Karya Tulis
554 Hits

Tafsir An-Najah (Qs. 4: 26-28) Bab 211 Manusia Makhluk yang Lemah


Manusia Makhluk yang Lemah

(Ayat 26-28)

 

يُرِيْدُ اللّٰهُ لِيُبَيِّنَ لَكُمْ وَيَهْدِيَكُمْ سُنَنَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَيَتُوْبَ عَلَيْكُمْ ۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ

“Allah hendak menerangkan (syariat-Nya) kepadamu, dan menunjukkan jalan-jalan (kehidupan) orang yang sebelum kamu (para nabi dan orang-orang saleh) dan Dia menerima tobatmu. Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.”

(Qs. an-Nisa’: 26)

 

Pelajaran (1) Menjelaskan Sesuatu yang Bermanfaat

(1) Dengan ditetapkan hukun-hukum tentang pernikahan pada ayat-ayat sebelumnya, Allah bermaksud untuk menjelaskan halal dan haram di dalamnya, mana perkara yang baik dan mana perkara yang buruk, mana yang membawa maslahat dan mana yang membawa madharat.

Allah juga ingin menjelaskan dan menunjukkan jalan hidup dan ajaran para nabi serta orang-orang yang shalih pada masanya. Selain itu Allah ingin mengampuni dosa orang-orang yang sudah terlanjur berbuat salah dalam masalah ini.

(2) Ayat ini menunjukkan bahwa tidak ada satupun peristiwa yang terjadi di dunia ini kecuali di dalamnya terdapat hukum Allah. Hal ini diperkuat dengan firman-Nya,

وَمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا طٰۤىِٕرٍ يَّطِيْرُ بِجَنَاحَيْهِ اِلَّآ اُمَمٌ اَمْثَالُكُمْ ۗمَا فَرَّطْنَا فِى الْكِتٰبِ مِنْ شَيْءٍ ثُمَّ اِلٰى رَبِّهِمْ يُحْشَرُوْنَ

“Dan tidak ada seekor binatang pun yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan semuanya merupakan umat-umat (juga) seperti kamu. Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan di dalam Kitab, kemudian kepada Tuhan mereka dikumpulkan.” (Qs. al-An’am: 38)

Dikuatkan juga dengan firman Allah ﷻ,

وَيَوْمَ نَبْعَثُ فِيْ كُلِّ اُمَّةٍ شَهِيْدًا عَلَيْهِمْ مِّنْ اَنْفُسِهِمْ وَجِئْنَا بِكَ شَهِيْدًا عَلٰى هٰٓؤُلَاۤءِۗ وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتٰبَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَيْءٍ وَّهُدًى وَّرَحْمَةً وَّبُشْرٰى لِلْمُسْلِمِيْنَ ࣖ

“Dan (ingatlah) pada hari (ketika) Kami bangkitkan pada setiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri, dan Kami datangkan engkau (Muhammad) menjadi saksi atas mereka. Dan Kami turunkan Kitab (al-Qur'an) kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu, sebagai petunjuk, serta rahmat dan kabar gembira bagi orang yang berserah diri (Muslim).” (Qs. an-Nahl: 89)

(3)  Allah Maha Mengetahui hukum-hukum yang telah ditetapkan pada umat yang lalu dan yang ditetapkan kepada umat Islam. Allah juga Maha mengetahui apa yang membawa maslahat bagi hamba-Nya dan apa yang membawa madharat bagi mereka. Dan Allah Maha Bijak dalam setiap keputusan di dalam hukum-hukum-Nya, tidak membebani hal-hal yang memberatkan hamba-Nya.

 

Pelajaran (2) Agar Kalian Bertaubat

وَاللّٰهُ يُرِيْدُ اَنْ يَّتُوْبَ عَلَيْكُمْ ۗ وَيُرِيْدُ الَّذِيْنَ يَتَّبِعُوْنَ الشَّهَوٰتِ اَنْ تَمِيْلُوْا مَيْلًا عَظِيْمًا

“Dan Allah hendak menerima tobatmu, sedang orang-orang yang mengikuti keinginannya menghendaki agar kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran).” (Qs. an-Nisa’: 27)

(1) Pada ayat ini Allah menegaskan kemabli keinginan-Nya untuk menerima taubat orang-orang beriman. Di sini mencakup taubatnya orang-orang yang pernah menikahi istri ayahnya sendiri, atau menggabungkan dua saudara perempuan dalam pernikahan. Dan mencakup juga semua orang yang pernah melakukan berbagai pelanggaran syariat atau berbagai dosa kecil maupun dosa besar.

