Karya Tulis
194 Hits

Tafsir An-Najah (Qs. 2:144-147) Bab 78- Menghadap Arah Masjidil Haram


MENGHADAP ARAH MASJIDIL HARAM

 

 

قَدۡ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجۡهِكَ فِي ٱلسَّمَآءِۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبۡلَةٗ تَرۡضَىٰهَاۚ فَوَلِّ وَجۡهَكَ شَطۡرَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِۚ وَحَيۡثُ مَا كُنتُمۡ فَوَلُّواْ وُجُوهَكُمۡ شَطۡرَهُۥۗ وَإِنَّ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ لَيَعۡلَمُونَ أَنَّهُ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّهِمۡۗ وَمَا ٱللَّهُ بِغَٰفِلٍ عَمَّا يَعۡمَلُونَ ١٤٤ وَلَئِنۡ أَتَيۡتَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ بِكُلِّ ءَايَةٖ مَّا تَبِعُواْ قِبۡلَتَكَۚ وَمَآ أَنتَ بِتَابِعٖ قِبۡلَتَهُمۡۚ وَمَا بَعۡضُهُم بِتَابِعٖ قِبۡلَةَ بَعۡضٖۚ وَلَئِنِ ٱتَّبَعۡتَ أَهۡوَآءَهُم مِّنۢ بَعۡدِ مَا جَآءَكَ مِنَ ٱلۡعِلۡمِ إِنَّكَ إِذٗا لَّمِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ ١٤٥ ﵞ ﵟٱلَّذِينَ ءَاتَيۡنَٰهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ يَعۡرِفُونَهُۥ كَمَا يَعۡرِفُونَ أَبۡنَآءَهُمۡۖ وَإِنَّ فَرِيقٗا مِّنۡهُمۡ لَيَكۡتُمُونَ ٱلۡحَقَّ وَهُمۡ يَعۡلَمُونَ ١٤٦ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡمُمۡتَرِينَ ١٤ 

 

“Kami melihat wajahmu (Muhammad) sering menengadah ke langit,.  maka akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau senangi. Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam. Dan di mana saja engkau berada, hadapkanlah wajahmu ke arah itu. Dan sesungguhnya orang-orang yang diberi Kitab (Taurat dan Injil) tahu, bahwa (pemindahan kiblat) itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka. Dan Allah tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan. Dan walaupun engkau (Muhammad) memberikan semua ayat (keterangan) kepada orang-orang yang diberi Kitab itu, mereka tidak akan mengikuti kiblatmu, dan engkau pun tidak akan mengikuti kiblat mereka. Sebagian mereka tidak akan mengikuti kiblat sebagian yang lain. Dan jika engkau mengikuti keinginan mereka setelah sampai ilmu kepadamu, niscaya eng-kau termasuk orang-orang zalim. Orang-orang yang telah Kami beri Kitab (Taurat dan Injil) mengenalnya (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri. Sesungguhnya sebagian mereka pasti menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui(nya). Kebenaran itu dari Tuhanmu, maka janganlah sekali-kali engkau (Muhammad) termasuk orang-orang yang ragu.”

( Qs Al-Baqarah [ 2 ] : 144- 147 )

 

 

 

 

1.      Mengharap Ridha Allah

 

Ayat diatas menunjukkan bahwa Nabi Muhammad tidak langsung  meminta kepada Allah  dengan mengucap suatu doa agar kiblat shalat di pindah ke Ka’bah. Nabi hanya berharap dan menunggu, hal itu karena kebesaran jiwa  beliau. Beliau mengharap kepada Allah sesuatu yang  beliau pandang lebih baik untuk kemaslahatan dakwah.

Hal itu karena penduduk Arab masih ada hubungannya dengan nenek moyang mereka  yaitu Nabi Ibrahim Alaihi As-Salam. Beliau berharap jka kiblat dipindahkan ke Ka’bah akan bisa menarik bangsa Arab untuk masuk Islam, karena selama ini mereka masih menghormati Ka’bah sebagai salah satu peninggalan Nabi Ibrahim Alaihi As-Salam. Kemudian Allah mengabulkan harapan Rasulullah tersebut dengan berfirman, “ Maka kami palingkan engkau ke kiblat yang kau senangi.”

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah mengabulkan harapan Rasul-Nya, memberikan sesuatu yang beliau senangi. Karena tujuannya bukan kepentingan dunia, tetapi untuk kepentingan dakwah. Jadi yang disenangi jiwa Rasulullah adalah sesuatu yang berhubungan dengan dakwah.

