Karya Tulis
301 Hits

Pensucian Jiwa: Bab 4 Menuntut Ilmu


 

أَوَمَن كَانَ مَيۡتٗا فَأَحۡيَيۡنَٰهُ وَجَعَلۡنَا لَهُۥ نُورٗا يَمۡشِي بِهِۦ فِي ٱلنَّاسِ كَمَن مَّثَلُهُۥ فِي ٱلظُّلُمَٰتِ لَيۡسَ بِخَارِجٖ مِّنۡهَاۚ كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلۡكَٰفِرِينَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ

“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.”

(Qs. al-An’am: 122)

 

I. Pengertian Ilmu

(1) Ilmu adalah lawan dari kata “bodoh”. Secara bahasa merupakan pecahan dari akar kata ‘alima, yang menunjukkan apa-apa yang meninggalkan bekas pada sesuatu agar bisa dibedakan dengan yang lainnya. Darinya muncul kata ‘alam yang berarti bendera untuk membedakan suatu komunitas dengan komunitas lainnya. Sebagian mengartikan ilmu secara bahasa adalah pengetahuan kuat tentang sesuatu yang sesuai dengan realita.

(2) Adapun ilmu secara istilah dalam kajian ini adalah ilmu syar’i, yaitu ilmu tentang apa yang diturunkan Allah kepada rasul-Nya, yang meliputi ilmu al-Qur’an dan sunnah dengan seluruh turunan dan cabangnya. Ini sesuai dengan hadits Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu berkata, bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

وَإنَّ العُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأنْبِيَاءِ ، وَإنَّ الأنْبِيَاءَ لَمْ يَوَرِّثُوا دِينَاراً وَلاَ دِرْهَماً وَإنَّمَا وَرَّثُوا العِلْمَ ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بحَظٍّ وَافِرٍ

“Dan sesungguhnya para ulama adalah pewaris para Nabi, dan sesungguhnya para Nabi tidaklah mewariskan dinar maupun dirham, akan tetapi mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambil bagian ilmu maka sungguh dia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. at-Tirmidzi,  3643. Hadist ini Hasan sebagaimana dalam Misykatu al-Mashabih, 212)

(3) Perbedaan ilmu dengan fiqih. Diantara perbedaan antara ilmu dan fiqih adalah sebagai berikut:

(a) Ilmu cakupannya lebih luas dan bersifat umum, sedangkan fiqih cakupannya terbatas dan bersifat lebih khusus.

(b) Ilmu bisa dipahami oleh banyak kalangan, sedangkan fiqih hanya dipahami oleh orang-orang khusus. Diantara ayat yang menunjukkan hal itu adalah firman Allah,

وَهُوَ ٱلَّذِي جَعَلَ لَكُمُ ٱلنُّجُومَ لِتَهۡتَدُواْ بِهَا فِي ظُلُمَٰتِ ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِۗ قَدۡ فَصَّلۡنَا ٱلۡأٓيَٰتِ لِقَوۡمٖ يَعۡلَمُونَ ،وَهُوَ ٱلَّذِيٓ أَنشَأَكُم مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ فَمُسۡتَقَرّٞ وَمُسۡتَوۡدَعٞۗ قَدۡ فَصَّلۡنَا ٱلۡأٓيَٰتِ لِقَوۡمٖ يَفۡقَهُونَ 

“Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran (Kami) kepada orang-orang yang mengetahui. Dan Dialah yang menciptakan kamu dari seorang diri, maka (bagimu) ada tempat tetap dan tempat simpanan. Sesungguhnya telah Kami jelaskan tanda-tanda kebesaran Kami kepada orang-orang yang memahami.”  (Qs al-An’am: 97-98)

Pada dua ayat di atas, Allah membedakan antara  “al-Ilmu”  dan “al-Fiqh”. Untuk mengetahui tentang penciptaan manusia, kita harus membutuhkan pemahaman yang ekstra dan ketekunan yang luar biasa, karena seluk beluk tentang manusia sangatlah rumit, tidak bisa memahaminya kecuali orang-orang tertentu. Berbeda dengan pengetahuan tentang bintang-bintang di langit, mayoritas pelayar dan orang yang sering mengadakan perjalanan sering menjadikan  bintang-bintang di atas langit  tersebut, sebagai acuan di dalam menentukan arah, jadi tidak perlu pemahaman yang mendetail.

