Karya Tulis
23 Hits

Tafsir An-Najah (Qs. 7: 160) Kenikmatan Allah kepada Bani Israel


وَقَطَّعۡنَـٰهُمُ ٱثۡنَتَیۡ عَشۡرَةَ أَسۡبَاطًا أُمَمࣰاۚ وَأَوۡحَیۡنَاۤ إِلَىٰ مُوسَىٰۤ إِذِ ٱسۡتَسۡقَىٰهُ قَوۡمُهُۥۤ أَنِ ٱضۡرِب بِّعَصَاكَ ٱلۡحَجَرَۖ فَٱنۢبَجَسَتۡ مِنۡهُ ٱثۡنَتَا عَشۡرَةَ عَیۡنࣰاۖ قَدۡ عَلِمَ كُلُّ أُنَاسࣲ مَّشۡرَبَهُمۡۚ وَظَلَّلۡنَا عَلَیۡهِمُ ٱلۡغَمَـٰمَ وَأَنزَلۡنَا عَلَیۡهِمُ ٱلۡمَنَّ وَٱلسَّلۡوَىٰۖ كُلُوا۟ مِن طَیِّبَـٰتِ مَا رَزَقۡنَـٰكُمۡۚ وَمَا ظَلَمُونَا وَلَـٰكِن كَانُوۤا۟ أَنفُسَهُمۡ یَظۡلِمُونَ

“Dan mereka Kami membagi menjadi dua belas suku yang masing-masingnya berjumlah besar dan Kami wahyukan kepada Musa ketika kaumnya meminta air kepadanya: "Pukullah batu itu dengan tongkatmu!" Maka memancarlah dari padanya duabelas mata air. Sesungguhnya tiap-tiap suku mengetahui tempat minum masing-masing. Dan Kami naungkan awan di atas mereka dan Kami turunkan kepada mereka manna dan salwa. (Kami berfirman): "Makanlah yang baik-baik dari apa yang telah Kami rezkikan kepadamu." Mereka tidak menganiaya Kami, tapi merekalah yang selalu menganiaya dirinya sendiri.”

(Qs. al-A’raf: 160)

 

Pelajaran (1) Umat yang Besar

وَقَطَّعۡنَـٰهُمُ ٱثۡنَتَیۡ عَشۡرَةَ أَسۡبَاطًا أُمَمࣰاۚ

“Dan mereka Kami membagi menjadi dua belas suku yang masing-masingnya berjumlah besar.”

(1) Pada ayat sebelumnya, menurut al-Biqa'i diterangkan tentang sifat-sifat terpuji dari sebagian kaum Nabi Musa. Maka, pada ayat ini, Allah menjelaskan sebagian nikmat yang dilimpahkan kepada mereka dan kepada Bani Israel secara umum, diantaranya adalah diperbanyak jumlah mereka dan berbagai kemulian yang mereka dapatkan.

(2) Kalimat (وَقَطَّعۡنَـٰهُمُ) artinya “Dan Kami membagi mereka” menunjukkan perubahan dari satu bapak yaitu Nabi Ya'kub (Israel) menjadi beberapa anak yang jumlahnya "duabelas" orang, dan darinya muncul "keturunan" yang sangat banyak, bagaikan sebuah "umat" besar.

(3) Kata (أَسۡبَاطًا) jama' dari (سبط) yang arti anak cucu. Dalam istilah lain disebut kabilah.

(4) Kata (أُمَمࣰاۚ) artinya umat-umat.

Bani Israel terdiri dua belas kabilah. Dan setiap kabilah mempunyai anggota yang sangat banyak seakan sebuah umat yang besar.

 

Pelajaran (2) Nikmat Air

وَأَوۡحَیۡنَاۤ إِلَىٰ مُوسَىٰۤ إِذِ ٱسۡتَسۡقَىٰهُ قَوۡمُهُۥۤ

“Kami wahyukan kepada Musa ketika kaumnya meminta air kepadanya.”

(1) Ketika mereka disebut umat yang besar dan banyak jumlahnya, tentunya membutuhkan makanan dan minuman. Maka, Allah memberikan nikmat kepada mereka berupa air yang dihadirkan dengan cara di luar kewajaran.

(2) Mengapa dimulai dengan air? