Karya Tulis
111 Hits

Bab 10 Doa Keteguhan Hati


رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

(Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)."  

(Qs. Ali Imran: 8)

 

Hikmah (11): Kecondongan Hati

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا

(Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami.”

(1) Doa di atas adalah permohonan agar hati tetap pada kebenaran Islam. Ini dibaca setelah seseorang masuk ke dalam Islam atau ketika dia mendapatkan hidayah dari Allah subhanahu wa ta’ala di jalan yang lurus. Doa ini mirip dengan anjuran untuk tetap istiqamah di jalan Allah. Sebagaimana firman-Nya,

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu" .” (Qs. Fushshilat: 30)

(2) Makna (الزيغ) artinya condong kepada kebatilan, menjauhi kebenaran. Ini menunjukkan bahwa hati bisa berubah dan condong, serta bisa beraktifitas (Ibnu Athiyah, al-Muharrar al-Wajiz (1/406)).

Para ulama membagi amalan menjadi dua; (1) amalan anggota badan, seperti: berjalan, makan, tidur, sujud, ruku’, berdiri, membaca; (2) amalan hati, seperti: niat, yakin, tawakkal, takut, mengharap, hasad, putus asa, iri, dengki, dendam, ridha, condong.

Diantara dua amalan tersebut, yang paling utama dan harus lebih diperhatikan oleh seorang muslim adalah amalan hati. Karena pahala dan siksa digantungkan kepada amalan hati, bukan amalan anggota badan. Contohnya dua orang yang sedang shalat, tetapi mendapatkan kadar pahala yang berbeda. Bahkan boleh jadi salah satunya tidak mendapatkan pahala sama sekali, karena dia mengerjakan shalat supaya dipuji oleh temannya (riya’).

(3) Sifat (الزيغ) condong dipakai untuk hati dan untuk mata. Dikatakan hatinya condong dan matanya condong. Allah berfirman,

إِذْ جَاءُوكُمْ مِنْ فَوْقِكُمْ وَمِنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَإِذْ زَاغَتِ الْأَبْصَارُ وَبَلَغَتِ الْقُلُوبُ الْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِاللَّهِ الظُّنُونَا

“(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak fokus lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka.” (Qs. al-Ahzab: 10)

Berkata Qatadah dan Muqatil, “Penglihatannya menjadi kabur.”

Berkata Ibnu al-Qayyim, maksudnya bahwa mata jika sudah condong kepada satu objek yaitu -pasukan Ahzab- yang mengepung umat Islam di Madinah dari segala penjuru, maka mata dipalingkan dari melihat yang lain. Inilah yang disebut dengan (الزيغ). Begitu juga hati jika sudah dipenuhi rasa takut, maka tidak ada pikiran kecuali memperhatikan sesuatu yang ditakuti. (Tafsir Ibnu al-Qayyim (1/541))

(4) Makna (لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا) adalah ‘Janganlah Engkau berikan kepada kami beban dan ujian serta musibah yang menyebabkan hati kami condong kepada kebatilan dan jauh dari kebenaran’. Jadi, ada sesuatu yang tidak disebut pada ayat di atas. (Ibrahim al-Ibyari, al-Mausu’ah al-Qur’aniyah (1/3930), asy-Syarif ar-Ridha, Talkhisu al-Bayan fi Majazati al-Qur’an (2/333))

(5) Sebagian ulama menjelaskan bahwa maksud ayat ini ‘Janganlah Engkau jadikan hati kami condong’ untuk mentakwilkan ayat-ayat mutasyabihat kepada hal-hal yang tidak layak dan cenderung sesat. (Wahbah Zuhaili,Tafsir al-Munir (3/150))

(6) Penyebab tergelincirnya hati sangat banyak diantaranya adalah: (a) hatinya sendiri yang memang sudah rusak, (b) salah pergaulan, (c) dorongan syahwat yang besar, (d) lemahnya kemauan. (Ibnu ‘Asyur, at-Tahrir wa at-Tanwir (3/170))

Hikmah (12):

بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا

“Setelah Engkau berikan hidayah kepada kami.”

(1) Doa ini sebagai bentuk pengakuan seorang hamba kepada Allah yang telah memberikan hidayah kepadanya, berupa iman dan Islam.

Sebagian menafsirkan bahwa hidayah pada ayat ini adalah hidayah diturunkannya ayat-ayat al-Qur’an, baik yang muhkam maupun yang mutasyabih (at-Tafsir al-Madhhari (1/468)). Penafsiran ini melihat ayat sebelumnya yang menjelaskan tentang ayat-ayat muhkamat dan mutasyabihat.

(2) Kalimat (لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا) mengandung dua makna sekaligus, yaitu makna pertama: memohon dijauhkan dari hati yang sesat; makna kedua: memohon diberikan hati yang mendapat hidayah (Asy-Syinqithi, Adhwau al-Bayan (8/110)).

Pernyataan di atas menunjukkan bahwa hidayah dan kesesatan tertuju kepada hati, atau bisa dikatakan bahwa hati ada dua; hati yang mendapat hidayah dan hati yang disesatkan.

Hikmah (13): Memohon Rahmat Allah

وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً

“Dan karuniakan kepada kami, rahmat dari sisi-Mu.”

(1) Rahmat pada ayat di atas mencakup seluruh kebaikan, diantaranya: mendapatkan cahaya keimanan di dalam hati; mampu mengamalkan ketaatan dengan anggota badan; menjadi mudah segala urusan dunianya, yang meliputi rasa aman, sehat, dan hidup yang berkecukupan.

