Karya Tulis
311 Hits

Pensucian Jiwa: Bab 6 Pendek Angan-angan


 

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” 

(Qs. al-Hadid: 16)

 

I. Pengertian Pendek Angan-Angan

(1) Pendek angan-angan adalah salah satu cara menuju pensucian jiwa. Karena dengan pendek angan-angan seseorang tidak akan tamak dengan kehidupan dunia, yang dia pikirkan bagaimana mencari bekal sebanyak-banyaknya untuk kehidupan akhirat. Ibnu al-Qayyim di dalam Madariju as-Salikin (1/448)

فَأَمَّا قِصَرُ الْأَمَلِ: فَهُوَ الْعِلْمُ بِقُرْبِ الرَّحِيلِ، وَسُرْعَةِ انْقِضَاءِ مُدَّةِ الْحَيَاةِ، وَهُوَ مِنْ أَنْفَعِ الْأُمُورِ لِلْقَلْبِ

“Pendek  angan-angan adalah menyakini bahwa kematian sudah dekat, waktu dalam hidup ini cepat berlalu. Ini salah bentuk pensucian jiwa yang paling bermanfaat.”

Salah satu hadist yang menjadi rujukan dari pendek angan-angan adalah apa yang diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma,

وَعَنِ اِبْنِ عُمَرَ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- قَالَ: أَخَذَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِمَنْكِبِي فَقَالَ (كُنْ فِي اَلدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ)  وَكَانَ اِبْنُ عُمَرَ يَقُولُ: إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ اَلصَّبَاحَ وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ اَلْمَسَاءَ وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِسَقَمِك وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ.

Ibnu ‘Umar radhiyallahu 'anhuma berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memegang kedua pundakku dan bersabda, “Hiduplah di dunia ini seakan-akan engkau orang asing atau orang yang sedang lewat.” Ibnu ‘Umar radhiyallahu 'anhuma berkata, “Jika engkau memasuki waktu sore maka janganlah menunggu pagi; dan jika engkau memasuki waktu pagi janganlah menunggu waktu sore; ambillah kesempatan dari masa sehatmu untuk masa sakitmu dan dari masa hidupmu untuk matimu.” )HR. al-Bukhari, 1499)

Dari hadist di atas, bisa diambil kesimpulan, bahwa pendek angan-angan adalah memahami bahwa hidup di dunia ini hanyalah sementara, seperti musafir yang mampir di suatu tempat untuk istirahat sebentar, setelah itu, dia akan meneruskan perjalanannya kembali.

(2) Dunia adalah tempat singgah musafir dan akhirat adalah tempat tinggal yang permanen dan abadi dijelaskan di dalam firman Allah,

يَا قَوْمِ إِنَّمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَإِنَّ الْآخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ

“Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.” (Qs. Ghafir: 39)

Ini dikuatkan dengan hadist Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu,

عن عبد الله بن مسعود – رضي الله تعالى عنه - قال: نام رسول الله - صلى الله عليه وسلم - على حصير، فقام وقد أثَّر في جَنْبه، فقلنا: يا رسول الله! لو اتخذنا لك وِطاء، فقال: "ما لي وما للدنيا؟ ما أنا في الدنيا إلا كراكب استظل تحت شجرة ثم راح وتركها

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Pada suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidur di atas tikar kemudian bangun, ternyata terdapat bekas tikar di pinggangnya. Maka kami berkata, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana kalau kami mencarikan untuk engkau alas tidur yang empuk?’ Beliau pun bersabda, ‘Apa hubunganku dengan dunia. Aku di dunia ini seperti musafir yang sedang berteduh di bawah pohon. Setelah itu akan pergi meninggalkannya’.” (HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Majah. Berkata at-Tirmidzi, “Hadist ini Hasan Shahih.”)

(3) Allah subhanahu wa ta’ala mengecam orang-orang Yahudi yang panjang angan-angan dan ingin hidup seribu tahun. Ini yang menyebabkan hati mereka kotor dan keras sehingga sulit menerima nasehat dan peringatan. Ini disebutkan di dalam firman Allah,

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Qs. al-Hadid: 16)

Ayat di atas menunjukkan beberapa hal di antaranya;

(a) Pendek angan-angan membuat hati menjadi khusyu’ dan bersih.

(b) Larangan mengikuti orang-orang Yahudi yang panjang angan-angan sehingga hati mereka menjadi keras, bahkan lebih keras daripada batu.

(c) Panjang angan-angan membuat orang menjadi fasik, yaitu meremehkan ajaran agama bahkan tidak sedikit yang berakhir dengan murtad (keluar dari Islam).

