Karya Tulis
269 Hits

Pensucian Jiwa: Bab 14 Tawakkal


 

فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ

“Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: "Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki 'Arsy yang agung" .”

(Qs. at-Taubah: 129)

 

I. Pengertian Tawakkal

Tawakkal secara bahasa berasal dari kata (wakala) yang mengandung arti menyandarkan kepada orang lain di dalam suatu urusan. Seseorang tidak akan mewakilkan sesuatu kepada orang lain kecuali kalau dia percaya bahwa orang tersebut mampu mengerjakan apa yang dia inginkan. Hal ini berlaku jika seseorang mewakilkan urusannya kepada Allah.

Tawakkal secara istilah adalah kepasrahan hati kepada Allah subhanahu wa ta’ala di dalam mendatangkan manfaat dan menolak kemudharatan dalam segala urusan, dan keyakinan yang penuh bahwa tidak ada yang bisa memberi atau melarang, serta memberikan madharat atau manfaat kecuali Allah subhanahu wa ta’ala. Oleh karenanya sesuai dengan kadar keyakinan seorang hamba kepada keagungan, kekuasaan dan kasih sayang Allah; sebesar itulah kadar tawakkalnya kepada Allah.

Beramal dan berusaha secara sungguh-sungguh tidak bertentangan dengan tawakkal, bahkan itu merupakan kesempurnaan tawakkal. Tetapi tidak boleh seseorang menyandarkan kepada usaha tersebut. Diantara dalil bahwa tawakkal itu harus berusaha dengan sungguh-sungguh adalah sebagai berikut;

(1) Firman Allah,

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (Qs. al-Anfal: 60)

Ayat di atas memerintahkan setiap yang bertawakkal kepada Allah untuk berusaha terlebih dahulu mempersiapkan kekuatan sesuai dengan kemampuan.

(2) Firman Allah,

وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا

“Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.” (Qs. Maryam: 25)

Ayat di atas memerintahkan Maryam ‘alaiha as-salam yang ketika itu dalam keadaan lemah karena melahirkan Isa, untuk menggoyangkan pangkal pohon kurma agar buah kurmanya jatuh dan bisa dimakan. Padahal secara logika, wanita yang habis melahirkan tidak memiliki kekuatan untuk menggoyangkan pohon tersebut. Di sini Allah ingin mengajarkan kepadanya dan kepada umat Islam bahwa tawakkal bukan berarti berpangku tangan, tidak bekerja atau berusaha sedikitpun. Akan tetapi tawakkal adalah berusaha sesuai dengan kemampuan, adapun hasil diserahkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

(3) Firman Allah,

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (Qs. al-Jumu’ah: 10)

Ayat di atas memerintahkan umat Islam untuk berpencar mencari rezeki, serta larangan untuk berdiam diri di masjid tanpa bekerja dan berusaha.

 

II. Syarat-syarat Tawakkal

Tawakkal mempunyai beberapa syarat, di antaranya adalah:

(1) Mengetahui tentang Allah dengan asma dan sifat-Nya yang mulia, seperti Maha Mengetahui, Maha Berkuasa, Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

(2) Berikhtiar untuk mendapatkan apa yang diinginkan karena Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan segala sesuatu ada sebab dan akibatnya. Ini sesuai dengan firman-Nya,

إِنَّا مَكَّنَّا لَهُ فِي الْأَرْضِ وَآتَيْنَاهُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ سَبَبًا ۞ فَأَتْبَعَ سَبَبًا ۞

“Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu, maka diapun menempuh suatu jalan.” (Qs. al-Kahfi: 84-85)

(3) Menyandarkan diri sepenuhnya kepada Allah saja, tanpa melihat orang lain sedikitpun. Sebagaimana firman-Nya,

وَيَقُولُونَ طَاعَةٌ فَإِذَا بَرَزُوا مِنْ عِنْدِكَ بَيَّتَ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ غَيْرَ الَّذِي تَقُولُ وَاللَّهُ يَكْتُبُ مَا يُبَيِّتُونَ فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ وَكِيلًا

“Dan mereka (orang-orang munafik) mengatakan: "(Kewajiban kami hanyalah) taat." Tetapi apabila mereka telah pergi dari sisimu, sebahagian dari mereka mengatur siasat di malam hari (mengambil keputusan) lain dari yang telah mereka katakan tadi. Allah menulis siasat yang mereka atur di malam hari itu, maka berpalinglah kamu dari mereka dan tawakal-lah kepada Allah. Cukuplah Allah menjadi Pelindung.” (Qs. an-Nisa’: 81)

