Karya Tulis
90 Hits

Tafsir An-Najah (Qs. 7: 40-41) Tidak Dibukakan Pintu Langit


إِنَّ ٱلَّذِینَ كَذَّبُوا۟ بِـَٔایَـٰتِنَا وَٱسۡتَكۡبَرُوا۟ عَنۡهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمۡ أَبۡوَ ٰبُ ٱلسَّمَاۤءِ وَلَا یَدۡخُلُونَ ٱلۡجَنَّةَ حَتَّىٰ یَلِجَ ٱلۡجَمَلُ فِی سَمِّ ٱلۡخِیَاطِۚ وَكَذَ ٰلِكَ نَجۡزِی ٱلۡمُجۡرِمِینَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan.”

(Qs. al-A'raf: 40)

 

Pelajaran (1) Tidak Dibukakan Pintu Langit

(1) Berkata al-Biqa'i, “Biasanya orang-orang yang sedang ditimpa musibah dan bencana ingin mencari solusi agar bisa menyelamatkan diri dari bencana tersebut ayat ini menjelaskan bahwa orang-orang kafir tidak akan mungkin bisa lari dari siksa yang ditimpakan kepada mereka.”

(2) Firman-Nya,

لَا تُفَتَّحُ لَهُمۡ أَبۡوَ ٰبُ ٱلسَّمَاۤءِ

“Sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit.”

Maksudnya bahwa ruh mereka tidak bisa menembus pintu langit. Ini pendapat Abu Musa al-Asyari dan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma.

Dalilnya haditst al-Bara' bin Azib radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda,

فيخرُجُ منها كأنتَنِ ما يكونُ مِن جِيفةٍ وُجِدَتْ على وجِه الأرضِ، فيَصعَدُونَ بها، فلا يمُرُّونَ بها على ملأٍ مِنَ الملائِكةِ إلّا قالوا: ما هذه الرُّوحُ الخَبيثةُ؟ فيقولونَ: فلانُ بنُ فلانٍ، بأقبَحِ أسمائِه الَّتي كان يُسمّى بها في الدُّنيا، حتّى ينتُهوا إلى السَّماءِ الدُّنيا، فيَستفتِحُونَ لها فلا يُفتَحُ لها، ثمَّ قرَأَ رسولُ اللهِ ﷺ: ﴿لا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوابُ السَّماءِ وَلا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِياطِ وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُجْرِمِينَ﴾

(HR. Abu Daud, an-Nasa'i, Ibnu Majah, Ahmad, dan al-Hakim. Hadits ini dishahihkan oleh Ahmad Syakir)

Menurut riwayat dari Ibnu Abbas lainnya, maksudnya bahwa amal perbuatan dan doa mereka tidak bisa menembus pintu langit, atau mereka tidak akan masuk surga, karena surga berada di langit.

 

Pelajaran (2) Unta dan Lubang Jarum

وَلَا یَدۡخُلُونَ ٱلۡجَنَّةَ حَتَّىٰ یَلِجَ ٱلۡجَمَلُ فِی سَمِّ ٱلۡخِیَاطِۚ

“Dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum.”

(1) Berkata al-Qurthubi, "Ayat ini sebagai dalil yang tegas bahwa orang-orang kafir tidak diampuni Allah."

(2) Pertanyaannya, kenapa Allah memberikan contoh di sini dengan unta, bukan dengan hewan lainnya yang lebih besar?

Terdapat dua jawaban yang yang disampaikan oleh Ibnu al-Jauzi yang dinukil dari Ibnu al-Anbari, yaitu:

(a) Pertama, memberikan contoh dengan unta sudah dirasa cukup, karena intinya bahwa orang-orang kafir tidak akan masuk surga, sebagaimana unta tidak akan masuk lubang jarum. Seandainya diberikan contoh dengan hewan lain yang lebih besar atau yang lebih kecil, dibolehkan juga.

(b) Kedua, di kalangan orang Arab unta dianggap hewan yang paling besar. Mereka sangat kagum dengan hewan ini, sebagaimana disebutkan di dalam firman-Nya,

أفَلا يَنْظُرُونَ إلى الإبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan.” (Qs. al-Ghasyiyah: 17)

(3) Berkata al-Baghawi, “Maksud perumpamaan di sini, bahwa orang-orang kafir tidak akan masuk surga selamanya. Karena sesuatu jika dikaitkan dengan hal yang mustahil, maka itu menjadi penegasan bahwa sesuatu itu tidak akan terjadi.”

 

Pelajaran (3) Neraka Meliputi Orang-orang Kafir

 لَهُم مِّن جَهَنَّمَ مِهَادࣱ وَمِن فَوۡقِهِمۡ غَوَاشࣲۚ وَكَذَ ٰلِكَ نَجۡزِی ٱلظَّـٰلِمِینَ

“Mereka mempunyai tikar tidur dari api neraka dan di atas mereka ada selimut (api neraka). Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang zhalim.” (Qs. al-A'raf: 41)

(1) Kata (مِهَادࣱ) jama' dari (مهد), menurut al-Azhari artinya tikar atau alas untuk tidur.

(2) Kata (غَوَاشࣲۚ) jama' dari (غاشية) yang berarti segala sesuatu yang menutupi luka, maksudnya di sini adalah selimut.

(3) Berkata ar-Razi, “Para ahli tafsir berkata bahwa maksud dari ayat ini adalah pemberitahuan bahwa neraka meliputi orang-orang kafir dari segala penjuru, dari bawah api tersebut sebagai alas, dan dari atas sebagai selimut.”

 

***

Karawang, Sabtu, 30 September 2023

KARYA TULIS