Karya Tulis
22 Hits

Tafsir An-Najah (Qs. Al-Baqarah: 30) Bab 25


 

PERTANYAAN MALAIKAT

 

وَإِذۡ قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٞ فِي ٱلۡأَرۡضِ خَلِيفَةٗۖ قَالُوٓاْ أَتَجۡعَلُ فِيهَا مَن يُفۡسِدُ فِيهَا وَيَسۡفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَۖ قَالَ إِنِّيٓ أَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ٣٠  

 

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".” (Qs. Al-Baqarah: 30)

 

(1)   Pemberitahuan Kepada Malaikat

Sebelum menciptakan Nabi Adam, Allah memberitahukan hal itu kepada malaikat, sebagaimana dalam firman-Nya,

وَإِذۡ قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ

Adapun nama “malaikat” (امَلَٰٓئِكَة) adalah jama’ dari “malakun(مَلَكٌ). Sebagian mengatakan bahwa (مَلآئكَة) berasal dari (لأك)  yang berarti (أرسل) mengutus. Jadi malaikat adalah makhluk yang diutus mirip dengan Rasul. Maka makna (ألوكة)  Al-Alukah adalah utusan (الرسالة).

Allah memberitahukan kepada malaikat bahwa Dia akan menciptakan seorang khalifah di muka bumi. Di muka bumi disana bersifat umum, tetapi akan diturunkan di daerah mana? Para ulama menyebutkan akan diturunkan di Makkah. Oleh karenanya, kata Makkah disebut Ummul Qura, induknya kota-kota.

 

(2)   Makna Khalifah

Khalifah berasal dari kata خَلَفٌ (kholafun) atau خَلْفٌ  (kholfun), yang artinya belakang atau orang yang datang sesudahnya (pengganti) atau diartikan generasi.

Jika disebut خَلَفٌ (kholafun) artinya generasi yang baik. Tetapi jika disebut خَلْفٌ  (kholfun) artinya generasi yang buruk.

Ini sebagaimana firman-Nya,

فَخَلَفَ مِنۢ بَعۡدِهِمۡ خَلۡفٌ أَضَاعُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَٱتَّبَعُواْ ٱلشَّهَوَٰتِۖ فَسَوۡفَ يَلۡقَوۡنَ غَيًّا ٥٩ 

Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan,” (Qs. Maryam: 59)

 

Adapun yang dimaksud khalifah dalam ayat ini adalah Nabi Adam. Nabi Adam disini sebagai khalifatullah. Pengganti Allah dalam melaksanakan perintah-perintah-Nya di muka bumi. Beliau juga sebagai utusan (Rasul) pertama yang diciptakan Allah di muka bumi.

Nabi Adam pun nantinya akan diganti oleh generasi sesudahnya. Dan generasi sesudahnya akan diganti generasi selanjutnya dan begitu seterusnya sampai hari kiamat. Ini juga salah satu makna khalifah di muka bumi.

Allah berfirman,

وَهُوَ ٱلَّذِي جَعَلَكُمۡ خَلَٰٓئِفَ ٱلۡأَرۡضِ وَرَفَعَ بَعۡضَكُمۡ فَوۡقَ بَعۡضٖ دَرَجَٰتٖ لِّيَبۡلُوَكُمۡ فِي مَآ ءَاتَىٰكُمۡۗ إِنَّ رَبَّكَ سَرِيعُ ٱلۡعِقَابِ وَإِنَّهُۥ لَغَفُورٞ رَّحِيمُۢ ١٦٥  

Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-An’am: 165)

 

Abu Bakar Ash Shidiq disebut sebagai (Khalifatu Rasulullah) karena beliau diangkat untuk mengganti Rasulullah sebagai pemimpin umat Islam dan imam sholat.

Khalifah secara Bahasa untuk zaman sekarang bisa dipakai untuk menyebut “pejabat sementara” atau pemimpin pengganti dari pemimpin sebelumnya.

Sebagian ulama menjadikan ayat ini sebagai dalil wajibnya umat Islam mengangkat seorang pemimpin (khalifah) yang ditaati dan didengar dalam menyatukan barisan umat Islam dan menerapkan hukum syariat di dalam kehidupan sehari-hari.

