Karya Tulis
23 Hits

Bab 13 Doa Sebelum Tidur


عَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا فُلَانُ إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَقُلْ اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ وَوَجَّهْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ فَإِنَّكَ إِنْ مُتَّ فِي لَيْلَتِكَ مُتَّ عَلَى الْفِطْرَةِ وَإِنْ أَصْبَحْتَ أَصَبْتَ أَجْرًا

Dari al-Barra' bin Azib berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Hai fulan, jika engkau mendatangi kasurmu, maka panjatkanlah doa:

Ya Allah, aku pasrahkan diriku kepada-Mu, dan kuhadapkan wajahku kepada-Mu, dan aku serahkan urusanku kepada-Mu, dan aku sandarkan punggungku kepada-Mu, dengan berharap-harap cemas kepada-Mu, sesungguhnya tidak ada tempat bersandar dan tempat keselamatan selain kepada-Mu, saya beriman kepada kitab-Mu yang Engkau turunkan dan nabi-Mu yang Engkau utus).”

Maka sekiranya engkau meninggal di malam hari, maka engkau meninggal di atas fitrah, dan jika engkau bangun pagi harinya, maka engkau peroleh pahala."
(HR. al-Bukhari, 6934)

 

Hikmah (56): Makna di Balik Tidur

(a) Hadits di atas menjelaskan tentang adab dan etika sebelum tidur dalam Islam, diantaranya berwudhu, berbaring di atas pinggang kanan, dan menghadap kiblat, kemudian berdoa seperti yang tersebut di dalam hadist. Ini sesuai dengan riwayat al-Bukhari lainnya yang menjelaskan bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وَضُوءَكَ لِلصَّلَاةِ ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الْأَيْمَنِ

“Apabila kamu hendak tidur, maka berwudhulah sebagaimana kamu berwudhu untuk shalat. Setelah itu berbaringlah dengan miring ke kanan.” (HR. al-Bukhari, 5836)

(b) Tujuan berwudhu sebelum tidur agar badan bersih dari berbagai kotoran dan hati menjadi lapang serta tidur bisa nyenyak. Ini juga mengisyaratkan bahwa sebelum menghadap Allah, mayit diwajibkan untuk diwudhukan dan dimandikan, sehingga ketika menghadap Allah, dia dalam keadaan bersih dan suci. Begitu juga orang tidur, dia juga akan menghadap Allah, maka disunnahkan untuk berwudhu.

(c) Selain berwudhu, disunnahkan juga berbaring di atas pinggang kanan dan menghadap kiblat. Posisi seperti ini merupakan posisi mayit dalam kuburan.

Terdapat kesamaan antara tidur dengan kematian. Disebutkan bahwa tidur adalah kematian kecil, sedangkan wafat adalah kematian besar. Kesamaan antara keduanya  disebutkan oleh Allah di dalam firman-Nya,

اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَى إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.” (Qs. az-Zumar: 42)

(d) Tidur di atas pinggang kanan adalah sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, ini diisyaratkan dalam firman Allah,

 الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ

“(Ulul Albab) adalah mereka yang selalu mengingat Allah ketika berdiri, duduk, dan berbaring di atas pinggang (kanan).” (Qs. Ali Imran: 191)

Tidur di atas pinggang kanan juga dianjurkan oleh ahli kesehatan, karena posisi seperti itu tidak menindih posisi jantung, sehingga bisa bangun dengan cepat. Posisi ini lebih baik daripada tidur terlentang maupun tidur di atas pinggang kiri yang menindih jantung.

Hikmah (57): Kepasrahan Diri kepada Allah

اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ

Ya Allah, aku pasrahkan diriku kepada-Mu.”

(a) Doa sebelum tidur dalam hadits di atas dimulai dengan menyebut kepasrahan diri kepada Allah. An-Nawawi di dalam Riyadhu ash-Shalihin menyebut hadits ini di bawah ‘Bab: Keyakinan dan Tawakkal’. karena kandungan isinya tentang tawakkal dan kepasrahan kepada Allah.

Orang yang sedang tidur itu tidak sadar dan tidak bisa berbuat apa-apa, maka segala nasib, keselamatan, dan hidupnya dipasrahkan sepenuhnya kepada Allah yang selalu mengawasinya. Allah tidak pernah mengantuk dan tidak pernah tidur.

