Karya Tulis
87 Hits

Bab 16 Kesabaran yang Indah


وَجَاءُوا عَلَى قَمِيصِهِ بِدَمٍ كَذِبٍ قَالَ بَلْ سَوَّلَتْ لَكُمْ أَنْفُسُكُمْ أَمْرًا فَصَبْرٌ جَمِيلٌ وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَى مَا تَصِفُونَ

 

“Mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) dengan darah palsu. Ya'kub berkata: "Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu; maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan".”

 (Qs. Yusuf: 18)

 

Pelajaran dari ayat di atas

 

Pelajaran (1) Baju yang Tidak Terkoyak

 

(1) Untuk menguatkan makar yang telah direncanakan, mereka membawa barang bukti yaitu  baju Yusuf yang masih utuh, tidak terkoyak sedikitpun, di atasnya terdapat lumuran darah. Ada dua hal yang perlu dicermati dari barang bukti yang dibawa saudara-saudara Yusuf, dua hal itu adalah;

 

Pertama: Baju yang Tidak Terkoyak. Yaitu baju Yusuf tidak terkoyak sedikitpun oleh kuku dan gigi srigala, sampai Nabi Ya’kub berkata: “Alangkah baiknya serigala tersebut, memakan Yusuf tanpa sedikitpun menyobek bajunya.”

 

Berkata al-Qurthubi di dalam tafsirnya (9/96),

 

 قَالَ عُلَمَاؤُنَا رَحْمَة اللَّه عَلَيْهِمْ : لَمَّا أَرَادُوا أَنْ يَجْعَلُوا الدَّم عَلَامَة عَلَى صِدْقهمْ قَرَنَ اللَّه بِهَذِهِ الْعَلَامَة عَلَامَة تُعَارِضهَا , وَهِيَ سَلَامَة الْقَمِيص مِنْ التَّنْيِيب ; إِذْ لَا يُمْكِن اِفْتِرَاس الذِّئْب لِيُوسُف وَهُوَ لَابِس الْقَمِيص وَيَسْلَم الْقَمِيص مِنْ التَّخْرِيق

 

(Berkata ulama kami): “Ketika mereka ingin menjadikan darah sebagai bukti atas kejujuran mereka, maka Allah menyertakan disampingnya bukti lain yang bertentangan dengan bukti pertama, yaitu tidak sobeknya baju Yusuf, karena tidak mungkin serigala memangsa Yusuf yang sedang mengenakan baju, kemudian bajunya tidak sobek.”

 

Perkataan di atas menunjukkan pada pelajaran yang penting, yaitu kebohongan dan ketidakjujuran, walaupun disimpan rapat-rapat, cepat atau lambat akan terbongkar juga, walaupun dalam jangka waktu yang lama, dan bahkan kadang terbongkarnya dengan cara-cara yang sangat sepele. Seperti dalam pepatah, “Sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya jatuh juga. Sepandai-pandai orang menutupi bangkai, akhirnya tercium baunya juga.”

 

Juga menunjukkan bahwa kepintaran seseorang yang terlalu berlebihan, terkadang menyisakan hal-hal yang menunjukkan kebodohannya. Dan hanyalah ilmu Allah sajalah yang sempurna.

 

Kedua; Darah Palsu, yaitu darah yang dilumurkan bukan darah Yusuf, tetapi darah anak kambing atau binatang lainnya.

 

Berkata al-Mawardi: “Di dalam baju Nabi Yusuf terdapat tiga tanda ; (1) darah palsu,  (2) terkoyak dari belakang, (3) ketika baju dilempar ke muka Nabi Ya’kub menyebabkan mata beliau sembuh.”

 

Al-Qurthubi tidak sependapat dengan pernyataan al-Mawardi di atas, karena baju yang terkena darah palsu bukanlah baju yang terkoyak dari belakang, begitu juga baju yang dilempar ke muka Nabi Ya’kub bukanlah baju yang terkoyak.

 

Tetapi walaupun demikian, tetap saja baju memiliki makna yang berbeda pada setiap peristiwa yang berbeda-beda pula. Dan baju dalam tiga peristiwa tersebut mempunyai makna tersendiri dan menjadi simbol dari sebuah peristiwa. Wallahu a’lam.  