(c) Ilmu lebih cenderung kepada sesuatu yang pasti, sedangkan fiqih cenderung kepada sesuatu yang belum pasti, dalam arti banyak berdasarkan ghalabati azh-zhann (praduga yang kuat). oleh karenanya ilmu fiqih di dalamnya terdapat banyak perbedaan ulama, karena banyak ketetapan-ketetapan hukumnya berdasarkan praduga yang kuat. Umpamanya: seseorang melakukan shalat Maghrib berdasarkan praduga bahwa matahari telah tenggelam padahal dia tidak menyaksikannya secara langsung.

 

II. Pembagian Ilmu

Ilmu dibagi menjadi dua, yaitu ilmu yang bermanfaat dan ilmu yang tidak bermanfaat. Dalilnya adalah hadits Zaid bin Arqam radhiyallahu ‘anhu berkata, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لا يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لا تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لا يُسْتَجَابُ لَهَا 

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari jiwa yang tidak merasa kenyang, dan dari doa yang tidak dikabulkan.” (HR. Muslim)

Ini dikuatkan dengan hadist Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat dan aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat.” (HR. an-Nasai dan Ibnu Hibban. Hadist Hasan)

Adapun penjelasan ilmu yang bermanfaat dan ilmu yang tidak bermanfaat adalah sebagai berikut;

Pertama: Ilmu yang Bermanfaat.

Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang memiliki tiga ciri, yaitu:

(1) Ilmu yang menyebabkan pemiliknya semakin dekat dengan Allah. Ini sesuai dengan firman Allah, 

أَلَمۡ تَرَ أَنَّ ٱللَّهَ أَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ فَأَخۡرَجۡنَا بِهِۦ ثَمَرَٰتٖ مُّخۡتَلِفًا أَلۡوَٰنُهَاۚ وَمِنَ ٱلۡجِبَالِ جُدَدُۢ بِيضٞ وَحُمۡرٞ مُّخۡتَلِفٌ أَلۡوَٰنُهَا وَغَرَابِيبُ سُودٞ ،وَمِنَ ٱلنَّاسِ وَٱلدَّوَآبِّ وَٱلۡأَنۡعَٰمِ مُخۡتَلِفٌ أَلۡوَٰنُهُۥ كَذَٰلِكَۗ إِنَّمَا يَخۡشَى ٱللَّهَ مِنۡ عِبَادِهِ ٱلۡعُلَمَٰٓؤُاْۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

“Tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat. Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Qs. Fathir: 27-28)

Ayat di atas menjelaskan bahwa yang takut kepada Allah adalah para ulama, yaitu orang-orang yang mempunyai ilmu. Ilmu di sini mencakup ilmu dunia dan ilmu agama, yaitu semua ilmu yang menyebabkan pemiliknya bertambah takut kepada Allah sehingga dia akan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. 

(2) Ilmu yang diamalkan dan diajarkan serta disebarkan, sehingga masyarakat umum merasakan manfaat darinya. 

Di dalam pepatah Arab disebutkan:

العلم بلا عمل كالشجر بلا ثمر

“Ilmu yang tidak diamalkan bagaikan pohon yang tidak berbuah.”

Di dalam pepatah lain disebutkan,

العلم بلا عمل كالسحاب بلا مطر

 “Ilmu yang tidak diamalkan bagaikan awan tanpa hujan.”

Berkata al-Ghazali,

العلم بدون عمل جنون ، والعمل بدون علم لا يكون

“Ilmu yang tidak diamalkan bagaikan orang gila. Amal tanpa ilmu, tidak akan jadi.”

(3) Ilmu yang manfaatnya langgeng, walaupun pemiliknya telah meninggal dunia. Ini sesuai hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاثٍ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika manusia meninggal maka semua amalannya terputus kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakan untuknya.” (HR. Muslim)

Ini dikuatkan dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا إلى يَوْمِ الْقِيَامَةِ 

“Siapa yang memulai untuk memberi contoh kebaikan (dalam Islam) maka ia mendapat pahala perbuatannya dan pahala orang-orang yang mengikuti (meniru) perbuatannya itu sampai hari Kiamat.” (HR. Muslim)

Kedua: Ilmu yang Tidak Bermanfaat. 