Allah berfirman,

اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ

“Allah yang tiada Ilah (yang berhak disembah) kecuali Dia. Yang Maha Hidup dan Maha Mengurusi (makhluk-Nya). Tidak pernah mengantuk dan tidak pernah pula tidur.” (Qs. al-Baqarah: 255)

Allah juga tidak pernah lupa, sebagaimana dalam firman-Nya,

 وَمَا نَتَنَزَّلُ إِلَّا بِأَمْرِ رَبِّكَ لَهُ مَا بَيْنَ أَيْدِينَا وَمَا خَلْفَنَا وَمَا بَيْنَ ذَلِكَ وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيًّا

“Dan tidaklah kami (Jibril) turun, kecuali dengan perintah Tuhanmu. Kepunyaan-Nya-lah apa-apa yang ada di hadapan kita, apa-apa yang ada di belakang kita dan apa-apa yang ada di antara keduanya, dan tidaklah Tuhanmu lupa. (Qs. Maryam: 64)

Allah juga berfirman,

قَالَ عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّي فِي كِتَابٍ لَا يَضِلُّ رَبِّي وَلَا يَنْسَى

“Musa menjawab: "Pengetahuan tentang itu ada di sisi Tuhanku, di dalam sebuah kitab, Tuhan kami tidak akan salah dan tidak (pula) lupa.” (Qs. Thaha: 52)

(b) Doa ini juga menunjukkan bahwa diri manusia adalah milik Allah dan akan dikembalikan kepada-Nya, ini terwujud ketika seseorang sedang tidur dan ketika meninggal dunia. Dua keadaan tersebut sudah diijelaskan di dalam surah az-Zumar ayat 42 di atas.

Keyakinan bahwa setiap manusia akan dikembalikan kepada Allah disebutkan dalam firman-Nya,

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun.” (Qs. al-Baqarah: 156)

(c) Kepasrahan dalam hadist ini mencakup kepasrahan kepada takdir Allah dan hukum Allah. Takdir Allah yaitu ketetapan Allah dalam kehidupan manusia, seperti jodoh, rezeki, ajal, sakit, kaya, miskin. Sedangkan hukum Allah yaitu syariat Allah yang diturunkan kepada manusia, seperti kewajiban beriman, shalat, puasa, zakat, haji.

Seorang muslim harus pasrah kepada dua hal di atas. Selain harus menerima takdir Allah dalam kehidupan dunianya, dia juga harus menjalankan seluruh perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.

Hikmah (57): Menghadapkan Wajah kepada Allah

وَوَجَّهْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ

“Dan aku hadapkan wajahku kepada-Mu.”

(a) Wajah adalah salah satu anggota badan yang termulia bagi manusia. Seseorang menghadapkan wajahnya kepada Tuhannya. Disebut ‘wajah’ dalam hadits ini mewakili anggota tubuh yang lain. Artinya walaupun yang dihadapkan hanya wajah saja, tetapi pada hakikatnya dia menghadapkan seluruh anggota badannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala, sebagai Dzat yang paling berhak disembah. Di dalam bahasa Indonesia, disebutkan Fulan tidak kelihatan ‘batang hidung’nya maksudnya adalah tidak kelihatan orangnya. Batang hidung di atas mewakili seluruh badan manusia. Begitu juga wajah dalam hadits di atas.

(b) Menghadapkan wajah kepada Allah banyak disebut di dalam al-Qur’an, diantaranya adalah firman Allah,

إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (Qs. al-An’Am: 79)

‘Menghadapkan wajah’ pada ayat di atas menunjukkan ketundukkan dan kepasrahan kepada Pencipta langit dan bumi, yaitu Allah subhanahu wa ta’ala, serta menjauhkan diri dari segala bentuk kesyirikan.

(c) Menghadapkan wajah kepada Allah juga disebut di dalam beberapa hadits, diantaranya hadits ‘Ali bin Abi Thalib dalam doa istiftah,

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ إِذَا قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ قَالَ وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنْ الْمُشْرِكِينَ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنْ الْمُسْلِمِينَ

Dari Ali bin Abu Thalib dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam; Biasanya apabila Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam shalat, beliau membaca (do'a istiftah) sebagai berikut: ‘Aku hadapkan wajahku kepada Allah, Maha pencipta langit dan bumi dengan keadaan ikhlas dan tidak mempersekutukanNya. Sesungguhnya shalatku, segala ibadahku, hidupku dan matiku, hanya semata-mata untuk Allah Rabb semesta alam. Tidak ada sekutu bagiNya, dan karena itu aku patuh kepada perintahNya, dan berserah diri kepadaNya’.” (HR. Muslim, 1290)

‘Menghadapkan wajah’ dalam doa istiftah di atas mengandung perintah untuk bertauhid kepada Allah serta menjauhkan kesyirikan. Dan ini dibaca sebelum membaca al-Fatihah di dalam shalat.

