Karya Tulis
397 Hits

Tafsir An-Najah (Qs.4:163-166): Bab 266 Tugas Para Nabi dan Rasul


اِنَّآ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ كَمَآ اَوْحَيْنَآ اِلٰى نُوْحٍ وَّالنَّبِيّٖنَ مِنْۢ بَعْدِهٖۚ وَاَوْحَيْنَآ اِلٰٓى اِبْرٰهِيْمَ وَاِسْمٰعِيْلَ وَاِسْحٰقَ وَيَعْقُوْبَ وَالْاَسْبَاطِ وَعِيْسٰى وَاَيُّوْبَ وَيُوْنُسَ وَهٰرُوْنَ وَسُلَيْمٰنَ ۚوَاٰتَيْنَا دَاوٗدَ زَبُوْرًاۚ

“Sesungguhnya Kami telah mewahyukan kepadamu (Nabi Muhammad) sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi setelahnya. Kami telah mewahyukan pula kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya‘qub dan keturunan(-nya), Isa, Ayyub, Yunus, Harun, dan Sulaiman. Dan Kami telah memberikan (Kitab) Zabur kepada Daud.”

(Qs. an-Nisa’: 163)

 

Pelajaran (1) Makna Wahyu

(1) Ayat ini adalah jawaban dari pertanyaan orang-orang Yahudi yang meminta Rasulullah ﷺ untuk menurunkan kepada mereka sebuah kitab dari langit yang disebutkan di dalam (Qs. an-Nisa’: 153) yang lalu.

(2) Firman-Nya,

اِنَّآ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ كَمَآ اَوْحَيْنَآ اِلٰى نُوْحٍ وَّالنَّبِيّٖنَ مِنْۢ بَعْدِهٖۚ

“Sesungguhnya Kami telah mewahyukan kepadamu (Nabi Muhammad) sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi setelahnya.”

Kata (اَوْحَيْنَآ) berasal dari (الوَحْيُ) artinya pemberitahuan secara halus dan tersembunyi melalui isyarat, ilham, kode dan lain-lainnya.

(a) Wahyu melalui isyarat, seperti di dalam firman Allah ﷻ,

فَخَرَجَ عَلٰى قَوْمِهٖ مِنَ الْمِحْرَابِ فَاَوْحٰٓى اِلَيْهِمْ اَنْ سَبِّحُوْا بُكْرَةً وَّعَشِيًّا

“Lalu, (Zakaria) keluar dari mihrab menuju kaumnya lalu dia memberi isyarat kepada mereka agar bertasbihlah kamu pada waktu pagi dan petang.” (Qs. Maryam: 11)

(b) Wahyu melalui ilham, seperti di dalam firman Allah ﷻ,

وَاِذْ اَوْحَيْتُ اِلَى الْحَوَارِيّٖنَ اَنْ اٰمِنُوْا بِيْ وَبِرَسُوْلِيْ ۚ قَالُوْٓا اٰمَنَّا وَاشْهَدْ بِاَنَّنَا مُسْلِمُوْنَ

“(Ingatlah) ketika Aku ilhamkan kepada para pengikut setia Isa, “Berimanlah kamu kepada-Ku dan kepada Rasul-Ku.” Mereka menjawab, “Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai Rasul) bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri”.” (Qs. al-Ma’idah: 111)

Juga di dalam firman Allah ﷻ,

وَاَوْحَيْنَآ اِلٰٓى اُمِّ مُوْسٰٓى اَنْ اَرْضِعِيْهِۚ فَاِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَاَلْقِيْهِ فِى الْيَمِّ وَلَا تَخَافِيْ وَلَا تَحْزَنِيْ ۚاِنَّا رَاۤدُّوْهُ اِلَيْكِ وَجَاعِلُوْهُ مِنَ الْمُرْسَلِيْنَ

