Karya Tulis
180 Hits

Tafsir An-Najah (Qs. 7: 42-43) Mewarisi Surga


وَٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ لَا نُكَلِّفُ نَفۡسًا إِلَّا وُسۡعَهَاۤ أُو۟لَـٰۤىِٕكَ أَصۡحَـٰبُ ٱلۡجَنَّةِۖ هُمۡ فِیهَا خَـٰلِدُونَ

“Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shalih, Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang melainkan sekedar kesanggupannya, mereka itulah penghuni-penghuni surga; mereka kekal di dalamnya.”

(Qs. al-A'raf: 42)

 

Pelajaran (1) Sesuai Kemampuan

(1) Pada pada ayat sebelumnya telah dijelaskan keadaan orang-orang kafir sebagai peringatan (tarhiban), agar tidak mengikuti jalan mereka, maka pada ayat ini, Allah menyebutkan keadaan orang-orang beriman dan surga yang dijanjikan bagi mereka, sebagai bentuk motivasi (targhiban) dan berita gembira. Demikian yang disampaikan al-Biqai.

(2) Firman-Nya,

لَا نُكَلِّفُ نَفۡسًا إِلَّا وُسۡعَهَاۤ

“Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang melainkan sekedar kesanggupannya.”

(a) Menurut al-Biqai, ketika Allah menyebutkan iman dan amal shalih, khawatir disalahpahami bahwa untuk masuk surga harus mengerjakan seluruh amal shalih baik yang berat maupun yang ringan, maka perlu disisipkan kalimat ini, “Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang melainkan sekadar kesanggupannya,” tujuannya untuk menunjukkan bahwa surga bisa diraih dengan amalan-amalan yang sesuai dengan kemampuan seseorang.

(b) Berkata al-Qasimi, “Ini memberikan motivasi kepada orang beriman agar terus berusaha dengan amalan-amalan yang bisa mengantar menuju surga yang di dalamnya terdapat kenikmatan yang abadi. Amalan bisa dilakukan sesuai dengan kemampuannya.”

(c) Yang menarik dari al-Qurthubi ketika mengomentari ayat ini, beliau justru memberikan contoh bahwa seseorang tidak dibebani untuk memberikan nafkah kepada istri-istrinya kecuali sebatas kemampuannya. Ini mirip dengan firman-Nya,

لِیُنفِقۡ ذُو سَعَةࣲ مِّن سَعَتِهِۦۖ وَمَن قُدِرَ عَلَیۡهِ رِزۡقُهُۥ فَلۡیُنفِقۡ مِمَّاۤ ءَاتَىٰهُ ٱللَّهُۚ لَا یُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِلَّا مَاۤ ءَاتَىٰهَاۚ سَیَجۡعَلُ ٱللَّهُ بَعۡدَ عُسۡرࣲ یُسۡرࣰا

“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (Qs. ath-Thalaq: 7)

 

Pelajaran (2) Kedengkian yang Dicabut

وَنَزَعۡنَا مَا فِی صُدُورِهِم مِّنۡ غِلࣲّ تَجۡرِی مِن تَحۡتِهِمُ ٱلۡأَنۡهَـٰرُۖ وَقَالُوا۟ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ ٱلَّذِی هَدَىٰنَا لِهَـٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهۡتَدِیَ لَوۡلَاۤ أَنۡ هَدَىٰنَا ٱللَّهُۖ لَقَدۡ جَاۤءَتۡ رُسُلُ رَبِّنَا بِٱلۡحَقِّۖ وَنُودُوۤا۟ أَن تِلۡكُمُ ٱلۡجَنَّةُ أُورِثۡتُمُوهَا بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ

“Dan Kami cabut segala macam dendam yang berada di dalam dada mereka; mengalir di bawah mereka sungai-sungai dan mereka berkata: "Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk. Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami, membawa kebenaran." Dan diserukan kepada mereka: "ltulah surga yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan".” (Qs. al-A'raf: 43)

(1) Firman-Nya,

وَنَزَعۡنَا مَا فِی صُدُورِهِم مِّنۡ غِلࣲّ تَجۡرِی مِن تَحۡتِهِمُ ٱلۡأَنۡهَـٰرُۖ

“Dan Kami cabut segala macam dendam yang berada di dalam dada mereka; mengalir di bawah mereka sungai-sungai.”

Pada ayat sebelumnya Allah telah menceritakan keadaan penduduk neraka yang saling melaknat satu dengan yang lainnya, maka kebalikannya pada ayat ini, Allah menjelaskan keadaan penduduk surga yang saling memaafkan satu dengan yang lainnya, sehingga tidak ada rasa dengki diantara mereka karena Allah telah mencabutnya dari hati mereka sampai akar-akarnya.