Ini dikuatkan dengan firman-Nya,

وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلْ إِلَيْهِ تَبْتِيلًا ۞ رَبُّ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَاتَّخِذْهُ وَكِيلًا ۞

“Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadatlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan. (Dia-lah) Tuhan masyrik dan maghrib, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, maka ambillah Dia sebagai pelindung.” (Qs. al-Muzzammil: 8-9)

(4) Tidak menyandarkan sedikitpun kepada sarana dan fasilitas, serta kekuatan diri maupun orang lain. Sebagaimana firman-Nya,

وَآتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَجَعَلْنَاهُ هُدًى لِبَنِي إِسْرَائِيلَ أَلَّا تَتَّخِذُوا مِنْ دُونِي وَكِيلًا

“Dan Kami berikan kepada Musa kitab (Taurat) dan Kami jadikan kitab Taurat itu petunjuk bagi Bani Israel (dengan firman): "Janganlah kamu mengambil penolong selain Aku.” (Qs. al-Isra’: 2)

Ini dikuatkan dengan hadits Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 

دَعَوَاتُ الْمَكْرُوبِ: اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو فَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ  

 “Doa-doa ketika terkena bencana dan musibah, ‘Wahai Allah, hanya rahmat-Mu yang aku harapkan, maka janganlah Engkau menyerahkan aku kepada diriku sendiri meski hanya sekejap mata dan perbaikilah seluruh urusanku. Tiada Ilah Yang berhak disembah selain Engkau.” (HR. Ahmad dan Abu Daud. Hadist ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahih al-Jami’ (3388))   

(5) Ber-husnuzhan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan meyakini bahwa keputusan-Nya lah yang terbaik serta pasrah dengan keputusan-Nya. Ini sesuai dengan firman-Nya,

 فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (Qs. an-Nisa: 65)

(6) Menyerahkan urusan kepada Allah. Ini sesuai dengan firman-Nya,

فَسَتَذْكُرُونَ مَا أَقُولُ لَكُمْ وَأُفَوِّضُ أَمْرِي إِلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ

“Kelak kamu akan ingat kepada apa yang kukatakan kepada kamu. Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.” (Qs. Ghafir: 44)

Ini sesuai hadits tentang doa sebelum tidur,

عَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا فُلَانُ إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَقُلْ اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ وَوَجَّهْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ فَإِنَّكَ إِنْ مُتَّ فِي لَيْلَتِكَ مُتَّ عَلَى الْفِطْرَةِ وَإِنْ أَصْبَحْتَ أَصَبْتَ أَجْرًا

Dari al-Barra' bin ‘Azib berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Hai fulan, jika engkau mendatangi kasurmu, maka panjatkanlah doa:

“Ya Allah, aku pasrahkan diriku kepada-Mu, dan kuhadapkan wajahku kepada-Mu, dan aku serahkan urusanku kepada-Mu, dan aku sandarkan punggungku kepada-Mu, dengan berharap-harap cemas kepada-Mu, sesungguhnya tidak ada tempat bersandar dan tempat keselamatan selain kepada-Mu, saya beriman kepada kitab-Mu yang Engkau turunkan dan nabi-Mu yang Engkau utus.”

Maka sekiranya engkau meninggal di malam hari, maka engkau meninggal di atas fitrah, dan jika engkau bangun pagi harinya, maka engkau peroleh pahala."  (HR. al-Bukhari, 6934)

(7) Ridha dengan ketetapan Allah.

اللَّهُمَّ الرِّضَا بَعْدَ الْقَضَاءِ وَبَرْدَ الْعَيْشِ بَعْدَ الْمَمَاتِ وَلَذَّةَ نَظَرٍ إِلَى وَجْهِكَ وَشَوْقًا إِلَى لِقَائِكَ مِنْ غَيْرِ ضَرَّاءَ مُضِرَّةٍ وَلَا فِتْنَةٍ مُضِلَّةٍ

“Ya Allah aku mohon keridhaan-Mu setelah selesainya putusan, kebahagiaan hidup setelah kematian dan kelezatan memandang wajah-Mu, kerinduan untuk bertemu dengan-Mu tanpa ada kesulitan dan fitnah.” (HR. an-Nasa’i dan Ahmad. Hadits ini shahih sebagaimana di dalam Shahih al-Jami’ (1/301))

 