Penerimaan taubat dari hamba-Nya, diulangi dua kali. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya beristighfar dan bertaubat kepada Allah, hingga Allah menyebutnya berdampingan dengan kalimat tauhid di banyak ayat dalam Al-Qur’an, diantaranya:

 

 

(a) Firman Allah ﷻ,

فَاعْلَمْ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْۢبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِۚ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوٰىكُمْ ࣖ

“Maka ketahuilah, bahwa tidak ada tuhan (yang patut disembah) selain Allah dan mohonlah ampunan atas dosamu dan atas (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat usaha dan tempat tinggalmu.” (Qs. Muhammad: 19)

(b) Firman Allah ﷻ,

اَلَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَآ اِنَّنَآ اٰمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِۚ

“(Yaitu) orang-orang yang berdoa, ‘Ya Tuhan kami, kami benar-benar beriman, maka ampunilah dosa-dosa kami dan lindungilah kami dari azab neraka’.” (Qs. Ali-‘Imran: 16)

(c) Firman Allah ﷻ,

اِنَّآ اٰمَنَّا بِرَبِّنَا لِيَغْفِرَ لَنَا خَطٰيٰنَا وَمَآ اَكْرَهْتَنَا عَلَيْهِ مِنَ السِّحْرِۗ وَاللّٰهُ خَيْرٌ وَّاَبْقٰى

“Kami benar-benar telah beriman kepada Tuhan kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami dan sihir yang telah engkau paksakan kepada kami. Dan Allah lebih baik (pahala-Nya) dan lebih kekal (azab-Nya).” (Qs. Thaha: 73)

(2) Ketika Allah menginginkan para hamba-Nya bertaubat, justru sebaliknya orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya menginginkan orang-orang berpaling sejauh-jauhnya dari kebenaran dan petunjuk Allah.

(3) Yang dimaksud orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya pada ayat di atas adalah:

(a) Orang-orang yang tenggelam dalam kemaksiatan dan perzinaan.

(b) Orang-orang Yahudi, mereka adalah orang-orang yang paling berani dan paling banyak berbuat maksiat.

(c) Orang-orang Nasrani.

(d) Orang-orang Majusi.

 

Pelajaran (3) Islam Agama yang Mudah

يُرِيْدُ اللّٰهُ اَنْ يُّخَفِّفَ عَنْكُمْ ۚ وَخُلِقَ الْاِنْسَانُ ضَعِيْفًا

“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, karena manusia diciptakan (bersifat) lemah.”  (Qs. an-Nisa’: 28)

(1) Allah di dalam menetapkan hukum-hukum-Nya memiliki tujuan untuk kemudahan dan memudahkan para hamba-Nya. Termasuk dalam hal ini adalah kebolehan menikahi budak perempuan, dan menambah atau mengurangi mahar menurut kesepakatan suami istri setelah ditetapkan.

(2) Ayat di atas juga menunjukkan kemudahan di dalam ajaran Islam. Di dalamnya tidak ada kesulitan, kerumitan, dan sesuatu yang memberatkan umat-Nya. Di antara dalil-dalil yang menguatkan pernyataan selain ayat di atas adalah:

(a) Firman-Nya,

يُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ ۖ

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (Qs. al-Baqarah: 185)

(b) Firman-Nya,

وَيَضَعُ عَنْهُمْ اِصْرَهُمْ وَالْاَغْلٰلَ الَّتِيْ كَانَتْ عَلَيْهِمْۗ 

“Dan membebaskan beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka.” (Qs. al-A’raf: 157)

(c) Firman-Nya,

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِى الدِّيْنِ مِنْ حَرَجٍۗ

“Dan Dia tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama.” (Qs. al-Hajj: 78)

 

Pelajaran (4) Manusia Makhluk yang Lemah

وَخُلِقَ الْاِنْسَانُ ضَعِيْفًا

“Karena manusia diciptakan (bersifat) lemah.”

Ayat ini juga menjelaskan bahwa penyebab dimudahkan ajaran Islam dan diringankannya beban orang-orang beriman adalah karena manusia diciptakan dalam keadaan sifat lemah. Kelemahan manusia terlihat dalam banyak hal, diantaranya:

(1) Pertama: manusia adalah makhluk pelupa. Manusia di dalam bahasa Arab disebut ‘al-Insan’ atau ‘an-Nas’ yang salah satu maknanya adalah makhluk pelupa.