 

2.      Menghadap Arah Masjidil Haram

 

Allah Subhanahu wa Ta’ala pada ayat ini memerintahkan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk menghadapkan wajahnya ke arah Masjidil Haram. Dan disni bisa diambil beberapa pelajaran didalamnya :

1)         Menghadap ke arah  kiblat merupakan salah satu syarat sah shalat, kecuali dalam keadaan khauf ( takut) dan dalam keadaan shalat sunnah dalam kendaraan, dia dibolehkan menghadap ke arah yang dituju oleh kendaraan tersebut.

2)         Orang yang melihat Ka’bah secara langsung , dia wajib menghadap ke bangunan Ka’bah itu sendiri.

3)         Jika seseorang tidak bisa melihat Ka’bah secara langsung, maka dia harus menghadap ke arah Ka’bah, tidak harus mengenai bangunan Ka’bah itu tersendiri. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

 

فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۗ

“Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil haram.”

(Qs. al-Baqarah [ 2 ] : 144 )

 

Ayat diatas memerintahkan untuk menghadap ke arah Masjidil Haram, tidak harus mengenai bangunan Ka’bah itu sendiri. ini khusus orang-orang yang tidak bisa melihat Ka’bah secara langsung.

4)         orang yang berada di luar Mekkah, maka kiblatnya ke Masjidil Haram.

5)         Orang yang berada jauh di negara-negara lain , maka kiblatnya adalah ke arah Mekkah hal ini    berdasarkan perkataan Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu “ Ka’bah adalah kiblat bagi orang-orang yang berada di Masjidil Haram. Sedang Masjidil Haram kiblat bagi orang yang berada di luar Mekkah. Sedang Mekkah adalah kiblat bagi orang yang berada di daerah-daerah ( negara ) lain.

 

3.      Ahlul Kitab Menyertai Pemindahan Kiblat

 

Kemudian menjelaskan bahwa Ahlul Kitab dari kaum Yahudi dan kaum Nasrani, mereka menyatakan tentang pemindahan kiblat ini, tetapi mereka berusaha menyembunyikannya. Jika dikatakan bagaimana mereka mengetahui hal itu, padahal dalam kitab mereka tidak disebutkan secara langsung? Jawabannya menurut Al-Qurthubi ada dua :

1)         Mereka mengetahui di dalam kitab mereka bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi yang benar dan tidak berkata kecuali wahyu.

2)          Mereka menyakini adanya penghapusan dalam syariat. Pemindahan kiblat ini termasuk dalam penghapusan tersebut.

Kemudian ayat ini ditutup dengan ancaman Allah kepada orang-orang yang tidak percaya dan menutupi kebenaran tentang pemindahan kiblat ini.

 

وَمَا اللّٰهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُوْن

“Dan Allah tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan.”

( Qs Al-Baqarah [ 2 ] : 144 )

 

4.      Mereka Tidak Akan Beriman

 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

 

وَلَىِٕنْ اَتَيْتَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ بِكُلِّ اٰيَةٍ مَّا تَبِعُوْا قِبْلَتَكَ ۚ وَمَآ اَنْتَ بِتَابِعٍ قِبْلَتَهُمْ ۚ وَمَا بَعْضُهُمْ بِتَابِعٍ قِبْلَةَ بَعْضٍۗ وَلَىِٕنِ اتَّبَعْتَ اَهْوَاۤءَهُمْ مِّنْۢ بَعْدِ مَاجَاۤءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ اِنَّكَ اِذًا لَّمِنَ الظّٰلِمِيْنَ

 

“Dan walaupun engkau (Muhammad) memberikan semua ayat (keterangan) kepada orang-orang yang diberi Kitab itu, mereka tidak akan mengikuti kiblatmu, dan engkau pun tidak akan mengikuti kiblat mereka. Sebagian mereka tidak akan mengikuti kiblat sebagian yang lain. Dan jika engkau mengikuti keinginan mereka setelah sampai ilmu kepadamu, niscaya engkau termasuk orang-orang zalim.”

