Karya Tulis
22 Hits

Bab 9 Memohon Keteguhan Hati


 

وعن شَهْرِ بن حَوشَبٍ، قَالَ: قُلْتُ لأُمِّ سَلَمة رَضِيَ اللهُ عنها، يَا أمَّ المؤمِنينَ، مَا كَانَ أكثْرُ دعاءِ رَسُولِ الله - صلى الله عليه وسلم - إِذَا كَانَ عِنْدَكِ؟ قالت: كَانَ أكْثَرُ دُعائِهِ: «يَا مُقَلِّبَ القُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ.

Syahr bin Hausyab ia berkata; aku katakan kepada Ummu Salamah; ‘Wahai Ummul mukminin, apakah doa Rasulullah shallallahu wa'alaihi wa sallam yang paling sering, apabila ada padamu? Ia berkata; ‘Doa beliau yang paling sering adalah “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agamaMu.

(HR. at-Tirmidzi, 3444. Beliau berkata: hadits ini hasan.)

 

Pelajaran dari hadits di atas;

Pertama, Peran Wanita dalam Menyebarkan Ilmu

Ummu Salamah adalah salah satu istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memiliki kedewasaan dan kecerdasan yang luar biasa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengajak beliau pergi umrah. Pada peristiwa perjanjian Hudaibiyah, beliau sangat berperan dalam menyelesaikan beberapa urusan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, khususnya ketika beliau mengalami kebuntuan dalam berkomunikasi dengan para sahabatnya. Ummu Salamah memberikan ide agar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan contoh untuk bertahalul (mencukur rambut atau menggunduli kepala) di depan mereka, ketika orang-orang kafir Quraisy menghalangi kaum muslimin untuk meneruskan ibadah umrah. Ternyata ide tersebut sangat efektif sehingga para sahabat segera mengikuti apa yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu bertahallul (mencukur rambut atau menggunduli kepala).

Begitu juga ketika Ummu Salamah ditanya oleh para sahabat tentang doa yang sering dibaca oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau menjawab seperti dalam hadits di atas.

Kedua, Hati Selalu Berubah

Hati dalam bahasa Arab disebut al-Qalbu yang artinya sesuatu yang selalu berubah. Oleh karena itu, kita diperintahkan untuk selalu memohon ketetapan hati. Di dalam riwayat hadits di atas disebutkan bahwa Ummu Salamah setelah mendengar doa tersebut, beliau bertanya; “Wahai Rasulullah, betapa sering anda berdoa:

يَا مُقَلِّبَ القُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

Rasulullah bersabda, "Wahai Ummu Salamah, sesungguhnya tidak ada seorang manusia pun melainkan hatinya berada diantara dua jari diantara jari-jari Allah, barang siapa yang Allah kehendaki maka Dia akan meluruskannya dan barang siapa yang Allah kehendaki maka Dia akan membelokkannya."

Hadist di atas menunjukkan bahwa hati manusia di kendalikan secara penuh oleh Allah. Jika Allah berkehendak, maka hati seorang kafir akan diarahkan kepada Islam kapan saja, walau pada detik-detik terakhir dalam fase kehidupannya, sebagaimana yang terjadi pada diri seorang anak Yahudi yang masuk Islam di tangan Nabi Muhammad sebelum kematiannya.

Di dalam hadits Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu,

أَنَّ غُلَامًا مِنَ اليَهُودِ كَانَ يَخدُمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ فَمَرِضَ ، فَأَتَاهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ يَعُودُهُ ، فَقَعَدَ عِندَ رَأسِهِ ، فَقَالَ : أَسلِم . فَنَظَرَ إِلَى أَبِيهِ وَهُوَ عِندَ رَأسِهِ ، فَقَالَ لَه : أَطِع أَبَا القَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ . فَأَسلَمَ ، فَخَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقُولُ : الحَمدُ لِلَّهِ الذِي أَنقَذَهُ مِنَ النَّارِ

“Sesungguhnya, seorang anak Yahudi yang biasa melayani Nabi shallallahu alaihi wa sallam menderita sakit. Lalu Nabi shallallahu alaihi wa sallam membesuknya, kemudian dia duduk di sisi kepalanya. Lalu berkata, ‘Masuk Islamlah.” Sang anak memandangi bapaknya yang ada di sisi kepalanya. Maka sang bapak berkata kepadanya, “Taatilah Abal Qasim shallallahu alaihi wa sallam.” Maka anak tersebut masuk Islam. Lalu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam keluar seraya berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari neraka.” (HR. al-Bukhari)

Sebaliknya, jika Allah berkehendak, maka hati seorang beriman akan dipalingkan dari Allah walau pada detik-detik dalam fase kehidupannya, sebagaimana yang terjadi pada diri seorang Rahib Bani Israil, yang mati dalam keadaan berzina, berbohong, membunuh serta syirik kepada Allah.