III. Keutamaan Tawakkal

(1) Tawakkal merupakan tanda keimanan seseorang. Ini sesuai dengan firman-Nya,

قَالَ رَجُلَانِ مِنَ الَّذِينَ يَخَافُونَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمَا ادْخُلُوا عَلَيْهِمُ الْبَابَ فَإِذَا دَخَلْتُمُوهُ فَإِنَّكُمْ غَالِبُونَ وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Berkatalah dua orang diantara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya: "Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman" .” (Qs. al-Maidah: 23)

Ini dikuatkan dengan firman-Nya,

 إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.”  (Qs. al-Anfal: 2)

(2) Tawakkal merupakan setengah agama. Hal itu karena agama itu berisi dua hal, yaitu: ibadah dan isti’anah. Isti’anah inilah yang disebut dengan tawakkal kepada Allah. Dua hal ini tersebut di dalam firman-Nya,

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya kepada Engkau kami menyembah dan hanya kepada Engkau kami memohon pertolongan.” (Qs. al-Fatihah: 4)

Ayat di atas menunjukkan dua hal yang merupakan inti agama, yaitu: ibadah dan isti’anah (tawakkal).

Ini dikuatkan dengan firman Allah,

قَالَ يَا قَوْمِ أَرَأَيْتُمْ إِنْ كُنْتُ عَلَى بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّي وَرَزَقَنِي مِنْهُ رِزْقًا حَسَنًا وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَى مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ

“Syu'aib berkata: "Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan dianugerahi-Nya aku dari pada-Nya rezeki yang baik (patutkah aku menyalahi perintah-Nya)? Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali. (Qs. Hud: 88)

Ayat di atas menunjukkan dua hal yang merupakan inti agama, yaitu: tawakkal dan ‘inabah (ibadah).

Ini dikuatkan dengan firman-Nya,

وَلِلَّهِ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَإِلَيْهِ يُرْجَعُ الْأَمْرُ كُلُّهُ فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

“Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka beribadahlah dan bertawakkal-lah kepada-Nya. Dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.” (Qs. Hud; 123)

Ayat di atas menunjukkan dua hal yang merupakan inti agama, yaitu: ibadah dan tawakkal.

Ini dikuatkan dengan firman-Nya,

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِهِ وَكَفَى بِهِ بِذُنُوبِ عِبَادِهِ خَبِيرًا

“Dan bertawakkal-lah kepada Allah yang hidup (kekal) Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya.” (Qs. al-Furqan: 58)

Ini dikuatkan dengan hadits Muadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

اللَّهُمَّ أعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Ya Allah, tolong aku untuk selalu menyebut nama-Mu, bersyukur kepada-Mu dan beribadah yang baik untuk-Mu.” (Hadits Shahih. HR. Abu Daud, an-Nasai, dan Ahmad) 

Hadits di atas menunjukkan dua hal yang merupakan inti agama, yaitu: meminta pertolongan (tawakkal) dan ibadah.

(3) Tawakkal merupakan doa para nabi dan orang-orang beriman. Sebagaimana di dalam firman-Nya,

 رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ

“(Ibrahim berkata): "Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali".” (Qs. al-Mumtahanah: 4)

Ini dikuatkan dengan hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu,

عن ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ مِنْ اللَّيْلِ يَتَهَجَّدُ قَالَ اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ وَلَكَ الْحَمْدُ لَكَ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ نُورُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ مَلِكُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ الْحَقُّ وَوَعْدُكَ الْحَقُّ وَلِقَاؤُكَ حَقٌّ وَقَوْلُكَ حَقٌّ وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ وَالنَّبِيُّونَ حَقٌّ وَمُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقٌّ وَالسَّاعَةُ حَقٌّ اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ فَاغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَوْ لَا إِلَهَ غَيْرُكَ

“Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bila berdiri melaksanakan shalat malam, Beliau memulainya dengan membaca doa (istiftah): "Ya Allah bagi-Mu lah segala pujian. Engkau-lah Yang Maha Memelihara langit dan bumi serta apa yang ada pada keduanya. Dan bagi-Mu lah segala pujian, milik-Mu kerajaan langit dan bumi serta apa yang ada pada keduanya. Dan bagi-Mu segala pujian, Engkau cahaya langit dan bumi dan apa yang ada pada keduanya. Dan bagi-Mu segala pujian, Engkaulah Raja di langit dan di bumi serta apa yang ada pada keduanya. Dan bagi-Mu lah segala puian, Engkau-lah Al-Haq (Yang Maha Benar), dan janji-Mu haq (benar adanya), dan perjumpaan dengan-Mu adalah benar, firman-Mu benar, surga adalah benar, neraka adalah benar, dan para nabi-Mu benar, Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam benar dan hari kiamat benar. Ya Allah, kepada-Mu lah aku berserah diri, kepada-Mu lah aku beriman, kepada-Mu lah aku bertawakal, kepada-Mu lah aku bertaubat (kembali), karena hujah yang Kau berikan kepadaku aku memusuhi siapapun yang menentang (syariat-Mu) dan kepada-Mu aku berhukum. Ampunilah aku dari dosa yang lalu maupun yang akan datang, yang aku sembunyikan atau yang aku tampakkan. Engkaulah yang Awal dan yang Akhir dan tidak ada ilah yang berhak disembah selain Engkau atau tidak ada ilah selain-Mu.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

