Karya Tulis
32 Hits

Tafsir An-Najah (QS. 4: 77) Bab ke-230 Ingin Hidup Lebih Lama.

 

Ingin Hidup Lebih Lama.

 

اَلَمْ تَرَ اِلَى الَّذِيْنَ قِيْلَ لَهُمْ كُفُّوْٓا اَيْدِيَكُمْ وَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَۚ فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ اِذَا فَرِيْقٌ مِّنْهُمْ يَخْشَوْنَ النَّاسَ كَخَشْيَةِ اللّٰهِ اَوْ اَشَدَّ خَشْيَةً ۚ وَقَالُوْا رَبَّنَا لِمَ كَتَبْتَ عَلَيْنَا الْقِتَالَۚ لَوْلَآ اَخَّرْتَنَآ اِلٰٓى اَجَلٍ قَرِيْبٍۗ قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيْلٌۚ وَالْاٰخِرَةُ خَيْرٌ لِّمَنِ اتَّقٰىۗ وَلَا تُظْلَمُوْنَ فَتِيْلًا

“Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka, ‘Tahanlah tanganmu (dari berperang), laksanakanlah salat dan tunaikanlah zakat!’ Ketika mereka diwajibkan berperang, tiba-tiba sebagian mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih takut (dari itu). Mereka berkata, ‘Ya Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? Mengapa tidak Engkau tunda (kewajiban berperang) kepada kami beberapa waktu lagi?’Katakanlah, ‘Kesenangan di dunia ini hanya sedikit dan akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa (mendapat pahala turut berperang) dan kamu tidak akan dizalimi sedikit pun.’”

(QS. An-Nisa [4]: 77)

Pelajaran (1) : Sebab Turunnya Ayat.

1)      Para ulama berbeda pendapat tentang sebab turunnya ayat ini atau kepada siapa ayat ini ditujukan.

a)      Pendapat pertama, mengatakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang munafik. Karena ayat-ayat sebelumnya juga berbicara tentang orang-orang munafik yang tidak mau ikut berjihad di jalan Allah, karena mereka takut mati.

b)      Pendapat kedua, mengatakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan beberapa sahabat, diantaranya Abdurrahman bin Auf ang mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sewaktu masih di Makkah meminta izin untuk memerangi orang-orang musyrik Makkah. Rasulullah menjawab, “Saya diperintahkan untuk memaafkan orang kafir, maka janganlah kalian memerangi mereka (saat ini). Ketika Allah memindahkan mereka ke Madinah, Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk berperang, tetapi justru mereka menahan diri dan tidak mau berperang.

 

Pendapat pertama lebih sesuai dengan konteks ayat dan kandungannya yang menggambarkan sifat-sifat orang munafik. Adapun pendapat kedua,kurang tepat dengan kandungan ayat karena para sahabat, apalagi Abdurrahman bin Auf jauh dari sifat-sifat yang digambarkan dalam ayat ini.

Pelajaran (2) : Tahan Tangan Kalian.

1)      Firman-Nya,

 

كُفُّوْٓا اَيْدِيَكُمْ وَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَۚ

‘Tahanlah tanganmu (dari berperang), laksanakanlah salat dan tunaikanlah zakat!’

Ayat ini menunjukkan perintah untuk menahan diri dari berperang melawan orang-orang kafir , karena waktu di Makkag, umat Islam jumlahnya sangat sedikit dan masig dalam keadaan lemah. Yang paling tepat dalam leadaan seperti ini adalah menegakkan salat dan menunaikan zakat, berbuat baik kepada orang lain, menjalin silaturrahmi dan lain-lain.

2)      Firman-Nya,

 

فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ اِذَا فَرِيْقٌ مِّنْهُمْ يَخْشَوْنَ النَّاسَ كَخَشْيَةِ اللّٰهِ اَوْ اَشَدَّ خَشْيَةً

“Ketika mereka diwajibkan berperang, tiba-tiba sebagian mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih takut (dari itu).”

 

a)      Ketika kaum muslimin sudah berada di Madinah, maka turunlah perintah untuk berperang. Tetapi justru sebagian dari mereka yang dulu waktu di Makkah semangat untuk berperang, tiba-tiba berat melaksanakannya karena takut kepada orang-orang kafir Quraisy. Atau bisa dikatakan bahwa yang dimaksud sebagian dari mereka adalah orang-orang munafik di Madinah yang sebelum turun kewajiban perang, mereka semangat untuk meminta berperang. Tetapi ketika perintah perang turun, mereka tidak mau ikut berperang karena takut.

b)      Adapun yang dimaksud (manusia) pada ayat di atas adalah orang-prang kafir Quraidy. Jadi orang-orang munafik atau orang-orang yang lemah imannya sangat takut berperang melawan orang-orang kafir Quraisy sebagaimana tekutnya kepada Allah, bahkan lebih takut lagi.

Pelajaran (3) : Ingin Hidup Lebih Lama.

وَقَالُوْا رَبَّنَا لِمَ كَتَبْتَ عَلَيْنَا الْقِتَالَۚ لَوْلَآ اَخَّرْتَنَآ اِلٰٓى اَجَلٍ قَرِيْبٍۗ

“Mereka berkata, ‘Ya Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? Mengapa tidak Engkau tunda (kewajiban berperang) kepada kami beberapa waktu lagi?”