“Kami mengilhamkan kepada ibu Musa, “Susuilah dia (Musa). Jika engkau khawatir atas (keselamatan)-nya, hanyutkanlah dia ke sungai (Nil dalam sebuah peti yang mengapung). Janganlah engkau takut dan janganlah (pula) bersedih. Sesungguhnya Kami pasti mengembalikannya kepadamu dan menjadikannya sebagai salah seorang rasul”.” (Qs. al-Qashash: 7)

(c) Wahyu melalui insting, seperti di dalam firman Allah ﷻ,

وَاَوْحٰى رَبُّكَ اِلَى النَّحْلِ اَنِ اتَّخِذِيْ مِنَ الْجِبَالِ بُيُوْتًا وَّمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُوْنَۙ

“Tuhanmu mengilhamkan kepada lebah, “Buatlah sarang-sarang di pegunungan, pepohonan, dan bangunan yang dibuat oleh manusia.” (Qs. an-Nahl: 68)

(d) Wahyu melalui bisikan, seperti di dalam firman Allah ﷻ,

وَكَذٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيٰطِيْنَ الْاِنْسِ وَالْجِنِّ يُوْحِيْ بَعْضُهُمْ اِلٰى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُوْرًا ۗوَلَوْ شَاۤءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوْهُ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُوْنَ

“Demikianlah (sebagaimana Kami menjadikan bagimu musuh) Kami telah menjadikan (pula) bagi setiap nabi musuh yang terdiri atas setan-setan (berupa) manusia dan jin. Sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan yang indah sebagai tipuan. Seandainya Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak akan melakukannya. Maka, tinggalkan mereka bersama apa yang mereka ada-adakan (kebohongan).” (Qs. al-An’am: 112)

(3) Maksud ayat di atas bahwa Allah memberikan wahyu kepada Nabi Muhammad ﷺ sebagaimana telah memberikan wahyu kepada Nabi Nuh dan para nabi sesudahnya.

(4) Di sini Allah memberitahukan bahwa Nabi Muhammad ﷺ bukanlah seorang rasul yang diutus pertama kali oleh Allah, namun beliau sebagai kelanjutan para rasul sebelumnya. Hal ini dikuatkan di dalam firman Allah ﷻ,

قُلْ مَا كُنْتُ بِدْعًا مِّنَ الرُّسُلِ وَمَآ اَدْرِيْ مَا يُفْعَلُ بِيْ وَلَا بِكُمْۗ اِنْ اَتَّبِعُ اِلَّا مَا يُوْحٰٓى اِلَيَّ وَمَآ اَنَا۠ اِلَّا نَذِيْرٌ مُّبِيْنٌ

“Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku bukanlah Rasul yang pertama di antara para rasul dan aku tidak tahu apa yang akan diperbuat (Allah) kepadaku dan kepadamu. Aku hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dan aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan”.” (Qs. al-Ahqaf: 9)

(5) Kemudian Allah menyebut Nabi Nuh sebagai nabi yang pertama kali diutus kepada manusia dengan memabwa syariat dan melarang mereka untuk berbuat syirik. Sebagian ulama menyebutkan bahwa Nabi Nuh adalah rasul pertama yang diutus oleh Allah.

 

Pelajaran (2) Makna “al-Asbath

وَاَوْحَيْنَآ اِلٰٓى اِبْرٰهِيْمَ وَاِسْمٰعِيْلَ وَاِسْحٰقَ وَيَعْقُوْبَ وَالْاَسْبَاطِ وَعِيْسٰى وَاَيُّوْبَ وَيُوْنُسَ وَهٰرُوْنَ وَسُلَيْمٰنَ ۚوَاٰتَيْنَا

“Kami telah mewahyukan pula kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya‘qub dan keturunan(-nya), Isa, Ayyub, Yunus, Harun, dan Sulaiman.”

(1) Kata wahyu disebutkan lagi di sini, karena antara Nabi Nuh dengan Nabi Ibrahim terdapat rentang waktu sangat panjang yang memisahkan antara keduanya.