(2) Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu a’nha, bahwasanya dia pernah berkata, “Saya berharap antara saya, Utsman, Thalhah dan Zubair, termasuk orang-orang yang disebut dalam ayat ini”, yaitu mereka yang dicabut kedengkian dalam hatinya.

(3) Al-Qurthubi menjelaskan bahwa penduduk surga akan diberikan minuman yang bersih. Dengan minuman itu, maka seluruh kedengkian yang ada dalam hati mereka akan keluar dengan sendirinya. Ini sesuai dengan firman-Nya,

 عَـٰلِیَهُمۡ ثِیَابُ سُندُسٍ خُضۡرࣱ وَإِسۡتَبۡرَقࣱۖ وَحُلُّوۤا۟ أَسَاوِرَ مِن فِضَّةࣲ وَسَقَىٰهُمۡ رَبُّهُمۡ شَرَابࣰا طَهُورًا

“Mereka memakai pakaian sutera halus yang hijau dan sutera tebal dan dipakaikan kepada mereka gelang terbuat dari perak, dan Tuhan memberikan kepada mereka minuman yang bersih.” (Qs. al-Insan: 21)

(4) Hal ini dikuatkan dengan hadits Abu Sa'id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda,

إذا خَلَصَ المُؤْمِنُونَ مِنَ النّارِ حُبِسُوا بقَنْطَرَةٍ بيْنَ الجَنَّةِ والنّارِ، فَيَتَقاصُّونَ مَظالِمَ كانَتْ بيْنَهُمْ في الدُّنْيا، حتّى إذا نُقُّوا وهُذِّبُوا أُذِنَ لهمْ بدُخُولِ الجَنَّةِ، فَوالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بيَدِهِ، لَأَحَدُهُمْ بمَسْكَنِهِ في الجَنَّةِ أدَلُّ بمَنْزِلِهِ كانَ في الدُّنْيا.

“Jika orang-orang beriman telah melewati neraka, mereka akan ditahan di suatu jembatan yang disebut Qantharah yang terletak antara surga dan neraka, lalu disana mereka akan diqishas (dibalas) atas kezhaliman yang terjadi sesama mereka di dunia, sehingga apabila telah tidak ada lagi dosa barulah mereka diizinkan untuk memasuki surga. Dan demi Dzat yang jiwaku berada di tangaNya, sungguh seseorang dari mereka lebih hafal tempat tinggalnya di surga ketimbang tempat tinggalnya di dunia".” (HR. al-Bukhari)

(5) Diriwayatkan juga bahwa Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata, “Demi Allah, ayat ini diturunkan kepada kami sebagai Ahli Badar (orang-orang yang pernah ikut dalam perang Badar).” Maksudnya adalah ayat: “Dan Kami cabut kedengkian yang berada di dalam dada mereka.”

(6) As-Suddi mengomentari ayat di atas, “Sesungguhnya penduduk surga, apabila diarahkan untuk berjalan menuju ke surga, mereka akan menjumpai sebuah pohon di dekat pintu surga yang pada akarnya terdapat dua mata air. Kemudian mereka minum dari salah satunya, seketika tercabutlah semua kedengkian dari dada mereka. Minuman tersebut dinamakan 'syaraban thahura' (minuman yang bersih). Kemudian mereka mandi dari mata air yang lainnya, maka mengalirlah ke dalam tubuh mereka 'Nadhratan an-Na'im' (keceriaan yang penuh dengan kenikmatan), sehingga diri mereka tidak lusuh dan tidak pucat lagi untuk selama-lamanya”

(7) Al-Alusi menyebutkan beberapa pendapat lain, diantaranya:

(a) Maksudnya bahwa Allah telah membersihkan hati penduduk surga dari rasa iri dan dengki terhadap saudaranya yang mendapatkan derajat lebih tinggi di dalam surga.

(b) Maksudnya Allah membersihkan hati orang-orang beriman dari kedengkian di antara mereka sewaktu di dunia, khususnya ketika mereka berada di ujung kehidupannya. Tetapi pendapat ini dinilai sangat lemah.

 

Pelajaran (3) Bersyukur atas Hidayah

وَقَالُوا۟ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ ٱلَّذِی هَدَىٰنَا لِهَـٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهۡتَدِیَ لَوۡلَاۤ أَنۡ هَدَىٰنَا ٱللَّهُۖ

“Dan mereka berkata: ‘Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk’.”

(1) Berkata al-Qurthubi, “Maksudnya diberi petunjuk untuk mendapatkan pahala ini, yaitu dengan memberikan kita panduan dan menciptakan untuk kita petunjuk. Ini sekaligus sebagai bantahan kepada kelompok Qadariyah.”

(2) Menurut Ibnu al-Qayyim, hidayah di dalam ayat ini mempunyai dua makna, yaitu:

(a) Hidayah di dunia yang mengantarkan mereka ke surga.

(b) Hidayah di akhirat, di mana mereka ditunjukkan jalan menuju surga.

Jika dua makna hidayah ini digabung, tentunya akan lebih sempurna.

(3) Perkataan mereka di atas menunjukkan bahwa seluruh hidayah dari Allah tidak ada sedikitpun dari mereka sendiri.

 

Pelajaran (4) Mewarisi Surga

وَنُودُوۤا۟ أَن تِلۡكُمُ ٱلۡجَنَّةُ أُورِثۡتُمُوهَا بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ

“Dan diserukan kepada mereka: "ltulah surga yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan".”

(1) Berkata al-Qurthubi, maksudnya, “Kalian mewarisi surga dengan amal perbuatan kalian, sedangkan masuknya kalian ke dalam surga berkat rahmat dan karunia Allah.”

Hal ini sesuai dengan beberapa dalil di bawah ini:

(a) Firman-Nya,

 ذَ ٰ⁠لِكَ ٱلۡفَضۡلُ مِنَ ٱللَّهِۚ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ عَلِیمࣰا

“Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui.” (Qs. an-Nisa': 70)

(b) Firman-Nya,

فَأَمَّا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ بِٱللَّهِ وَٱعۡتَصَمُوا۟ بِهِۦ فَسَیُدۡخِلُهُمۡ فِی رَحۡمَةࣲ مِّنۡهُ وَفَضۡلࣲ وَیَهۡدِیهِمۡ إِلَیۡهِ صِرَ ٰ⁠طࣰا مُّسۡتَقِیمࣰا

“Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya.” (Qs. an-Nisa': 175)

(c) Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda,

لَنْ يُدْخِلَ أحَدًا مِنكُم عَمَلُهُ الجَنَّةَ قالوا: ولا أنْتَ؟ يا رَسولَ اللهِ، قالَ: ولا أنا، إلّا أنْ يَتَغَمَّدَنِيَ اللَّهُ منه بفَضْلٍ ورَحْمَةٍ.

“Tidak ada seorang pun yang dimasukkan surga oleh amalnya." Dikatakan: Tidak juga Tuan, wahai Rasulullah? beliau menjawab: "Tidak juga aku, kecuali bila Rabbmu melimpahkan karunia dan rahmat padaku".” (HR. Muslim)

(2) Ibnu al-Qayyim menukil perkataan Sufyan ats-Tsauri dan para ulama lainnya, “Selamatnya seseorang dari api neraka, karena ampunan dari Allah dan masuknya ke dalam surga, karena rahmat-Nya dan menempati kedudukan di surga sesuai dengan amal perbuatannya.” Dalilnya adalah hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda,

إنَّ أهلَ الجنَّةِ إذا دخلوها نزلوا فيها بفضلِ أعمالِهم

“Bahwa penghuni surga bila masuk surga, mereka tinggal di sana karena keutamaan amal-amal mereka.” (HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Majah.  Menurut al-Haitami di dalam az-Zawajir 'an Iqtirafi al-Kabair bahwa para perawinya terpercaya).

(3) Ibnu al-Qayyim juga menjelaskan kekeliruan kelompok Jabariyah dan Qadariyah dalam masalah ini.

(a) Kelompok Jabariyah menganggap bahwa amal seorang hamba tidak ada hubungannya dengan pembalasan atau pahala sama sekali. Bagi mereka bisa saja Allah menyiksa orang yang menyembah-Nya seumur hidup dan memasukkan orang yang bermaksiat kepada-Nya seumur hidup ke dalam surga. Bagi mereka keduanya sama, seluruhnya dikembalikan kepada kehendak Allah, dan tidak ada hubungan antara amal perbuatan dengan pahala sama sekali.

(b) Sebaliknya, kelompok Qadariyah menjadikan amal perbuatan seorang hamba sebagai bayaran baginya untuk masuk surga. Tidak ada karunia Allah sedikitpun di dalamnya. Mereka menolak bahwa Allah memberi karunia kepada seorang hamba tanpa ada amal darinya. Mereka berdalil dengan beberapa ayat diantaranya,

  • Firman-Nya,

وَنُودُوا أنْ تِلْكُمُ الجَنَّةُ أُورِثْتُمُوها بِما كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan diserukan kepada mereka: "ltulah surga yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan".” (Qs. al-A’raf: 43) 

  • Firman-Nya,

ادْخُلُوا الجَنَّةَ بِما كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Masuklah kamu ke dalam syurga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan.” (Qs. an-Nahl: 32)

  • Firman-Nya,

هَلْ تُجْزَوْنَ إلّا ما كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Tiadalah kamu dibalasi, melainkan (setimpal) dengan apa yang dahulu kamu kerjakan.” (Qs. an-Naml: 90)

Kedua kelompok tersebut telah sesat dari jalan yang lurus.

