Karya Tulis
263 Hits

Pensucian Jiwa: Bab 8 Yakin


 

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ

“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” 

(Qs. as-Sajdah: 24)

 

I. Pengertian Yakin

(1) Yakin secara bahasa adalah tenang. Pecahan dari (yaqina - yuqinu - iqanan - muqinun) yang menunjukkan sesuatu yang tetap. Disebut (yaqinu al-ma-u) yaitu air yang tenang dan tidak berisik. Adapun yakin secara istilah adalah ketenangan hati ketika melakukan suatu amal atau ketetapan hati yang kuat, sesuai dengan ilmu dan tetap serta tidak berubah-ubah.

(2) Menurut Ibnu al-Qayyim, “Yakin adalah ilmu yang berada di dalam hati setelah penelitian dan perenungan yang panjang, sehingga menghilangkan keraguan dan hati menjadi tenang dengan keimanan.”

Beliau berkata juga, “Bahwa kedudukan yakin dalam keimanan seperti kedudukan ruh di dalam jasad. Dengan keyakinan itu para ulama ‘arif berbeda-beda tingkatannya dan orang-orang berlomba untuk mengejarnya. Para ahli ibadah berjaga di malam hari untuk mencarinya. Keyakinan dan kecintaan merupakan pondasi keimanan. Di atas keduanya-lah iman berdiri tegak. Dan keduanya-lah yang mencetuskan amalan hati dan amalan anggota badan. Lemah dan kuatnya amal tergantung pada keduanya.”

(2) Berkata ‘Abdurrahman as-Sa’di, “Yakin adalah ilmu yang sempurna dan tidak ada keraguan di dalamnya yang mendorong seseorang untuk beramal.”

(3) Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bahwasanya beliau berkata,

اليَقِينُ الإِيمَانُ كُلُّهُ

“Yakin adalah iman secara keseluruhan.”

 

II. Tingkatan Yakin

Yakin mempunyai beberapa tingkatan;

(1) ‘Ilmu al-Yaqin adalah ilmu yang jelas dan sesuai dengan realita tanpa ada keragu-raguan di dalamnya. ‘Ilmu al-yaqin ini mencakup dua hal;

Pertama, ilmu tentang sesuatu yang nyata di dunia ini, seperti ilmu tentang adanya bumi, gunung, sungai, langit, matahari, bulan, dan bintang.

Kedua, ilmu tentang sesuatu yang ghaib di akhirat, seperti ilmu tentang adanya surga, neraka, sirath (jembatan), mizan (timbangan), dan lainnya.

‘Ilmu al-yaqin  ini terdapat di dalam firman Allah,

كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ

“Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin.” (Qs. at-Takatsur: 5)

(2) ‘Ainu al-Yaqin adalah kebenaran yang dilihatnya dengan mata kepala sendiri sehingga tidak perlu mencari dalilnya, seperti seseorang yakin dengan adanya matahari karena melihatnya langsung tanpa perlu dalil-dalil yang lain. Begitu juga sesuatu yang diperoleh hasil dari pengamatan dan penelitian, seperti bayi yang ada di dalam kandungan wanita.

‘Ainu al-Yaqin terdapat di dalam firman Allah,

ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan 'ainul yaqin.” (Qs. at-Takatsur: 7)

(3) Haqqu al-Yaqin adalah sesuatu yang dirasakan langsung oleh seseorang, seperti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang pernah melihat surga dan neraka ketika meklakukan Isra’ Mi’raj.

Haqqu al-Yaqin terdapat di dalam firman Allah,

إِنَّ هَذَا لَهُوَ حَقُّ الْيَقِينِ ۞ فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِ ۞ 

“Sesungguhnya (yang disebutkan ini) adalah suatu keyakinan yang benar. Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Rabbmu yang Maha Besar.” (Qs. al-Waqi’ah: 95-96)

 

III. Cara Meraih Keyakinan yang Kuat

Untuk meraih keyakinan yang kuat di dalam hati, seseorang harus melakukan beberapa langkah di bawah ini;

(1) Membaca dan merenungi ayat-ayat al-Qur’an dan mempelajari kandungan hadits-hadits Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.  Ini sesuai dengan firman Allah,

وَقَالَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ لَوْلَا يُكَلِّمُنَا اللَّهُ أَوْ تَأْتِينَا آيَةٌ كَذَلِكَ قَالَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ مِثْلَ قَوْلِهِمْ تَشَابَهَتْ قُلُوبُهُمْ قَدْ بَيَّنَّا الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

“Dan orang-orang yang tidak mengetahui berkata: "Mengapa Allah tidak (langsung) berbicara dengan kami atau datang tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada kami?" Demikian pula orang-orang yang sebelum mereka telah mengatakan seperti ucapan mereka itu; hati mereka serupa. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Kami kepada kaum yang yakin.” (Qs. al-Baqarah: 118)

(2) Memperhatikan alam semesta dan semua ciptaan Allah yang sangat indah dan menakjubkan, semuanya menunjukkan kebesaran dan keagungan Allah subhanahu wa ta’ala. Diantara dalilnya adalah sebagai berikut;

(a) Firman Allah,

وَكَذَٰلِكَ  نُرِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلۡمُوقِنِينَ

Dan demikianlah Kami memperlihatkan kepada Ibrahim kekuasaan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi, dan agar dia termasuk orang-orang yang yakin. (Qs. al-An'am: 75)

(b) Firman Allah,

اللَّهُ الَّذِي رَفَعَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى يُدَبِّرُ الْأَمْرَ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ بِلِقَاءِ رَبِّكُمْ تُوقِنُونَ

“Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.” (Qs. ar-Ra’du: 2)

(c) Firman Allah,

وَفِي خَلْقِكُمْ وَمَا يَبُثُّ مِنْ دَابَّةٍ آيَاتٌ لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

“Dan pada penciptaan kamu dan pada binatang-binatang yang melata yang bertebaran (di muka bumi) terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk kaum yang meyakini.” (Qs. al-Jatsiyah: 4)

(d) Firman Allah,

وَفِي ٱلۡأَرۡضِ ءَايَٰتٞ لِّلۡمُوقِنِينَ 

Dan di bumi terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang yakin." (Qs. adz-Dzariyat: 20)

(e) Firman Allah,

وَفِيٓ أَنفُسِكُمۡۚ أَفَلَا تُبۡصِرُونَ 

Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan? (Qs. adz-Dzariyat: 21)

(3) Membaca kisah dan perjalanan hidup para nabi, rasul, ulama dan orang-orang shalih pada zaman dahulu, seperti kisah (a) yakinnya Nabi Nuh dalam berdakwah selama 950 tahun, (b) yakinnya Nabi Ibrahim dalam memberantas kesyirikan sehingga dibakar oleh Raja Namruj, (c) yakinnya Nabi Yusuf ketika dimasukkan ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya dan dipenjarakan oleh wanita istana, (d) yakinnya Nabi Musa dalam berdakwah kepada Fir’aun yang sangat kejam, (e) yakinnya Nabi Ayyub kepada Allah subhanahu wa ta’ala ketika diuji sakit belasan tahun lamanya, (f) yakinnya Nabi Isa ketika difitnah oleh kaumnya, dan (g) yakinnya Nabi Muhammad ketika diusir kaumnya dari kota Mekkah, tempat kelahirannya.

(4)  Menjauhi dari bergaul dengan orang-orang yang hati mereka terdapat keraguan terhadap Islam, dan orang-orang yang mempunyai pemikiran-pemikiran yang menyimpang dan sesat. Ini sesuai dengan firman Allah,

فَٱصۡبِرۡ إِنَّ وَعۡدَ ٱللَّهِ حَقّٞۖ وَلَا يَسۡتَخِفَّنَّكَ ٱلَّذِينَ لَا يُوقِنُونَ 

"Maka bersabarlah engkau (Muhammad), sungguh, janji Allah itu benar dan sekali-kali jangan sampai orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan engkau." (Qs. ar-Rum: 60)

Ayat di atas memerintahkan kepada Nabi Muhammad untuk menjauhi orang-orang yang tidak yakin terhadap kebenaran ayat-ayat Allah, karena bergaul dengan mereka akan membuat hati menjadi gelisah.

(5) Berdoa kepada Allah agar diberikan keyakinan dalam setiap musibah yang menimpanya. Di dalam hadist ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu 'anhuma bahwasanya beliau berkata, 

قَلَّمَا كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُومُ مِنْ مَجْلِسٍ حَتَّى يَدْعُوَ بِهَؤُلاَءِ الدَّعَوَاتِ لأَصْحَابِهِ  :اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ ، وَمِنَ اليَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا ، وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا ، وَاجْعَلْهُ الوَارِثَ مِنَّا ، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا ، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا ، وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا ، وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا ، وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا ، وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا 

“Sangat jarang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit dari suatu majlis sehingga berdoa dengan doa ini untuk orang-orang yang duduk bersamanya: ‘Ya Allah, berikanlah kami rasa takut kepada-Mu yang bisa  menjadi penghalang  antara kami dan maksiat kepada-Mu, dan (berikanlah kami) ketaatan kepada-Mu yang bisa  menyampaikan kami kepada surga-Mu, dan (berikanlah kami) keyakinan yang meringankan kami di dalam  menghadapi musibah dunia, Ya Allah, berilah kami manfaat pada pendengaran kami, penglihatan kami dan kekuatan kami selagi kami hidup, dan jadikanlah ia kekal dengan kami dan terpelihara sehinggalah kami mati, dan berikanlah balasan kepada orang yang menzhalimi kami, dan bantulah kami terhadap atas orang yang memusuhi kami, dan janganlah Engkau timpakan musibah pada agama kami, dan janganlah juga Engkau jadikan dunia ini sebagai sebesar-besar tujuan kami serta (janganlah Engkau jadikan) pengetahuan kami mengenai dunia semata-mata, dan janganlah Engkau biarkan orang yang tidak mengasihani kami menguasai kami’.” (HR. at-Tirmidzi, an-Nasai. At-Tirmidzi berkata: Hadist ini Hasan Gharib)

Hadits di atas menunjukkan perintah untuk berdoa memohon keyakinan, karena hal itu akan memperingan ketika mendapatkan musibah dunia.

 

IV. Manfaat Yakin

Hati yang yakin akan memberikan manfaat bagi seorang muslim di dunia dan di akhirat, diantaranya adalah;

(1) Yakin akan menyebabkan hati menjadi tenang dan bertambah keimanannya kepada Allah. Ini seperti dalam kisah Nabi Ibrahim ‘alaihi as-salam yang tersebut di dalam firman Allah,

وَإِذۡ قَالَ إِبۡرَٰهِـۧمُ رَبِّ أَرِنِي كَيۡفَ تُحۡيِ ٱلۡمَوۡتَىٰۖ قَالَ أَوَلَمۡ تُؤۡمِنۖ قَالَ بَلَىٰ وَلَٰكِن لِّيَطۡمَئِنَّ قَلۡبِيۖ قَالَ فَخُذۡ أَرۡبَعَةٗ مِّنَ ٱلطَّيۡرِ فَصُرۡهُنَّ إِلَيۡكَ ثُمَّ ٱجۡعَلۡ عَلَىٰ كُلِّ جَبَلٖ مِّنۡهُنَّ جُزۡءٗا ثُمَّ ٱدۡعُهُنَّ يَأۡتِينَكَ سَعۡيٗاۚ وَٱعۡلَمۡ أَنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٞ

 "Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, "Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati." Allah berfirman, "Belum percayakah engkau?" Dia (Ibrahim) menjawab, "Aku percaya, tetapi agar hatiku tenang (mantap).” Dia (Allah) berfirman, "Kalau begitu ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah olehmu kemudian letakkan di atas masing-masing bukit satu bagian, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera." Ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana." (Qs. al-Baqarah: 260)

(2) Yakin akan mengantarkan seseorang kepada derajat al-Imamah fi ad-din (kepemimpinan dalam agama). Ini sesuai dengan firman Allah,

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ

“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (Qs. as-Sajdah: 24)

Ayat di atas menunjukkan bahwa kepemimpinan dalam agama akan diraih dengan dua hal, yaitu: kesabaran dan keyakinan.