(2) Kata (الْاَسْبَاط) adalah anak-anak Nabi Ya’qub.

Sebagian ulama mengatakan bahwa al-asbath untuk menyebut anak-anak Nabi Ya’qub. Sedangkan al-Qabail untuk menyebut anak-anak Nabi Ismail.

Maksud Allah memberikan wahyu kepada al-asbath adalah memberikan wahyu sebagian dari mereka atau memberikan wahyu kepada para nabi dari kalangan mereka.

Ayat ini mirip dengan firman Allah ﷻ,

قُوْلُوْٓا اٰمَنَّا بِاللّٰهِ وَمَآ اُنْزِلَ اِلَيْنَا وَمَآ اُنْزِلَ اِلٰٓى اِبْرٰهٖمَ وَاِسْمٰعِيْلَ وَاِسْحٰقَ وَيَعْقُوْبَ وَالْاَسْبَاطِ وَمَآ اُوْتِيَ مُوْسٰى وَعِيْسٰى وَمَآ اُوْتِيَ النَّبِيُّوْنَ مِنْ رَّبِّهِمْۚ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ اَحَدٍ مِّنْهُمْۖ وَنَحْنُ لَهٗ مُسْلِمُوْنَ

“Katakanlah (wahai orang-orang yang beriman), “Kami beriman kepada Allah, pada apa yang diturunkan kepada kami, pada apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya‘qub dan keturunannya, pada apa yang diberikan kepada Musa dan Isa, serta pada apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan (hanya) kepada-Nya kami berserah diri”.” (Qs. al-Baqarah: 136)

(3) Adapun pendapat yang mengatakan bahwa al-asbath yang berarti “saudara-saudara Nabi Yusuf adalah para nabi yang mendapatkan wahyu”, maka pendapat ini tertolak dan tidak benar. Karena mereka pernah melakukan dosa besar, yaitu berencana untuk membunuh Nabi yuusuf walaupun dalam bentuk lain. Seorang nabi akan dihindarkan dari dosa besar.

(4) Kata (وَعِيْسٰى) Nabi Isa disebutkan lebih dahulu daripada nabi-nabi lain, padahal secara urutan waktu nabi-nabi lain yang lebih dahulu diutus sebelum Nabi Isa. Hal itu karena kenabian Nabi Isa diingkari oleh kaum Yahudi.

 

Pelajaran (3) Makna Zabur

وَاٰتَيْنَا دَاوٗدَ زَبُوْرًاۚ

“Dan Kami telah memberikan (Kitab) Zabur kepada Daud.”

(1) Penyebutan Nabi Daud dengan kata “Kami berikan” bukan dengan kata “Kami Wahyukan” tidaklah menunjukkan bahwa beliau bukan seorang nabi, karena beliau telah diberikan kitab Zabur.

(2) Kata (زَبُوْرًاۚ) artinya (مَكْتُوبٌ) yaitu “sesuatu yang tertulis”. Adapun pengertian Zabur secara istilah adalah kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Daud, berisikan nasehat-nasehat dan hikmah-hikmah, serta terdiri dari 150 surat. Di dalam kitab ini tidak terkandung masalah hukum halal dan haram.

Nabi Daud adalah orang yang memiliki suara yang merdu. Jika beliau mulai berbicara tentang Zabur, maka manusia jin, burung-burung dan binatang lainnya mendekatinya untuk mendengar suaranya yang merdu.

Beliau adalah seorang nabi yang tawadhu’, makan dari hasil karyanya sendiri. Beliau pembuat perisai dan baju besi.

(3) Pada ayat ini Nabi Muhammad ﷺ disebut pertama kali, padahal beliau merupakan seorang nabi yang terakhir. Hal itu untuk menunjukkan kemuliaan dan kedudukan beliau yang tinggi di atas para nabi dan rasul lainnya.

Ini mirip dengan firman Allah ﷻ,

وَاِذْ اَخَذْنَا مِنَ النَّبِيّٖنَ مِيْثَاقَهُمْ وَمِنْكَ وَمِنْ نُّوْحٍ وَّاِبْرٰهِيْمَ وَمُوْسٰى وَعِيْسَى ابْنِ مَرْيَمَ ۖوَاَخَذْنَا مِنْهُمْ مِّيْثَاقًا غَلِيْظًاۙ

“(Ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari para nabi, darimu (Nabi Muhammad), dari Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa putra Maryam. Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh.” (Qs. al-Ahzab: 7)

 

Pelajaran (4) Makna Nabi dan Rasul

وَرُسُلًا قَدْ قَصَصْنٰهُمْ عَلَيْكَ مِنْ قَبْلُ وَرُسُلًا لَّمْ نَقْصُصْهُمْ عَلَيْكَ ۗوَكَلَّمَ اللّٰهُ مُوْسٰى تَكْلِيْمًاۚ

“Ada beberapa rasul yang telah Kami ceritakan (kisah) tentang mereka kepadamu sebelumnya dan ada (pula) beberapa rasul (lain) yang tidak Kami ceritakan (kisah) tentang mereka kepadamu. Allah telah benar-benar berbicara kepada Musa (secara langsung).” (Qs. an-Nisa’: 164)

(1) Pada ayat yang lalu disebutkan istilah “Nabi” dan pada ayat ini disebutkan istilah “Rasul”. Lantas apakah perbedaan antara keduanya?

Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini, tetapi yang paling masyhur ada dua pendapat, yaitu:

Pertama: bahwa setiap rasul adalah nabi, dan tidak setiap nabi adalah rasul. Seorang nabi diberikan wahyu tetapi tidak diperintahkan untuk menyampaikannya kepada orang lain. Sedangkan seorang rasul diberikan wahyu dan diperintahkan untuk menyampaikannya kepada umatnya.

Kedua: bahwa setiap rasul dan nabi, masing-masing diberikan wahyu. Perbedaannya, bahwa rasul diberikan syariat baru yang tidak terdapat pada rasul sebelumnya. Sedangkan nabi tidak diberikan syariat baru, ia hanya menyampaikan dan mengajak untuk menjalankan syariat rasul sebelumnya.

(2) Ayat di atas menunjukkan bahwa tidak setiap nabi dan rasul diceritakan Allah di dalam al-Qur’an atau disebutkan di dalam hadits Nabi ﷺ. Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa jumlah nabi sekitar 124.000 orang nabi, dan jumlah rasul sekitar 313 orang rasul.

(3) Adapun jumlah nabi dan rasul yang disebutkan di dalam al-Qur’an ada 25 orang, sebagai berikut:

1. Nabi Adam

14. Nabi Musa

2. Nabi Idris

15. Nabi Harun (w. 1972 SH)

3. Nabi Nuh (w. 3974 SH)

16. Nabi Yunus

4. Nabi Hud

17. Nabi Daud (w. 1626 SH)

5. Nabi Shalih

18. Nabi Sulaiman (w. 1597 SH)

6. Nabi Ibrahim (w. 2818 SH)

19. Nabi Ilyas

7. Nabi Luth

20. Nabi Ilyasa’

8. Nabi Ismail (w. 2686 SH)

21. Nabi Zulkifli

9. Nabi Ishaq (w. 2613 SH)

22. Nabi Zakaria

10. Nabi Ya’qub (w. 2568 SH)

23. Nabi Yahya

11. Nabi Yusuf

24. Nabi Isa

12. Nabi Ayyub

25. Nabi Muhammad ﷺ

13. Nabi Syu’aib

*SH: Sebelum Hijriyah

  

Pelajaran (5) Nabi Musa Kalimullah

وَكَلَّمَ اللّٰهُ مُوْسٰى تَكْلِيْمًاۚ

Allah telah benar-benar berbicara kepada Musa (secara langsung).