Hikmah (58): Menyerahkan Segala Urusan kepada Allah

 وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ

“Dan aku serahkan urusanku kepada-Mu.”

(a) Doa ini menjelaskan bahwa segala urusan seorang mukmin harus diserahkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, khususnya ketika seseorang hendak tidur. Urusan di sini bersifat umum, termasuk urusan dunia, agama dan akhirat. Yang lebih ditekankan dalam hal ini adalah urusan dunia.

Seringkali manusia tenggelam dan larut dalam mengurusi dunia, sejak bangun tidur telah mempersiapkan diri untuk pergi ke kantor, hingga larut malam. Bahkan hendak tidur pun masih memikirkan pekerjaan di kantornya atau urusan bisnis yang belum kunjung selesai. Di sinilah letak pentingnya doa di atas, yaitu menyerahkan segala urusan dunianya kepada Allah. Saat ini waktunya istirahat dan meninggalkan dunia dengan segala hiruk pikuknya, walaupun hanya sementara waktu.

(b) Penyerahan segala urusan hanya kepada Allah, dikuatkan dengan doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu,

دَعَوَاتُ الْمَكْرُوبِ: اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو فَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ  

“Doa-doa ketika terkena bencana dan musibah, ‘Wahai Allah, hanya rahmat-Mu yang aku harapkan, maka janganlah Engkau menyerahkan aku kepada diriku sendiri meski hanya sekejap mata dan perbaikilah seluruh urusanku. Tiada Ilah Yang berhak disembah selain Engkau’.” (HR. Ahmad dan Abu Daud. Hadist ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahih al-Jami’ 3388)

Doa di dalam hadist Abu Bakrah di atas terdapat perintah untuk menyerahkan segala urusan (dunia) kepada Allah, dan hendaknya jangan diurus oleh dirinya sendiri, walau sekejap mata. Jika ini terjadi, maka Allah akan membiarkannya menjadi mangsa syetan. Maka, doa ini dilengkapi dengan permohonan kepada-Nya untuk memperbaiki segala urusannya.

(c) Allah telah menceritakan seorang mukmin dari keluarga Fir’aun yang berani ber-amar ma’ruf nahi munkar di lingkungan istana. Tentunya resikonya sangat besar, bahkan bisa berujung kepada pembunuhan terhadap dirinya. Dalam keadaan seperti itu, dia menyerahkan segala urusannya, hidup matinya kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Dan pada akhirnya Allah menolongnya dari makar Fir’aun. Allah berfirman,

فَسَتَذْكُرُونَ مَا أَقُولُ لَكُمْ وَأُفَوِّضُ أَمْرِي إِلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ

Kelak kamu akan ingat kepada apa yang kukatakan kepada kamu. Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.” (Qs. Ghafir: 44)

Allah menolong orang mukmin tersebut setelah mengucapkan doa,

وَأُفَوِّضُ أَمْرِي إِلَى اللَّهِ 

‘Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah

Ini terlihat pada ayat selanjutnya,

 فَوَقَاهُ اللَّهُ سَيِّئَاتِ مَا مَكَرُوا وَحَاقَ بِآلِ فِرْعَوْنَ سُوءُ الْعَذَابِ

“Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, dan Fir'aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk.” (Qs. Ghafir: 45)

Hikmah (59): Menyandarkan Punggung kepada Allah

وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ

“Dan aku sandarkan punggungku kepada-Mu.”

(a) Maksud dari (aku sandarkan punggungku kepada-Mu), bukan makna secara tekstual, tetapi maknanya ‘aku sandarkan seluruh hidupku kepada-Mu’. Disebut ‘punggung’ di sini karena merupakan bagian tubuh yang paling kuat sebagai penyangga seluruh anggota tubuh. Seseorang disebut ‘tulang punggung’ keluarganya, ketika dia yang mencari nafkah untuk menyangga kehidupan seluruh anggota keluarganya.

