Karya Tulis
740 Hits

Tafsir An-Najah(QS.3:59-63)Bab ke-156 Antara Nabi Isa & Nabi Adam


 

Antara Nabi Isa dan Nabi Adam

 

اِنَّ مَثَلَ عِيْسٰى عِنْدَ اللّٰهِ كَمَثَلِ اٰدَمَ ۗ خَلَقَه مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَه كُنْ فَيَكُوْنُ ٥٩

"Sesungguhnya perumpamaan (penciptaan) Isa bagi Allah adalah seperti (penciptaan) Adam. Dia menciptakannya dari tanah kemudian berfirman kepadanya, “Jadilah!” Maka, jadilah sesuatu itu."  (QS. Ali-Imran [3] : 59)

Pertama : Sebab Turunnya Ayat

Diriwiyatkan bahwa utusan kaum Nashani Najran berkata kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam : "kenapa kamu berani mencaci dan menghina Isa?" lalu beliau berkata : "memang apa yang telah aku katakana ?" mereka berkata : "kamu telah berkata bahwa Isa adalah seorang hamba Allah, utusan-Nya dan kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam al-Adzraa' al-Batuul (wanita yang masih perawan)." Mendengar hal tersebut, mereka langsung marah dan berkata: "apakah kamu pernah melihat seorang pun yang melihatkan tanpa ayah? Jika kamu memang orang yang benar, maka beritahukan kepada kami misalnya atau kepadanya." Lalu Allah menurunkan ayat ini.

Kedua : 3 Kelompok Manusia

Terdapat 3 kelompok manusia dalam menyikapi kenabian Nabi Isa Alahis Salam

a)      Kelompok pertama adalah mereka yang beriman bahwa Nabi Isa adalah manusia yang diutus oleh Allah (seorang Nabi dan Rasul).

Seorang manusia yang lahir dari seorang wanita yang bernama Maryam tanpa bapak. Diciptakan oleh Allah melalui kalimatnya (kun fayakun).

b)      Kelompok kedua adalah mereka yang tidak percaya dengan kelahiran Nabi Isa Alahis Salam. Menuduh Maryam berzina dan Nabi Isa adalah anak haram. Mereka juga menuduh nabi isa mendatangkan hal-hal yang berbau khurafat dan bid'ah, memcah belah umat, memisahkan anatara orang tua dan anak,serta menuduhnya berbuat onar di masyarakat dan mengajak meeka melawan pemerintahan, mereka ingin membunuh Nabi Isa, tapi Allah menggagalkan rencana mereka, inilah kelompok Yahudi.

Kedua kelompok di atass sudah diterangkan pada ayat-ayat sebelumnya.

c)      Pada ayat ini diterangkan kelompok ketiga, yaitu mereka yang berlebihan dalam menilai Nabi isa as. Mereka mengisyaratkan bahwa nabi Isa adalah Tuhan.

Mereka amarah ketika Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi wa Sallam menyatakan bahwa Nabi Isa adalah seorang hamba yang diutus Allah menjadi Nabi dan Rasul. Maka turunlah ayat ini untuk membantah dan menjawab pernyataan mereka.

 

Ketiga : Antara Nabi Isa dan Nabi Adam

1)      Pada ayat ini dijelasakan perbandingan antara Nabi Adam dan Nabi Isa Alahis Salam, yaitu

a)      Nabi Isa Alahis Salam diciptakan tanpa bapak begitu Nabi Adam Alahis Salam diciptakan tanpa bapak, bahkan tanpa ibu.

b)      Allah maha kuasa menciptakan Nabi Adam tanpa bapak dan ibu, maka tentu Allah juga berkuasa menciptakan Nabi Isa tanpa bapak.

c)      Jika Nabi Adam dianggap manusia dan seorang Nabi, bukan anak tuhan, mestinya juga pada diri Nabi Isa, dia adalah seorang manusia dan nabi, maka anak Tuhan.

d)      Allah menciptakan Nabi Adam. Kalimat (kun fayakun) begitu juga Allah menciptakan Nabi Isa dengan kalimat (kun fayakun).