Adapun ilmu yang tidak bermanfaat mempunyai beberapa kriteria, diantaranya adalah: 

(1) Ilmu yang tidak diamalkan. Ini sesuai dengan firman Allah, 

مَثَلُ ٱلَّذِينَ حُمِّلُواْ ٱلتَّوۡرَىٰةَ ثُمَّ لَمۡ يَحۡمِلُوهَا كَمَثَلِ ٱلۡحِمَارِ يَحۡمِلُ أَسۡفَارَۢاۚ بِئۡسَ مَثَلُ ٱلۡقَوۡمِ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِ ٱللَّهِۚ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ 

“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal.” (Qs. al-Jumu’ah: 5)

(2) Ilmu yang membawa madharat bagi pemiliknya bahkan bagi masyarakat sekitarnya, seperti ilmu sihir dan ilmu hitam, sebagaimana di dalam firman Allah, 

وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمۡ وَلَا يَنفَعُهُمۡۚ وَلَقَدۡ عَلِمُواْ لَمَنِ ٱشۡتَرَىٰهُ مَا لَهُۥ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِنۡ خَلَٰقٖۚ

“Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barang siapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat.” (Qs. al-Baqarah: 102)

(3) Ilmu yang dibanggakan, sehingga pemiliknya menjadi sombong dan menolak kebenaran, seperti ilmu-ilmu yang menjadikan pemiliknya sekuler dan liberal, membanggakan ilmu dari Barat dan mengandalkan logikanya, sehingga menolak kebenaran Islam, ini sesuai dengan firman Allah,

فَلَمَّا جَآءَتۡهُمۡ رُسُلُهُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِ فَرِحُواْ بِمَا عِندَهُم مِّنَ ٱلۡعِلۡمِ وَحَاقَ بِهِم مَّا كَانُواْ بِهِۦ يَسۡتَهۡزِءُونَ 

“Maka tatkala datang kepada mereka rasul-rasul (yang diutus kepada) mereka dengan membawa keterangan-keterangan, mereka merasa bangga dengan pengetahuan yang ada pada mereka dan mereka dikepung oleh azab Allah yang selalu mereka perolok-olokkan itu.” (Qs. Ghafir: 83)

(4) Ilmu tentang urusan dunia yang melupakan seseorang dari belajar ilmu agama, atau melupakannya dari mengingat akhirat dan  beramal shalih untuk bekal pada Hari Kiamat. Ini sesuai dengan firman Allah, 

يَعۡلَمُونَ ظَٰهِرٗا مِّنَ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَهُمۡ عَنِ ٱلۡأٓخِرَةِ هُمۡ غَٰفِلُونَ 

“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (Qs. ar-Rum: 7)

Ini dikuatkan dengan firman-Nya,

فَأَعۡرِضۡ عَن مَّن تَوَلَّىٰ عَن ذِكۡرِنَا وَلَمۡ يُرِدۡ إِلَّا ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا ، ذَٰلِكَ مَبۡلَغُهُم مِّنَ ٱلۡعِلۡمِۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِمَنِ ٱهۡتَدَىٰ 

“Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan tidak mengingini kecuali kehidupan duniawi. Itulah sejauh-jauh pengetahuan mereka. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang paling mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia pulalah yang paling mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” (Qs. an-Najm: 29-30)

Ayat di atas menunjukkan bahwa ilmu yang tidak bermanfaat dan tidak bisa mensucikan jiwa adalah ilmu yang diperuntukkan dunia saja, sedang dia berpaling dari akhirat.

 

III. Pengaruh Ilmu yang Bermanfaat di dalam Pensucian Jiwa

(1) Dengan ilmu yang bermanfaat seorang muslim bisa mengetahui akidah yang benar. Semakin ia menuntut ilmu semakin tambah keyakinannya terhadap kekuasaan Allah, terutama ketika dia melihat fenomena kehidupan yang ada di hadapannya. Hal itu secara tidak langsung akan menguatkan keimanannya kepada Allah. Inilah dasar dari pensucian jiwa.

