Karya Tulis
84 Hits

Tafsir An-Najah (Qs. 7: 34-36) Umur Setiap Umat


وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلࣱۖ فَإِذَا جَاۤءَ أَجَلُهُمۡ لَا یَسۡتَأۡخِرُونَ سَاعَةࣰ وَلَا یَسۡتَقۡدِمُونَ

“Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.”

(Qs. al-A'raf: 34)

 

Pelajaran (1) Umur Setiap Umat

(1) Pada ayat sebelumnya, Allah telah menjelaskan apa-apa yang dihalalkan dan yang diharamkan, kemudian pada ayat ini, Allah menjelaskan bahwa setiap jiwa dan setiap umat mempunyai ajal tertentu, yang tidak bisa diundur dan dimajukan.

Ini sebenarnya adalah sebuah peringatan dari Allah kepada setiap manusia agar bersungguh-sungguh dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi segala larangannya sebelum ajal menjemput mereka. Karena jika ajal telah datang, tidak ada kesempatan lagi untuk beramal shalih, sebagaimana digambarkan di dalam firman-Nya,

وَأَنفِقُوا۟ مِن مَّا رَزَقۡنَـٰكُم مِّن قَبۡلِ أَن یَأۡتِیَ أَحَدَكُمُ ٱلۡمَوۡتُ فَیَقُولَ رَبِّ لَوۡلَاۤ أَخَّرۡتَنِیۤ إِلَىٰۤ أَجَلࣲ قَرِیبࣲ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ ٱلصَّـٰلِحِینَ وَلَن یُؤَخِّرَ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِذَا جَاۤءَ أَجَلُهَاۚ وَٱللَّهُ خَبِیرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ

“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: "Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shalih?" Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan.” (Qs. al-Munafiqun: 10-11)

(2) Adapun maksud (أَجَلࣱۖ) di sini para ulama berbeda pendapat, sebagian mengatakan bahwa maksudnya adalah waktu datangnya adzab yang akan menimpa setiap umat yang mendustakan rasul-Nya, termasuk di dalamnya penduduk Mekkah yang mendustakan Nabi Muhammad ﷺ.

Diriwayatkan dari Muqatil, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu al-Jauzi sebab turunnya ayat ini bahwa penduduk Mekkah meminta Nabi Muhammad agar ditimpakan adzab kepada mereka, maka ayat ini turun untuk menjawab permintaan tersebut.

Sebagian lain mengatakan maksudnya bahwa setiap umat mempunyai waktu hidup tertentu, dan mereka akan punah di waktu yang telah ditentukan. Ini juga berlaku pada setiap orang. Demikian keterangan dari al-Mawardi.

(3) Kata (سَاعَةࣰ) artinya bagian waktu yang terkecil (sesaat), bukan waktu yang lamanya satu jam sebagaimana istilah orang-orang pada hari ini.

(4) Berkata as-Suyuti di dalam al-Iklil, sebagian kalangan berdalil dengan ayat ini bahwa umur seseorang tidak bertambah dan berkurang.

(5) Al-Qurthubi menyimpulkan dari ayat di atas bahwa orang yang terbunuh berarti sudah mati sesuai dengan ajalnya. Begitu juga orang yang melakukan bunuh diri, berarti dia mati sesuai dengan ajalnya. Dari sini, diketahui kesalahan sebagian kalangan yang mengatakan bahwa bunuh diri mendahului takdir Allah.

 

Pelajaran (2) Takwa dan Ishlah

یَـٰبَنِیۤ ءَادَمَ إِمَّا یَأۡتِیَنَّكُمۡ رُسُلࣱ مِّنكُمۡ یَقُصُّونَ عَلَیۡكُمۡ ءَایَـٰتِی فَمَنِ ٱتَّقَىٰ وَأَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡهِمۡ وَلَا هُمۡ یَحۡزَنُونَ

“Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu rasul-rasul daripada kamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-Ku, maka barangsiapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Qs. al-A'raf: 35)

(1) Firman-Nya,

فَمَنِ ٱتَّقَىٰ وَأَصۡلَحَ

“Maka barangsiapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan.”

