Karya Tulis
77 Hits

Bab 5 Yusuf Manusia Pilihan


وَكَذَٰلِكَ يَجْتَبِيكَ رَبُّكَ وَيُعَلِّمُكَ مِنْ تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ وَيُتِمُّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَعَلَىٰ آلِ يَعْقُوبَ كَمَا أَتَمَّهَا عَلَىٰ أَبَوَيْكَ مِنْ قَبْلُ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ ۚ إِنَّ رَبَّكَ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

 

“Dan demikianlah Tuhanmu, memilih kamu (untuk menjadi Nabi) dan diajarkan-Nya kepadamu sebahagian dari ta'bir mimpi-mimpi dan disempurnakan-Nya nikmat-Nya kepadamu dan kepada keluarga Ya'kub, sebagaimana Dia telah menyempurnakan nikmat-Nya kepada dua orang bapakmu sebelum itu, (yaitu) Ibrahim dan Ishak. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” 

(Qs. Yusuf: 6)

 

Pelajaran dari ayat di atas 

 

Pelajaran (1) Yusuf Manusia Pilihan

 

 وَكَذَٰلِكَ يَجْتَبِيكَ رَبُّكَ 

 

“Dan demikianlah Tuhanmu, memilih kamu (untuk menjadi Nabi).”

 

Pada ayat keenam ini dimulailah cerita detail mengenai Yusuf sejak kecil. "Dan demikianlah Tuhanmu memilihmu wahai Yusuf untuk menjadi seorang nabi." Kata (ijtaba-yajtabi) artinya memilih. Allah memilih Yusuf sebagai Nabi di antara manusia yang sangat banyak, Ini menunjukkan bahwa Yusuf adalah nabi pilihan Allah.

 

Pada ayat ini digunakan lafadz (Rabb), bukan (Allah). Mengapa? Sebab Rabb itu memberikan kesan bahwa Allah sebagai Tuhan yang menciptakan dan merawat manusia. Sedangkan (Allah) menunjukkan bahwa Allah sebagai Tuhan sesembahan manusia. Kedua makna tersebut berbeda.

 

(Rabb) adalah Dzat yang menurunkan hujan, yang memberikan rezeki kepada manusia. (Rabb) adalah yang mengatur alam semesta ini. Lafadz (Rabb) ini digunakan di dalam al-Qur'an untuk mengajarkan keyakinan yang benar kepada kaum kafir Quraisy. Maka ayat pertama yang turun pun menggunakan lafadz (Rabb). Allah berfirman,

 

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

 

Bacalah (wahai Muhammad), 'Dengan nama Rabbmu (Tuhanmu) yang menciptakan'. (Qs. al-'Alaq: 1)

 

Dalam surat al-’Alaq di atas, lafadz (Rabb) disandingkan dengan lafadz (penciptaan), hal itu untuk menunjukkan bahwa kekuasaan Allah dapat dilihat dan dibuktikan dari ciptaan-Nya. Sebagaimana firman Allah,

 

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

 

“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.” (Qs. al-Baqarah: 21)

 

Kemudian, di sisi lain, semua manusia juga diperintahkan untuk memperhatikan ciptaan Allah, sebagaimana firman-Nya,

 

 أَفَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ (17) وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ (18) وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ (19) وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ   (20)

 

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan, Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?” (Qs. al-Ghasyiyah: 17-20)

 

Pada masa itu, bagi orang Arab Badui, unta adalah hewan yang paling tinggi dan besar serta yang paling terlihat di depan mata mereka. Selain itu terdapat langit, gunung, dan bumi, yang terhampar di depan mereka. Ini semua akan menggiring pada suatu pertanyaan, siapa yang menciptakan semua itu? Apakah semua ada begitu saja, tanpa pencipta? Maka secara spontan mereka akan menjawab bahwa di sana ada Dzat Yang Maha Besar yang menciptakan ini semua, yaitu Allah. Kalau sudah mengetahui bahwa yang mencipta alam ini adalah Allah, maka mereka diperintahkan untuk menyembah Allah.