(b) ‘Aku sandarkan punggungku kepada-Mu’  menunjukkan tawakkal secara total, yaitu menyandarkan hidup dan matinya hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Tidak ada yang dia takuti kecuali Allah, tidak ada tempat berharap kecuali kepada Allah. Dia menyakini bahwa Allah adalah satu-satunya Dzat yang menjamin seluruh kehidupannya.

Hikmah (60): Harapan dan Rasa Takut

 رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ

“Seraya berharap dan takut kepada-Mu.”

(a) Dalam berdoa dan beribadah kepada Allah, ada dua hal yang harus dipenuhi oleh seorang muslim, yaitu: berharap atas rahmat Allah dan takut akan adzab-Nya. Dua hal ini bagaikan dua sayap pada burung. Dia tidak akan bisa terbang hanya dengan salah satunya.

(b) Sebagian kelompok Islam tidak memahami dua hal ini. Mereka hanya mengambil salah satunya. Kelompok al-Murji’ah umpamanya, mereka lebih condong kepada harapan akan rahmat Allah, tetapi kurang takut akan adzab-Nya. Maka kita dapatkan mereka banyak bermaksiat dengan harapan akan mendapatkan ampunan dari Allah atas dosa-dosa mereka. Inilah yang mendorong sebagian umat Islam berani melakukan maksiat, bahkan sampai mengerjakan dosa besar, seperti membunuh, berzina, merampok, korupsi dan lainnya. Sebab di dalam benak mereka, Allah akan mengampuni dosa-dosa tersebut.

(c) Sebaliknya, kelompok al-Khawarij lebih cenderung kepada rasa takut kepada adzab-Nya dan kurang berharap kepada rahmat-Nya, sehingga mereka mudah mengkafirkan orang yang melakukan dosa besar. Bagi mereka, dosa besar tidak diampuni oleh Allah. Mereka sangat rajin beribadah kepada Allah karena rasa takut kepada adzab-Nya. Tetapi sayangnya, mereka sering menumpahkan darah kaum muslimin, karena dianggap telah keluar dari Islam, hanya karena melakukan dosa besar.

(d) Sikap yang paling tepat adalah menggabung antara harapan dan rasa takut kepada Allah, sebagaimana yang diajarkan dalam doa di atas. Seorang muslim diwajibkan untuk selalu berharap kepada rahmat Allah setiap saat, walaupun kadang dia jatuh ke dalam maksiat bahkan dosa besar. Ampunan Allah terbuka kepada siapa saja yang bermaksiat selama dia mau bertaubat sebelum wafat. Dalam hal ini Allah berfirman,

 قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. az-Zumar: 53)

Ini dikuatkan dengan firman Allah,

 إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (Qs. an-Nisa: 48)

Dan firman-Nya,

 إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” (Qs. an-Nisa: 116)

(e) Larangan berputus asa terhadap rahmat Allah juga tersebut di dalam firman-Nya,

يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

“Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (Qs. Yusuf: 87)

Juga dalam firman-Nya,

 قَالُوا بَشَّرْنَاكَ بِالْحَقِّ فَلَا تَكُنْ مِنَ الْقَانِطِينَ (55) قَالَ وَمَنْ يَقْنَطُ مِنْ رَحْمَةِ رَبِّهِ إِلَّا الضَّالُّونَ (56)

“Mereka menjawab: "Kami menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan benar, maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang berputus asa." Ibrahim berkata: "Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat".” (Qs. al-Hijr: 55-56)

(f) Adapun ayat-ayat tentang rasa takut kepada Allah sangat banyak sekali, akan dijelaskan di buku yang lain. Tetapi terdapat beberapa ayat yang menggabungkan antara harapan dan rasa takut kepada Allah, diantaranya adalah firman Allah,

أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا

“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.” (Qs. al-Isra’: 57)

Juga dalam firman-Nya,

تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezki yang Kami berikan.” (Qs. as-Sajdah: 16)

Juga dalam firman-Nya,

 أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

“(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (Qs. az-Zumar: 9)

Hikmah (61): Tidak ada Tempat Berlindung dari Adzab Allah Kecuali kepada-Nya

لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ

“Sesungguhnya tidak ada tempat bersandar dan tempat berlindung (dari adzab-Mu) selain kepada-Mu.”