Nabi Musa disebut “Kalimullah” karena mendengar suara Allah langsung tanpa perantara. Ini merupakan keistimewaan Nabi Musa dibandingkan nabi dan rasul lainnya. Di antara ayat-ayat al-Qur’an yang menunjukkan hal itu adalah benar, sebagai berikut:

(1) Firman Allah ﷻ,

فَلَمَّآ اَتٰىهَا نُوْدِيَ مِنْ شَاطِئِ الْوَادِ الْاَيْمَنِ فِى الْبُقْعَةِ الْمُبٰرَكَةِ مِنَ الشَّجَرَةِ اَنْ يّٰمُوْسٰىٓ اِنِّيْٓ اَنَا اللّٰهُ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ ۙ

“Maka, ketika dia (Musa) mendatangi (api) itu, dia dipanggil dari pinggir lembah di sebelah kanan (Musa) dari (arah) pohon di sebidang tanah yang diberkahi. “Wahai Musa, sesungguhnya Aku adalah Allah, Tuhan semesta alam.” (Qs. al-Qashash: 30)

(2) Firman Allah ﷻ,

 فَلَمَّا جَاۤءَهَا نُوْدِيَ اَنْۢ بُوْرِكَ مَنْ فِى النَّارِ وَمَنْ حَوْلَهَاۗ وَسُبْحٰنَ اللّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ ۞ يٰمُوْسٰٓى اِنَّهٗٓ اَنَا اللّٰهُ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ ۙ ۞

“Maka, ketika tiba di sana (tempat api itu), dia diseru, “Orang yang berada di dekat api dan orang yang berada di sekitarnya telah diberkahi. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.” (Allah berfirman,) “Wahai Musa, sesungguhnya Aku adalah Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.” (Qs. an-Naml: 8-9)

 

Pelajaran (6) Tugas Para Rasul

رُسُلًا مُّبَشِّرِيْنَ وَمُنْذِرِيْنَ لِئَلَّا يَكُوْنَ لِلنَّاسِ عَلَى اللّٰهِ حُجَّةٌ ۢ بَعْدَ الرُّسُلِ ۗوَكَانَ اللّٰهُ عَزِيْزًا حَكِيْمًا

“(Kami mengutus) rasul-rasul sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah setelah rasul-rasul itu (diutus). Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Qs. an-Nisa’: 165)

(1) Ayat ini menjelaskan tugas rasul, yaitu memberikan kabar gembira dan memperingatkan manusia dengan adzab pedih.

Banyak ayat-ayat al-Qur’an yang mirip dengan ayat ini, diantaranya:

(a) Firman Allah ﷻ,

اِنَّآ اَرْسَلْنٰكَ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَّنَذِيْرًاۙ وَّلَا تُسْـَٔلُ عَنْ اَصْحٰبِ الْجَحِيْمِ

“Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Nabi Muhammad) dengan hak sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Engkau tidak akan dimintai (pertanggungjawaban) tentang penghuni-penghuni neraka.” (Qs. al-Baqarah: 119)

(b) Firman Allah ﷻ,

وَبِالْحَقِّ اَنْزَلْنٰهُ وَبِالْحَقِّ نَزَلَۗ وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا مُبَشِّرًا وَّنَذِيْرًاۘ

“Kami menurunkannya (Al-Qur’an) dengan sebenarnya dan ia (Al-Qur’an) turun dengan (membawa) kebenaran. Kami mengutus engkau (Nabi Muhammad) hanya sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan.” (Qs. al-Isra’: 105)

(c) Firman Allah ﷻ,

فَاِنَّمَا يَسَّرْنٰهُ بِلِسَانِكَ لِتُبَشِّرَ بِهِ الْمُتَّقِيْنَ وَتُنْذِرَ بِهٖ قَوْمًا لُّدًّا

“Sesungguhnya Kami telah memudahkan (Al-Qur’an) itu dengan bahasamu (Nabi Muhammad) agar dengannya engkau memberi kabar gembira kepada orang-orang yang bertakwa dan memberi peringatan kepada kaum yang membangkang.” (Qs. Thaha: 97)

(2) Tujuan para rasul memberikan kabar gembira dan memberikan peringatan kepada manusia agar mereka  tidak beralasan kepada Allah pada hari kiamat bahwa belum diutus seorang rasul pun kepada mereka.