 

Pelajaran (2) Ilmu Takwil Mimpi

 

  وَيُعَلِّمُكَ مِنْ تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ

 

Dan Dia mengajarkan kepadamu sebahagian dari ta'bir mimpi-mimpi

 

Masalah (1) Arti Takwil al-Ahadits

 

Para ulama berbeda pendapat tentang maksud dari (takwil al-ahadits) pada ayat di atas;

 

Pendapat Pertama mengatakan bahwa (ta’wil al-ahadits) maksudnya adalah takwil mimpi. Ini adalah pendapat mayoritas ahli tafsir. Mimpi disebut (ahadist), jama’ dari (hadist) yang berarti pembicaraan, karena mimpi sering dibicarakan dan diceritakan. Berkata Sayyid at-Thantawi di dalam Tafsir al-Wasith,

 

 إذا التأويل مأخوذ من الأَوْل بمعنى الرجوع ، وهو رد الشئ إلى الغاية المرادة منه .والأحاديث جمع تكسير مفرده حديث ، وسميت الرؤى أحاديث باعتبار حكايتها والتحدث بها .

 

 “Lafadz (at-ta’wil) diambil dari kata al-awal yang berarti kembali, yaitu mengembalikan sesuatu pada tujuan awal yang dimaksud darinya. Sedangkan (al-ahadits) jama’ taksir dari hadits (yang artinya pembicaraan). Mimpi dinamakan ahadist,  karena mimpi sering diceritakan dan dibicarakan.”  

 

Dalil pendapat ini adalah firman Allah,

 

وَرَفَعَ أَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ وَخَرُّوا لَهُ سُجَّدًا وَقَالَ يَا أَبَتِ هَذَا تَأْوِيلُ رُؤْيَايَ مِنْ قَبْلُ قَدْ جَعَلَهَا رَبِّي حَقًّا

 

“Dan ia menaikkan kedua ibu-bapaknya ke atas singgasana. Dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud kepada Yusuf. Dan berkata Yusuf: "Wahai bapakku inilah ta'bir mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan.” (Qs. Yusuf: 100)

 

Pendapat Kedua menyatakan bahwa maksud dari (takwil al-ahadist) adalah hikmah, yaitu mengembalikan kejadian pada hakikat yang sebenarnya. Dan makna (ahadist) dalam ayat di atas adalah jamak dari (hadist) yang berarti sesuatu yang terjadi.  Berkata Ibnu ‘Asyur di dalam at-Tahrir wa at-Tanwir (7/309),  

 

يصحّ أن يكون جمع حديث بمعنى الشيء الحادث ، فتأويل الأحاديث : إرجاع الحوادث إلى عللها وأسبابها بإدراك حقائقها على التمام وهو المعنى بالحكمة 

 

“Dan bisa juga (al-ahadist) adalah jamak dari (hadits) yang berarti sesuatu yang terjadi, Sehingga (ta’wil al-ahadits)  diartikan mengembalikan kejadian-kejadian kepada alasan dan penyebabnya, dengan cara mengetahui hakikatnya secara sempurna. Itulah yang disebut dengan hikmah.”

 

Pendapat Ketiga menyatakan bahwa makna (tawil al-ahadits) pada ayat di atas adalah ilmu tentang kitab yang diturunkan Allah dan petunjuk para nabi. Dan makna (ahadits), jama’ dari (hadist) yang berarti pembicaraan tentang Allah dan para rasul. Berkata Syekh asy-Syenkithi di dalam Adhwau al-Bayan (2/315),  

 