(3) Yakin menjadikan seseorang bertambah tawakkalnya kepada Allah, sebagaimana di dalam firman-Nya,

فَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۖ إِنَّكَ عَلَى ٱلۡحَقِّ ٱلۡمُبِينِ 

Maka bertawakallah kepada Allah, sungguh engkau (Muhammad) berada di atas kebenaran yang nyata. (Qs. an-Naml:79)

Sebagian ulama menafsirkan (di atas kebenaran yang nyata) adalah di atas keyakinan yang kuat terhadap kebenaran Islam.

(4) Yakin menyebabkan seseorang mampu menjawab pertanyaan malaikat di dalam kubur, sebagaimana terdapat di dalam hadist ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

مَا مِنْ شَيْءٍ لَمْ أَكُنْ أُرِيتُهُ إِلَّا رَأَيْتُهُ فِي مَقَامِي حَتَّى الْجَنَّةُ وَالنَّارُ فَأُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّكُمْ تُفْتَنُونَ فِي قُبُورِكُمْ مِثْلَ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ يُقَالُ مَا عِلْمُكَ بِهَذَا الرَّجُلِ فَأَمَّا الْمُؤْمِنُ أَوْ الْمُوقِنُ لَا أَدْرِي بِأَيِّهِمَا قَالَتْ أَسْمَاءُ فَيَقُولُ هُوَ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ جَاءَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى فَأَجَبْنَا وَاتَّبَعْنَا هُوَ مُحَمَّدٌ ثَلَاثًا فَيُقَالُ نَمْ صَالِحًا قَدْ عَلِمْنَا إِنْ كُنْتَ لَمُوقِنًا بِهِ وَأَمَّا الْمُنَافِقُ أَوْ الْمُرْتَابُ لَا أَدْرِي أَيَّ ذَلِكَ قَالَتْ أَسْمَاءُ فَيَقُولُ لَا أَدْرِي سَمِعْتُ النَّاسَ يَقُولُونَ شَيْئًا فَقُلْتُهُ 

Tidak ada sesuatu yang belum diperlihatkan kepadaku, kecuali aku sudah melihatnya dari tempatku ini hingga surga dan neraka, lalu diwahyukan kepadaku: bahwa kalian akan terkena fitnah dalam kubur kalian seperti fitnah al-Masih ad-Dajjal-; "Akan ditanyakan kepada seseorang (di dalam kuburnya); "Apa yang kamu ketahui tentang laki-laki ini?" Adapun orang beriman atau orang yang yakin, akan menjawab: 'Dia adalah Muhammad Rasulullah telah datang kepada kami membawa penjelasan dan petunjuk. Maka kami sambut dan kami ikuti. Dia adalah Muhammad, diucapkannya tiga kali. Maka kepada orang itu dikatakan: 'Tidurlah dengan tenang, sungguh kami telah mengetahui bahwa kamu adalah orang yang yakin'. Adapun orang munafik atau orang yang ragu, akan menjawab; ‘Aku tidak tahu siapa dia, aku mendengar manusia membicarakan sesuatu maka akupun mengatakannya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

(5) Yakin menyebabkan seseorang masuk surga. Ini sesuai dengan hadist Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَمَنْ لَقِيتَ مِنْ وَرَاءهَذَا الْحَائِطِ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُسْتَيْقِنًا بِهَا قَلْبُهُ فَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ

Siapapun yang kau temui di balik kebun ini ia bersaksi bahwa tidak tuhan (yang berhak disembah) selain Allah dan ia menancapkan keyakinan ini dalam hatinya, maka berilah kabar gembira kepadanya dengan surga. (HR. Muslim) 

Ini dikuatkan dengan hadist Syadad bin Aus radhiyallahu ‘anhu,

عن شَدَّادِ بْنِ أَوسٍ - رضي الله عنه - ، عن النبيّ - صلى الله عليه وسلم - ، قال : (( سَيِّدُ سيد الاسْتِغْفَارِ أَنْ يَقُولَ العَبْدُ : اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لاَ إلهَ إلاَّ أنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ ، وَأنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ ، أعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ ، أبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ ، وأبُوءُ بِذَنْبِي ، فَاغْفِرْ لِي ، فَإنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إلاَّ أنْتَ . مَنْ قَالَهَا مِنَ النَّهَارِ مُوقِناً بِهَا ، فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ قَبْلَ أَنْ يُمْسِي ، فَهُوَ مِنْ أهْلِ الجَنَّةِ ، وَمَنْ قَالَهَا مِنَ اللَّيْلِ ، وَهُوَ مُوقِنٌ بِهَا ، فَمَاتَ قَبْلَ أنْ يُصْبِحَ ، فَهُوَ مِنْ أهْلِ الجَنَّةِ ))

Dari Syadad bin Aus radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Sayyidul Istighfar adalah seorang hamba berdo’a: ” Ya Allah sesungguhnya Engkau adalah Rabb-ku, Tiada Ilah kecuali Engkau, Engkau telah menciptakanku, sedang aku adalah hamba-Mu, aku akan berusaha memenuhi janji-janjiku kepada-Mu sekuat tenagaku, aku berlindung kepada-Mu dari apa perbuatan jelekku, aku mengakui akan nikmat-Mu yang Engkau berikan kepadaku dan aku mengakui juga atas dosa yang pernah aku perbuat, maka ampunilah diriku, sesungguhnya tiada yang mampu mengampuni dosa kecuali Engkau ya Allah.” Barang siapa yang mengucapkan doa ini (yaitu doa sayyidul istihgfar) pada siang hari dengan meyakini isinya, kemudian mati pada hari itu, sebelum datang waktu sore, niscaya dia termasuk ahli surga. Dan barang siapa yang membacanya pada malam hari dengan meyakini isinya, kemudian dia mati sebelum datangnya pagi, niscaya dia termasuk ahli surga” (HR. al-Bukhari, 6306)

(6) Yakin menyebabkan seseorang kuat di dalam melaksanakan ibadah, sabar di dalam penderitaan, bersungguh-sungguh di dalam mengejar surga dan menjauhi neraka. Ini sesuai dengan apa yang disebutkan Ibnu Abi ad-Dunya di dalam Kitab al-Yaqin (hal. 102) bahwa al-Hasan al-Basri pernah berkata, “Saya tidaklah mengejar surga kecuali karena keyakinan. Dan tidaklah lari dari neraka kecuali dengan keyakinan. Dan tidaklah melaksanakan kewajiban kecuali karena keyakinan. Dan tidaklah bersabar di atas kebenaran kecuali karena keyakinan.”

Ini dikuatkan dengan perkataan Sufyan ats-Tsauri, “Seandainya yakin itu masuk ke dalam hati dengan cara yang benar, tentu hati ini akan selalu merindukan surga dan takut terhadap api neraka.” (Ibnu Rajab, Fathu al-Bari)

(7) Yakin menyebabkan seseorang mudah memahami isi al-Qur’an dan mengambil pelajaran darinya. Ini sesuai dengan firman Allah,

هَٰذَا بَصَٰٓئِرُ لِلنَّاسِ وَهُدٗى وَرَحۡمَةٞ لِّقَوۡمٖ يُوقِنُونَ 

Al-Qur’an ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini.” (Qs.al-Jatsiyah: 20)

Ayat di atas menunjukkan bahwa yakin menyebabkan seseorang mampu memahami ayat-ayat al-Qur’an dan mudah dalam mengambil pelajaran darinya.

