Tsaqafah
376 Hits

Khutbah Idul Adha 1439H / 2018 M


 

Khutbah Idul Adha 1439 H

Masjid BabutTaubah, Kemang Pratama, Bekasi

 

Tawakkal Mendatangkan Pertolongan Allah

 

Dr. Ahmad Zain An-Najah, MA

 

 

إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بالله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إله إلا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

يَاأَيُّهاَ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ الله كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

للَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

أمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ الله وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه و سلم وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ.

اللَّهُ أَكْبَرُ ، اللَّهُ أَكْبَرُ ، لا إله إلا الله ، اللَّهُ أَكْبَرُ ، اللَّهُ أَكْبَرُ ولله الحمد...  اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا لا إله إلا الله ، اللَّهُ أَكْبَرُ ، اللَّهُ أَكْبَرُ ولله الحمد وَلَا نَعْبُدُ إلَّا اللَّهَ مُخْلِصِينَ له الدَّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

 

Ma’asyiral Muslimin...

 

Pada pagi hari yang cerah dan penuh berkah ini... Pagi hari yang bertepatan dengan hari raya Idul Adha, di mana seluruh kaum muslimin merayakannya,  sementara itu sebagian dari saudara kita di tanah suci sedang melaksanakan ibadah Haji Akbar....

 

Pada pagi yang berbahagia ini, marilah kita tingkatan rasa syukur kita kepada Allah atas segala nikmat-Nya yang dilimpahkan kepada kita, nikmat sehat dan kesempatan sehingga kita bisa hadir di sini melaksanakan sholat Idul Adha berjama’ah, mudah-mudahan langkah kita diberkahi oleh Allah Amien. Tidak lupa, kita bersyukur juga kepada Allah atas nikmat yang paling besar dalam hidup kita, yaitu nikmat Iman dan Islam. Nikmat hidayah, hidup di atas jalan kebenaran yang tidak mungkin digantikan dengan apapun dari kehidupan dunia ini. Allah berfirman,

 

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

 

“ Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu. “ (Qs. al-Maidah: 3)

 

Oleh karena itu, marilah kita senantiasa meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah dengan sejenak merenungi kisah Nabi Ibrahim yang tersebut di dalam al-Qur’an, khususnya ketika beliau meninggalkan anaknya di lembah yang gersang, tiada air dan tumbuh-tumbuhan yang dikemudian hari di lembah ini dibangun Ka'bah, Kiblat kaum muslimin.  Kisah ini tersebut di dalam surat Ibrahim ayat 35- 39, yang bisa diringkas dalam beberapa poin di bawah ini :

 

(1). Tauhid membawa Rasa Aman.

 

وإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ

 

“ Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.” (Qs. Ibrahim: 35)

 

Kisah ini dimulai dengan permohonan Nabi Ibrahim kepada Allah Sang Pencipta, agar Negeri Mekkah ini dijadikan negri yang aman dan tentram, serta bahagia penduduknya.

 

Rasa aman adalah kebutuhan pokok hidup manusia. Tanpa rasa aman, hidup manusia menjadi hambar tidak bermakna, harta yang melimpah tiada arti baginya, bahkan kesehatan-pun akan mulai sirna, jika perasaan cemas selalu menghantuinya. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita do’a meminta rasa aman di dalam hidup ini, sebagaimana di dalam hadits Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alahi wa salam berdoa,

 

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي وَمَالِي

 

“ Ya Allah, saya memohon kepada-Mu, keselamatan di dunia dan akherat, Ya Allah saya memohon kepada-Mu, ampunan dan keselamatan dalam agamaku, duniaku, keluargaku, dan hartaku “ ( HR. Abu Daud, Shahih)

 

Setelah memohon keamanan di negrinya, Nabi Ibrahim memohon kepada Allah agar dirinya dan keluarganya serta anak keturunannya dijauhkan dari kesyirikan (menyembah berhala), karena perbuatan syirik adalah kezaliman yang besar dan akan mengakibatkan kesengsaraan dunia dan akherat.

 

Nabi Ibrahim di dalam do’a ini menggabungkan antara rasa aman dengan tauhid. Seakan-akan beliau hendak berpesan kepada umat Islam dan seluruh manusia bahwa syarat untuk mendapatkan kehidupan yang aman, tentram dan bahagia pada diri, keluarga,  lingkungan,  masyarakat dan negara adalah memegang  tauhid erat-erat dan menjauhi segala bentuk kesyirikan.  Ini dikuatkan oleh firman Allah,

 

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ.

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Qs. al-An’am : 82)

 

Juga Firman-Nya,

 

لِإِيلَافِ قُرَيْشٍ (1) إِيلَافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ (2) فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ (3) الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ (4)

 

“ Karena kebiasaan orang-orang Quraisy,(yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas.Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.”  (Qs. Qurays; 1-4)

 

Ma’asyiral Muslimin...

 

(2) Pintu Taubat masih Terbuka. 