Ini dijelaskan di dalam beberapa firman Allah ﷻ, diantaranya:

(a) Firman Allah ﷻ,

وَلَوْ اَنَّآ اَهْلَكْنٰهُمْ بِعَذَابٍ مِّنْ قَبْلِهٖ لَقَالُوْا رَبَّنَا لَوْلَآ اَرْسَلْتَ اِلَيْنَا رَسُوْلًا فَنَتَّبِعَ اٰيٰتِكَ مِنْ قَبْلِ اَنْ نَّذِلَّ وَنَخْزٰى

“Seandainya Kami binasakan mereka dengan suatu siksaan sebelum (bukti itu datang), tentulah mereka berkata, “Ya Tuhan kami, mengapa tidak Engkau utus seorang rasul kepada kami sehingga kami mengikuti ayat-ayat-Mu sebelum kami menjadi hina dan rendah?”” (Qs. Thaha: 134)

(b) Firman Allah ﷻ,

وَلَوْلَآ اَنْ تُصِيْبَهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۢبِمَا قَدَّمَتْ اَيْدِيْهِمْ فَيَقُوْلُوْا رَبَّنَا لَوْلَآ اَرْسَلْتَ اِلَيْنَا رَسُوْلًا فَنَتَّبِعَ اٰيٰتِكَ وَنَكُوْنَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ

“Seandainya saja saat ditimpa adzab karena apa yang mereka kerjakan mereka tidak berdalih dengan mengatakan, “Ya Tuhan kami, mengapa Engkau tidak mengutus seorang rasul kepada kami agar kami mengikuti ayat-ayat-Mu dan termasuk orang-orang mukmin?” (Maka, tidak akan ada rasul yang diutus.)” (Qs. al-Qashash: 47)

(c) Firman Allah ﷻ,

وَمَآ اَهْلَكْنَا مِنْ قَرْيَةٍ اِلَّا لَهَا مُنْذِرُوْنَ ۖ ۞ ذِكْرٰىۚ وَمَا كُنَّا ظٰلِمِيْنَ ۞

“Kami tidak membinasakan suatu negeri, kecuali setelah ada pemberi peringatan kepadanya. (Hal itu) sebagai peringatan. Kami sekali-kali bukanlah orang-orang zhalim.” (Qs. asy-Syu’ara: 208-209)

(d) Firman Allah ﷻ,

مَنِ اهْتَدٰى فَاِنَّمَا يَهْتَدِيْ لِنَفْسِهٖۚ وَمَنْ ضَلَّ فَاِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَاۗ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِّزْرَ اُخْرٰىۗ وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِيْنَ حَتّٰى نَبْعَثَ رَسُوْلًا

“Siapa yang mendapat petunjuk, sesungguhnya ia mendapat petunjuk itu hanya untuk dirinya. Siapa yang tersesat, sesungguhnya (akibat) kesesatannya itu hanya akan menimpa dirinya. Seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kami tidak akan menyiksa (seseorang) hingga Kami mengutus seorang rasul.” (Qs. al-Isra’: 15)

 

Pelajaran (7) Allah Menjadi Saksi

لٰكِنِ اللّٰهُ يَشْهَدُ بِمَآ اَنْزَلَ اِلَيْكَ اَنْزَلَهٗ بِعِلْمِهٖ ۚوَالْمَلٰۤىِٕكَةُ يَشْهَدُوْنَ ۗوَكَفٰى بِاللّٰهِ شَهِيْدًاۗ