وقال بعض العلماء : المراد بتأويل الأحاديث معرفة معاني كتب الله وسنن الأنبياء ، وما غمض وما اشتبه على الناس من أغراضها ومقاصدها ، يفسرها لهم ويشرحها ، ويدلهم على مودعات حكمها وسميت أحاديث ، لأنها يحدث بها عن الله ورسله ، فيقال : قال الله كذا ، وقال رسوله كذا

 

 “Sebagian ulama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan tawil al-ahadits adalah pengetahuan tentang kitab-kitab yang diturunkan Allah dan perilaku para nabi serta ilmu maqhasid (tujuan syariat) yang tidak diketahui manusia. Kemudian mereka menafsirkan dan menjelaskannya kepada mereka serta menunjukkan kandungan-kandungan hikmah di dalamnya. Disebut (ahadist) karena seseorang berbicara tentang masalah tersebut dari Allah dan para Rasul-Nya. Maka dia akan berkata: Allah berfirman, Rasul bersabda.”   

 

Pendapat ketiga ini berdalil dua dalil, yaitu;

 

(a) Firman Allah,

 

فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَهُ يُؤْمِنُونَ

 

“Maka kepada berita manakah lagi mereka akan beriman sesudah Al Quran itu? (Qs. al-A’raf: 185)

(b) Firman Allah,   

 

  اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ

 

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) al-Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang.” (Qs. Az-Zumar: 23)  

 

Pendapat Keempat menyatakan makna (tawil al-hadits) pada ayat di atas adalah sejarah umat masa lalu dan kitab-kitab suci, serta dalil-dalil Tauhid. Berkata al-Qurthubi di dalam tafsirnya (9/86),

 

أيْ أَحَادِيث الْأُمَم وَالْكُتُب وَدَلَائِل التَّوْحِيد , فَهُوَ إِشَارَة إِلَى النُّبُوَّة , وَهُوَ الْمَقْصُود بِقَوْلِهِ : " وَيُتِمّ نِعْمَته عَلَيْك "أَيْ بِالنُّبُوَّةِ .

 

“Yaitu tentang (pengetahuan) tentang sejarah umat (masa lalu), dan kitab-kitab suci, serta dalil-dalil tauhid. Ini mengisyaratkan akan kenabiannya. Inilah yang dimaksud di dalam firman Allah: ‘Dan menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu’, yaitu dengan kenabian.”

 

Masalah (2) Ayat-ayat Takwil Mimpi

 

Di dalam surat Yusuf terdapat tiga ayat yang menyebutkan bahwa Allah mengajarkannya ilmu takwil mimpi. Tiga ayat itu adalah;

 

(1) Di dalam Surat Yusuf ayat 6,

 

وَكَذَٰلِكَ يَجْتَبِيكَ رَبُّكَ وَيُعَلِّمُكَ مِنْ تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ

 

“Dan demikianlah Tuhanmu, memilih kamu (untuk menjadi Nabi) dan diajarkan-Nya kepadamu sebahagian dari ta'bir mimpi-mimpi.”

 

(2) Di dalam Surat Yusuf ayat 21,

 

وَكَذَلِكَ مَكَّنَّا لِيُوسُفَ فِي الْأَرْضِ وَلِنُعَلِّمَهُ مِنْ تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ

 

“Dan demikian pulalah Kami memberikan kedudukan yang baik kepada Yusuf di muka bumi (Mesir), dan agar Kami ajarkan kepadanya ta'bir mimpi.”

 

(3) Di dalam Surat Yusuf ayat 101,

 

رَبِّ قَدْ آتَيْتَنِي مِنَ الْمُلْكِ وَعَلَّمْتَنِي مِنْ تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ

 

“Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian ta'bir mimpi.”  

 

Masalah (3) Mukjizat Takwil Mimpi

 

Apakah Allah hanya mengajarkan kepada Yusuf takwil mimpi saja, dan tidak mengajarkan ilmu-ilmu yang lain? Jawabannya, tentunya Allah juga mengajarkan ilmu-ilmu yang lain, sebagian ulama menyatakan bahwa Allah juga mengajarkan ilmu-ilmu yang dibutuhkan seorang nabi, dan ilmu-ilmu yang dibutuhkan bagi seorang pemimpin, karena Yusuf di masa mendatang akan menjadi penguasa Mesir.