1)      Ini adalah perkataan orang-orang munafik atau orang-orang yang lemah imannya. Mereka belum siap berperang, karena merasa nyaman dengan kehidupan dunia. Biasanya orang-orang yang sudah merasa nyaman dengan kehidupan dunia akan berasa berat untuk meninggalkan kenyamanan tersebut. Oleh karenanya, mereka tidak siap untuk berperang di jalan Allah, mengorbankan harta dan jiwanya. Mereka ingin agar kewajiban berperang tersebut diundur barang sebulan, agar mereka merasa puas dahulu menikmati kesenangan dunia ini, tetapi sampai kapan ?

2)      Tidak ada yang tahu jawabannya. Tetapi yang jelas dunia ini tidak akan ada habisnya, kecuali kalau orang tersebut sudah mati atau terjadi hari kiamat. Maka selesailah dunia ini. Ini sesuai dengan hadits Abdullah Abbas bahwa Nabi bersabda,

لَوْ أَنَّ لاِبْنِ آدَمَ مِثْلَ وَادٍ مَالاً لأَحَبَّ أَنَّ لَهُ إِلَيْهِ مِثْلَهُ ، وَلاَ يَمْلأُ عَيْنَ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ

Seandainya manusia memiliki lembah berisi harta, tentu ia masih menginginkan harta yang banyak semisal itu pula. Mata manusia barulah penuh jika diisi dengan tanah. Allah tentu akan menerima taubat bagi siapa saja yang ingin bertaubat.

 (HR. Bukhari no. 6437)

Hadits di atas menunjukkan bahwa manusia tidak akan puas dengan dunia ini smapai dia mati.

3)      Dengan demikian, maksud orang-orang munafik meminta diundurnya kewajiban jihad sampai beberapa saat lagi adalah sampai mereka puas dengan dunia, yaitu ketika mereka sudah mati. Ini artinya mereka memohon agar kewajiban jihad atas mereka dihapus sama sekali.

 

Pelajaran ( 4) : Kenikmatan Yang Sedikit.


قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيْلٌۚ وَالْاٰخِرَةُ خَيْرٌ لِّمَنِ اتَّقٰىۗ وَلَا تُظْلَمُوْنَ فَتِيْلًا

“Katakanlah, ‘Kesenangan di dunia ini hanya sedikit dan akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa (mendapat pahala turut berperang) dan kamu tidak akan dizalimi sedikit pun.’”

1)      Ayat ini merupakan jawaban atas permohonan orang-orang munafik agar kewajiban jihad diundur atau dihapus. Jawaban ini mengandung tiga hal,

a)      Pertama, bahwa kesenangan yang ingin dinikmati orang-orang munafik dan orang-orang yang lemah imannya adalah kesenangan yang sedikit, walaupun terlihat banyak dalam pandangan mereka. Disebut sedikit karena tiga hal,

  1. Sedkit dibanding dengan kenikamtan akhirat yang begitu banyak dan tidak terbatas.
  2. Sedikit karena sifatnya hanay sementara dan tidak langgeng.
  3. Sedikit karena setelahnya akan digantu dengan kepahitan, kecapean dan kepenatan, kesakitan, kebosanan dan hal-hal lain yang bertentangan dengan kenikmatan itu sendiri.

b)      Kedua, kenikmatan akhirat lebih baik bagi orang yang bertakwa. Hal ini juga diterangkan pada ayat-ayat lain, diantaranya.

  1. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

وَمَآ اُوْتِيْتُمْ مِّنْ شَيْءٍ فَمَتَاعُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَزِيْنَتُهَا ۚوَمَا عِنْدَ اللّٰهِ خَيْرٌ وَّاَبْقٰىۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ ࣖ

“Dan apa saja (kekayaan, jabatan, keturunan) yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kesenangan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Tidakkah kamu mengerti?” (QS. Al-Qashas [28]: 60)

Ayat ini menunjukkan bahwa bagi orang yang berakal, akhirat lebih baik daripada dunia itu artinya orang yang bertakwa adalah orang yang paling berakal.

  1. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

وَلَلْاٰخِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ مِنَ الْاُوْلٰىۗ

“dan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu dari yang permulaan.” (QS. Ad-Duha [93]: 4)

  1. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

وَقِيْلَ لِلَّذِيْنَ اتَّقَوْا مَاذَآ اَنْزَلَ رَبُّكُمْ ۗقَالُوْا خَيْرًا ۚلِلَّذِيْنَ اَحْسَنُوْا فِيْ هٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗوَلَدَارُ الْاٰخِرَةِ خَيْرٌ ۗوَلَنِعْمَ دَارُ الْمُتَّقِيْنَۙ

Dan kemudian dikatakan kepada orang yang bertakwa, “Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Kebaikan.” Bagi orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (balasan) yang baik. Dan sesungguhnya negeri akhirat pasti lebih baik. Dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa,”(QS. An-Nahl [16]: 30)

c)      Ketiga, mereka yaitu orang-orang munafik dan orang-orang yang bertakwa tidak akan di zalimi oleh Allah sedikitpun. Barang siapa yang berbuat baik, dia akan mendapat pahalanya tanpa dikurangi sedikitpun. Dan barang siapa yang berbuat jahat, maka Allah akan menghukumnya kecuali sesuai dengan kejahatannya.

 

****

Jakarta, Senin 2 Mei 2022.

 



KARYA TULIS