Selain diperintahkan memohon keteguhan hati dalam doa di atas, kita juga diperintahkan berdoa sebagaimana yang tersebut di dalam firman Allah,

 رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami." (Qs. Ali Imran: 8) 

Ayat di atas menunjukkan bahwa hati seseorang walaupun sudah mendapatkan hidayah, bisa saja suatu saat berubah menjadi sesat kembali. Salah satu caranya adalah selalu memohon Rahmat Allah. Atas Rahmat Allah sajalah seseorang mendapatkan hidayah Islam, dan atas Rahmat-Nya pula seseorang akan masuk surga. Di dalam hadist Jabir radhiyallahu ‘anhu mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

حَدَّثَنِي جَابِرٌ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا يُدْخِلُ أَحَدَكُمْ الْجَنَّةَ عَمَلُهُ وَلَا يُنَجِّيهِ عَمَلُهُ مِنْ النَّارِ قِيلَ وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ وَلَا أَنَا إِلَّا بِرَحْمَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Amal seseorang tidak akan memasukkan ke dalam surga dan juga tidak akan menyelamatkannya dari neraka.” Ada yang bertanya, tidak juga anda Wahai Rasulullah?. Beliau menjawab, “Tidak juga saya, terkecuali dengan rahmat Allah Azza wa Jalla.” (HR. Ahmad, 14700)

Ketiga, Ar-Rasyidun adalah Mereka yang Mendapatkan Ketetapan Hati

Allah memilih sebagian hamba-Nya untuk diberikan hidayah. Salah satu cirinya adalah dijadikan hati mereka mencintai keimanan dan membenci kekafiran, kefasikan dan kemaksiyatan. Ini sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَاعْلَمُوا أَنَّ فِيكُمْ رَسُولَ اللَّهِ لَوْ يُطِيعُكُمْ فِي كَثِيرٍ مِنَ الْأَمْرِ لَعَنِتُّمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ

“Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu 'cinta' kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.” (Qs. al-Hujurat: 49)

Dari ayat di atas hendaknya setiap diri kita memeriksa hati masing-masing apakah ada kecintaan kepada keimanan dan orang-orang beriman, serta kebencian terhadap kekafiran, kefasikan dan kemaksiyatan beserta para pelakunya. Jika hal itu masih ada di dalam hatinya, ketahuilah bahwa dia telah mendapatkan petunjuk dari Allah (ar-rasyidun). Ini sesuai dengan hadits Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ وَأَبْغَضَ لِلَّهِ وَأَعْطَى لِلَّهِ وَمَنَعَ لِلَّهِ فَقَدْ اسْتَكْمَلَ الْإِيمَانَ

“Barangsiapa mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan melarang (menahan) karena Allah, maka sempurnalah imannya.” (HR. Abu Daud, 4061. Hadits ini hasan sebagaimana dalam Misykat al-Masabih.)

Keempat, Sarana Menuju Ketetapan Hati

Salah satu cara agar hati tetap pada agama Allah adalah mempelajari Kalimatut-Tauhid, memahami maknanya, meyakininya dalam hati, serta mengucapkannya setiap saat dan berdakwah dengannya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ

“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (Qs. Ibrahim: 27)

Ayat di atas menunjukkan bahwa orang-orang beriman akan diteguhkan hati mereka oleh Allah dengan al-qaul ats-tsabit yaitu kalimat (لا إله إلا الله). Peneguhan ini terjadi dua kali, di dunia dan di akhirat;

(a) Adapun peneguhan di dunia berupa keteguhan hati di dalam menghadapi segala problematika ujian hidup, dan mampu mengucapkan kalimat (لا إله إلا الله) di akhir hayatnya. Sebagaimana hadits Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa yang akhir perkataannya (sebelum meninggal dunia) (لا إله إلا الله) maka ia akan masuk surga.” (HR. Abu Daud, 2709)

(b) Adapun peneguhan di akhirat berupa kemampuan menjawab pertanyaan-pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir di alam kubur. Ini sesuai dengan hadits al-Bara` bin ‘Azib bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

عَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ { يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ } قَالَ نَزَلَتْ فِي عَذَابِ الْقَبْرِ فَيُقَالُ لَهُ مَنْ رَبُّكَ فَيَقُولُ رَبِّيَ اللَّهُ وَنَبِيِّي مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَلِكَ قَوْلُهُ عَزَّ وَجَلَّ} يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ {

Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan Ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat." (Ibrahim: 27) Beliau bersabda: "(Ayat ini) turun berkenaan dengan adzab kubur, ia ditanya: 'Siapa Rabbmu? ' ia menjawab: 'Rabbku Allah, Nabiku Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.' Itulah firman Allah 'azza wajalla: "Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan Ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat." (Ibrahim: 27). (HR. Muslim, 5117)

 

***