(a) Kata (ٱتَّقَىٰ) dari takwa yang artinya melindungi diri dari sesuatu. Maksudnya di sini adalah meninggalkan semua yang dilarang oleh Allah untuk melindungi diri dari siksa neraka.

(b) Sedangkan kata (أَصۡلَحَ) artinya memperbaiki. Maksudnya di sini adalah mengerjakan apa yang diperintah Allah, karena hal itu akan menyebabkan perbaikan pada diri sendiri dan orang lain.

(2) Firman-Nya,

فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡهِمۡ وَلَا هُمۡ یَحۡزَنُونَ

“Tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”

(a) Dari ayat ini, al-Qurthubi menyimpulkan bahwa orang-orang beriman tidak akan khawatir dan bersedih hati, serta tidak panik pada hari kiamat. Selain ayat di atas terdapat dalil lain, yaitu firman-Nya,

 لَا یَحۡزُنُهُمُ ٱلۡفَزَعُ ٱلۡأَكۡبَرُ وَتَتَلَقَّىٰهُمُ ٱلۡمَلَـٰۤىِٕكَةُ هَـٰذَا یَوۡمُكُمُ ٱلَّذِی كُنتُمۡ تُوعَدُونَ

“Mereka tidak disusahkan oleh kedahsyatan yang besar (pada hari kiamat), dan mereka disambut oleh para malaikat. (Malaikat berkata): "Inilah harimu yang telah dijanjikan kepadamu.” (Qs. al-Anbiya': 103)

(b) Sebagian ulama berpendapat, sebagaimana disebutkan oleh ar-Razi bahwa mereka tetap akan mengalami kepanikan pada hari kiamat seperti yang lainnya, sebagaimana firman-Nya,

 یَـٰۤأَیُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمۡۚ إِنَّ زَلۡزَلَةَ ٱلسَّاعَةِ شَیۡءٌ عَظِیمࣱ ۞ یَوۡمَ تَرَوۡنَهَا تَذۡهَلُ كُلُّ مُرۡضِعَةٍ عَمَّاۤ أَرۡضَعَتۡ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمۡلٍ حَمۡلَهَا وَتَرَى ٱلنَّاسَ سُكَـٰرَىٰ وَمَا هُم بِسُكَـٰرَىٰ وَلَـٰكِنَّ عَذَابَ ٱللَّهِ شَدِیدࣱ ۞

“Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu; sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat). (Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi adzab Allah itu sangat kerasnya.” (Qs. al-Hajj: 1-2)

Tetapi pendapat ini dibantah bahwa pada akhirnya mereka juga akan tenang dan tidak panik.

 

 Pelajaran (3) Ahli Neraka

وَٱلَّذِینَ كَذَّبُوا۟ بِـَٔایَـٰتِنَا وَٱسۡتَكۡبَرُوا۟ عَنۡهَاۤ أُو۟لَـٰۤىِٕكَ أَصۡحَـٰبُ ٱلنَّارِۖ هُمۡ فِیهَا خَـٰلِدُونَ

“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itu penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (Qs. al-A’raf: 36)

(1) Kata (وَٱسۡتَكۡبَرُوا۟) menurut Ibnu Asyur artinya adalah sangat takabbur, dan mengandung makna berpaling.

(2) Para ulama berdalil dengan ayat ini bahwa orang fasik yang masih beriman tidak akan kekal dalam api neraka, karena yang kekal hanyalah orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah dan takabbur terhadapnya.

(3) Kata (أَصۡحَـٰبُ) artinya penghuni. Ini mengandung makna bahwa mereka kekal di dalamnya.

 

***

Karawang, Jumat, 29 September 2023

KARYA TULIS