Tafsir An-Najah (Qs. 5:22-23) Bab 288 Pengecut dan Pemberani

قَالُوْا يٰمُوْسٰٓى اِنَّ فِيْهَا قَوْمًا جَبَّارِيْنَۖ وَاِنَّا لَنْ نَّدْخُلَهَا حَتّٰى يَخْرُجُوْا مِنْهَاۚ فَاِنْ يَّخْرُجُوْا مِنْهَا فَاِنَّا دٰخِلُوْنَ
“Mereka berkata, “Wahai Musa, sesungguhnya di dalamnya (negeri itu) ada orang-orang yang sangat kuat dan kejam. Kami tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar. Jika mereka keluar dari sana, kami pasti akan masuk”.”
(Qs. al-Ma’idah: 22)
Pelajaran (1) Kode Etik Penyebaran Informasi
(1) Firman-Nya (قَالُوْا يٰمُوْسٰٓى) perkataan orang-orang Yahudi Bani Israel kepada Nabi Musa dengan hanya menyebut nama saja “Wahai Musa” menunjukkan keburukan akhlak mereka terhadap nabi mereka. Hal ini terlarang di dalam Islam, sebagaimana Allah ﷻ berfirman,
لَّا تَجۡعَلُواْ دُعَآءَ ٱلرَّسُولِ بَيۡنَكُمۡ كَدُعَآءِ بَعۡضِكُم بَعۡضٗاۚ قَدۡ يَعۡلَمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ يَتَسَلَّلُونَ مِنكُمۡ لِوَاذٗاۚ فَلۡيَحۡذَرِ ٱلَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنۡ أَمۡرِهِۦٓ أَن تُصِيبَهُمۡ فِتۡنَةٌ أَوۡ يُصِيبَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ
“Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain). Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih.” (Qs. an-Nur: 63)
(2) Firman-Nya (اِنَّ فِيْهَا قَوْمًا جَبَّارِيْنَۖ) “Sesungguhnya di dalamnya (negeri itu) ada orang-orang yang sangat kuat dan kejam”.
Telah disebutkan pada ayat 12 sebelumnya, bahwa Nabi Musa mengutus 12 orang pemimpin (naqib) ke Baitul Maqdis, Palestina, untuk mencari informasi tentang penduduk dan orang-orang yang tinggal di dalamnya. Ternyata mereka mendapatkan para penghuninya adalah orang-orang yang kuat, kekar, dan berpostur badan tinggi besar. Perangai mereka kejam, sering bertindak arogan dan semena-mena.
Melihat hal itu, para pemimpin (naqib) Bani Israel ini menjadi gentar. Lebih celakanya lagi, mereka menceritakan keadaan tersebut kepada kerabat mereka, bahkan menghasut mereka untuk tidak ikut berjihad. Padahal Nabi Musa telah melarang mereka untuk menyebarkan informasi kepada orang lain, supaya tidak terjadi kekacauan dan kepanikan di antara umatnya.
(3) Kode etik penyebaran informasi tentang peperangan dan keamanan suatu negeri yang disampaikan oleh Nabi Musa kepada 12 pemimpin (naqib) Bani Israel ini telah dijelaskan di dalam firman-Nya,
وَإِذَا جَآءَهُمۡ أَمۡرٞ مِّنَ ٱلۡأَمۡنِ أَوِ ٱلۡخَوۡفِ أَذَاعُواْ بِهِۦۖ وَلَوۡ رَدُّوهُ إِلَى ٱلرَّسُولِ وَإِلَىٰٓ أُوْلِي ٱلۡأَمۡرِ مِنۡهُمۡ لَعَلِمَهُ ٱلَّذِينَ يَسۡتَنۢبِطُونَهُۥ مِنۡهُمۡۗ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ لَٱتَّبَعۡتُمُ ٱلشَّيۡطَٰنَ إِلَّا قَلِيلٗا
“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu).” (Qs. an-Nisa’: 83)
(5) Akibat pelanggaran terhadap kode etik yaitu penyebaran informasi yang disampaikan Nabi Musa (disebutkan oleh Allah di dalam Qs. an-Nisa’: 83), maka terjadilah kekacauan dan kepanikan di kalangan Bani Israel, yang berujung kepada ketakutan yang luar biasa terhadap musuh-musuh mereka yang tinggal di Palestina.
Pada akhirnya, mereka menjadi enggan dan tidak mau berangkat berperang menghadapi musuh mereka. Mereka berkata kepada Nabi Musa sebagaimana yang disebutkan dalam ayat ini (Qs. al-Ma’idah: 22)
(5) Kata (جَبَّارِيْنَۖ) jama’ dari (جَبَّارٌ) yang berasal dari kata (جَبَرٌ) yang sering diartikan dengan orang yang tinggi, kuat, kejam, arogan, dan bertindak semena-mena.
Pelajaran (2) Mereka Para Pengecut
وَاِنَّا لَنْ نَّدْخُلَهَا حَتّٰى يَخْرُجُوْا مِنْهَاۚ
“Kami tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar.”
(1) Penggalan ayat di atas menunjukkan beberapa hal:
(a) Mereka adalah orang-orang penakut dan pengecut.
(b) Mereka benar-benar tidak akan memasuki tanah Palestina dengan perang atau berjihad.
(c) Mereka ingin menunggu saja sambil duduk-duduk, berpangku tangan, menikmati kehidupan secara wajar dan normal tanpa perjuangan apapun juga sampai musuh mereka yang tinggal di Baitul Maqdis keluar dengan sendirinya.
(2) Kemudian mereka berkata: (فَاِنْ يَّخْرُجُوْا مِنْهَا فَاِنَّا دٰخِلُوْنَ) “Jika mereka keluar dari sana, kami pasti akan masuk”.
(a) Inilah sifat kaum Yahudi yang tidak mau berjuang untuk menempuh sebuah cita-cita.
(b) Kaum muslimin dilarang meniru sifat seperti ini. Kaum muslimin berjuang sekuat tenaga untuk menggapai sebuah cita-cita.
(c) Sifat kaum Yahudi dalam ayat ini digambarkan oleh salah seorang penyair yang menulis syair sebagai berikut:
تَرْجُوْ النَّجَاةَ وَلَمْ تَسْلُكْ مَسَالِكَهَا إِنَّ السَّفِيْنَةَ لَا تَجْرِى عَلَى الْيَبَسِ
“Anda mengharapkan keselamatan, akan tetapi anda tidak mau mengikuti jalan jalan yang mengantarkan kepada keselamatan tersebut.
Sesungguhnya sebuah kapal tidaklah berlayar di atas daratan.”
Pelajaran (3) Dua Lelaki Pemberani
قَالَ رَجُلَانِ مِنَ الَّذِيْنَ يَخَافُوْنَ اَنْعَمَ اللّٰهُ عَلَيْهِمَا ادْخُلُوْا عَلَيْهِمُ الْبَابَۚ فَاِذَا دَخَلْتُمُوْهُ فَاِنَّكُمْ غٰلِبُوْنَ ەۙ وَعَلَى اللّٰهِ فَتَوَكَّلُوْٓا اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ
“Berkatalah dua orang laki-laki di antara mereka yang bertakwa, yang keduanya telah diberi nikmat oleh Allah, “Masukilah pintu gerbang negeri itu untuk (menyerang) mereka (penduduk Baitulmaqdis). Jika kamu memasukinya, kamu pasti akan menang. Bertawakallah hanya kepada Allah, jika kamu orang-orang mukmin”.” (Qs. al-Ma’idah: 23)
(1) Setelah menjelaskan sikap pengecut pada ayat yang lalu, maka pada ayat ini Allah menjelaskan sikap para pemberani.
Metoda al-Qur’an dalam pemaparan ayat-ayatnya sering melakukan perbandingan antara dua hal yang bertentangan. Tujuannya memberikan kesempatan kepada pembacanya untuk memilih salah satu dari dua hal yang bertentangan tersebut. Memilih yang haq atau yang batil. Allah ﷻ berfirman,
وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَّبِّكُمْۗ فَمَنْ شَاۤءَ فَلْيُؤْمِنْ وَّمَنْ شَاۤءَ فَلْيَكْفُرْۚ
“Katakanlah (Nabi Muhammad), “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu. Maka, siapa yang menghendaki (beriman), hendaklah dia beriman dan siapa yang menghendaki (kufur), biarlah dia kufur”.” (Qs. al-Kahfi: 29)
(2) Firman-Nya,
قَالَ رَجُلَانِ مِنَ الَّذِيْنَ يَخَافُوْنَ اَنْعَمَ اللّٰهُ عَلَيْهِمَا ادْخُلُوْا عَلَيْهِمُ الْبَابَۚ
“Berkatalah dua orang laki-laki di antara mereka yang bertakwa, yang keduanya telah diberi nikmat oleh Allah, “Masukilah pintu gerbang negeri itu untuk (menyerang) mereka (penduduk Baitulmaqdis).”