(8) Yakin menyebabkan seseorang tidak bergantung kepada manusia. Dia serahkan segala urusannya kepada Allah, dan ridha dengan segala ketentuan Allah atas dirinya, walaupun kadang terasa pahit. Berkata Ibnu Rajab (w. 795 H) di dalam Jami’u al-’Ulum wa al-Hikam (2/18),

فمن حقق اليقين وثق بالله في أموره كلها، ورضي بتدبيره له ، وانقطع عن التعلق بالمخلوقين رجاء وخوفًا ، ومنعه ذلك من طلب الدنيا بالأسباب المكروهة

“Barang siapa mampu meraih keyakinan, dia akan mempercayakan kepada Allah seluruh urusannya dan ridha dengan segala keputusan-Nya, serta tidak  berharap dan takut sedikitpun  kepada makhluk. Oleh karenanya, dia tidak akan mau mencari dunia dengan cara-cara yang dibenci.”

(9) Yakin membuat seseorang menjadi pemberani. Karena dia meyakini bahwa ajal berada di Tangan Allah subhanahu wa ta’ala, tidak akan datang kecuali pada waktu yang telah ditentukan oleh Allah di Lauhul Mahfuzh semenjak 50.000 tahun sebelum diciptakan langit dan bumi. Sehingga tidak ada sesuatu yang ditakuti.

(10) Yakin menyebabkan seseorang memiliki angan-angan yang pendek. Berkata Dzun Nun al-Mishri (w.245),

 الْيَقِينُ يَدْعُو إِلَى قَصْرِ الْأَمَلِ، وَقَصْرُ الْأَمَلِ يَدْعُو إِلَى الزُّهْدِ. وَالزُّهْدُ يُورِثُ الْحِكْمَةَ، وَهِيَ تُورِثُ النَّظَرَ فِي الْعَوَاقِبِ

“Yakin menyebabkan seseorang memiliki angan-angan yang pendek. Dan pendek angan-angan menyebabkan seseorang bersikap zuhud. Dan zuhud menyebabkan seseorang memiliki hikmah. Sedangkan hikmah adalah selalu memikirkan akibat dari sebuah perbuatan.” (Ibnu al-Qayyim (w. 751 H), Madariju as-Salikin (2/375), Majdudin Fayruz Abadi (w. 817 H), Basha-ir Dzawi at-Tamyiz (1/1679))

(11) Yakin menyebabkan seseorang rajin beramal. Berkata Luqman al-Hakim kepada anaknya, “Wahai anakku, seseorang tidak akan bisa beramal kecuali karena yakin. Barangsiapa yang yakinnya lemah maka amalnya ikut lemah.” (Ibnu Abi ad-Dunya, Kitab al-Yaqin (46))

(12) Yakin menyebabkan seseorang sering bertafakkur dan tadabbur terhadap ciptaan Allah dan kejadian-kejadian yang ada di muka bumi ini. Ini sesuai dengan firman-Nya,

وَفِي خَلْقِكُمْ وَمَا يَبُثُّ مِنْ دَابَّةٍ آيَاتٌ لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

“Dan pada penciptaan kamu dan pada binatang-binatang yang melata yang bertebaran (di muka bumi) terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk kaum yang meyakini.” (Qs. al-Jatsiyah: 4)

 

V. Perkataan Ulama tentang Yakin

Di bawah ini beberapa perkataan ulama tentang yakin;

(1) Berkata ‘Abdullah bin Mas’ud, “Sebaik-baik apa yang ditanamkan dalam hati adalah yakin. Dan sebaik-baik kekayaan adalah kekayaan hati. Dan sebaik-baik ilmu adalah yang bermanfaat.” (Ath-Thabrani, al-Mu’jam al-Kabir (9/98))

