Karya Tulis
24 Hits

Bab 7 Memohon Agar Bisa Bersyukur


اللَّهُمَّ أعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Ya Allah, tolonglah aku untuk bisa selalu mengingat-Mu, mensyukuri-Mu dan beribadah kepada-Mu dengan baik.”

(HR. al-Bukhari dari Mu’adz bin Jabal di dalam Adab al-Mufrad (690), Ahmad di dalam al-Musnad (7982), Abu Daud di dalam as-Sunan (1524), an-Nasai di dalam as-Sunan (1303). Hadist ini dishahihkan oleh al-Hakim di dalam al-Mustadrak (1/273) dan disetujui oleh adz-Dzahabi)

 

Hadits di atas dianjurkan untuk dibaca setiap selesai shalat. Ini ditunjukkan dari riwayat hadits yang panjang bahwa suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang tangan Mu’adz bin Jabal dan bersabda kepadanya,

“Wahai Mu’adz sesungguhnya aku mencintaimu, maka Mu’adz menjawab, ‘Ya Rasulullah dan saya demi Allah juga mencintaimu.’ Kemudian beliau bersabda kepadanya, “Wahai Mu’adz aku ingin berwasiat kepadamu agar engkau tidak meninggalkan setiap selesai shalat untuk berdoa:

اللَّهُمَّ أعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

 

Pelajaran dari hadits di atas:

Pertama, Memohon untuk Bisa Berdzikir

اللَّهُمَّ أعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ

Ya Allah, tolonglah aku untuk bisa selalu mengingat-Mu.”

(اللَّهُمَّ) artinya Wahai Allah. Seorang hamba jika berdo’a, dianjurkan untuk menyebut Asmaul Husna, agar doanya dikabulkan Allah subhanahu wa ta'ala. Ini sesuai dengan firman-Nya,

(أعِنَّا) artinya tolonglah kami. Ini menunjukkan bahwa seorang hamba diperintahkan untuk selalu meminta pertolongan kepada Allah di dalam setiap urusannya. Ini sesuai dengan firman Allah,

 (ذِكْرِك) artinya untuk selalu mengingat-Mu. Mengingat Allah artinya:

(1) Mengingat nikmat-nikmat Allah yang diberikan kepada hamba-Nya. Ini diperintahkan di dalam al-Qur’an diantaranya,

وَآتَاكُمْ مِنْ كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).”  (Qs. Ibrahim: 34)

Juga di dalam firman-Nya,

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan.” (Qs. adh-Dhuha: 11)

(2) Mengingat Allah juga berarti mengingat awal penciptaan manusia. Seseorang dahulu belum ada terwujud di alam ini, lalu Allah menciptakannya dalam bentuk janin di dalam perut ibunya, kemudian lahir dan menjadi dewasa. Hal ini dijelaskan oleh Allah di dalam firman-Nya di dalam Qs. al-Insan: 1, Qs. al-Baqarah: 28, Qs. Ghafir: 11, Qs. al-Mukminun: 12-14, Qs. al-Hajj: 5.

(3) Mengingat Allah juga berarti selalu membaca al-Qur’an, berdzikir, berdoa. Karena sebaik-baik berdzikir adalah membaca Kalamullah.

(4) Mengingat Allah juga berarti melaksanakan seluruh perintah Allah dalam bentuk ibadah mahdhah, seperti: shalat, puasa dan haji, dan dalam bentuk ibadah muamalat, seperti: menikah, jual beli dan berjihad di jalan Allah.

Berkata an-Nawawi di dalam al-Adzkar (hal.36-37),

“Ketahuilah bahwa keutamaan dzikir tidak terbatas pada  tasbih, tahlil, tahmid, takbir dan sejenisnya, tetapi setiap orang yang beramal karena Allah dengan mentaati-Nya, sebenarnya dia sedang berdzikir.

Demikianlah yang dikatakan oleh Sa’id bin Jabir radhiyallahu ‘anhu dan ulama lainnya. Berkata ‘Atha’ rahimahullah, “Majlis-majlis dzikir adalah majlis-majlis yang membicarakan halal dan haram, bagaimana anda membeli, menjual, melakukan shalat, melaksanakan puasa, menikah, mencerai, dan menunaikan haji, dan seterusnya.”  

Seseorang yang lupa berdzikir akan dimangsa oleh syaithan dan dijadikan pengikutnya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ

Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (al-Quran), kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. (Qs. az-Zukhruf: 36)

Allah berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (Qs. al-A’raf: 201)

Jika dia sudah dimangsa oleh syaithan dan menjadi pengikutnya dipastikan akan sengsara hidupnya di dunia dan akhirat, sebagaimana firman Allah di dalam Qs. Thaha: 124)

Kedua, Memohon untuk Bisa Bersyukur

وَشُكْرِكَ

“Dan memohon untuk bisa bersyukur kepada-Mu.”