Kata (رَجُلَانِ) artinya dua laki-laki, maksudnya di sini adalah Yusya’ bin Nun dan Kalib bin Yuquna. Kedua orang tersebut termasuk dari 12 orang naqib Bani Israel yang diutus oleh Nabi Musa ke Palestina untuk mencari informasi tentang keadaan penduduk di sana. Dua orang inilah yang merahasiakan informasi yang didapat dari Palestina dan tidak menyebarkannya kepada keluarga atau kerabatnya.
Di dalam ayat ini, Allah menyebutkan dua sifat yang dimiliki dua orang pemberani ini:
(a) Sifat pertama: mereka berdua adalah orang-orang yang takut kepada Allah.
Firman-Nya (مِنَ الَّذِيْنَ يَخَافُوْنَ) “di antara mereka yang takut”, maksud “takut” pada ayat ini adalah bertakwa kepada Allah.
Mereka berdua sangat taat kepada perintah Nabi Musa untuk tidak menyebarkan informasi yang diperoleh kepada keluarga dan rakyatnya. Mereka juga takut menyelisihi perintah Allah dan perintah Nabi Musa untuk berjihad melawan orang-orang kafir yang sedang menguasai Baitul Maqdis.
(b) Sifat kedua: Mereka berdua adalah orang-orang yang diberikan nikmat Allah, yaitu nikmat iman dan nikmat keteguhan dalam memegang ajaran Nabi Musa.
Nikmat Allah sebenarnya ada dua, yaitu nikmat batin dan nikmat lahir. Tetapi yang dimaksud pada ayat ini adalah nikmat batin, berupa hidayah dan taufik untuk tetap berada di atas jalan yang lurus.
(3) Nikmat di sini mirip nikmat yang disebutkan di dalam firman Allah ﷻ,
صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ
“(Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat.” (Qs. al-Fatihah: 7)
Yang dimaksud nikmat dalam surah al-Fatihah ini adalah nikmat hidayah dan taufik untuk berada di atas ajaran Allah. Mereka adalah empat golongan yang disebutkan Allah di dalam firman-Nya,
وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَ فَاُولٰۤىِٕكَ مَعَ الَّذِيْنَ اَنْعَمَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ مِّنَ النَّبِيّٖنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاۤءِ وَالصّٰلِحِيْنَ ۚ وَحَسُنَ اُولٰۤىِٕكَ رَفِيْقًا
“Siapa yang menaati Allah dan Rasul (Nabi Muhammad), mereka itulah orang-orang yang (akan dikumpulkan) bersama orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pencinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (Qs. an-Nisa’: 69)
Pernyataan di atas dikuatkan lagi dengan adanya Yusya’ bin Nun sebagai salah satu dari dua orang yang mendapatkannikmat dari Allah. Sebagaimana diketahui bahwa Yusya’ bin Nun adalah murid terdekat Nabi Musa, yang ikut menemani Nabi Musa bertemu dengan Nabi Khidir. Yusya’ bin Nun juga yang menggantikan Nabi Musa dan Nabi Harun sebagai pemimpin Bani Israel untuk membuka kembali Baitul Maqdis.
Pelajaran (4) Tiga Nasehat
ادْخُلُوْا عَلَيْهِمُ الْبَابَۚ فَاِذَا دَخَلْتُمُوْهُ فَاِنَّكُمْ غٰلِبُوْنَ ەۙ وَعَلَى اللّٰهِ فَتَوَكَّلُوْٓا اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ
“Masukilah pintu gerbang negeri itu untuk (menyerang) mereka (penduduk Baitulmaqdis). Jika kamu memasukinya, kamu pasti akan menang. Bertawakallah hanya kepada Allah, jika kamu orang-orang mukmin.”
Ayat di atas menjelaskan tiga nasehat dua orang naqib (pemimpin) Bani Israel kepada umatnya. Ketiga nasehat tersebut adalah:
(1) Pertama: (ادْخُلُوْا عَلَيْهِمُ الْبَابَۚ) “Menyerang penduduk Palestina tersebut dengan serangan mendadak di pintu kotanya”.