(a) Seseorang jika takut kepada fulan dia akan lari dan berlindung kepada fulan yang lain. Jika takut kepada seorang penguasa, dia akan lari dan mencari perlindungan kepada penguasa lain. Tetapi jika takut kepada ancaman dan siksa Allah, ke mana dia akan lari? Tidak ada tempat lari dan tempat berlindung kecuali perlindungan Allah. Inilah makna dari doa di atas.

(b) Keyakinan bahwa tidak ada tempat perlidungan dari adzab dan siksa-Nya kecuali kepada-Nya, telah dijelaskan dalam beberapa ayat al-Qur’an diantaranya adalah firman-Nya,

 فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌ

“Maka berlari menuju Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu.” (Qs. adz-Dzariyat: 50)

Al-Qurthubi di dalam tafsirnya al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an (11/334) menjelaskan maksud (fa firru ila Allah) ‘berlari menuju Allah’ sebagai berikut:

i. Berlari dari maksiat menuju ketaatan kepada-Nya.

ii. Berlari untuk bertaubat kepada Allah dari segala dosa dan maksiat.

iii. Berlari dari adzab-Nya menuju ampunan-Nya dengan menaati segala perintah-Nya.

iv. Berlari dari taat kepada syetan menuju taat kepada Ar-Rahman.

v. Berlari dari kebodohan menuju ilmu.

vi. Berlari dari kufur nikmat kepada syukur nikmat.

vii. Berlari dari selain Allah menuju Allah.

(c) Di dalam hadist Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa beliau berkata,  

فَقَدْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةً مِنَ الْفِرَاشِ فَالْتَمَسْتُهُ فَوَقَعَتْ يَدِي عَلَى بَطْنِ قَدَمَيْهِ وَهُوَ فِي الْمَسْجِدِ وَهُمَا مَنْصُوبَتَانِ وَهُوَ يَقُولُ: اللَّهُمَّ أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ

Aku pernah kehilangan Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam pada suatu malam, dan aku mencari-carinya dengan kedua tanganku (karena gelap). Lalu kedua tanganku mendapati kedua telapak kaki beliau yang berdiri tegak, yang waktu itu beliau sedang dalam keadaan sujud. Beliau mengucapkan doa: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dengan keridhaan-Mu dari kemurkaan-Mu, dengan maaf-Mu dari siksa-Mu, dan aku berlindung dengan-Mu dari-Mu. Aku tidak bisa menghitung pujian kepada-Mu sebagaimana Engkau telah memuji diri-Mu sendiri’.” (HR. Muslim)

Pada hadits di atas dijelaskan doa memohon tiga perlindungan dari tiga bahaya: (1) kepada ridha Allah dari murka-Nya, (2) kepada keselamatan Allah dari siksa-Nya, (3) kepada Allah dari-Nya (maksud dari poin yang ketiga ini telah dijelaskan di dalam tafsir al-Qurthubi di atas).

Hikmah (62): Beriman kepada Kitab dan Nabi-Nya

آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ

“Aku beriman kepada Kitab-Mu yang Engkau turunkan dan Nabi-Mu yang Engkau utus.”

(a) Beriman kepada kitab yang diturunkan kepada nabi-nabi seperti Shuhuf Ibrahim, Shuhuf Musa, Zabur Daud, Taurat Musa, Injil Isa, dan al-Qur’an Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam; serta beriman kepada para nabi yang berjumlah 25 orang di dalam al-Qur’an dan nabi-nabi lain yang tidak disebut; semuanya termasuk rukun iman, dimana seorang muslim tidak boleh berpaling darinya sedikitpun.

(b) Yang menarik dari hadits di atas bahwa al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu membaca doa di atas dengan menyebut (“… dan rasul-Mu yang Engkau utus.”), kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meluruskan perkataan itu, dengan sabdanya (“… dan nabi-Mu yang Engkau utus.”) bukan rasul-Mu yang Engkau utus.

Pertanyaannya: Apakah rahasianya?