Keinginan orang-orang musyrik dan Yahudi untuk hidup seribu tahun ditunjukkan di dalam firman Allah,

وَلَتَجِدَنَّهُمْ أَحْرَصَ النَّاسِ عَلَى حَيَاةٍ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ يُعَمَّرُ أَلْفَ سَنَةٍ وَمَا هُوَ بِمُزَحْزِحِهِ مِنَ الْعَذَابِ أَنْ يُعَمَّرَ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِمَا يَعْمَلُونَ

“Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling tamak kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih tamak lagi) dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya dari siksa. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (Qs. al-Baqarah: 96)

 

II. Perbedaan antara Panjang Angan-angan dengan Cita-cita

(1) Panjang angan-angan yang dilarang, sebagaimana dalam ayat di atas adalah panjang angan-angan yang melupakan akhirat, sehingga dia ingin hidup selamanya di dunia dan tidak pernah berpikir bahwa suatu ketika dia akan mati dan meninggalkan dunia. Sebagaimana firman-Nya,

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (Qs. al-Hasyr: 19)

(2) Adapun bercita-cita untuk mencapai sesuatu di dunia tanpa melupakan akhirat maka hal itu dibolehkan, bahkan dianjurkan jika cita-cita itu membawa maslahat kehidupan di akhirat. Ini sesuai dengan firman Allah,

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Qs. al-Qashash: 77)

(3) Di dalam hadits ‘Abdullah bin ‘Amru bin al-’Ash radhiyallahu ‘anhuma,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ مَرَّ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ نُعَالِجُ خُصًّا لَنَا فَقَالَ مَا هَذَا فَقُلْنَا قَدْ وَهَى فَنَحْنُ نُصْلِحُهُ قَالَ مَا أَرَى الْأَمْرَ إِلَّا أَعْجَلَ مِنْ ذَلِكَ

Dari 'Abdullah bin 'Amru berkata, “Rasulullah shallallahu 'alahi wa sallam melintasi kami saat kami memperbaiki gubug (dari kayu) milik kami, beliau bertanya, Apa ini? Kami menjawab, Gubug ini sudah lemah, kami memperbaikinya. Beliau bersabda, Aku tidak melihat kematian melainkan lebih cepat dari gubuk itu roboh’.” (HR. at-Tirmidzi, 2257. Berkata Abu Isa, “Hadist ini Hasan Shahih.”)

Hadits di atas menunjukkan bahwa seorang muslim hendaknya selalu waspada dan mengingat akhirat, serta mempersiapkan bekal-bekal yang akan dibawanya menuju akhirat. Jangan sampai kesibukan memperbaiki dunia termasuk di dalamnya memperbaiki rumah dan sejenisnya, dari mengingat akhirat. Hadits ini bukan berarti melarang seseorang memperbaiki dunianya, termasuk memperbaiki rumah, kendaraan, dan benda-benda yang lainnya.

 

III. Bahaya Panjang Angan-angan

(1) Terjebak dalam Jeratan Syaitan

Di antara bahaya dari panjang angan-angan adalah mudah terjebaknya seseorang ke dalam jeratan syaitan. Ini seperti yang terjadi pada Nabi Adam ‘alaihi as-salam ketika beliau diiming-imingi dengan umur yang abadi dan kerajaan yang kekal di surga, dengan syarat memakan buah yang terlarang. Sebagaimana di dalam firman-Nya,

 فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطَانُ لِيُبْدِيَ لَهُمَا مَا وُورِيَ عَنْهُمَا مِنْ سَوْآتِهِمَا وَقَالَ مَا نَهَاكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ إِلَّا أَنْ تَكُونَا مَلَكَيْنِ أَوْ تَكُونَا مِنَ الْخَالِدِينَ . وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ . فَدَلَّاهُمَا بِغُرُورٍ فَلَمَّا ذَاقَا الشَّجَرَةَ بَدَتْ لَهُمَا سَوْآتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِنْ وَرَقِ الْجَنَّةِ وَنَادَاهُمَا رَبُّهُمَا أَلَمْ أَنْهَكُمَا عَنْ تِلْكُمَا الشَّجَرَةِ وَأَقُلْ لَكُمَا إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمَا عَدُوٌّ مُبِينٌ .

“Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: "Tuhan kamu tidak melarangmu dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)." Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. "Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua" maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasakan buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: "Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: "Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?"  (Qs. al-A’raf: 20-22)

 

Hal ini dikuatkan dengan firman Allah,

فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ الشَّيْطَانُ قَالَ يَا آدَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَى شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَا يَبْلَى

“Kemudian syaitan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: "Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?" (Qs. Thaha: 120)

Kebanyakan manusia jatuh ke dalam perangkap syaitan akibat panjang angan-angan. Ini sesuai dengan firman Allah,

إِنَّ الَّذِينَ ارْتَدُّوا عَلَى أَدْبَارِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْهُدَى الشَّيْطَانُ سَوَّلَ لَهُمْ وَأَمْلَى لَهُمْ

“Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (kepada kekafiran) sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, syaitan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka. (Qs. Muhammad: 25)

Salah satu pekerjaan syaitan adalah menjanjikan kepada manusia janji palsu, dan menjeratnya dengan panjang angan-angan, sebagaimana di dalam firman-Nya,

 يَعِدُهُمْ وَيُمَنِّيهِمْ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلَّا غُرُورًا

 “Syaitan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka.” (Qs. an-Nisa’: 120)

(2) Melupakan Amal Shalih

Orang yang panjang angan-angan akan selalu berpikir bagaimana hidup senang di dunia ini dengan cara mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya dan mencari jabatan setinggi-tingginya, sehingga dia lupa kepada Allah dan lupa untuk beramal shalih, sebagaimana firman-Nya,

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (Qs. al-Hasyr: 19)

Ayat di atas melarang umat Islam untuk menyerupai orang Yahudi yang panjang angan-angan. Kemudian Allah menjadikan mereka lupa kepada Allah dan lupa beramal shalih. Bahkan sampai-sampai mereka lupa terhadap diri mereka sendiri.

(3) Menjerumuskan Seseorang ke dalam Jurang Kehancuran dan Kesengsaraan

Ini sesuai dengan hadits Ibnu  ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نَجَا أَوَّلُ هَذِهِ الأمَّةِ باليَقِينِ وَالزُهْدِ، وَيَهْلِكُ آخِرُ هَذِهِ الأمَّةِ بالبُخْلِ وَالأمَلِ

Generasi awal umat ini jaya dengan sebab keyakinan dan kezuhudan, sedangkan generasi akhirnya akan binasa dengan sebab bakhil dan (panjang) angan-angan. (HR. ath-Thabrani dan Ibnu Abid Dunya dengan sanad hasan.)

(4) Menyebabkan Kerasnya Hati  

Salah satu ayat yang menunjukkan bahwa panjang angan-angan akan menyebabkan kerasnya hati adalah firman Allah,

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Qs. al-Hadid: 16)

Berkata ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, “Janganlah kalian berpanjang angan-angan karena menyebabkan hati kalian menjadi keras dan mudah tunduk kepada musuh. Karena sesungguhnya seseorang berangan-angan kepada sesuatu tetapi kadang dia tidak hidup sampai pagi atau tidak hidup sampai sore. Bahkan di sela-sela itu, kematian menjemputnya.”

 

IV. Tanda Panjang Angan-angan

(1) Salah satu tanda orang mempunyai panjang angan-angan adalah sering menunda pekerjaan, padahal dia mampu mengerjakan saat itu. Dia menganggap dirinya akan panjang dan mempunyai waktu yang banyak di masa mendatang.

(2) Suatu ketika ‘Umar bin al-Khattab menulis surat kepada Abu Musa al-Asy’ari, waktu itu beliau sedang di Bashrah,

 لاَ تُؤَجِل عَمَلَ اليَومِ الِىَ الغَدِّ فَتَزْدحِم علَيكَ الأَعْمال فَتَضيع

“Janganlah anda menunda  pekerjaan hari ini pada esok hari, karena pekerjaan anda akan menjadi menumpuk sehingga (tidak sanggup anda kerjakan) dan akan hilang semuanya.”

(3) Ada seseorang bertanya kepada ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, “Sebaiknya tuan bertamasya dan beristirahat.” Beliau bertanya, “Jika saya beristirahat siapa yang menggantiku?” Mereka berkata, “Anda bisa menundanya sampai besok.” Beliau berkata, “Pekerjaan satu hari saja sudah menyusahkanku, apalagi kalau saya harus mengerjakan dua pekerjaan dalam satu hari.”

(4) Seseorang yang panjang angan-angan biasanya suka mengundur-undurkan amal shalih, bahkan juga mengundurkan untuk bertaubat kepada Allah karena mereka terlena menikmati kesenangan dunia. Ini seperti orang yang ingin melakukan safar, kemudian singgah di tempat peristirahatan dan terlena dengan kenikmatan yang disediakan di tempat tersebut, sehingga menunda keberangkatan menuju tujuan dan tidak sempat membeli perbekalan sampai habis waktunya.