Dikatakan dalam ilmu strategi perang bahwa jika sebuah kota diserang secara mendadak ketika penduduknya lengah, maka biasanya kota tersebut akan lebih mudah ditaklukkan. Salah satunya adalah peristiwa Fathu Makkah (pembukaan kota Mekkah). Pada waktu membuka kota Mekkah, Rasulullah ﷺ menerapkan strategi yang digunakan Yusya’ bin Nun dalam menaklukkan Baitul Maqdis, yaitu dengan melakukan serangan mendadak.
Oleh karenanya, sebelum berangkat ke Mekkah dengan pasukan yang berjumlah 10.000 orang, Rasulullah ﷺ merahasiakannya dan melarang umat Islam di Madinah untuk membocorkan rencana tersebut. Pasukan Rasulullah ﷺ berjalan pada malam hari dan beristirahat pada siang hari, untuk menghindari pertemuan dengan para musafir di perjalanan.
Sesampainya di pintu seberang kota Mekkah, orang-orang Quraisy langsung menyerah, karena tidak ada persiapan untuk melawan pasukan Islam, apalagi dalam jumlah yang begitu besar.
(2) Kedua: (فَاِذَا دَخَلْتُمُوْهُ فَاِنَّكُمْ غٰلِبُوْنَ) “Jika sudah memasuki kota, tidak boleh mundur sedikitpun dan harus yakin dengan kemenangan”.
Pasukan yang mempunyai mental yang kuat dan rasa optimis yang tinggi biasanya akan menguasai medan perang. Apalagi dalam posisi aktif dan menyerang. Jadi motivasi atau seruan penyemangat sangat penting untuk disampaikan oleh komandan perang kepada para pasukannya.
Di sini Yusya’ bin Nun menyerukan,
فَاِنَّكُمْ غٰلِبُوْنَ
“Kalian akan menjadi pemenang.”
Keyakinan kuat akan kemenangan tersebut muncul dari beberapa hal:
(a) Dari janji dan pernyataan Allah di dalam firman-Nya,
يٰقَوْمِ ادْخُلُوا الْاَرْضَ الْمُقَدَّسَةَ الَّتِيْ كَتَبَ اللّٰهُ لَكُمْ
“Wahai kaumku, masuklah ke tanah suci (Baitulmaqdis) yang telah Allah tentukan bagimu” (Qs. al-Ma’idah: 21)
Dalam ayat di atas, Allah menyatakan bahwa Baitul Maqdis di Palestina adalah ditetapkan untuk Bani Israel yang taat kepada Nabi Musa.
(b) Dari pemberitahuan Nabi Musa kepada para naqibnya bahwa Allah menjanjikan kemenangan untuk mereka.
(c) Beberapa fakta yang sudah mereka lihat dengan mata kepala sendiri, bagaimana Allah menolong Nabi Musa di saat-saat yang kritis.
(d) Dari sifat penguasa dan penduduk Palestina yang kejam dan zhalim. Biasanya kaum seperti ini akan mudah dikalahkan.
(3) Ketiga: (وَعَلَى اللّٰهِ فَتَوَكَّلُوْٓا اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ) “Bertawakallah hanya kepada Allah, jika kamu orang-orang mukmin”.
Bertawakkal kepada Allah secara penuh di dalam memerangi musuh-musuh mereka.
(a) Bertawakkal artinya bersandar penuh kepada kekuatan Allah dan tidak merasa dirinya hebat serta tidak menyandarkan pada kekuatan diri.
(b) Bertawakkal juga berarti sudah melakukan usaha yang maksimal dalam mempersiapkan kekuatan dan mengatur strategi perang. Usaha yang maksimal dari manusia, Adapun hasil diserahkan kepada Allah ﷻ.
(c) Ayat di atas juga menunjukkan bahwa salah satu syarat menjadi seorang mukmin yang benar adalah bertawakkal kepada Allah dalam setiap masalah yang dihadapinya.
(d) Allah berfirman,
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَاِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ اٰيٰتُهٗ زَادَتْهُمْ اِيْمَانًا وَّعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَۙ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah mereka yang jika disebut nama Allah, gemetar hatinya dan jika dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhannya mereka bertawakal.” (Qs. al-Anfal: 2)
***
Jakarta, Senin, 6 Juni 2022
-

