Karya Tulis
26 Hits

Bab 12 Dzikir Sehari


عَنْ جُوَيْرِيَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ مِنْ عِنْدِهَا بُكْرَةً حِينَ صَلَّى الصُّبْحَ وَهِيَ فِي مَسْجِدِهَا ثُمَّ رَجَعَ بَعْدَ أَنْ أَضْحَى وَهِيَ جَالِسَةٌ فَقَالَ مَا زِلْتِ عَلَى الْحَالِ الَّتِي فَارَقْتُكِ عَلَيْهَا قَالَتْ نَعَمْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقَدْ قُلْتُ بَعْدَكِ أَرْبَعَ كَلِمَاتٍ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ لَوْ وُزِنَتْ بِمَا قُلْتِ مُنْذُ الْيَوْمِ لَوَزَنَتْهُنَّ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقِهِ وَرِضَا نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ

Dari Juwairiyah bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam keluar dari rumah Juwairiyah pada pagi hari usai shalat Subuh dan dia tetap di tempat shalatnya. Tak lama kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kembali setelah terbit fajar (pada waktu dhuha), sedangkan Juwairiyah masih duduk di tempat shalatnya. Setelah itu, Rasulullah menyapanya: "Ya Juwairiyah, kamu masih belum beranjak dari tempat shalatmu?" Juwairiyah menjawab; 'Ya. Saya masih di sini, di tempat semula ya Rasulullah.' Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata: 'Setelah keluar tadi, aku telah mengucapkan empat rangkaian kata-kata sebanyak tiga kali yang kalimat tersebut jika dibandingkan dengan apa yang kamu baca seharian tentu akan sebanding, yaitu Maha Suci Allah dengan segala puji bagi-Nya sebanyak hitungan makhluk-Nya, menurut keridlaan-Nya, menurut arsy-Nya dan sebanyak tinta kalimat-Nya.'

(HR. Muslim, 4905)

 

Pertama, Keberkahan Juwairiyah binti Harits

Juwairiyah binti Harits radhiyallahu ‘anha adalah salah satu istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang membawa keberkahan bagi kaumnya, yaitu Bani Musthaliq.

Dalam Perang Bani Musthaliq pada bulan Sya’ban tahun 5 atau 6 Hijriyah (626 M), umat Islam mendapatkan kemenangan dan berhasil mengambil harta rampasan perang yang melimpah dari mereka termasuk di dalamnya para tawanan wanita. Juwairiyah binti Harits termasuk salah satu tawanan yang jatuh ke tangan Tsabit bin Qais.

Kemudian beliau ingin membebaskan dirinya dengan membayar sejumlah uang. Suatu ketika beliau mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta bantuan tebusan dirinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyanggupi hal itu dengan menawarkan Juwairiyah untuk menjadi istri Rasulullah, dan Juwairiyah menyetujuinya. Berkat pernikahan ini, seratus orang tawanan dari Bani Musthaliq dibebaskan.

Beliau meninggal dunia pada bulan Rabiul Awal tahun 56 H (50 H) pada usia 70 (65) tahun di Madinah pada zaman gubernur Marwan bin Hakam dan Khalifah Mu’awiyah bin Abi Sufyan.

Kedua, Dzikir Pagi

Salah satu kebiasaan Juwairiyah binti Harist adalah berdzikir pagi. Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dari rumah beliau untuk suatu keperluan pada waktu pagi, sedang Juwairiyah binti Harits sedang berdzikir pagi. Tidak beberapa lama, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang, sedang matahari sudah tinggi tanda waktu sudah siang, tetapi beliau mendapatkan Juwairiyah binti Harits masih duduk di mushallanya dalam keadaan berdzikir.

Rasulullah bertanya kepadanya, “Wahai Juwairiyah kamu belum beranjak dari tempat shalatmu?" Juwairiyah menjawab; 'Ya. Saya masih di sini, di tempat semula ya Rasulullah.”

Dialog di atas menunjukkan ketekunan Juwairiyah binti Harist di dalam beribadah kepada Allah terutama berdzikir pagi dan petang. Hal ini juga memberikan pesan kepada para istri yang ditinggal pergi suami mereka untuk bekerja mencari nafkah atau suatu keperluan tertentu, hendaknya mereka mengisi kegiatan-kegiatan yang bermanfaat di dalam rumah, termasuk di dalamnya memperbanyak ibadah sunnah, seperti shalat, puasa, membaca (menghafal) al-Qur’an serta berdzikir kepada Allah. Jika kosong dari kegiatan  yang bermanfaat, dikhawatirkan syetan akan menggoda dan membisikan ke dalam hati mereka sesuatu yang tidak baik. Ini sesuai dengan hadist yang menyebutkan bahwa rumah yang dibacakan surah al-Baqarah di dalamnya tidak akan didekati syetan sampai pagi.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنْ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ

“Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan, sesungguhnya syetan itu akan lari dari rumah yang di dalamnya dibacakan surat al-Baqarah. (HR. Muslim, 1300)

Ketiga, Wanita Berdzikir di Mushallanya

Disunnahkan bagi wanita untuk shalat dan berdzikir di mushalla rumahnya. Dan itu lebih baik baginya serta lebih banyak pahalanya daripada shalatnya di masjid. Hal itu karena wanita adalah aurat, sebaiknya ditutup dan dijaga, tidak dipamerkan di depan publik khususnya kumpulan laki-laki. Ini sesuai dengan firman-Nya,

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu.” (Qs. al-Ahzab: 33)

Ini dikuatkan dengan hadits yang diriwayatkan oleh Ummu Humaid radhiyallahu ‘anha,

عن أُمِّ حُمَيْدٍ امْرَأَةِ أَبِي حُمَيْدٍ السَّاعِدِيِّ أَنَّهَا جَاءَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أُحِبُّ الصَّلَاةَ مَعَكَ قَالَ قَدْ عَلِمْتُ أَنَّكِ تُحِبِّينَ الصَّلَاةَ مَعِي وَصَلَاتُكِ فِي بَيْتِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلَاتِكِ فِي حُجْرَتِكِ وَصَلَاتُكِ فِي حُجْرَتِكِ خَيْرٌ مِنْ صَلَاتِكِ فِي دَارِكِ وَصَلَاتُكِ فِي دَارِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلَاتِكِ فِي مَسْجِدِ قَوْمِكِ وَصَلَاتُكِ فِي مَسْجِدِ قَوْمِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلَاتِكِ فِي مَسْجِدِي قَالَ فَأَمَرَتْ فَبُنِيَ لَهَا مَسْجِدٌ فِي أَقْصَى شَيْءٍ مِنْ بَيْتِهَا وَأَظْلَمِهِ فَكَانَتْ تُصَلِّي فِيهِ حَتَّى لَقِيَتْ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ

“Dari Ummu Humaid isteri Abu Humaid As Sa'di, bahwa dia menemui Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam lalu berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku menyukai shalat bersamamu!" Beliau bersabda: "Aku sudah tahu jika kamu suka shalat denganku, namun shalatmu di rumahmu lebih baik daripada shalatmu di kamarmu, dan shalatmu di kamarmu lebih baik daripada shalat di rumahmu, dan shalatmu di rumahmu lebih baik daripada shalatmu di masjid kaummu, dan shalatmu di masjid kaummu lebih baik daripada shalat di masjidku." Ummu Humaid berkata, "Lalu dia diperintahkan untuk membuat masjid di tempat yang paling pojok dalam rumahnya dan yang paling gelap, setelah itu dia shalat di sana hingga dia menemui Allah Azza Wa Jalla".” (HR. Ahmad, 25842)

 

 

Keempat, Doa yang Ringkas dan Padat

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Setelah keluar tadi, aku telah mengucapkan empat rangkaian kata-kata sebanyak tiga kali yang kalimat tersebut jika dibandingkan dengan apa yang kamu baca seharian tentu akan sebanding.’

Hadist di atas menunjukkan bahwa di sana terdapat dzikir dan doa yang kata-katanya ringkas tidak panjang, tetapi mengandung makna yang padat dan mendalam. Bahkan pahala bagi yang membacanya sama dengan pahala orang yang berdzikir dan berdoa seharian penuh dengan kata-kata yang sangat panjang serta melelahkan.

Ini juga menunjukkan bahwa tidak semua yang panjang, banyak dan melelahkan itu pasti lebih baik dari yang ringkas dan padat. Suatu contoh adalah pahala shalat dua rakaat sebelum shalat Subuh, pahalanya lebih baik dari dunia dan seisinya, padahal amalannya sangat ringan dan mudah. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan dua rakaat tersebut dengan ringan, tidak panjang-panjang sampai bengkak kakinya sebagaimana di dalam shalat tahajud dan hanya dua rakaat, tetapi pahalanya begitu besar.

Kelima, Yang Sedikit Terus Diulang

Sesuatu yang sedikit, tetapi terus diulang-ulang kadang jauh lebih baik dari sesuatu yang banyak tapi dilupakan. Walaupun doa yang dibaca Rasulullah di dalam hadist di atas tergolong pendek dan sedikit, beliau mengulanginya sebanyak tiga kali. Ini sebagaimana sabdanya, 'Setelah keluar tadi, aku telah mengucapkan empat rangkaian kata-kata sebanyak tiga kali yang kalimat tersebut jika dibandingkan dengan apa yang kamu baca seharian tentu akan sebanding.’

 Diriwayatkan juga bahwa Rasulullah jika berbicara sering diulang tiga kali. Ini sesuai dengan hadist Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu,

عَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ إِذَا سَلَّمَ سَلَّمَ ثَلَاثًا وَإِذَا تَكَلَّمَ بِكَلِمَةٍ أَعَادَهَا ثَلَاثًا

“Dari Anas dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam apabila memberi salam, diucapkannya tiga kali dan bila berbicara dengan satu kalimat diulangnya tiga kali.(HR. al-Bukhari, 92)

Di dalam al-Qur’an surat yang paling sering diulang-ulang adalah surat al-Fatihah, sebagaimana firman-Nya,

وَلَقَدْ آتَيْنَاكَ سَبْعًا مِنَ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنَ الْعَظِيمَ

“Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al Quran yang agung.” (Qs. al-Hijr: 87)

Begitu juga surat yang sering dibaca oleh Rasulullah dalam banyak shalatnya, terutama shalat sunnah Fajr, shalat sunnah bakda thawaf, serta shalat sunnah witir pada rakaat yang kedua dan ketiga adalah surat al-Kafirun dan surat al-Ikhlas.