(1) Doa di atas mirip dengan doa yang dipanjatkan oleh Nabi Sulaiman,

فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِنْ قَوْلِهَا وَقَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ

“maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa: "Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh."” (Qs. an-Naml: 19)

Begitu juga doa setelah usia 40 tahun,

 وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri."” (Qs. al-Ahqaf: 15)

(2) Syukur adalah hikmah yang diberikan kepada Luqman al-Hakim, sebagaimana firman-Nya,

وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

“Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji".” (Qs. Luqman: 12)

(3) Barangsiapa yang bersyukur sesungguhnya dia bersyukur kepada dirinya sendiri, artinya manfaat syukur itu akan kembali kepada orang yang bersyukur, setidaknya hati orang yang bersyukur akan menjadi tenang dan Allah akan melipatgandakan nikmat kepada-Nya. Allah berfirman,

 وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ

“Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri.” (Qs. Luqman: 12)

Ini dikuatkan dengan firman-Nya,

قَالَ الَّذِي عِنْدَهُ عِلْمٌ مِنَ الْكِتَابِ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ فَلَمَّا رَآهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهُ قَالَ هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ

“Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab[1097]: "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip." Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: "Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia."” (Qs. an-Naml: 40)

(4) Surat Ibrahim disebut para ulama sebagai surat syukur. Karena di dalamnya banyak mengandung perintah untuk bersyukur, bahkan Nabi Ibrahim dijadikan sosok nabi yang pandai bersyukur. Diantara ayat-ayat syukur di dalam surah Ibrahim, antara lain;

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih" .” (Qs. Ibrahim: 7)

Juga dalam firman-Nya,

وَآتَاكُمْ مِنْ كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).”  (Qs. Ibrahim: 34)

Juga dalam firman-Nya,

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ

“Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doa.” (Qs. Ibrahim: 39)

Adapun ayat yang menunjukkan Nabi Ibrahim sebagai nabi yang pandai bersyukur adalah firman-Nya,

 إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ (120) شَاكِرًا لِأَنْعُمِهِ اجْتَبَاهُ وَهَدَاهُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (121)

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan), (lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus.” (Qs. an-Nahl: 120-121)

(5) Syukur berdiri di atas lima pondasi, yaitu:

a. Ketundukan orang yang bersyukur kepada Dzat Yang disyukuri (Allah).

b. Cinta kepada Dzat Yang disyukuri.

c. Pengakuan terhadap nikmat-Nya.

d. Pujian  kepada-Nya karena nikmat itu.

e. Tidak menggunakan nikmat yang diberikan untuk sesuatu yang dibenci oleh Sang Pemberi nikmat.

(6) Macam-macam syukur. Ibnu Rajab al-Hanbali membagi syukur menjadi tiga, yaitu:

a. Syukur dengan hati: mengakui dari hati yang paling dalam akan nikmat yang diberikan kepadanya. Pengakuan ini menumbuhkan rasa cinta kepada-Nya.

b. Syukur dengan lisan: mengucapkan dengan lisannya pujian dan terus mengingat nikmat itu, menghitungnya berkali-kali serta menampakkannya kepada orang lain.  Berkata Fudhail bin ‘Iyadh, “Tanda orang mensyukuri nikmat adalah sering membicarakannya.” Beliau dan temannya Ibnu ‘Uyainah sering bertemu pada malam hari berbicara tentang nikmat yang mereka dapatkan dan tidak berhenti kecuali datangnya waktu subuh.

c. Syukur dengan perbuatan: menggunakan nikmat yang Allah berikan kepadanya dalam ketaatan, seperti menginfakkan harta yang Allah berikan kepadanya untuk membantu orang-orang yang membutuhkan, menyampaikan ilmu yang Allah berikan kepada masyarakat, dan seterusnya. Allah berfirman,

 اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ

 “Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.” (Qs. Saba’: 13)

Ayat di atas juga menunjukkan bahwa orang-orang bersyukur kepada Allah jumlahnya sangat sedikit.

Ketiga, Memohon Diperbaiki Ibadah

وَحُسْنِ عِبَادَتِك

“Dan tolonglah aku untuk memperbaiki ibadahku kepada-Mu.”

(1) Dalam hadits di atas disebut (وَحُسْنِ عِبَادَتِك) artinya ibadah itu harus terus-menerus diperbaiki, tidak sekedar diperbanyak. Sebagai seorang mukmin memperbaiki kualitas ibadah jauh lebih penting daripada memperbanyak kuantitas ibadah. Karena ibadah yang berkualitas pasti diterima oleh Allah, sedangkan kuantitas ibadah belum tentu diterima oleh Allah.

(2) Untuk bisa memperbaiki kualitas ibadah seseorang harus banyak mencari ilmu syar’i. dengan ilmu syar’i tersebut, suatu ibadah akan bisa diperbaiki. Ini sesuai dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala,

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”  (Qs. al-Mulk: 2)

Pada ayat di atas Allah menyebutkan ( أَحْسَنُ عَمَلًا) yaitu amal yang paling berkualitas (yang paling baik), bukan (aktsaru amalan) amal yang paling banyak. Berkata Fudhail bin ‘Iyadh, “Suatu amal tidak disebut ahsan (berkualitas) sampai memenuhi dua syarat, yaitu: (1) ikhlas dan (2) sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Untuk mencapai keikhlasan dalam beramal, seseorang harus selalu memperbaiki niatnya hanya untuk Allah. Ini berhubungan dengan hati dan jiwa. Inilah tafsir daripada syahadatu laa ilaha illa Allah.

Sedangkan untuk mencapai kesesuaiann dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, seseorang harus terus menerus menuntut ilmu syar’i dan ini tafsir dari syahadatu Muhammadu Rasulullah.

 

***