Tanya Jawab Aktual Tentang Shalat
Lihat isinya

Tanya Jawab Aktual Tentang Puasa
Lihat isinya » -

Jilbab Menurut Syari'at Islam (Meluruskan Pandangan Prof. DR. Quraish)
Lihat isinya

Halal dan Haram Dalam Pernikahan (Edisi I)
Lihat isinya » -

Halal dan Haram Dalam Pengobatan (Edisi I)
Lihat isinya

Halal dan Haram Dalam Transaksi Keuangan (edisi 1)
Lihat isinya » -

Nasionalisme
Lihat isinya

Panduan Haji dan Umrah
Lihat isinya » -

Mukjizat Al Qur'an Dalam Kesehatan
Lihat isinya

Berobatlah Dengan Yang Halal (edisi 2 Halal Haram Pengobatan)
Lihat isinya » -

Panduan Praktis Menghitung Zakat
Lihat isinya

Halal dan Haram Dalam Makanan
Lihat isinya » -

Waktumu Adalah Hidupmu, Managemen Waktu dalam Islam
Lihat isinya

Satu Jam Bersama Al-Qur'an
Lihat isinya » -

Jual Beli Terlarang
Lihat isinya

Kekuatan Istighfar
Lihat isinya » -

Panduan Praktis Berqurban
Lihat isinya

Al-Quran dan Kesetaraan Gender
Lihat isinya » -

Banyak Jalan Menuju Surga
Lihat isinya

Meniti Tangga-Tangga Kesuksesan
Lihat isinya » -

Fiqih Ta'ziyah
Lihat isinya

Mengenal Ahlus Sunnah wal Jamaah
Lihat isinya » -

Fiqih Wanita Kontemporer
Lihat isinya

Menang Tanpa Perang
Lihat isinya » -

Masuk Surga Bersama Keluarga
Lihat isinya

Mengetuk Pintu Langit
Lihat isinya » -

Membangun Negara dengan Tauhid
Lihat isinya

Fiqih Masjid (Membahas 53 Hukum Masjid)
Lihat isinya » -

Membuka Pintu Langit
Lihat isinya

Kesabaran yang Indah
Lihat isinya » -

Menembus Pintu Langit
Lihat isinya

Pensucian Jiwa
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah: Al-Fatihah
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 1: Orang-Orang Munafik dalam Al-Qur'an
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 2: Kisah Nabi Adam dan Iblis
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 3: Kisah Bani Israel
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 4: Nabi Sulaiman dan Kaum Yahudi
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 5: Umat Pertengahan
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 6: Hukum-hukum Seputar Ibadah
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 7: Hukum-hukum Pernikahan & Perceraian
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 8: Tidak Ada Paksaan dalam Beragama
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 9: Agama di Sisi Allah, Islam
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 10: Keluarga Imran
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 11: Sebaik-baik Umat
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 12: Empat Sifat Muttaqin
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Seri 13: Dzikir dan Fikir
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Seri 14: Membina Generasi Tangguh
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Juz 5: Qs. 4: 24-147
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Juz 6: Qs. 4: 148-176 & Qs. 5: 1-81
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Juz 7: Qs. 5: 82-120 & Qs. 6: 1-110
Lihat isinya » -

Tafsir An-Najah Juz 8: Qs. 6: 111-165 & Qs. 7: 1-87
Lihat isinya

Tafsir An-Najah Juz 9: Qs. 7: 88-206 & Qs. 8: 1-40
Lihat isinya »