(1) Berkata al-Hasan al-Basri, “Saya tidaklah mengejar surga kecuali karena keyakinan. Dan tidaklah lari dari neraka kecuali dengan keyakinan. Dan tidaklah melaksanakan kewajiban kecuali karena keyakinan. Dan tidaklah bersabar di atas kebenaran kecuali karena keyakinan.” (Ibnu Abi ad-Dunya, Kitab al-Yaqin (hal. 102))

(2) Berkata Sufyan ats-Tsauri, “Seandainya yakin itu masuk ke dalam hati dengan cara yang benar, tentu hati ini akan selalu merindukan surga dan takut terhadap api neraka.” (Ibnu Rajab, Fathu al-Bari). Beliau juga berkata, “Yakin adalah engkau tidak menuduh Tuhanmu ketika engkau mendapatkan musibah.” (Abu Nu’aim, Hilyatu al-Auliya (7/9))

(3) Berkata Sahal, “Seseorang akan mendapatkan keyakinan sesuai dengan kadar ridhanya. Dan kadar ridha seseorang sesuai dengan kadar keinginannya apa yang ada di sisi Allah.” (Ibnu al-Qayyim, Madariju as-Salikin (2/222))

(4) Berkata Dzun Nun al-Mishri (Tsauban bin Ibrahim, w. 245 H),

وَثَلَاثَةٌ مِنْ أَعْلَامِ الْيَقِينِ: قِلَّةُ مُخَالَطَةِ النَّاسِ فِي الْعَشْرَةِ. وَتَرْكُ الْمَدْحِ لَهُمْ فِي الْعَطِيَّةِ. وَالتَّنَزُّهُ عَنْ ذَمِّهِمْ عِنْدَ الْمَنْعِ. وَثَلَاثَةٌ مِنْ أَعْلَامِهِ أَيْضًا: النَّظَرُ إِلَى اللَّهِ فِي كُلِّ شَيْءٍ. وَالرُّجُوعُ إِلَيْهِ فِي كُلِّ أَمْرٍ. وَالِاسْتِعَانَةُ بِهِ فِي كُلِّ حَالٍ.

 “Tiga tanda yakin dalam diri seseorang, yaitu (a) sedikit bergaul dengan manusia, (b) tidak memuji, ketika mereka memberi kepadanya, (c) tidak mencela ketika mereka tidak memberikan sesuatu kepadanya.” Beliau juga mengatakan tiga tanda yakin yang lain; (a) melihat kepada Allah dalam segala sesuatu, (b) kembali kepada-Nya dalam setiap urusan, dan (c) meminta bantuan kepada-Nya setiap keadaan. (bnu al-Qayyim, Madariju as-Salikin (2/375), Majdudin Fayruz Abadi (w. 817 H), Basha-ir Dzawi at-Tamyiz, (1/1680))

(5) Berkata Ibnu al-Qayyim (w. 751 H) di dalam Madariju as-Salikin (2/397), “Tidak sempurna kebaikan seorang hamba di dunia dan akhirat kecuali dengan yakin dan ‘afiyah. Adapun yakin akan menolak siksa akhirat, sedangkan ‘afiyah akan menolak penyakit-penyakit dunia di hati dan badannya.”

(6) Berkata Ibnu Rajab (w. 795 H) di dalam Jami’u al-’Ulum wa al-Hikam (2/18),

فمن حقق اليقين وثق بالله في أموره كلها، ورضي بتدبيره له ، وانقطع عن التعلق بالمخلوقين رجاء وخوفًا ، ومنعه ذلك من طلب الدنيا بالأسباب المكروهة

“Barang siapa mampu meraih keyakinan, dia akan mempercayakan kepada Allah seluruh urusannya dan ridha dengan segala keputusan-Nya, serta tidak  berharap dan takut sedikitpun  kepada makhluk. Oleh karenanya, dia tidak akan mau mencari dunia dengan cara-cara yang dibenci.”

 

***

Bekasi, 29 Oktober 2021

KARYA TULIS