(a) Manusia pertama kali yang lupa adalah Nabi Adam, sebagaimana firman Allah ﷻ,

وَلَقَدْ عَهِدْنَآ اِلٰٓى اٰدَمَ مِنْ قَبْلُ فَنَسِيَ وَلَمْ نَجِدْ لَهٗ عَزْمًا ࣖ

“Dan sungguh telah Kami pesankan kepada Adam dahulu, tetapi dia lupa, dan Kami tidak dapati kemauan yang kuat padanya.” (Qs. Thaha: 115)

Berkata Ibnu Abbas, “Nabi Adam ‘alaihi as-salam lupa terhadap janji Allah, maka sejak itu diberi nama manusia.”

(b) Yusya’ bin Nun pendamping Nabi Musa ketika mencari Nabi Khidir pernah lupa akan ikan yang dibawanya. Allah ﷻ berfirman,

قَالَ اَرَاَيْتَ اِذْ اَوَيْنَآ اِلَى الصَّخْرَةِ فَاِنِّيْ نَسِيْتُ الْحُوْتَۖ وَمَآ اَنْسٰىنِيْهُ اِلَّا الشَّيْطٰنُ اَنْ اَذْكُرَهٗۚ وَاتَّخَذَ سَبِيْلَهٗ فِى الْبَحْرِ عَجَبًا

“Dia (pembantunya) menjawab, ‘Tahukah engkau ketika kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak ada yang membuat aku lupa untuk mengingatnya kecuali setan, dan (ikan) itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali’.” (Qs. al-Kahfi: 63)

(c) Nabi Yusuf dalam penjara yang diamanahi untuk menyampaikan keadaannya kepada raja, tetapi dia lupa untuk menyampaikannya. Allah ﷻ berfirman,

وَقَالَ لِلَّذِيْ ظَنَّ اَنَّهٗ نَاجٍ مِّنْهُمَا اذْكُرْنِيْ عِنْدَ رَبِّكَۖ فَاَنْسٰىهُ الشَّيْطٰنُ ذِكْرَ رَبِّهٖ فَلَبِثَ فِى السِّجْنِ بِضْعَ سِنِيْنَ ࣖ

“Dan dia (Yusuf) berkata kepada orang yang diketahuinya akan selamat di antara mereka berdua, ‘Terangkanlah keadaanku kepada tuanmu.’ Maka setan menjadikan dia lupa untuk menerangkan (keadaan Yusuf) kepada tuannya. Karena itu dia (Yusuf) tetap dalam penjara beberapa tahun lamanya’.” (Qs. Yusuf: 42)

(d) Nabi Musa lupa terhadap kesepakatannya dengan Nabi Khidir untuk tidak bertanya sesuatu sampai Nabi Khidir memberitahukannya sendiri. Allah ﷻ berfirman,

قَالَ لَا تُؤَاخِذْنِيْ بِمَا نَسِيْتُ وَلَا تُرْهِقْنِيْ مِنْ اَمْرِيْ عُسْرًا

“Dia (Musa) berkata, ‘Janganlah engkau menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah engkau membebani aku dengan suatu kesulitan dalam urusanku’.” (Qs. al-Kahfi: 73)

(e) Allah melarang orang-orang beriman untuk menyerupai orang-orang yang lupa terhadap Allah,

وَلَا تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ نَسُوا اللّٰهَ فَاَنْسٰىهُمْ اَنْفُسَهُمْۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik.” (Qs. al-Hasyr: 19)

(f) Orang-orang Yahudi yang sengaja melupakan pesan yang diperintahkan Allah kepada mereka. Allah ﷻ berfirman,

فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِّيْثَاقَهُمْ لَعَنّٰهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوْبَهُمْ قٰسِيَةً ۚ يُحَرِّفُوْنَ الْكَلِمَ عَنْ مَّوَاضِعِهٖۙ وَنَسُوْا حَظًّا مِّمَّا ذُكِّرُوْا بِهٖۚ وَلَا تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلٰى خَاۤىِٕنَةٍ مِّنْهُمْ اِلَّا قَلِيْلًا مِّنْهُمْ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ ۗاِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ ۞ وَمِنَ الَّذِيْنَ قَالُوْٓا اِنَّا نَصٰرٰٓى اَخَذْنَا مِيْثَاقَهُمْ فَنَسُوْا حَظًّا مِّمَّا ذُكِّرُوْا بِهٖۖ فَاَغْرَيْنَا بَيْنَهُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاۤءَ اِلٰى يَوْمِ الْقِيٰمَةِ ۗ وَسَوْفَ يُنَبِّئُهُمُ اللّٰهُ بِمَا كَانُوْا يَصْنَعُوْنَ ۞

“(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, maka Kami melaknat mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka mengubah firman (Allah) dari tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian pesan yang telah diperingatkan kepada mereka. Engkau (Muhammad) senantiasa akan melihat pengkhianatan dari mereka kecuali sekelompok kecil di antara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. Dan di antara orang-orang yang mengatakan, “Kami ini orang Nasrani,” Kami telah mengambil perjanjian mereka, tetapi mereka (sengaja) melupakan sebagian pesan yang telah diperingatkan kepada mereka, maka Kami timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka hingga hari Kiamat. Dan kelak Allah akan memberitakan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan.” (Qs. al-Ma’idah: 13-14)

(g) Oleh karenanya Allah menafikan dari Diri-Nya sifat lupa. Allah ﷻ berfirman,

لَا يَضِلُّ رَبِّيْ وَلَا يَنْسَىۖ

“Tuhanku tidak akan salah ataupun lupa.” (Qs. Thaha: 32)

Juga dalam firman-Nya,

وَمَا نَتَنَزَّلُ اِلَّا بِاَمْرِ رَبِّكَۚ لَهٗ مَا بَيْنَ اَيْدِيْنَا وَمَا خَلْفَنَا وَمَا بَيْنَ ذٰلِكَ وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيًّا ۚ

“Dan tidaklah kami (Jibril) turun, kecuali atas perintah Tuhanmu. Milik-Nya segala yang ada di hadapan kita, yang ada di belakang kita, dan segala yang ada di antara keduanya, dan Tuhanmu tidak lupa.” (Qs. Maryam: 64)

(2) Kedua: manusia sering terkena penyakit.

(a) Nabi Ibrahim mengakui bahwa jika dirinya sakit, Allah-lah yang menyembuhkannya. Allah ﷻ berfirman,

وَاِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِيْنِ ۙ

Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku.” (Qs. asy-Syuara’: 80)

(b) Nabi Ayyub pernah sakit bertahun-tahun lamanya. Allah ﷻ berfirman,

وَاَيُّوْبَ اِذْ نَادٰى رَبَّهٗٓ اَنِّيْ مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَاَنْتَ اَرْحَمُ الرَّاحِمِيْنَ ۚ

“Dan (ingatlah kisah) Ayyub, ketika dia berdoa kepada Tuhannya, ‘(Ya Tuhanku), sungguh, aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang’.” (Qs. al-Anbiya’: 83)

(3) Ketiga: manusia sering berkelung kesah dalam hidupnya. Allah ﷻ berfirman

اِنَّ الْاِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوْعًاۙ ۞ اِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوْعًاۙ ۞ وَّاِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوْعًاۙ ۞

“Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh. Apabila dia ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah dan apabila mendapat kebaikan (harta) dia jadi kikir.” (Qs. al-Ma’arij: 19-21)

 

(4) Keempat: manusia sangat lemah di depan godaan wanita.

Sebagian ulama mengatakan bahwa maksud manusia lemah dalam ayat ini adalah laki-laki lemah di depan syahwatnya terhadap perempuan.

(a) Berkata Thawus, “Ayat ini turun berkaitan dengan perempuan secara khusus.”

(b) Berkata Ibnu Abbas maksudnya bahwa, “Laki-laki tidak sabar menghadapi syahwat perempuan.”

(c) Berkata Ibnu Musayyid, “Saya sudah berumur 80 tahun, mataku buta sebelah, yang sebelah lagi sudah rabun. Saya pun sudah tidak punya nafsu, tetapi walau begitu saya masih khawatir terhadap fitnah wanita.”

(d) Berkata ‘Ubadah bin Shamit, “Jalanku sudah tertatih tatih, makananku bubur hangat, dan saya sudah tidak punya nafsu, tetapi saya tidak berani berduaan dengan perempuan yang tidak halal bagiku, karena sewaktu waktu syetan bisa menggerakkannya.”

 

***

Jakarta, Kamis, 21 April 2022

KARYA TULIS