 

رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ فَمَنْ تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي وَمَنْ عَصَانِي فَإِنَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

 

“ Ya Tuhan-ku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia, maka barang siapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barang siapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. “ (Qs.Ibrahim : 36)

 

 

Pernyataan Nabi Ibrahim di atas menunjukkan betapa sayangnya beliau kepada umatnya dan betapa beliau sangat menginginkan mereka kembali kepada jalan Allah dan hidup tenang di bawah naungan tauhid. Dakwah kepada tauhid adalah dakwah kepada ketenangan hidup dan kebahagiaan hati dunia dan akherat. 

 

Ma’asyiral Muslimin...

 

(3) . Shalat Menyebabkan Turunnya Rezeki.

 

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

“ Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.”  (Qs. Ibrahim : 37)

 

            Kekuatan Tauhid yang dimiliki Nabi Ibrahim sangat terlihat ketika beliau diperintahkan Allah untuk membawa istri dan anaknya di tengah-tengah lembah padang pasir yang tidak ada air dan tumbuh-tumbuhan, beliau tetap tegar, bahkan istrinyapun ikut tegar dan tabah menghadapi ujian ini. Bagi Nabi Ibrahim, kebutuhan hidup setiap manusia dari sandang, papan, dan pakan sudah ditanggung oleh Allah, tidak mungkin luput maupun berkurang. Oleh karenanya, beliau tidak pernah khawatir sedikitpun terhadap nasib dirinya dan keluarganya yang ditinggal di lembah tidak berpenghuni gersang tersebut. Ini sebagaimana firman-Nya,

 

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

 

“ Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauhul Mahfuz).” (Qs. Hud: 6)

 

            Ini juga sesuai dengan hadist Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

 

إنَّ رُوح القُدسِ نَفَثَ في رُوعي أنه لن تَمُوتَ نفس حتى تستكمل رِزْقها وأجَلَها

 

“ Sesungguhnya Malaikat Jibril (Ruhul Quds) membisikan pada diriku, bahwa jiwa seseorang tidak akan mati sampai rezeki dan ajalnya disempurnakan.“ (HR. Baihaqi, Shahih) 

 

            Tapi yang menarik, justru yang dirisaukan oleh Nabi Ibrahim ini adalah bagaimana anak dan keturunannya bisa melaksanakan perintah Allah dengan sebaik-baiknya, terutama perintah shalat yang merupakan inti dari seluruh ibadah dan bukti kehambaan mutlak kepada Allah. Ini sesuai dengan firman Allah,

 

وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَابَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“ Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Yakub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam". (Qs. al-Baqarah:132)

 

            Yang menjadikan perhatian Nabi Ibrahim bukan hanya shalat, tetapi juga Ka’bah yang merupakan kiblat umat Islam dalam shalat. Beliau memohon kepada Allah agar manusia di dunia ini rindu dan senang berkunjung ke Ka’bah untuk melaksanakan ibadah Haji dan Umrah, atau sekedar thowaf dan mengerjakan shalat di sana.

            Kemudian Nabi Ibrahim memohon kepada Allah agar mereka yang selalu menegakkan shalat, dan selalu menjadikan Ka’bah sebagai pusat perhatiannya, baik yang tinggal di sekitarnya, maupun  yang jauh darinya, diberikan kepada mereka rezeki berupa buah-buahan yang berasal dari berbagai penjuru dunia.

            Nabi Ibrahim dalam do’a ini mengisyaratkan kepada umat Islam, bahwa ibadah shalat, haji dan umrah serta ibadah-ibadah yang lainnya, akan membawa kepada keberkahan hidup dan melimpahnya rezeki, maka hendaknya setiap muslim tidak khawatir kehilangan rezeki. Tugas manusia adalah beribadah dan menyembah Allah, jika itu dilaksanakan dengan baik, maka Allah akan menanggung seluruh keperluan hidupnya. Dalam hal ini Allah berfirman,

ومَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (56) مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ (57) إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ (58)

“ Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan.Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” ( Qs. adz-Dzariyat : 56-58)

 

Allah juga berfirman,

 

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى

 

“ Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan salat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kami lah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (Qs. Thaha : 132)

 

Ma’asyiral Muslimin...

 

            (4). Allah Maha Mengetahui Segala Sesuatu.

 

            رَبَّنَا إِنَّكَ تَعْلَمُ مَا نُخْفِي وَمَا نُعْلِنُ وَمَا يَخْفَى عَلَى اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ

“ Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan; dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit.” ( Qs.Ibrahim :38)

 

            Nabi Ibrahim sangat menyakini bahwa Allah mengetahui segala sesuatu di bumi dan di langit, baik yang nyata maupun yang tersembunyi, maka Beliau tidak pernah khawatir sedikitpun ketika meninggalkan anak dan istri di lembah yang kering, tiada air dan tumbuh-tumbuhan. Beliau juga tidak pernah khawatir terhadap apa yang akan terjadi di masa mendatang, karena semuanya dalam pengawasan Allah. Dengan demikian hidupnya menjadi tenang, tidak pernah gelisah. Keyakinan seperti ini yang mestinya dimiliki setiap muslim yang mengaku dirinya pengikut Nabi Ibrahim. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallampun diperintahkan secara tegas untuk mengikuti ajaran nabi Ibrahim sebagaimana di dalam firman-Nya :

ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“ Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif." dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (Qs. an-Nahl : 123)

 

Selain itu, keyakinan tentang Ilmu Allah, menyebabkan seorang muslim selalu menjauhi segala bentuk maksiat dan kejahatan, karena dia tahu Allah selalu melihatnya. Inilah yang disebut al-Ihsan, tingkat keimanan yang paling tinggi dalam diri seorang muslim. Sebagaimana disebutkan di dalam hadist Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallahu ‘alahi wa sallam bersabda : 

الإِحْسَانُ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

            “ Al-Ihsan adalah engkau menyembah Allah, seakan-akan engkau melihat-Nya, jika engkau tidak melihat-Nya, maka Allah melihat engkau. “ ( HR. Bukhari)

 

Ma’asyiral Muslimin...

 

(5) Bersyukur terhadap Nikmat Allah

 

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ (39) رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ (40)

“ Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Ismail dan Ishak. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doa. Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan salat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku. “ .( Qs. Ibrahim : 39-40)

 

            Nabi Ibrahim bertahun-tahun memohon kepada Allah agar dikaruniai keturunan yang akan meneruskan perjuangan dan dakwahnya, tetapi keturunan tersebut tidak kunjung datang sampai di hari tuanya. Tetapi walupun begitu, beliau tidak pernah putus asa terhadap Rahmat Allah, dan ketika beliau berumur 80 tahun, menurut sebagian literatur, lahirlah Ismail dari istrinya Siti Hajar dan sesudah itu ketika berumur 98 tahun, lahirlah Ishaq dari istrinya Siti Sarah. Di hari tua seperti itu, baru lahir anak yang selama ini ditunggu-tunggu, Nabi Ibrahim tidak mengeluh, atau mengatakan sudah terlambat, beliau tetap bersyukur mendapatkan keturunan walau di hari tua, sebagaimana yang tersebut pada ayat di atas.

            Ketika kedua anaknya lahir, Beliau memohon kepada Allah agar keduanya di masa mendatang menjadi anak sholeh yang taat kepada Allah dengan memperbanyak ibadah kepada-Nya dengan bersujud dan shalat.

 

Ma’asyiral Muslimin...

 

(6) Memohon Ampun atas Segala Dosa.

 

رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ

“ Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)". ( Qs. Ibrahim : 41)

 

Di dalam perjalanan dakwah selama hidupnya, Nabi Ibrahim merasa banyak hal yang kurang berkenan dengan kehendak dan keinginan Allah, ataupun usaha dakwahnya belum maksimal, maka beliau di akhir hayatnya berusaha untuk memperbanyak istighfar dan memohon ampun atas segala dosanya, dosa kedua orangtuanya, dan dosa orang-orang beriman secara umum agar nanti di hari hisab, di hari perhitungan dipermudah urusannya.

 

            Ayat ini juga memberikan pesan kepada kita umat Islam, agar selalu mendoakan dan memintakan ampun kepada saudara-saudaranya sesama muslim, khususnya di waktu-waktu tertentu, seperti saat khutbah Jum’at, Idul Fitri dan Idul Adha. Ini sesuai dengan firman-Nya,

 

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

 

“ Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa: "Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang".( Qs. al-Hasyr : 10)

 

            Ini menunjukkan bahwa umat Islam tidak boleh ada kedengkian diantara mereka, justru sebaliknya mereka harus saling berlapang dada, meminta maaf satu dengan yang lainnya, bahkan saling memintakan ampun kepada Allah atas dosa-dosa yang dikerjakan, sehingga mereka semua bisa beribadah kepada Allah dengan hati bersih. Sehingga yang terjadi di dalam kehidupan dunia ini, hati mereka bersih, dan di dalam kehidupan akherat, ketika mereka masuk surgapun hati mereka tetap bersih, sebagaimana firman-Nya,

وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

 

“ Dan Kami cabut segala macam dendam yang berada di dalam dada mereka; mengalir di bawah mereka sungai-sungai dan mereka berkata: "Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini.  Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk. Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami, membawa kebenaran". Dan diserukan kepada mereka: "Itulah surga yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan." ( Qs.al-A’raf : 43)

 

Inilah salah satu makna dari do’a sapu jagad yang sering diucapkan seorang muslim, sebagaimana firman-Nya,

 

وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

 

“ Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka". ( Qs. al-Baqarah : 201)

 

Mudah-mudahan kita semua menjadi orang-orang yang mendapatkan kebaikan di dunia, dan kebaikan di akherat serta dijauhkan dari api neraka. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.

 

اللهم لك الحمد كما ينبغي لجلال وجهك وعظيم سلطانك

للَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والاموات إنك سميع قريب مجيب الدعاء يا قاضي الحاجات

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ  

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ  وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ  وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