2)      Perbandingan antara Nabi Adam dan Nabi Isa dalam ayat ini dikuatkan oleh firman Allah Subhanahu wa Ta'ala,

وَلَا يَأْتُوْنَكَ بِمَثَلٍ اِلَّا جِئْنٰكَ بِالْحَقِّ وَاَحْسَنَ تَفْسِيْرًا ۗ ٣٣

"Tidaklah mereka datang kepadamu (membawa) sesuatu yang aneh, kecuali Kami datangkan kepadamu kebenaran dan penjelasan yang terbaik." (QS. Al-Furqon [25] : 33)

Yaitu tidaklah mereka mendatangkan suatu permisalan yang aneh, seperti kelahiran Nabi Isa tanpa bapak, kecuali kami datangkan untukmu sesuatu yang benar, yaitu penciptaan Nabi Adam tanpa bapak dan ibu.

Dan hal ini lebih baik penjelasannya yaitu penciptaan Nabi Adam tanpa bapak dan ibu lebih jelas memperlihatkan kekuasaan Allah daripada pencipataan Nabi Isa tanpa bapak saja.

3)      Kebenaran dari Tuhan

اَلْحَقُّ مِنْ رَّبِّكَ فَلَا تَكُنْ مِّنَ الْمُمْتَرِيْنَ ٦٠

"Kebenaran itu dari Tuhanmu. Oleh karena itu, janganlah engkau (Nabi Muhammad) termasuk orang-orang yang ragu." (QS. Ali-Imran [3] : 60)

4)      Tentang perbandingan penciptaan Nabi Adam dan Nabi Isa sebagaimana diterangkan di atas adalah wahyu yang kebenarannya datang dari Allah, maka tidak boleh ragu-ragu terhadap kebenaran tersebut.

5)      Ayat ini ditujukan kepada Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihih wa Sallam, tetapi maksudnya untuk umatnya, karean Nabi Muhammad tidak mungkin ragu-ragu terhadap wahyu yang diturunkan Allah kepadanya.

Keempat : Sejarah Mubahalah

فَمَنْ حَاۤجَّكَ فِيْهِ مِنْۢ بَعْدِ مَا جَاۤءَكَ مِنَ الْعِلْمِ فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ اَبْنَاۤءَنَا وَاَبْنَاۤءَكُمْ وَنِسَاۤءَنَا وَنِسَاۤءَكُمْ وَاَنْفُسَنَا وَاَنْفُسَكُمْۗ ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَلْ لَّعْنَتَ اللّٰهِ عَلَى الْكٰذِبِيْنَ ٦١

"Siapa yang membantahmu dalam hal ini setelah datang ilmu kepadamu, maka katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Marilah kita panggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, istri-istri kami dan istri-istri kamu, diri kami dan diri kamu, kemudian marilah kita bermubahalah94) agar laknat Allah ditimpakan kepada para pendusta.’" (QS. Ali-Imran [3] : 61)

1)       Sejak awal surat, sudah dijelaskan dalil-dalil tentang ke-Esaan Allah dan kebatilan keyakinan orang-orang Nashrani yang menganggap Nabi Isa adalah anak Tuhan.

Bukti-bukti dan dalil-dalil tersebut berakhir di perbandingan antara penciptaan Nabi Adam dan Nabi Isa yang disebutkan pada ayat sebelumnya.

Jika ada yang masih menolak dalil-dalil tersebut dan tetap bersikukuh dengan kebatilan yang dia yakini. Serta ingin mendebat tentang Nabi Isa, padahal telah dating ilmu yang jelas kepadamu. Maka ajaklah orang tersebut untuk melakukan "mubahalah".

2)      Mubahalah berasal dari kata ibithal  yang artinya berdoa dengan sungguh-sungguh.

Adapun mubahalah artinya berdoa kepada Allah dengan sungguh-sungguh agar pihak yang berdusta dilaknat Allah dan dijauhkan dari rahmat-Nya.

3)      Diriwayatkan bahwa Nabi Shalallahu 'Alaihih wa Sallam menetang para delegasi Nashrani Najran untuk melakukan mubahalah, tetepi mereka menolaknya dan tidak berani menghadapi tantangannya tersebut, karena sebenarnya mereka tahu kebenaran Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihih wa Sallam

Di dalam hadits Hudzaifah bahwa ia berkata,

عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ: جَاءَ العاقبُ والسيدُ صَاحِبًا نَجْرَانَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُرِيدَانِ أن يُلَاعِنَاهُ، قَالَ: فَقَالَ أَحَدُهُمَا لِصَاحِبِهِ: لَا تَفْعَلْ، فَوَاللَّهِ إِنْ  كَانَ نَبِيًّا فَلَاعَنَّاهُ لَا نفلحُ نحنُ وَلَا عَقبنا مِنْ بَعْدِنَا. قَالَا إِنَّا نُعْطِيكَ مَا سَأَلْتَنَا، وَابْعَثْ مَعَنَا رَجُلًا أَمِينًا، وَلَا تَبْعَثْ مَعَنَا إِلَّا أَمِينًا. فَقَالَ: لأبْعَثَنَّ مَعَكُمْ رَجُلا أَمِينًا حَقَّ أمِينٍ، فاستشرفَ لَهَا أصحابُ رسول الله صلى الله عليه وسلم، فَقَالَ: قُمْ يَا أبَا عُبَيْدَةَ بْنَ الْجَرَّاحِ فَلَمَّا قَامَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: هَذَا أمِينُ هَذِهِ الأمَّةِ

"Dari Huzaifah radiyallahu ‘anhu yang menceritakan hadis berikut, bahwa Al-Aqib dan As-Sayyid pemimpin orang-orang Najran datang menghadap Rasulullah,  dengan maksud untuk melakukan mubahalah dengan Rasulullah  Salah seorang berkata kepada temannya, Jangan kamu lakukan. Demi Allah, seandainya dia adalah seorang nabi, lalu kita melakukan mula’anah (berbalas laknat) terhadapnya, niscaya kita ini tidak akan beruntung, tidak pula bagi anak cucu kita sesudah kita. Akhirnya keduanya mengatakan, Sesungguhnya kami setuju memberimu apa yang kamu minta dari kami (yakni jizyah). Tetapi kirimkanlah bersama kami seorang lelaki yang amin (dapat dipercaya), dan janganlah engkau kirimkan bersama dengan kami melainkan seorang yang dapat dipercaya. Maka Rasulullah menjawab: Aku sungguh-sungguh akan mengirimkan bersama kalian seorang lelaki yang benar-benar dapat dipercaya. Maka sahabat-sahabat Nabi  mengharapkan untuk diangkat menjadi orang yang mengemban tugas ini. Lalu Rasulullah  bersabda: Berdirilah engkau, hai Abu Ubaidah ibnul Jarrah. Ketika Abu Ubaidah berdiri, maka Rasulullah  bersabda, Inilah orang yang dipercaya dari kalangan umat ini." (HR. Bukhori dan Muslim)

4)      Dalam riwayat lain disebutkan mereka berdoa bersama akan memenuhi tantangan mubahalah besok pagi. Dan pada pagi harinya keluarlah Rasulullah dengan menggandeng tangan Ali, Fatimah, Hasan dan Husein. Lalu beliau mengutus utusan kepada keduanya, namun keduanya menolak untuk bermubahalah dan setuju untuk membayar jizyah (upeti) kepada beliau. Beliaupun bersabda, "Demi Allah yang mengutusku dengan kebenaran, seandainya  mereka mengatakan tidak." niscaya Alalh akan menimpakn api kepada mereka. Adapun jizyah (upeti) yang mereka bayarkan berupa 2000 pakaian bagus yang diserahkan pada bulan Shafar, sedangkan sisanya akan dibayar pada bulan Rajab serta sejumlah uang dirham.

5)      Peristiwa mubahalah ini menunjukan kuatnya iman Rasulullah Shalallahu 'Alaihih wa Sallam kepada apa yang beliau katakan. Sekaligus menunjukan lemahnya para delegasi Nashrani Najran dari besar keyakina mereka tidak mempunyai dasar kuat.