(2) Makna (مِنْ لَدُنْك) bahwa seluruh kebaikan yang disebut di atas, baik dunia dan akhirat adalah semata-mata berasal dari Allah, bukan jerih payah manusia. Ayat ini mengingatkan akan kebaikan Allah kepada hamba-hamba-Nya.

(3) Maksud (وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً) adalah memohon agar hidayah yang didapatkan menjadi langgeng. Itu bisa terwujud hanya dengan rahmat Allah subhanahu wa ta’ala di dunia dan akhirat. Karena tanpa rahmat-Nya, seseorang sulit untuk mempertahankan hidayah di tengah kehidupan masyarakat yang sangat hedonis, dan di tengah musibah yang datang bertubi-tubi, serta ujian yang silih berganti. Seseorang mampu mempertahankan hidayah di tengah itu semuanya karena kasih sayang Allah semata. Sebagian ulama sering menyebutnya dengan ‘Luthfu Allah’ atau kelembutan Allah, sebagaimana dalam firman-Nya,

اللَّهُ لَطِيفٌ بِعِبَادِهِ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْقَوِيُّ الْعَزِيزُ

“Allah Maha Lembut kepada hamba-hamba-Nya. Dia lah yang memberikan rezeki kepada yang dikehendaki-Nya dan Dia lah yang Maha Kuat Maha Perkasa.” (Qs. asy-Syura: 19) (at-Tahrir wa at-Tanwir (3/170))

Ayat di atas menunjukkan bahwa Allah Maha Lembut kepada hamba-hamba-Nya. Kelembutan tersebut diwujudkan di dalam memberikan rezeki kepada yang dikehendaki-Nya. Sebagian ulama  mengartikan Maha Lembut adalah membantu dan menolong hamba-Nya dengan cara yang tidak disadari oleh hamba-Nya.

Hikmah (14): Hadits tentang Ketetapan Hati

(1) Dari Ummul Mukminin Ummu Salamah radhiyallahu ‘anhu berkata,

كَانَ أكْثَرُ دُعائِهِ: يَا مُقَلِّبَ القُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

‘Doa beliau (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) yang paling sering adalah “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agamaMu”.’ (HR. at-Tirmidzi, 3444)

(2) Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ اللَّهُمَّ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ تَخَافُ عَلَيْنَا وَقَدْ آمَنَّا بِكَ وَصَدَّقْنَاكَ بِمَا جِئْتَ بِهِ فَقَالَ إِنَّ الْقُلُوبَ بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ عَزَّ وَجَلَّ يُقَلِّبُهَا وَأَشَارَ الْأَعْمَشُ بِإِصْبَعَيْهِ

Dari Anas bin Malik dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memperbanyak mengucapkan: "Ya Allah, teguhkan hatiku diatas dien-Mu", maka seorang sahabat berkata: "Wahai Rasulullah, mengapa anda mengkhawatirkan kami, sedang kami telah beriman kepadamu dan membenarkanmu terhadap apa yang anda bawa." Beliau bersabda: "Sesungguhnya hati-hati itu berada diantara dua jari dari jari-jari Ar Rahman 'azza wajalla, Dia membolak-balikkannya." (HR. Ibnu Majah, 3824)

Kesimpulan:

(1) Doa di atas adalah doa orang-orang yang mendalam ilmunya. Mereka, selain beriman kepada ayat-ayat mutasyabih, juga memohon kepada Allah agar dijaga dari kecondongan hati kepada kebatilan, serta memohon agar terus diberikan karunia dan rahmat-Nya. Mereka mengakui akan kelemahan sebagai manusia dan hati mereka berpotensi untuk berubah. (Tafsir al-Maraghi (3/102))

Ini menunjukkan bahwa orang yang tinggi ilmunya, cenderung untuk mengakui kekurangan pada dirinya sehingga ingin selalu menambah ilmu dan memohon keteguhan agama kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Berbeda dengan orang yang tidak memiliki ilmu, cenderung sombong, merasa tidak membutuhkan ilmu, sehingga tidak memohon keteguhan iman, serta tambahan rahmat dan karunia Allah.

(2) Doa di atas mengandung dua permohonan seorang mukmin kepada Rabbnya; (a) permohonan agar imannya diteguhkan di dalam hati, (b) permohonan agar ditambahkan karunia, nikmat dan kebaikan dari Allah (Thanthawi, at-Tafsir al-Wasith (2/35)).

(3) Doa di atas penting untuk dibaca oleh setiap muslim baik yang sudah ber-Islam sejak lahir maupun muallaf yang baru masuk Islam, karena banyak yang kemudian tergelincir ke dalam kesesatan. Bahkan sebagian dari mereka murtad dari Islam sebagaimana yang terjadi pada Musailamah al-Kadzdzab. Kebanyakan kesesatan mereka disebabkan salah di dalam menakwilkan ayat-ayat mutasyabihat atau hadits-hadits yang masih samar. Sebagaimana Musailamah al-Kadzdzab menakwilkan bahwa beragama Islam itu hanya ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup. (at-Tahrir wa at-Tanwir (3/169))

Kita juga mendapatkan aliran-aliran sesat, termasuk yang berada di Indonesia yang jumlahnya mencapai 315 aliran, hampir semuanya karena salah dalam menakwilkan ayat-ayat mutasyabihat dan hadits-hadits yang masih samar maknanya. Oleh karenanya, tidak boleh seorang muslim untuk memahami al-Qur’an dan as-Sunnah secara langsung kecuali melalui bimbingan para ulama. Bahkan menurut sebagian ahli fiqih, dalil bagi orang awam adalah perkataan ulama mereka. Sedangkan dalil para ulama yang menguasai ilmu adalah al-Qur’an dan as-Sunnah.