 

V. Perkataan Ulama tentang Pendek Angan-angan

(1) Perkataan ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu,

أخرج البخاري معلَّقًا عن علي بن أبي طالب - رضي الله عنه - أنه قال "إن أخوفَ ما أخافُ عليكم اثنتان: اتباع الهوى، وطول الأمل، فأما اتباع الهوى فيصدُّ عن الحق، وأما طول الأمل فيُنسي الآخرة، ألا وإن الآخرة قد ارتحلت مُقبِلة، ألا وإن الدنيا قد ارتحلت مُدبِرة، ولكل واحدٍ منهما بنون، فكونوا من أبناء الآخرة، ولا تكونوا من أبناء الدنيا، فإن اليومَ عملٌ ولا حساب، وغدًا حسابٌ ولا عمل"

Dikeluarkan oleh al-Bukhari secara ta’liq dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu bahwasanya dia berkata, “Sesungguhnya yang aku khawatirkan terhadap kalian adalah dua hal; (1) mengikuti hawa nafsu, (2) panjang angan-angan. Adapun mengikuti hawa nafsu akan menghalangi seseorang dari kebenaran. Sedangkan panjang angan-angan akan menyebabkan seseorang melupakan akhirat. Ketahuilah bahwa akhirat telah datang menjemput dan dunia telah pergi menjauh. Setiap dari keduanya mempunyai anak. Maka jadilah anak-anak akhirat dan jangan menjadi anak-anak dunia. Sesungguhnya hari ini (di dunia) adalah waktu beramal, bukan waktu hisab (perhitungan). Sedangkan besok (di akhirat) adalah waktu hisab (perhitungan), bukan waktu untuk beramal.” (Atsar ini dikeluarkan juga oleh Imam Ahmad di dalam az-Zuhud, Ibnu Abu Syaibah di dalam al-Mushannaf dan ‘Abdullah bin al-Mubarak di dalam az-Zuhdu wa al-Hilyah)

(2) Berkata al-Hasan al-Bashri, “Dunia ini hanya ada tiga hari: kemarin, hari ini, besok. Kemarin telah berlalu bersama dengan apa yang di dalamnya. Sedangkan hari esok semoga anda menemuinya. Adapun hari ini adalah milikmu, maka beramallah di dalamnya.” 

(3) Ibnu al-Jauzi (w. 597 H) berkata di dalam bukunya Shaidu al-Khatir, “Manusia harus mengetahui kemuliaan zaman dan nilai waktunya sehingga dia tidak menyia-nyiakannya walau sebentar. Dia harus mempersembahkan  yang terbaik untuk dalam usianya.”

Beliau juga berkata, “Betapa banyak manusia yang menghabiskan waktunya dengan sia-sia, tanpa mendapatkan apa-apa. Sesungguhnya hari-hari ini seperti sawah. Janganlah orang yang berakal berhenti dari menanam dan menyebar biji.” 

(4) Berkata Ibnu al-Qayyim (w. 751 H) di dalam Hadi al-Arwah (1/69),

ومفتاح الاستعداد للآخرة قصر الأمل ومفتاح كل خير الرغبة في الله والدار الآخرة ومفتاح كل شر حب الدنيا وطول الأمل

“Kunci persiapan menghadapi alam akhirat adalah pendek angan-angan, kunci segala kebaikan adalah menginginkan sesuatu di sisi Allah dan tabungan di akhirat, sedang kunci segala keburukan adalah cinta dunia dan panjang angan-angan.”

(5) Abu Muhammad bin ‘Ali, seorang yang sangat zuhud, suatu ketika keluar bersama Daud ath-Tha’i mengiringi jenazah di Kota Kuffah. Beliau duduk sendiri jauh dari tempat dikuburkannya jenazah tersebut. Kemudian aku mendekatinya, dia berkata kepadaku, “Barangsiapa yang takut ancaman maka perjalanan jauh baginya menjadi dekat, dan sebaliknya barangsiapa yang panjang angan-angannya maka lemahlah amalnya. Setiap yang akan datang itu dekat. Ketahuilah bahwa seluruh penduduk bumi ini adalah calon penghuni kuburan. Mereka menyesal dengan apa yang ditinggalkan dan gembira dengan apa yang sudah dikerjakannya.”

(6) Pendek angan-angan terekam dalam sebuah syair Arab,

إنَّ للَّهِ عِبَاداً فُطَنَا * * * تَرَكُوا الدُّنْيَا وَخَافُوا الفِتَنَا
نظروا فيها فلما علموا * * * أنها ليست لحيٍّ وطنا
جعَلُوهَا لُجَّةً وَاتَّخَذوا * * * صالحَ الأعمالِ فيها سفنا

“Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang sangat cerdas.

Mereka meninggalkan (kesenangan) dunia dan sangat takut terhadap fitnahnya.

Mereka mengamati isi dunia itu dan ketika mereka mengetahui, bahwa dunia bukan tempat tinggal yang baik bagi orang yang hidup.

Mereka menganggap dunia itu bagaikan ombak dan menjadikan amal shalih sebagai kapal.”

 

***

Bekasi, 29 Oktober 2021

KARYA TULIS