 

IV. Manfaat Tawakkal

Bertawakkal kepada Allah mempunyai banyak manfaat bagi seorang muslim. Manfaat ini disebutkan di dalam al-Qur’an dan as-Sunnah, di antaranya:

(1) Allah akan meluaskan rezekinya. Ini sesuai dengan hadits,

عن عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ إِنَّهُ سَمِعَ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

“’Umar bin al-Khaththab menerangkan bahwa dia mendengar Nabiyullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Jika kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakkal, niscaya Dia akan memberikan rezeki kepada kalian, sebagaimana Dia telah memberikan rezeki kepada burung yang berangkat di pagi hari dalam keadaan kosong dan kembali dalam keadaan kenyang".” (HR. Ahmad. Dishahihkan oleh al-Albani.)

Dikisahkan bahwa Hatim al-Asham (w. 237 H) seorang ulama zuhud dari Khurasan yang pernah bertemu dengan Imam Ahmad bin Hanbal. Suatu ketika beliau berniat untuk pergi haji selama satu tahun dan memberitahukan kepada anak-anaknya. Kemudian anak-anaknya menangis dan menanyakan siapa yang akan membiayai hidup kami selama satu tahun?

Di antara mereka ada seorang anak perempuan yang membawa berkah, memiliki keimanan dan tawakkal yang tinggi kepada Allah subhanahu wa ta’ala, “Biarkan bapak pergi. Beliau bukan yang memberikan rezeki kepada kita.” Sikap anak perempuan itu dikecam oleh sebagian saudara-saudaranya yang lain. Kemudian anak perempuan itu berdoa, “Ya Allah, janganlah Engkau permalukan saya di depan mereka.”

Pada suatu hari, penguasa wilayah itu melewati rumah mereka dan mengatakan, “Saya sedang kehausan, membutuhkan air. Coba minta kepada penghuni rumah ini.” Kemudian anak-anak Hatim al-Asham memberikan air dingin di dalam cangkir baru kepada penguasa tersebut, sehingga diminumnya. Penguasa itu bertanya, “Rumah siapa ini?” para pengawalnya mengatakan, “Itu rumahnya Hatim al-Asham.” Mendengar jawaban itu, penguasa itu melempar seikat emas ke dalam rumah Hatim al-Asham, dan berkata, “Barangsiapa di antara kalian yang ingin mengikuti apa yang aku perbuat, silakan.” Maka para pengawal ikut melempar beberapa harta yang mereka miliki ke dalam rumah tersebut.

Melihat kejadian tersebut, anak perempuan yang shalihah tadi menangis. Ditanya oleh keluarganya, “Apa yang membuat engkau menangis, padahal Allah memberikan rezeki yang banyak kepada kita?” Anak perempuan itu menjawab, “Soerang makhluk yang melihat rumah kita bisa mencukupi rezeki kita. Bagaimana kalau yang melihat itu adalah Allah subhanahu wa ta’ala.”

Suatu ketika Hatim al-Asham ditanya, “Bagaimana engkau bisa mencapai derajat tawakkal seperti ini?” Beliau menjawab, “Saya meyakini bahwa rezeki saya tidak akan dimakan oleh orang lain, maka saya tidak peduli dengan rezeki tersebut. Dan saya meyakini bahwa amal saya tidak akan dikerjakan orang lain, maka saya sibuk beramal. Dan saya meyakini bahwa kematian itu akan datang mendadak, maka saya mendahuluinya dengan amal. Dan saya meyakini bahwa Allah selalu mengawasiku dalam setiap keadaan, maka saya selalu merasa diawasi oleh-Nya.”