 

Hanya saja disebut pada ayat di atas ilmu takwil mimpi secara khusus, bukan ilmu yang lain, untuk menunjukkan bahwa salah satu kelebihan dan spesialisasi Yusuf adalah mengetahui ilmu takwil mimpi.

 

Pada zaman kita dibutuhkan ilmu takhasus atau spesialis. Hasil penelitian Universitas Harvard di Amerika Serikat bahwa semakin teknologi berkembang maka manusia semakin bodoh dan membutuhkan spesialis.

 

Sebagian ulama dahulu ada yang mampu menguasai banyak ilmu sekaligus (multitalenta). Namun pada masa kini semakin diperlukan ilmu spesialis, contohnya dalam ilmu kedokteran terdapat spesialis bidang tertentu, seperti dokter gigi, dokter anak, dokter penyakit dalam, dokter penyakit kulit dan sebagainya.

 

Nabi Yusuf diberikan oleh Allah kelebihan dalam ilmu takwil mimpi, karena pada saat itu banyak orang yang membicarakan takwil mimpi, dan mereka sangat membutuhkannya. Setiap nabi yang diutus  dibekali dengan suatu ilmu yang sedang dibutuhkan oleh umatnya.

 

Pada zaman Nabi Musa, ilmu yang paling populer adalah sihir, maka Nabi Musa dibekali dengan tongkat yang dapat berubah menjadi ular, tetapi bukan ilmu sihir. 

 

Pada zaman Nabi Isa, ilmu yang sedang dibutuhkan adalah ilmu pengobatan. Oleh karenanya Nabi Isa dibekali mukjizat untuk menyembuhkan orang buta, penyakit kulit dan menghidupkan orang mati.

 

Adapun Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau tidak dibekali dengan ilmu sihir ataupun ilmu pengobatan, karena tidak masyhur pada zamannya. Yang sedang populer bagi masyarakat masa itu adalah ilmu sastra. Sastra Arab masa itu begitu maju pesat, sampai terdapat pasar, tempat berkumpulnya para penyair, yaitu pasar Ukadh. Kalau masa sekarang disebut dengan teater atau gedung budaya. Oleh karena itu Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dibekali al-Qur'an, bukan buku syair, namun keindahan bahasanya menandingi seluruh syair-syair yang ada pada masanya.

 

Para ahli sastra zaman itu tidak mampu mendatangkan satu ayatpun untuk menandingi al-Qur'an, walaupun huruf-huruf al-Qur’an sama persis dengan huruf-huruf yang mereka pakai untuk membuat syair. Inilah yang disebut mukjizat. Mukjizat al-Qur’an ini langgeng sampai hari kiamat, sedangkan mukjizat nabi-nabi yang lain sudah tidak ada lagi.

 

Pelajaran (3) Sempurnanya Nikmat

 

 وَيُتِمُّ نِعْمَتَهُ  

 

"Dan Dia menyempurnakan nikmat-Nya."

 

Masalah (1) Pembagian Nikmat

 

Nikmat itu ada dua, yaitu nikmat lahir dan nikmat batin. Nikmat yang diberikan kepada para nabi adalah nikmat batin, bukan nikmat lahir dalam arti kekayaan dan kekuasaan, karena Nabi Ya'kub bukanlah orang yang kaya, beliau dan kedua belas anaknya tinggal  pedesaan, jauh dari perkotaan. Makanya, ketika terjadi musim paceklik, mereka kehabisan bahan makanan, terpaksa mereka mencari bahan makanan ke Mesir. 

