Penulis
2356 Hits

Belajar Dari Sebuah Buku

Ketika saya keluar dari ruangan menuju masjid, terlihat di depan saya sebuah buku : “ Belajarlah dari Alam dan Zaman, karya Dr. Aidh Qarni, yang judul aslinya dalam bahasa arab adalah : “Hakadza Hadatsana az- Zaman. “ Sepulangnya dari masjid, buku tersebut saya buka untuk mengetahui isinya, seperti yang saya duka sebelumnya, buku tersebut merupakan kumpulan dari hasil renungan Dr. Aidh Qarni ketika beliau melihat atau memperhatikan sesuatu dari alam ini. Renungan tersebut beliau tuangkan dalam bentuk tulisan-tulisan dengan judul yang berbeda-beda, kemudian menjadi sebuah buku yang enak di baca. Buku-buku beliau yang pernah saya baca seperti La Tahzan ( Janganlah Bersedih ) yang sangat terkenal dan menjadi best seller dunia tersebut, ternyata hanyalah sebuah renungan dari beberapa peristiwa, kemudian didukung dengan beberapa ayat dan hadist, tulisan-tulisan tersebut di susun dengan judul yang terpisah-pisah juga, yang mungkin satu dengan yang lainnya tidak ada kaitannya, kemudian disusun sedemikian pula, sehingga menjadi buku yang enak di baca.

 Saya berpikir, nampaknya beliau menulis  banyak buku dengan cara seperti itu. Cara menulis yang mudah, tanpa dibebani dengan membuka-buka lembaran-lembaran buku referensi, apalagi buku-buku yang berat semacam buku-buku turast dari berbagai displin ilmu, yang sering membuat rambut rontok, karena kepala menjadi panas, dan membuat orang harus berkonsentrasi penuh, tidak bisa dipotong dengan pembicaraan apalagi dengan gurau. Memang tulisan yang ilmiyah sangatlah penting...tetapi pada saat-saat tertentu dimana kita tidak bisa konsentrasi dan capai karena banyaknya kegiatan, maka penulisan gaya Dr. Aidh Qarni merupakan sebuah alternatif, tanpa mengurangi bobot tulisan tersebut.

Apa saja manfaat yang bisa diambil  dari tulisan ringan ?

Pertama : memanfaatkan waktu dalam keadaan tidak fit, karena jika otak sedang tidak fresh dan badan capai, kemudian dipaksa untuk menulis sesuatu  berat dan ilmiyah, selain tidak efektif dan tidak menghasilkan sesuatu yang maksimal, juga membahayakan otak itu sendiri. Sering orang stress dan tertekan, serta cepat emosi karena mendapat masalah seperti ini.

Kedua : memanfaatkan waktu yang sempit dan tanggung, karena dalam keadaan seperti itu. Sangat sulit untuk menulis sesuatu yang berat.

Ketiga : otak kita terus dilatih untuk berpikir walau dalam keadaan capai, dengan banyak menulis insya Allah otak dan badan kita semakin sehat.

Keempat : sebagai bentuk merenungi kehidupan ini, dan mengambil pelajaran dari kejadian yang ada di sekitar kita. Inilah sebenarnya hakikat orang cerdik cendikiawan atau dikenal dalam Al Qur’an dengan istilah Ulul Albab, yaitu orang-orang yang selalu memikirkan ciptaan Allah, dan pergantian siang dan malam, kemudian dijadikan sebagai pelajaran dalam hidup ini.

Kelima: ada hasil yang di dapat dari menulis tersebut, paling tidak goresan pena yang bisa dibaca, direnungi dan diambil pelajarannya.

Selasa, 20 April 2010, Bekasi jam 16.11 sore hari