(2) Allah akan memberikan kecukupan. Sebagaimana firman-Nya,

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (Qs. ath-Thalaq: 3)

Ini dikuatkan dengan hadits dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu,

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ } حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ { قَالَهَا إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَام حِينَ أُلْقِيَ فِي النَّارِ وَقَالَهَا مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ قَالُوا } إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ {

“Dari Ibnu 'Abbas: Hasbunallah wa ni'mal wakil adalah ucapan Ibrahim ‘alaihi as-salam ketika di lemparkan ke api. Juga diucapkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ketika orang-orang kafir berkata; "Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka", maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: "Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung (Qs. Ali Imran: 173). (HR. al-Bukhari, 4179)

(3) Dijauhkan dari penguasaan syaithan. Ini sesuai dengan firman-Nya,

 إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya. (Qs. an-Nahl: 99)

Ini dikuatkan dengan hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu,

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا خَرَجَ الرَّجُلُ مِنْ بَيْتِهِ فَقَالَ بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ قَالَ يُقَالُ حِينَئِذٍ هُدِيتَ وَكُفِيتَ وَوُقِيتَ فَتَتَنَحَّى لَهُ الشَّيَاطِينُ فَيَقُولُ لَهُ شَيْطَانٌ آخَرُ كَيْفَ لَكَ بِرَجُلٍ قَدْ هُدِيَ وَكُفِيَ وَوُقِيَ

Dari Anas bin Malik bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Jika seorang laki-laki keluar dari rumahnya lalu mengucapkan: (Dengan nama Allah aku bertawakal kepada Allah, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan izin Allah). Beliau bersabda: "Maka pada saat itu akan dikatakan kepadanya, 'Kamu telah mendapat petunjuk, telah diberi kecukupan dan mendapat penjagaan', hingga setan-setan menjauh darinya. Lalu setan yang lainnya berkata, "Bagaimana (engkau akan menggoda) seorang laki-laki yang telah mendapat petunjuk, kecukupan dan penjagaan." (HR. Abu Daud, 4431 dan at-Tirmidzi, 3348, beliau berkata: hadis ini adalah hadis hasan shahih gharib.)

(4) Tawakkal membuat seseorang menjadi mulia. Ini sesuai dengan firman Allah,

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Qs. al-Anfal: 49)

(5) Allah akan mencintai orang yang bertawakkal. Ini sesuai dengan firman-Nya,

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkal-lah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (Qs. Ali Imran: 159)

(6) Tawakkal menyebabkan seseorang masuk surga tanpa hisab. Ini sesuai dengan hadits,

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ خَرَجَ عَلَيْنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا فَقَالَ عُرِضَتْ عَلَيَّ الْأُمَمُ فَجَعَلَ يَمُرُّ النَّبِيُّ مَعَهُ الرَّجُلُ وَالنَّبِيُّ مَعَهُ الرَّجُلَانِ وَالنَّبِيُّ مَعَهُ الرَّهْطُ وَالنَّبِيُّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ وَرَأَيْتُ سَوَادًا كَثِيرًا سَدَّ الْأُفُقَ فَرَجَوْتُ أَنْ تَكُونَ أُمَّتِي فَقِيلَ هَذَا مُوسَى وَقَوْمُهُ ثُمَّ قِيلَ لِي انْظُرْ فَرَأَيْتُ سَوَادًا كَثِيرًا سَدَّ الْأُفُقَ فَقِيلَ لِي انْظُرْ هَكَذَا وَهَكَذَا فَرَأَيْتُ سَوَادًا كَثِيرًا سَدَّ الْأُفُقَ فَقِيلَ هَؤُلَاءِ أُمَّتُكَ وَمَعَ هَؤُلَاءِ سَبْعُونَ أَلْفًا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ فَتَفَرَّقَ النَّاسُ وَلَمْ يُبَيَّنْ لَهُمْ فَتَذَاكَرَ أَصْحَابُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا أَمَّا نَحْنُ فَوُلِدْنَا فِي الشِّرْكِ وَلَكِنَّا آمَنَّا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَلَكِنْ هَؤُلَاءِ هُمْ أَبْنَاؤُنَا فَبَلَغَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ هُمْ الَّذِينَ لَا يَتَطَيَّرُونَ وَلَا يَسْتَرْقُونَ وَلَا يَكْتَوُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ فَقَامَ عُكَّاشَةُ بْنُ مِحْصَنٍ فَقَالَ أَمِنْهُمْ أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ نَعَمْ فَقَامَ آخَرُ فَقَالَ أَمِنْهُمْ أَنَا فَقَالَ سَبَقَكَ بِهَا عُكَاشَةُ

“Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu 'anhuma dia berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam keluar menemui kami lalu beliau bersabda: "Telah ditampakkan kepadaku umat-umat, maka aku melihat seorang Nabi lewat bersama satu orang, seorang Nabi bersama dua orang saja, seorang Nabi bersama sekelompok orang dan seorang Nabi tanpa seorang pun bersamanya. Lalu tiba-tiba ditampakkan kepadaku kumpulan manusia yang banyak memenuhi ufuk, aku berharap mereka adalah umatku, namun dikatakan padaku; 'Ini adalah Musa dan kaumnya, lalu di katakan pula kepadaku; Tapi lihatlah di ujung sebelah sana.' Ternyata aku melihat ada sekumpulan orang yang sangat banyak, kemudian dikatakan lagi padaku; 'Lihat juga yang sebelah sana.' Ternyata aku juga melihat ada sekumpulan orang yang sangat banyak lagi, lalu dikatakan padaku; 'Ini adalah umatmu, dan bersama mereka ada tujuh puluh ribu orang yang akan masuk surga tanpa hisab." Setelah itu orang-orang bubar dan belum sempat ada penjelasan kepada mereka, sehingga para sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam saling membicarakan hal itu, mereka berkata; "Adapun kita dilahirkan dalam kesyirikan akan tetapi kita beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mungkin mereka adalah para anak cucu kita." Lantas peristiwa tersebut sampai kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda: "Mereka itu adalah orang-orang yang tidak pernah bertathayur (menganggap sial sesuatu hingga tidak jadi beramal), tidak pernah meminta untuk diruqyah dan tidak mau menggunakan Kay (pengobatan dengan besi panas), dan kepada Tuhan merekalah mereka bertawakkal." Lalu Ukasyah bin Mihshan berdiri dan berkata; "Apakah aku termasuk di antara mereka, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Ya." Kemudian yang lainnya berdiri lalu bertanya; "Apakah aku juga termasuk di antara mereka?" Beliau menjawab: "Ukasyah telah mendahuluimu dalam hal ini".” (HR. al-Bukhari, 5311)

 

V. Kisah Tawakkal

Dikisahkan bahwa Ahmad Thulun, salah satu gubernur Mesir yang sangat zhalim. Bahkan diriwayatkan dia pernah membunuh 18.000 ribu orang dengan cara memutuskan pasokan makanan dan membiarkan mereka dalam kelaparan sampai mati. Mendengar hal itu, seorang ulama yang sangat zuhud bernama Abu al-Hasan az-Zahid mendatangi Ahmad Thulun untuk memberikan nasehat dan mengatakan, “Wahai Ahmad Thulun, anda telah berbuat jahat dan melakukan kezhaliman terhadap rakyat. Takutlah kepada Allah.”

Seketika itu juga Ahmad Thulun sangat murka kepadanya dan menyuruh pengawalnya untuk melepaskan singa yang kelaparan agar menerkam Abu al-Hasan. Ajaibnya singa tersebut ragu-ragu mendekati Abu al-Hasan, padahal dia hanya duduk tidak bergerak sedikit pun. Lama kelamaan singa tersebut menundukkan kepalanya, mendekati dan mencium tubuh Abu al-Hasan lalu pergi begitu saja tanpa mencelakai beliau sedikit pun.

Ahmad Thulun sangat terkejut melihat kejadian itu lalu memanggil Abu al-Hasan dan bertanya, “Apa yang kamu pikirkan ketika singa itu mendekatimu?”

Abu al-Hasan menjawab, “Saya sedang berpikir tentang status air liur singa, apakah najis atau suci. jika singa itu menjilatku.”

Ahmad Thulun bertanya lagi, “Apakah kamu tidak takut terhadap singa itu?”

Abu al-Hasan menjawab, “Saya tidak takut dengan singa itu. Karena sesungguhnya Allah telah menjagaku dari singa tersebut. Allah berfirman,

أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ وَيُخَوِّفُونَكَ بِالَّذِينَ مِنْ دُونِهِ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ

“Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya. Dan mereka menakut-takuti kamu dengan (sembahan-sembahan) yang selain Allah? Dan siapa yang disesatkan Allah maka tidak seorangpun pemberi petunjuk baginya.” (Qs. az-Zumar: 36)

Ini dikuatkan dengan firman-Nya,

وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

“Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (Qs. at-Thalaq: 3)

 

***

 Bekasi, 23 Oktober 2021

KARYA TULIS