 

Dari situ, kita ketahui bahwa maksud nikmat yang disempurnakan oleh Allah kepada Yusuf adalah nikmat batin, yaitu nikmat kenabian, dan kebahagiaan hidup.  Bisa juga ditambah dengan nikmat lahir berupa kekuasaan di Negeri Mesir di masa mendatang.

 

Berkata Ibnu ‘Asyur  di dalam at-Tahrir wa at-Tanwir (7/309),

 

وإتمام النعمة عليه هو إعطاؤه أفضل النعم وهي نعمة النبوءة ، أو هو ضميمة الملك إلى النبوءة والرسالة ، فيكون المراد إتمام نعمة الاجتباء الأخروي بنعمة المجد الدنيوي .

 

“Penyempurnaan nikmat terhadap Yusuf, yaitu pemberian kepadanya sebaik-baik nikmat yaitu nikmat kenabian, atau gabungan antara kenabian, dan risalah serta kerajaan. Maka bisa diartikan penyempurnaan pilihan akhirat (kenabian) dengan nikmat kekuasaan dunia.”

 

Nikmat batin atau nikmat ukhrawi ini tersebut di dalam surat al-Fatihah,  

 

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ * صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

 

“Tunjukilah kami jalan yang lurus. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan pula (jalan) mereka yang sesat. (Qs. al-Fatihah: 6-7)

 

Para ulama menafsirkan (orang-orang yang diberi nikmat) dalam ayat di atas dengan firman Allah,

 

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا

 

“Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu nabi-nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid. dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (Qs. an-Nisa: 69)

 

Ayat di atas menjelaskan bahwa orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah adalah para nabi, para shiddiqin, para syuhada dan shalihin. Para nabi itu kebanyakan bukanlah raja, maupun orang yang kaya raya, tetapi mereka adalah orang-orang biasa tetapi terhormat, kecuali Nabi Yusuf, Nabi Daud serta Nabi Sulaiman yang dikaruniakan kekuasaan dan kekayaan oleh Allah.

 

Seseorang yang diberi nikmat batin, bisa dipastikan akan mendapatkan nikmat lahir. Tetapi tidak sebaliknya, seseorang yang mendapatkan nikmat lahir belum tentu diberikan nikmat batin oleh Allah. Dalam hal ini Allah subhanahu wa ta'ala berfirman,

 

الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

 

“Yang Maha Pengasih Yang Maha Penyayang.” (Qs. al-Fatihah: 3)

 

Makna dari ar-Rahman adalah Yang Maha Pemberi, memberikan nikmat lahir dan fisik kepada semua manusia baik yang beriman maupun kafir, bahkan kepada binatang dan tumbuh-tumbuhan.  Sedangkan ar-Rahim adalah Yang Maha Penyayang, Yang  menyayangi hamba-hamba-Nya yang beriman dan memberikan nikmat batin,  dan kebahagiaan serta ketenangan hidup hanya untuk orang-orang yang taat dan patuh kepada-Nya.

 

Masalah (2) Nikmat kepada Keluarga

 

 وَعَلَىٰ آلِ يَعْقُوب

 

“Dan kepada keluarga Nabi Ya'kub.”

 

Maksud dari keluarga Nabi Ya’kub adalah anak-anaknya yang dua belas serta keturunan mereka.  Artinya bahwa keluarga Nabi Ya’kub juga disempurnakan nikmat Allah kepada mereka berupa hidup bahagia di bawah bimbingan bapak mereka.

 

Dari sini bisa diambil pelajaran bahwa kalau seseorang memiliki suatu nikmat hendaknya tidak diambil sendiri, tetapi dibagikan kepada keluarganya, terutama nikmat agama dan nikmat ukhrawi. Ini sesuai dengan doa-doa yang disebutkan di dalam al-Qur’an, di antaranya adalah firman-Nya,  

 

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

 

“Dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (Qs. al-Furqan: 74)

 

Masalah (3) Mengingat Jasa Nenek Moyang

 

كَمَا أَتَمَّهَا عَلَىٰ أَبَوَيْكَ مِنْ قَبْلُ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ ۚ

 

“Sebagaimana Dia telah menyempurnakan nikmat-Nya kepada dua orang bapakmu sebelum itu, (yaitu) Ibrahim dan Ishak.”