Jawabannya: Kata “rasul” mengandung beberapa makna, diantaranya: rasul adalah  utusan Allah dari kalangan malaikat, sebagaimana firman-Nya,

الْحَمْدُ لِلَّهِ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ جَاعِلِ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا أُولِي أَجْنِحَةٍ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ يَزِيدُ فِي الْخَلْقِ مَا يَشَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Qs. Fathir: 1)

 

Juga firman-Nya,

إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ (19) ذِي قُوَّةٍ عِنْدَ ذِي الْعَرْشِ مَكِينٍ (20)

“Sesungguhnya al-Qur'an itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai 'Arsy.” (Qs. at-Takwir: 19-20)

Begitu juga kata ‘rasul’ digunakan untuk  menyebut utusan Allah dari kalangan manusia. Oleh karenanya, kata yang tepat dalam hal ini adalah “nabi yang Engkau utus” karena nabi hanya dari kalangan manusia, tidak ada dari kalangan malaikat.

Hikmah (63): Mengakhiri Aktifitas dengan Doa Ini

(a) Dalam riwayat lain hadits di atas disebutkan,

واجعلهن آخر ما تقول

“Dan jadikanlah doa ini sebagai perkataan terakhir (dalam aktifitas sehari).”

Ini menunjukkan anjuran untuk membaca doa tersebut pada akhir aktifitas seorang muslim, yaitu ditutup dengan kepasrahan total kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

(b) Pertanyaannya: Apakah boleh membaca doa atau dzikir yang lain setelah membaca doa sebelum tidur di atas?

Jawabannya: Menjadikan doa tersebut sebagai akhir aktifitas seorang muslim adalah anjuran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika bisa dilaksanakan tentunya sangat baik, tetapi jika setelah membaca doa tersebut belum terpejam matanya, maka ia boleh membaca doa dan dzikir lainnya, atau membaca al-Qur’an sampai tertidur.

Hikmah (64): Husnul Khatimah dengan Doa Tidur

فَإِنَّكَ إِنْ مُتَّ فِي لَيْلَتِكَ مُتَّ عَلَى الْفِطْرَةِ وَإِنْ أَصْبَحْتَ أَصَبْتَ أَجْرًا

“Maka sekiranya engkau meninggal di malam hari, maka engkau meninggal di atas fitrah, dan jika engkau bangun pagi harinya, maka engkau peroleh pahala.”

(a) Setiap muslim hendaknya berusaha untuk selalu membaca doa ini sebelum tidur. Karena jika dia melakukannya dengan ikhlas dan memahami maknanya dengan benar serta menyakininya, kemudian malam tersebut dia meninggal dunia, maka dia akan meninggal dunia di atas fitrah, yaitu di atas tauhid dan akan dijamin masuk surga.

(b) Fitrah yang bermakna tauhid terdapat di dalam firman Allah,

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Qs. ar-Rum: 30)

  Berkata Ibnu Katsir di dalam Tafsir al-Qur’an al-’Azhim (6/313), “Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan manusia di atas fitrahnya, yaitu dalam keadaan mengetahui akan Penciptanya dan cenderung kepada tauhid, serta tiada ilah yang berhak disembah melainkan Dia.”

(c) Ini dikuatkan oleh hadist Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ كَمَا تُنْتَجُ الْبَهِيمَةُ بَهِيمَةً جَمْعَاءَ هَلْ تُحِسُّونَ فِيهَا مِنْ جَدْعَاءَ ثُمَّ يَقُولُ أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ) فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ (

“Tidak ada seorang anak pun yang terlahir kecuali dia dilahirkan dalam keadaan fithrah. Maka kemudian kedua orang tuanyalah yang akan menjadikan anak itu menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi, sebagaimana binatang ternak yang melahirkan anak-anaknya dengan sempurna. Apakah kalian melihat ada cacat padanya". Kemudian Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu membaca firman Allah ('Sebagai fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus"). Qs. Ar-Rum:30 (HR. al-Bukhari, 1271)

Fitrah pada hadist di atas diartikan tauhid. Jadi, setiap anak yang lahir, dia lahir di atas tauhid. Adapun agama Yahudi, Nashrani dan Majusi adalah agama yang keluar dari fitrah manusia.

(d) Orang yang meninggal di atas tauhid akan dijamin masuk surga terdapat di dalam hadits Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلاَمِهِ لا إله إلا الله دَخَلَ الجَنَّةَ

“Barang siapa yang akhir dari perkataannya ‘Laa ilaha illa Allah’, niscaya ia akan masuk surga.” (Berkata an-Nawawi di dalam Riyadh ash-Shalihin (1/465): ‘Hadist ini diriwayatkan oleh Abu Daud dan al-Hakim, dan beliau berkata: Shahih Isnadnya.’)

 

***