 ( Qs. al-Baqarah [ 2 ] : 145 )

 

1)     Ayat diatas menjelaskan tentang kekufuran keingkaran dan penentangan kaum Yahudi terhadap pemindahan kiblat. Seandainya Rasulullah mendatangkan berbagai bukti tentang kebenaran yang beliau bawa, termasuk soal pemindahan kiblat, niscaya mereka tidak akan mengikuti Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ini sesuai dengan firman-Nya,

 

وَلَوْ جَاۤءَتْهُمْ كُلُّ اٰيَةٍ حَتّٰى يَرَوُا الْعَذَابَ الْاَلِيْمَ ,   اِنَّ الَّذِيْنَ حَقَّتْ عَلَيْهِمْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لَا يُؤْمِنُوْنَ

 

“Sungguh, orang-orang yang telah dipastikan mendapat ketetapan Tuhanmu, tidaklah akan beriman, meskipun mereka mendapat tanda-tanda (kebesaran Allah), hingga mereka menyaksikan azab yang pedih.” ( Qs. Yunus [ 10 ] : 96-97 )

 

2)     Ayat diatas juga menunjukkan keteguhan Nabi di dalam memegang prinsip Agama, serta beliau tidak akan  mengikuti hawa nafsu mereka dalam segala hal.

3)     Ayat diatas juga menjelaskan bahwa kaum Yahudi kalau shalat menghadap ke barat, sedangkan kaum Nasrani meghadap ke timur. Dan masing masing dari mereka tidak akan mengikuti kiblat kelompok lain. Dan ini juga menunjukkan bahwa masing masing dari mereka berselisih satu dengan yang lainnya.

4)     Pada ayat diatas terdapat ancaman kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam  jika mengikuti kemauan kaum Yahudi untuk tetap menghadap ke Baitul Maqdis dalam shalat, maka akan dimasukkan dalam golongan orang-orang yang zalim. Tetapi maksud ayat ini untuk umatnya yaitu umat Islam, karena bagi Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak akan mungkin mengikuti hawa nafsu kaum Yahudi, beliau adalah Nabi yang ma’shum di jaga oleh Allah.

 

5.      Kebenaran  Dari Allah

 

اَلَّذِيْنَ اٰتَيْنٰهُمُ الْكِتٰبَ يَعْرِفُوْنَهٗ كَمَا يَعْرِفُوْنَ اَبْنَاۤءَهُمْ ۗ وَاِنَّ فَرِيْقًا مِّنْهُمْ لَيَكْتُمُوْنَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ

اَلْحَقُّ مِنْ رَّبِّكَ فَلَا تَكُوْنَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِيْنَ

 

“Orang-orang yang telah Kami beri Kitab (Taurat dan Injil) mengenalnya (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri. Sesungguhnya sebagian mereka pasti menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui(nya). Kebenaran itu dari Tuhanmu, maka janganlah sekali-kali engkau (Muhammad) termasuk orang-orang yang ragu.”

( Qs Al-Baqarah [ 2 ] : 146- 147 )

 

Ayat-ayat diatas menunjukkan beberapa pelajaran :

 

1)     Ahlul kitab dari kalangan Yahudi dan Nasrani sebenarnya telah mengenal Nabi Muhammad dengan ciri-ciri dan sifat-sifat yang telah disebutkan di dalam kitab suci mereka. Bahkan mereka mengetahui Nabi Muhammad seperti mengetahui anak-anak mereka sendiri.

Ini diungkapkan Al-Quran dengan jelas dan tegas untuk menggambarkan pengetahuan mereka yang sangat mendalam tentang Nabi Muhammad Shallallahu  Alaihi wa Sallam. Siapa diantara kita yang tidak tahu ciri-ciri anaknya sendiri,

2)     Namun sekelompok dari mereka menyembunyikan “kebenaran”, yaitu tentang kenabian Nabi Muhammad dan tentang pemindahan kiblat padahal mereka mengetahuinya. Inilah kejahatan mereka yang paling nampak, menyembunyikan kebenaran. Ini juga sebagai peringatan kepada Kaum Muslimin agar menyampaikan kebenaran apa adanya dan tidak menyembunyikannya untuk keperluan dunia.

3)     Sebuah kaidah penting bahwa ukuran kebenaran itu adalah apa yang datang dari Allah di dalam A-Quran dan Sunnah. Bukan menurut keinginan ahlul kitab atau hawa nafsu mereka.

 

Kalau dalam masalah kiblat diartikan bahwa kebenaran itu perintah Allah  untuk menghadap ke Ka’bah, bukan kemauan kaum Yahudi yang menginginkan umat Islam menghadap Baitul Maqdis.

 

Wallahu A’lam

****

 

Jakarta,  Sabtu 22 Januari 2022.

KARYA TULIS