Di dalam shalat Jum’at beliau sering membaca surat al-A’la di rakaat pertama dan surat al-Ghasyiah di rakaat kedua.

Salah satu cara menghafal al-Qur’an yang paling efektif dan dianjurkan oleh seluruh ulama adalah banyak mengulang-ulang ayat dan surat yang sedang dihafal.

 

Keenam, Makna Dzikir dalam Hadist

Adapun isi dzikir yang disebutkan dalam hadits di atas adalah sebagai berikut;

سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقِهِ وَرِضَا نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ

“Maha Suci Allah dengan segala Pujian-Nya.” 

(Maha Suci Allah) dzikir ini dimulai dengan mensucikan Allah dari segala kekurangan, artinya bahwa Allah Maha Sempurna, tidak ada yang kurang pada diri-Nya suatu apapun juga.

(Dengan Segala Puji-Nya) artinya setelah menafikan semua sifat kekurangan dari diri-Nya, kemudian disebutkan seluruh Pujian yang ada pada diri-Nya. Dia adalah Maha Terpuji tidak ada kekurangan apapun pada diri-Nya.

Pujian kepada Allah adalah bentuk yang paling tinggi dari sebuah penghambaan kepada-Nya. Ini sebagai pengakuan dari hamba-Nya bahwa dirinya lemah, tidak berdaya, banyak kekurangan dan sangat membutuhkan kepada pertolongan-Nya. Di saat yang sama hamba ini mengakui akan kesempurnaan dan ketinggian, serta kekuasaan-Nya yang tidak terbatas. Maka Dia-lah yang terpuji dengan pujian yang tidak terbatas.

Pujian kepada Allah yang tidak terbatas tersebut dirinci dengan empat hal;

(1) Pujian kepada Allah sebanyak makhluk yang Allah ciptakan (عَدَدَ خَلْقِهِ ). Manusia tidak mungkin bisa menghitung seluruh makhluk Allah, karena begitu banyaknya. Allah berfirman,

وَمَا يَعْلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلَّا هُوَ

Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri. (Qs. al-Muddatstsir: 31)

Pujian kepada Allah sebanyak makhluk yang diketahui manusia dan yang tidak diketahui oleh manusia. Seakan menggambarkan bahwa Allah Maha Terpuji tanpa batas.

(2) Pujian kepada Allah sesuai keridhaan Diri-Nya (وَرِضَا نَفْسِهِ ِ). Padahal Allah ridha kepada banyak hal, artinya pujian kepada-Nya tidak terbatas. Atau maknanya: ‘memuji Allah sampai Dia ridha’.

(3) Pujian kepada Allah sesuai dengan beratnya ‘Arsy ar-Rahman (وَزِنَةَ عَرْشِهِ ). Padahal beratnya ‘Arsy ar-Rahman tidak terbayangkan oleh manusia karena dia adalah makhluk Allah yang paling agung dan paling besar secara mutlak. Allah berfirman,

 اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ

Allah, tiada Tuhan Yang disembah kecuali Dia, Tuhan Yang mempunyai 'Arsy yang besar.” (Qs. an-Naml: 26)

(4) Pujian kepada Allah sebanyak tinta yang menuliskan Kalimat-Nya (وَمِدَادَ كَلِمَاتِه). Padahal Kalimat Allah tidak akan habis walaupun ditulis dengan tinta yang diambil dari tujuh samudera. Sebagaimana firman-Nya,

قُلْ لَوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا

Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)".” (Qs. al-Kahfi: 109)

وَلَوْ أَنَّمَا فِي الْأَرْضِ مِنْ شَجَرَةٍ أَقْلَامٌ وَالْبَحْرُ يَمُدُّهُ مِنْ بَعْدِهِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَا نَفِدَتْ كَلِمَاتُ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Qs. Luqman: 27)

Kesimpulan,

Dzikir di dalam hadits ini sangat mulia. Hendaknya setiap muslim bisa mengamalkannya. Selain mudah dihafal, ringan diucapkan, begitu juga pahalanya sangat besar. Berkata di dalam Tuhfatu al-Ahwadzi, “Hadits di atas menunjukkan keutamaan dzikir ini. Dan barangsiapa mengucapkannya dia akan mendapatkan keutamaan pengulangan di dalam memuji Allah sebanyak hal-hal yang tercantum di dalam hadits di atas.”

Hadits di atas juga merupakan bentuk kasih sayang Allah yang begitu besar kepada hamba-Nya. Karena memberikan pahala yang begitu banyak dan melimpah, hanya dengan amalan yang sederhana dan ringan.

***