 

Berkata al-Qurthubi di dalam tafsirnya (9/99),

 

اِسْتَدَلَّ الْفُقَهَاء بِهَذِهِ الْآيَة فِي إِعْمَال الْأَمَارَات فِي مَسَائِل مِنْ الْفِقْه كَالْقَسَامَةِ وَغَيْرهَا , وَأَجْمَعُوا عَلَى أَنَّ يَعْقُوب عَلَيْهِ السَّلَام اِسْتَدَلَّ عَلَى كَذِبهمْ بِصِحَّةِ الْقَمِيص ; وَهَكَذَا يَجِب عَلَى النَّاظِر أَنْ يَلْحَظ الْأَمَارَات وَالْعَلَامَات إِذَا تَعَارَضَتْ , فَمَا تَرَجَّحَ مِنْهَا قَضَى بِجَانِبِ التَّرْجِيح , وَهِيَ قُوَّة التُّهْمَة ; وَلَا خِلَاف بِالْحُكْمِ بِهَا , قَالَهُ اِبْن الْعَرَبِيّ .

 

(Berkata Ibnu al-’Arabi): “Para Ahli Fiqh mengambil dari ayat di atas tentang kebolehan menggunakan tanda-tanda di dalam mengistinbatkan suatu hukum, seperti dalam masalah (al-Qasamah) sumpah dalam pembunuhan. Dan mereka sepakat bahwa Nabi Ya’kub 'alaihi as-salam menjadikan baju yang tidak sobek sebagai bukti atas kebohongan mereka. Demikianlah, menjadi kewajiban bagi para peneliti agar memperhatikan tanda-tanda dan bukti-bukti yang ada jika saling bertentangan, mana yang lebih kuat maka wajib diambil untuk dijadikan keputusan.”

 

Nabi Ya’kub mengetahui kebohongan yang dilakukan anak-anaknya, namun tetap tenang dan diam. Kemudian berkata, sambil menasehati anak-anaknya: “Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu; maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan".”

 

Memandang baik perbuatan yang buruk pada ayat di atas maksudnya bahwa mereka meremehkan dosa besar, yaitu dosa membuang saudara ke dalam sumur. Mereka yang menggampangkan dosa besar, tentunya akan lebih meremehkan dan sangat menggampangkan dosa-dosa yang lebih kecil.

 

Pelajaran (2) Kesabaran yang Indah

 

فَصَبْرٌ جَمِيلٌ

 

Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku).

 

Tidak ada cara untuk menghadapi masalah yang sangat berat seperti ini, kecuali bersabar dengan kesabaran yang indah, yaitu Shabrun Jamil.  

 

Apa yang dimaksud dengan Shabrun Jamil? Shabrun Jamil, yaitu kesabaran yang memiliki tiga syarat;

 

(a) Kesabaran yang tidak diiringi keluh kesah dan kekesalan

(b)Kesabaran yang diiringi dengan keridhaan atas ketentuan Allah

(c) Kesabaran yang diiringi pengharapan  kebaikan dari sisi Allah.  

 

Lafadz (Shabrun Jamil) terdapat dalam tiga tempat di dalam al-Qur’an,

 

(1) Firman Allah,

 

وَجَاؤُوا عَلَى قَمِيصِهِ بِدَمٍ كَذِبٍ قَالَ بَلْ سَوَّلَتْ لَكُمْ أَنْفُسُكُمْ أَمْرًا فَصَبْرٌ جَمِيلٌ وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَى مَا تَصِفُونَ 

 

“Mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) dengan darah palsu. Ya'kub berkata: "Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu; maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan".” (Qs. Yusuf: 18)

 

(2) Firman Allah,

 

قَالَ بَلْ سَوَّلَتْ لَكُمْ أَنْفُسُكُمْ أَمْرًا فَصَبْرٌ جَمِيلٌ عَسَى اللَّهُ أَنْ يَأْتِيَنِي بِهِمْ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ 

 

“Ya'kub berkata: "Hanya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu. Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku; sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana".” (Qs. Yusuf: 83)

 

(3) Firman Allah,

 

فَاصْبِرْ صَبْرًا جَمِيلًا 

 

“Maka bersabarlah kamu dengan sabar yang baik.” (Qs. al-Ma’arij: 5)

Pelajaran (3) Mengeluh kepada Allah  

 

وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ

 

“Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya.”