فَٱعۡلَمۡ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لِذَنۢبِكَ وَلِلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِۗ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ مُتَقَلَّبَكُمۡ وَمَثۡوَىٰكُمۡ 

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.” (Qs. Muhammad: 19)

(2) Dengan ilmu seorang muslim bisa mengetahui hal-hal yang menyengsarakan dan menghancurkan kehidupannya, sehingga bisa menghindarinya. Ini seperti orang yang bisa membedakan antara makanan beracun dan makanan bergizi. Orang yang tidak punya ilmu akan mengkonsumsi makanan yang beracun sehingga membahayakan kehidupannya. Sedangkan orang berilmu akan memilih makanan yang bergizi sehingga hidupnya akan sehat. Begitu juga dia akan memilih amalan-amalan yang akan menyebabkan hati sehat, serta menjauhkan amalan yang menyebabkan kotornya hati. Ini sebagaimana firman-Nya,

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَٰطِي مُسۡتَقِيمٗا فَٱتَّبِعُوهُۖ وَلَا تَتَّبِعُواْ ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمۡ عَن سَبِيلِهِۦۚ ذَٰلِكُمۡ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ 

“Dan bahwa inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (Qs. al-An’am: 153)

Ini dikuatkan dengan firman-Nya,

وَكَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ ٱلۡأٓيَٰتِ وَلِتَسۡتَبِينَ سَبِيلُ ٱلۡمُجۡرِمِينَ 

“Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat al-Quran (supaya jelas jalan orang-orang yang shalih, dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa.” (Qs. al-An’am: 55)

(3) Ilmu yang bermanfaat menyebabkan seorang muslim takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Rasa takut inilah yang menyebabkan hati bergetar, hidup dan sehat. Ini sesuai dengan firman-Nya,

وَمِنَ ٱلنَّاسِ وَٱلدَّوَآبِّ وَٱلۡأَنۡعَٰمِ مُخۡتَلِفٌ أَلۡوَٰنُهُۥ كَذَٰلِكَۗ إِنَّمَا يَخۡشَى ٱللَّهَ مِنۡ عِبَادِهِ ٱلۡعُلَمَٰٓؤُاْۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ 

“Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Qs. Fathir: 28)

Ayat di atas menunjukkan bahwa yang takut kepada Allah hanyalah ulama. Maksudnya bahwa ilmu yang benar akan menimbulkan rasa takut seseorang kepada Allah. Inilah hakikat pensucian jiwa.

Berkata Ibnu Rajab di dalam Fadhlu ‘Ilmi as-Salaf ‘ala al-Khalaf (hal. 121), “Berkata Imam Ahmad, ‘Dasar ilmu adalah rasa takut kepada Allah’.”

(4) Ilmu yang bermanfaat akan menumbuhkan iman kepada Allah dan mengarahkan seorang hamba kepada jalan yang lurus. Ini sesuai dengan firman-Nya,

وَلِيَعۡلَمَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ أَنَّهُ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَيُؤۡمِنُواْ بِهِۦ فَتُخۡبِتَ لَهُۥ قُلُوبُهُمۡۗ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَهَادِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ

“Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya al-Quran itulah yang hak dari Tuhan-mu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus.” (Qs. al-Hajj: 54)

Ayat di atas menunjukkan bahwa ilmu yang bermanfaat mampu menundukkan hati seorang hamba dan mengarahkannya pada jalan yang lurus.

(5) Ilmu yang bermanfaat bisa menggugurkan dosa-dosa. Ini juga yang dimaksud dengan pensucian jiwa. Karena jiwa sudah dibersihkan dari segala dosa. Ini sesuai dengan firman Allah,

وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ طَرَفَيِ ٱلنَّهَارِ وَزُلَفٗا مِّنَ ٱلَّيۡلِۚ إِنَّ ٱلۡحَسَنَٰتِ يُذۡهِبۡنَ ٱلسَّيِّـَٔاتِۚ ذَٰلِكَ ذِكۡرَىٰ لِلذَّٰكِرِينَ 

“Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” (Qs. Hud: 114)

(6) Ilmu yang bermanfaat merupakan tanda kebaikan yang diberikan Allah kepada seseorang. Ini sesuai dengan hadits Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu 'anhuma bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ

“Barang siapa yang dikehendaki oleh Allah untuk mendapatkan kebaikan, maka Allah akan mengajarkannya ilmu agama.” (HR. al-Bukhari, 71  dan Muslim, 1037)

(7) Dengan ilmu seseorang bisa hidup dan mempunyai cahaya. Tanpa ilmu seseorang dianggap mati. Allah berfirman,

أَوَمَن كَانَ مَيۡتٗا فَأَحۡيَيۡنَٰهُ وَجَعَلۡنَا لَهُۥ نُورٗا يَمۡشِي بِهِۦ فِي ٱلنَّاسِ كَمَن مَّثَلُهُۥ فِي ٱلظُّلُمَٰتِ لَيۡسَ بِخَارِجٖ مِّنۡهَاۚ كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلۡكَٰفِرِينَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ 

“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.” (Qs. al-An’am: 122)

Orang yang mati pada ayat di atas adalah orang bodoh yang hidup pada masa jahiliyah dan tidak mempunyai ilmu wahyu. Kemudian Allah hidupkan dengan ilmu wahyu, sehingga mendapatkan cahaya iman.

Di dalam pepatah Arab disebutkan,

وَفي الجَهلِ قَبلَ المَوتِ مَوتٌ لِأَهلِهِ

وَأَجسادُهُم قَبلَ القُبورِ قُبورُ

وَإِنَّ اِمرَءاً لَم يُحيِ بِالعِلمِ مَيِّتٌ

وَلَيسَ لَهُ حَتّى النَشورِ نُشورُ

 

Kebodohan bagi seseorang  merupakan kematian, sebelum kematian yang  sesungguhnya.

 Badan mereka adalah kuburan, sebelum mereka dikubur.

Seseorang yang tidak mau menghidupkan ilmu, sesungguhnya dia adalah seorang mayit.

Tidak ada kebangkitan di dalam dirinya sampai hari kebangkitan.

 

IV. Madharat Tidak Berilmu

Orang yang tidak memiliki ilmu terutama ilmu syariah akan membawa madharat bagi dirinya, keluarga dan masyarakat. Di antaranya adalah;

(1) Orang yang tidak berilmu akan cenderung mendustakan kebenaran, seperti yang dilakukan oleh kaum Nuh. Ini sesuai dengan firman-Nya,

وَيَٰقَوۡمِ لَآ أَسۡـَٔلُكُمۡ عَلَيۡهِ مَالًاۖ إِنۡ أَجۡرِيَ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِۚ وَمَآ أَنَا۠ بِطَارِدِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْۚ إِنَّهُم مُّلَٰقُواْ رَبِّهِمۡ وَلَٰكِنِّيٓ أَرَىٰكُمۡ قَوۡمٗا تَجۡهَلُونَ

“Dan (dia berkata): "Hai kaumku, aku tiada meminta harta benda kepada kamu (sebagai upah) bagi seruanku. Upahku hanyalah dari Allah dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya mereka akan bertemu dengan Tuhannya, akan tetapi aku memandangmu suatu kaum yang tidak mengetahui".” (Qs. Hud: 29)

(2) Orang yang tidak berilmu cenderung untuk berbuat maksiat, seperti yang dilakukan oleh kaum Luth. Ini sesuai dengan firman-Nya,

أَئِنَّكُمۡ لَتَأۡتُونَ ٱلرِّجَالَ شَهۡوَةٗ مِّن دُونِ ٱلنِّسَآءِۚ بَلۡ أَنتُمۡ قَوۡمٞ تَجۡهَلُونَ

“Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk (memenuhi) syahwat(mu), bukan (mendatangi) perempuan? Sungguh, kamu adalah kaum yang tidak mengetahui (akibat perbuatanmu).” (Qs. An-Naml: 55)

(3) Orang yang tidak berilmu cenderung untuk melakukan kesyirikan, seperti yang dilakukan oleh kaum Musa. Ini dengan firman-Nya,