 

Di antara dalil yang menguatkan pendapat ini adalah sebagai berikut:

1. Firman Allah,

يَٰدَاوُۥدُ إِنَّا جَعَلۡنَٰكَ خَلِيفَةٗ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَٱحۡكُم بَيۡنَ ٱلنَّاسِ بِٱلۡحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ ٱلۡهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَضِلُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ لَهُمۡ عَذَابٞ شَدِيدُۢ بِمَا نَسُواْ يَوۡمَ ٱلۡحِسَابِ ٢٦  

Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.” (Qs. Shad: 26)

2. Firman Allah,

 وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَيَسۡتَخۡلِفَنَّهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ كَمَا ٱسۡتَخۡلَفَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمۡ دِينَهُمُ ٱلَّذِي ٱرۡتَضَىٰ لَهُمۡ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّنۢ بَعۡدِ خَوۡفِهِمۡ أَمۡنٗاۚ يَعۡبُدُونَنِي لَا يُشۡرِكُونَ بِي شَيۡـٔٗاۚ وَمَن كَفَرَ بَعۡدَ ذَٰلِكَ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ ٥٥  

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (Qs. An-Nur: 55)

 

(3)   Pertanyaan Malaikat

قَالُوٓاْ أَتَجۡعَلُ فِيهَا مَن يُفۡسِدُ فِيهَا وَيَسۡفِكُ ٱلدِّمَآءَ

Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah,

Sebagian orang tidak bisa memahami maksud perkataan malaikat di atas, khususnya orang-orang yang hidup di zaman sekarang. Bahkan sebagian dari mereka sangat lancang dengan mengatakan bahwa malaikat mengkritik  rencana Allah yang ingin menciptakan khalifah di muka bumi. Mereka memposisikan malaikat sebagai oposisi dan memposisikan Allah sebagai pemimpin yang demokratis, mau mendengar masukan dari malaikat. Nau’dzubillah. Semoga Allah menjauhkan kita dari penafsiran menyimpang seperti ini.

 

Perlu diketahui bahwa malaikat tidak mungkin lancang kepada Allah karena dua hal:

1. Mereka tidak punya ilmu kecuali yang Allah ajarakan kepada mereka.

Allah berfirman,

قَالُواْ سُبۡحَٰنَكَ لَا عِلۡمَ لَنَآ إِلَّا مَا عَلَّمۡتَنَآۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡعَلِيمُ ٱلۡحَكِيمُ ٣٢  

“Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana".” (Qs. Al-Baqarah: 32)

2. Mereka tidak mungkin mendahului Allah dengan perkataan.

Allah berfirman,

لَا يَسۡبِقُونَهُۥ بِٱلۡقَوۡلِ وَهُم بِأَمۡرِهِۦ يَعۡمَلُونَ ٢٧  

mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya.” (Qs. Al-Anbiya’: 27)

 

Adapun maksud perkataan para malaikat pada ayat di atas, para ulama berbeda pendapat dalam menafsirkannya.

Pertama: Malaikat mengira bahwa manusia keturunan Nabi Adam akan membuat kerusakan di muka bumi. Maka mereka bertanya kepada Allah, bukan mengkritik. Kemudian Allah menjelaskan bahwa tidak semua manusia membuat kerusakan di muka bumi.

Kedua: Malaikat pernah melihat dan mengetahui bahwa dahulu di muka bumi pernah ada makhluk yang bernama jin telah membuat kerusakan di dalamnya dan menumpahkan darah. Oleh karenanya malaikat bertanya kepada Allah apakah manusia ini akan berbuat seperti perbuatan jin yang membuat kerusakan.

Ketiga: Allah telah memberitahu sebelumnya kepada Malaikat bahwa Dia akan menciptakan manusia dan menjadikannya khalifah di muka bumi dan sebagian mereka akan membuat kerusakan di dalamnya. Seakan-akan malaikat ingin bertanya, apa hakikat dibalik itu.

 

Ketiga pendapat di atas isinya hampir sama satu dengan yang lainnya. Intinya malaikat bertanya kepada Allah tentang penciptaan manusia dan hikmah dijadikannya sebagai khalifah di muka bumi.

Dari pertanyaan itu Allah menjawab dengan mengajarkan Nabi Adam nama-nama benda yang malaikat tidak mengetahuinya. Hal itu untuk menunjukkan bahwa dengan bekal ilmu, bumi akan diperbaiki dan dijauhkan dari kerusakan.

 

***

Ahmad Zain An-Najah

KARYA TULIS