 

  1. Allah tempat untuk meminta pertolongan dan tempat bergantung. Nabi Ya’kub mengulangi pernyataan ini pada peristiwa berikutnya, yaitu ketika Benyamin ditahan di Mesir dan tidak bisa pulang bersama saudara-saudaranya, Allah berfirman,   

إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ

 

“Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (Qs. Yusuf: 86)

 

Para ulama menyebutkan bahwa mengeluh ada dua macam ;

 

Pertama: Mengeluh kepada Allah. Inilah yang dimaksud dengan Shabrun Jamil. Mengeluh dalam bentuk ini tidak menafikan kesabaran sebagaimana keluhan Nabi Ya’kub di atas. Begitu juga keluhan Nabi Ayyub di dalam firman Allah,

 

وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

 

Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: "(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” (Qs. al-Anbiya’: 83) 

 

Ini dikuatkan dengan apa yang diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Ja’far radhiyallahu 'anhu bahwasanya Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam mengeluh sambil berdo’a,

 

اللَّهُمَّ إِنِّي أَشْكُو إِلَيْكَ ضَعْفَ قُوَّتِي، وَهَوَانِي عَلَى النَّاسِ

 

“Ya Allah, saya mengeluh kepada-Mu atas lemahnya kekuatanku, dan hinanya diriku di depan manusia.” (HR ath-Thabrani dan Ibnu ‘Adi. Berkata al-Haitsami di dalam Majma’ az-Zawaid (6/35): “Di dalamnya terdapat Ibnu Ishaq, dia adalah seorang mudallis yang tsiqah, sedang perawi lainnya tsiqat.” Hadist ini didhaifkan di dalam as-Silsilah adh-Dhaifah (2933). Walaupun demikian, sebagian ulama masih menyebutkan hadits ini di dalam beberapa bukunya, karena dianggap hadits dhaif yang tidak terlalu berat kedha’ifannya, apalagi di dalam masalah doa dan sirah nabawiyah.)

 

Ini sesuai dengan firman-Nya,

 

ايَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

 

“Hanya kepada Engkau kami menyembah dan hanya kepada Engkau kami memohon pertolongan.” (Qs. al-Fatihah: 5)

 

Dan firman-Nya,

 

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2)

 

“Katakanlah (Muhammad): Dia lah Allah yang Esa. Allah tempat bergantung.” (Qs. al-Ikhlas: 1-2)

 

Di dalam hadist dari ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda: “Apabila kamu meminta sesuatu, mintalah kepada  Allah, apabila engkau memohon pertolongan, maka memohon lah kepada Allah. (HR. At-Tirmidzi, dan dia berkata hadits ini hasan shahih)

 

Kedua: Mengeluh kepada manusia atau sering disebut dengan Shabrun Idhthirari, yaitu sabar terpaksa. Sabar seperti ini, tidak pernah dilakukan oleh para nabi dan rasul.

 

Kemudian Allah menutup ayat ini dengan firman-Nya,  

 

عَلَى مَا تَصِفُونَ

 

“Terhadap apa yang kamu ceritakan.”

 

Artinya Nabi Ya’kub meminta perlindungan kepada Allah dari ‘perbuatan mereka’, bukan dari apa yang terjadi. Karena yang sudah terjadi adalah takdir dan ketetapan Allah yang sudah berlaku, tidak bisa dihindari.

 

Di dalam hadits Syaddad bin Aus radhiyallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa beliau berdoa dengan doa sayyidu al-istighfar sebagai berikut,

 

سَيِّدُ الِاسْتِغْفَارِ أَنْ تَقُولَ اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ قَالَ وَمَنْ قَالَهَا مِنْ النَّهَارِ مُوقِنًا بِهَا فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ قَبْلَ أَنْ يُمْسِيَ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَمَنْ قَالَهَا مِنْ اللَّيْلِ وَهُوَ مُوقِنٌ بِهَا فَمَاتَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ

 

Sesungguhnya istighfar yang paling baik adalah; kamu mengucapkan: ‘Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi selain Engkau. Engkau telah menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku menetapi perjanjian-Mu dan janji-Mu sesuai dengan kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatanku, aku mengakui dosaku kepada-Mu dan aku akui nikmat-Mu kepadaku, maka ampunilah aku. Sebab tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain-Mu)'." Beliau bersabda: 'Jika ia mengucapkan di waktu siang dengan penuh keyakinan lalu meninggal pada hari itu sebelum waktu sore, maka ia termasuk dari penghuni surga. Dan jika ia membacanya di waktu malam dengan penuh keyakinan lalu meninggal sebelum masuk waktu pagi, maka ia termasuk dari penghuni surga'.”  (HR. al-Bukhari)