hibban, Ibnu Khuzaimah, al-Hakim.)

Hadits di atas dianjurkan untuk dibaca setiap selesai shalat sebagaimana yang disampaikan Abu Bakrah kepada anaknya Muslim.

Kenapa kefakiran bisa menyebabkan kekufuran? Para ulama menyebutkan beberapa alasan, seperti di bawah ini:

1. Hal itu karena kefakiran seseorang kadang menjerumuskan kepada perbuatan dosa, seperti mencuri, menipu, membegal.

2. Kefakiran kadang menjerumuskan seseorang untuk terus menerus mengeluh dan mencaci maki takdir, serta tidak percaya kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

3. Kadang kefakiran mendorong seseorang hasad kepada orang yang kaya, padahal hasad sendiri bisa menghapus kebaikan-kebaikan atau amal shalih yang lain.

4. Kadang kefakiran menyebabkan seseorang mengorbankan kehormatannya dengan meminta-minta dan mengemis kepada orang kaya.  

5. Kadang kefakiran menyebabkan seseorang menjual dirinya demi mencari sesuap nasi seperti yang terjadi para pelacur.

6. Bahkan kadang kefakiran menyebabkan seseorang menjual agamanya demi sebungkus mie instan. Orang-orang miskin ini menjadi salah satu target gerakan pemurtadan.

(5) Berkata Sofyan ats-Tsauri, “Aku bersungguh-sungguh untuk mengumpulkan empat puluh ribu dinar (emas) dan aku mati dengannya lebih baik bagiku daripada kefakiran satu hari yang menyebabkan aku terhina dengan meminta-minta kepada orang lain.”

Dia juga mengatakan, “Demi Allah aku tidak tahu jika aku diuji dengan kefakiran atau penyakit kemudian menyebabkan aku kafir secara tidak sadar.”

 

***