Penulis
1245 Hits

Negara yang Kuat Harus Didasari Fanatisme Agama


Direktur Pusat Kajian Fiqih dan Ilmu-ilmu Keislaman (PUSKAFI) Dr. Ahmad Zain An-Najah, MA mengatakan untuk memiliki negara yang kuat, suatu pemerintahan harus membangun jiwa korsa atau ikatan emosional yang kuat di dalam masyarakatnya.

“Ibnu Khaldun mengatakan untuk menguasai sebuah negara dibutuhkan sebuah fanatism, kefanatikkan yang kuat, suatu ikatan emosional yang kuat. Kefanatikan yang kuat itu hanya bisa dibangun dilandasi agama,” ujarnya menelaah pemikiran politik Ibnu Khaldun dalam Pengajian Politik Islam (PPI) di Masjid Al-Azhar, Kebayoran baru, Jakarta, Minggu (26/1/2014).

Lanjut Zain, suatu kelompok yang memiliki satu ikatan agama akan memiliki visi dan misi yang kuat. Namun, berbeda jika ikatan tersebut dibangun selain oleh emosional agama.

“Kalau dibangun dengan kepentingan-kepentingan lain, pasti cepat hancur dan tidak akan kuat karena sifatnya hanya sesaat. Tapi, jika diikat dengan emosional agama, maka akan kuat karena sampai akhirat. Memenangkan apa saja jika dibangun ikatan emosional agamanya, pasti akan kuat,” tegasnya.

Sedangkan, menurutnya, yang mampu membangun kekuatan ikatan hati hanyalah Allah SWT, seperti diterangkan dalam al-Qur’an surat al-Anfal: 63.

“Maka, di sini jangan lepas dari Allah Subhanahu wa ta’aala,” tutur Zain.

Lebih dari itu, Zain mengatakan kekuatan yang paling mendasar dan tidak mudah dikoyak-koyak oleh musuh itu adalah kekuatan aqidah. “Maka bangunlah kekuatan politik dengan kekuatan agama,” tukasnya.

Ia mencontohkan dalam perang Qadisiyah bagaimana kekuatan agama dapat memenangkan kaum Muslimin dalam menghadapi Persia.

“Pasukan Persia ketika itu berjumlah 130 ribu sedangkan pasukan Islam hanya 30 ribu, tapi menang. Kenapa? Karena memiliki kekuatan keyakinan agama itu, ukhuwah Islamiyah,” papar Zain.

Selain itu, peristiwa serupa juga dapat dilihat dalam perang Yarmuk ketika umat Islam menghadapi pasukan Romawi yang jumlahnya 140 ribu, sedangkan umat Islam tidak sampai 30 ribu.

“Dalam perang Yarmuk menang juga, karena dibangun oleh kekuatan agama. Berbeda bila dibangun dengan kekuatan selain agama, orang akan rebutan kekuasaan, saling berbeda kepentingan dan akan hancur,” jelas Zain.

Sehingga, menurut Zain, kelompok yang paling kuat adalah umat Islam di antara kelompok lainnya. Ia menyarankan kepada elemen gerakan Islam untuk memperhatikan aspek kekuatan agama ini, agar dapat memenangkan Islam.

“Maka, untuk memenangkan Islam harus bisa memicu emosional umat Islam,” pungkasnya. (kiblat.net)