(4) Adapun pendapat yang benar bahwa:

(a) Amal perbuatan seorang hamba merupakan sebab dia mendapatkan pahala atau siksa. Hubungan antara keduanya seperti hubungan sebab akibat pada umumnya.

(b) Amal shalih yang dilakukan seorang hamba adalah semata karena taufik dan karunia Allah semata. Dialah yang membantu, mendorong dan memberikan ilham serta memberikan kemampuan kepadanya sehingga dia mampu beramal shalih. Dialah menjadikan hati hamba tersebut mencintai amal shalih dan membenci kemaksiatan. Tetapi walaupun begitu, amal shalih ini bukanlah bayaran seseorang untuk masuk surga.

 (c) Seorang hamba hanya bisa berusaha  untuk melakukan amal shalih sesuai kemampuannya. Ini sebagai bentuk rasa syukur atas sebagian nikmat-Nya. Jika Allah berkehendak meminta hamba-Nya untuk melakukan ibadah sesuai dengan nikmat yang diberikan, tentunya tidak hamba tersebut tidak akan sanggup melakukannya dan tidak akan bisa memenuhi haknya. Oleh karenanya, jika Allah berkehendak untuk menyiksa seluruh penduduk langit dan bumi, maka itu bukan merupakan bentuk kezaliman. Sebaliknya, Jika Allah ingin memberikan rahmat kepada mereka engkau rahmatnya lebih luas dari amal perbuatan mereka.  Sebagaimana hadist yang menunjukkan bahwa seseorang tidak akan masuk surga dengan amalnya, kecuali semata-mata karena rahmat dari Allah.

(5) Berkata al-Qurthubi, “Ringkasnya bahwa derajat di surga tidak akan bisa diraih kecuali dengan rahmat-Nya. Jika mereka masuk ke surga akibat amal perbuatan mereka, maka sesungguhnya mereka mewarisi surga tersebut dengan rahmat Allah, memasukinya juga dengan rahmat-Nya. Hal itu karena amal perbuatan mereka sendiri merupakan rahmat dari Allah dan karunia-Nya yang diberikan kepada mereka.”

(6) Adapun makna 'mewarisi' adalah memanfaatkan sesuatu yang ditinggalkan oleh seseorang.

Orang-orang beriman mewarisi surga karena sebenarnya Allah telah menyediakan surga kepada setiap manusia yang mau beramal shalih tetapi orang-orang kafir karena mereka tidak mau beramal shalih maka surga yang disediakan bagi mereka ditinggalkan dan di wariskan kepada orang-orang beriman sehingga orang-orang beriman mempunyai dua surga itu surga yang diraih karena amal shalih yang dikerjakan dan surga yang ditinggal oleh orang-orang kafir.

(7) Di dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda,

منكم من أحدٍ إلا له منزلانِ منزلٌ في الجنةِ ومنزلٌ في النارِ فإذا مات فدخل النارَ ورث أهلُ الجنةِ منزلَه فذلك قولُه تعالى ( أُولَئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ )

“Tidaklah seorang pun dari kalian kecuali ia memiliki dua tempat: satu tempat di surga dan satu tempat lagi di neraka. Jika ia meninggal dunia, lalu masuk neraka maka penghuni surga akan mewarisi tempatnya. Itulah makna firman Allah {Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi.} (Al Mukminun: 10)” (HR. Ibnu Majah dan al-Baihaqi.  Hadist ini dishahihkan oleh Ibnu Hajar di dalam Fathu al-Bari dan al-Albani di dalam Shahih Ibnu Majah)

(8) Dikuatkan juga di dalam hadist Abu Musa al-'Asy'ari radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda,

لا يَمُوتُ رَجُلٌ مُسْلِمٌ إلّا أدْخَلَ اللَّهُ مَكانَهُ النّارَ، يَهُودِيًّا، أوْ نَصْرانِيًّا.

“Tidaklah seorang muslim meninggal kecuali Allah akan memasukkan (memperlihatkan) ke dalam tempatnya neraka Yahudi atau Nashrani.” (HR. Muslim)

***

Karawang, Sabtu, 30 September 2023.

KARYA TULIS