“Akan tetapi, Allah bersaksi atas apa (Al-Qur’an) yang telah diturunkan-Nya kepadamu (Nabi Muhammad). Dia menurunkannya dengan ilmu-Nya. (Demikian pula) para malaikat pun bersaksi. Cukuplah Allah menjadi saksi.” (Qs. an-Nisa’: 166)

(1) Diriwayatkan bahwa sekelompok orang Yahudi menemui Rasulullah ﷺ lalu berliau berkata kepada mereka, “Sungguh demi Allah, sebenarnya kalian tahu bahwa aku adalah utusan Allah.” Mereka berkata, “Kami tidak mengetahui hal-hal itu.” Maka turunlah ayat ini.

(2) Ayat ini diturunkan untuk menghibur Nabi ﷺ dan memberikan ketenangan ke dalam hatinya. Hai itu karena banyak orang yang mendustakan dakwahnya, termasuk orang-orang Yahudi yang datang kepada beliau dan tidak mau mengakui kenabian beliau.

(3) Maksud ayat di atas bahwa jika Ahlul Kitab tidak mengakui kenabianmu wahai Muhammad. Maka tidak perlu engkau bersedih dan merasa sempit, karena Allah menyaksikan bahwa engkau adalah nabi yang diutus Allah membawa kitab suci al-Qur’an. Al-Qur’an tersebut Allah turunkan dengan ilmu-Nya. Begitu juga para malaikat ikut menyaksikan akan hal itu.

(4) Kesaksian Allah ini adalah kesaksian yang paling kuat dan disebutkan di dalam firman-Nya,

قُلْ اَيُّ شَيْءٍ اَكْبَرُ شَهَادَةً ۗ قُلِ اللّٰهُ ۗشَهِيْدٌۢ بَيْنِيْ وَبَيْنَكُمْ ۗوَاُوْحِيَ اِلَيَّ هٰذَا الْقُرْاٰنُ لِاُنْذِرَكُمْ بِهٖ وَمَنْۢ بَلَغَ ۗ اَىِٕنَّكُمْ لَتَشْهَدُوْنَ اَنَّ مَعَ اللّٰهِ اٰلِهَةً اُخْرٰىۗ قُلْ لَّآ اَشْهَدُ ۚ قُلْ اِنَّمَا هُوَ اِلٰهٌ وَّاحِدٌ وَّاِنَّنِيْ بَرِيْۤءٌ مِّمَّا تُشْرِكُوْنَ

“Katakanlah (Nabi Muhammad), “Siapakah yang lebih kuat kesaksiannya?” Katakanlah, “Allah. Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Al-Qur’an ini diwahyukan kepadaku supaya dengan itu aku mengingatkan kamu dan orang yang sampai (Al-Qur’an kepadanya). Apakah kamu benar-benar bersaksi bahwa ada tuhan-tuhan lain selain Allah?” Katakanlah, “Aku tidak bersaksi.” Katakanlah, ‘Sesungguhnya Dialah Tuhan Yang Maha Esa dan aku lepas tangan dari apa yang kamu persekutukan’.” (Qs. al-An’am: 19)

(5) Firman-Nya,

اَنْزَلَهٗ بِعِلْمِهٖ

“Dia menurunkannya dengan ilmu-Nya.”

(a) Maksudnya bahwa Allah menurunkan al-Qur’an dan mengetahui bahwa Nabi Muhammad ﷺ berhak untuk menerimanya dan benar-benar akan menyampaikannya kepada manusia.

(b) Maksudnya bahwa Allah menurunkan al-Qur’an dengan ilmu-Nya yang sempurna dan hikmah-Nya yang tinggi, serta mengetahui bahwa al-Qur’an ini akan membawa maslahah bagi umat manusia.

 

***

Jakarta, Selasa, 24 Mei 2022

KARYA TULIS