وَجَٰوَزۡنَا بِبَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ ٱلۡبَحۡرَ فَأَتَوۡاْ عَلَىٰ قَوۡمٖ يَعۡكُفُونَ عَلَىٰٓ أَصۡنَامٖ لَّهُمۡۚ قَالُواْ يَٰمُوسَى ٱجۡعَل لَّنَآ إِلَٰهٗا كَمَا لَهُمۡ ءَالِهَةٞۚ قَالَ إِنَّكُمۡ قَوۡمٞ تَجۡهَلُونَ

“Dan Kami selamatkan Bani Israel menyeberangi laut itu (bagian utara dari Laut Merah). Ketika mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala, mereka (Bani Israel) berkata, “Wahai Musa! Buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala).” (Musa) menjawab, “Sungguh, kamu orang-orang yang bodoh.” (Qs. al-A'raf: 138)

(4) Menyebarnya kebodohan dan diangkatnya ilmu, termasuk salah satu tanda hari kiamat. Sebagaimana hadits dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ بَيْنَ يَدَيْ السَّاعَةِ لَأَيَّامًا يَنْزِلُ فِيهَا الْجَهْلُ وَيُرْفَعُ فِيهَا الْعِلْمُ وَيَكْثُرُ فِيهَا الْهَرْجُ وَالْهَرْجُ الْقَتْلُ

“Menjelang kiamat terjadi, terdapat hari-hari yang ketika itu banyak kebodohan, ilmu diangkat, dan banyak al-haraj, al-haraj adalah pembunuhan.” (HR. al-Bukhari, 6538)

Di dalam riwayat lain disebutkan,

عَنْ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَثْبُتَ الْجَهْلُ وَيُشْرَبَ الْخَمْرُ وَيَظْهَرَ الزِّنَا

Dari Anas bin Malik, dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Diantara tanda-tanda terjadinya hari kiamat yaitu: diangkatnya ilmu, kebodohan merajalela, banyaknya orang yang meminum minuman keras, dan zina dilakukan dengan terang-terangan.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

(5) Orang yang tidak berilmu cenderung untuk berfatwa tanpa ilmu sehingga sesat dan menyesatkan. Ini sesuai dengan hadits ‘Abdullah bin Amr bin al-’Ash radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّ اللَّهَ لا يَقْبِضُ العِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ العِبَادِ ولَكِنْ يَقْبِضُ العِلْمَ بقَبْضِ العُلَمَاءِ حتَّى إذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فأفْتَوْا بغيرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وأَضَلُّوا

“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak mengangkat ilmu dengan sekali cabutan dari para hamba-Nya, akan tetapi Allah mengangkat ilmu dengan mewafatkan para ulama. Ketika tidak tersisa lagi seorang ulama pun, manusia merujuk kepada orang-orang bodoh. Mereka bertanya, maka mereka (orang-orang bodoh) itu berfatwa tanpa ilmu. mereka sesat dan menyesatkan.“ (HR. al-Bukhari)

(6) Orang yang tidak berilmu dijauhkan dari keikutsertaan di dalam musyawarah. Berkata sebagian ahli hikmah, “Tujuh golongan sebaiknya tidak diambil pendapatnya, yaitu:

(a) orang bodoh karena dia akan menyesatkan,

(b) musuh karena dia menginginkan kehancuran dirimu,

(c) orang hasad karena dia menginginkan hilangnya nikmat darimu,

(d) orang yang riya’ karena dia hanya ingin mencari muka,

(e) pengecut karena sering kabur dari masalah,

(f) orang yang bakhil karena dia hanya menginginkan uang,

(g) pengikut hawa nafsu, karena dia akan menjadi tawanan hawa nafsunya, tidak mampu melawannya.”

(7) Orang yang tidak berilmu penyebab terjadinya fitnah. Berkata asy-Sya’bi, “Hati-hati dengan ulama yang jahat dan ahli ibadah yang bodoh, karena keduanya penyebab segala fitnah.”

(8) Orang yang tidak berilmu akan menyebabkan kehancuran diri, keluarga dan masyarakat. Berkata Abu Dzar al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu, “Jadilah engkau orang yang berilmu atau penuntut ilmu atau pendengar ilmu. Dan janganlah engkau menjadi orang keempat (orang yang tidak berilmu) karena engkau akan hancur.”

 

***

Bekasi, 9 Oktober 2021

KARYA TULIS