 

Ayat ini menjelaskan sejarah keluarga Nabi Ya'kub, yaitu berasal dari garis keturunan Nabi Ibrahim yang memiliki putra Nabi Ishak. Oleh karena itu, seorang muslim tidak boleh melupakan jasa-jasa orang tuanya, kakeknya, nenek moyangnya, karena keberadaannya di dunia ini, sampai pada kedudukan yang dia capai, tidaklah lepas dari jerih payah dan doa-doa mereka. Oleh karenanya, jika mendapatkan suatu nikmat, janganlah lupa untuk mendoakan untuk mereka semua. Allah telah mengajarkan doa tersebut di dalam firman-Nya, Qs an-Naml: 19 dan Qs. al-Ahqaf: 15.

 

Kenapa Nabi Ibrahim dan Nabi Ishak dianggap sebagai bapak dari Nabi Yusuf, padahal keduanya adalah bapak dari kakeknya dan bapak dari bapaknya? Jawabannya bahwa orang Arab biasa menggunakan lafadz “bapak” untuk menyebut kakek atau bapaknya kakek dan seterusnya. Ini bisa di dapat pada beberapa ayat, diantaranya firman Allah,

 

وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا

 

Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang bapaknya adalah seorang yang saleh.” (Qs. al-Kahfi: 82)

 

Sebagian ulama, seperti Ibnu Katsir mengatakan bahwa bahwa yang dimaksud bapak dari dua anak yatim di atas, bukanlah bapak kandungnya secara langsung, tetapi bapak mereka yang ketujuh.

 

Begitu juga orang-orang Arab Mekkah sering memanggil Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dengan anak Abdul Muthallib, padahal beliau adalah kakeknya, bahkan diriwayatkan dari bahwa beliau sendiri pernah bersabda, “Saya adalah seorang nabi, tidak bohong. Saya adalah anaknya Abdul Muthallib.”

 

Salah satu hikmah penyebutan Nabi Ibrahim dan Nabi Ishak pada ayat ini adalah untuk memberikan kabar gembira kepada Nabi Yusuf bahwa dia punya hubungan erat dengan nenek moyangnya yang juga para nabi dan utusan Allah.  Berkata Sayyid ath-Thantawi di dalam at-Tafsir al-Wasith  (7/230),

 

 للإِشعار بكمال ارتباطه بالأنبياء عليهم السلام - وللمبالغة فى إدخال السرور على قلبه

 

“Untuk memberitahu akan hubungan yang erat dengan para nabi 'alaihim as-salam dan memberikan perasaan bahagia kepada Nabi Yusuf.”

 

Sebagai penutup ayat, Allah berfirman,

 

 إِنَّ رَبَّكَ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

 

"Sesungguhnya Tuhanmu Maha Mengetahui Maha Bijaksana."

 

Ayat ini ditutup dengan menyebutkan kalimat, “Sesungguhnya Tuhan-mu” untuk mengesankan bahwa pelindung Nabi Yusuf adalah Allah Tuhan semesta alam. Kemudian Allah menyebutkan dua nama-Nya, yaitu (Maha Mengetahui) siapa yang berhak dipilih menjadi nabi dan utusan-Nya dan siapa yang tidak berhak. (Maha Bijaksana) dalam semua keputusan-Nya, termasuk memutuskan bahwa Nabi Ibrahim, Nabi Ishak, Nabi Ya’kub dan Nabi Yusuf menjadi nabi dan utusan-Nya, bukan yang lainnya, dan bukan pula saudara-saudara Nabi Yusuf yang berjumlah sebelas orang tersebut.