Kelima : Kalimat Tauhid

اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الْقَصَصُ الْحَقُّ ۚ وَمَا مِنْ اِلٰهٍ اِلَّا اللّٰهُ ۗوَاِنَّ اللّٰهَ لَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

"Sesungguhnya ini benar-benar kisah yang hak. Tidak ada tuhan selain Allah, dan sesungguhnya Allahlah yang benar-benar Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (QS. Ali-Imran [3] : 62)

1)      Setelah mereka menolak mubahalah, bertambah kuatlah keberadan yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihih wa Sallam.

Kemudian Allah pada ayat menjelaskan bahwa kisah-kisah yang sudah disampaikan pada ayat-ayat sebelumnya tentang keluarga Imron, Nabi Zakaria, Nabi Yahya, Maryam dan Nabi Isa adalah kisah yang benar adanya, tidak ada kebohongan dan penyelewengan di dalamnya.

2)      Allah membuka surat Ali-Imran dengan kalimat Tauhid dalam firman-Nya

الۤمّۤ ١ اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُۗ

"Alif Lām Mīm. Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Mahahidup lagi Maha Mengurus (makhluk-Nya) secara terus-menerus." (QS. Ali-Imran [3] : 1-2)

Maka penutup kisah keluarga Imran ini juga di akhiri dengan kalimat Tauhid, Allah berfirman

وَمَا مِنْ اِلٰهٍ اِلَّا اللّٰهُ

"Tidak ada tuhan selain Allah"

3)      Hal ini menunjukan bahwa kallimat Tauhid adalah inti pembahasan dalam kisah keluarga Imran dan inti pada pembahasan seluruh isi surat Ali-Imran. Begitu juga bahwa tujuan diutusnya para Rasul termasuk di dalamnya Nabi Isa adalah menegakan kalimat Tauhid di dalam kehidupan sehari-hari manusia.

Allah berfirman

وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا نُوْحِيْٓ اِلَيْهِ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدُوْنِ ٢٥

"Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Nabi Muhammad), melainkan Kami mewahyukan kepadanya bahwa tidak ada tuhan selain Aku. Maka, sembahlah Aku." (QS. Al-Anbiya' [21] : 25)

4)       Firman-Nya,

وَاِنَّ اللّٰهَ لَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْم

"Dan sesungguhnya Allahlah yang benar-benar Mahaperkasa lagi Mahabijaksana."

a)      Allah Maha Perkasa yang mengendalikan siapa saja yang menentang-Nya dan menundukan siapa saj yang membangkang terhadap-Nya.

b)      Allah Maha Bijaksana dalam menentukan takdir-Nya dan memutuskan perkara. Termasuk memilih Nabi Isa sebagai Nabi dan Rasul yang lahir tanpa Bapak, kemudian Allah menyelamatkannya daari makar orang-orang kafir dengan mengangkatnya ke langit. Kemudian di akhir zaman akan turun ke bumi sebagai pemimpin yang adil.

Keenam : Merusak Bumi dengan Syirik

فَاِنْ تَوَلَّوْا فَاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ ۢبِالْمُفْسِدِيْنَ ࣖ ٦٣

"Jika mereka berpaling, (ketahuilah) bahwa sesungguhnya Allah Maha Mengetahui orang-orang yang berbuat kerusakan." (QS. Ali-Imran [3] : 63)

1)      Jika berpaling dari kebenaran yang telah disampaikan dan tidak mau mengakui danmengucapkan kalimat Tauhid, maka sesungguhnya merekalah orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi ini.

2)      Hal itu, karena perbaikan bumi dengan menegakan kalimat tauhid dan merusaknya denagn perbuatan syirik dan maksiat.

Diantara dalilnya adalah

a)      Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًاۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ ٥٦

"Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diatur dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-A'raf [7] : 56)

Ayat ini menunjukan larangan membuat kerusakan setelah adanya perbaikan. Perbaikannya dengan kalimat Tauhid, maka Allah memerintahkan untuk "menyembah-Nya" dengan rasa takut dan berharap.

b)      Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ ٤١

"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (QS. Ar-Rum [30] : 41)

Ayat ini menunjukan bahwa munculnya kerusakan di muka bumi akibat dari tangan manusia yang bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

***

Jakarta, Jum’at 18 Maret 2022

KARYA TULIS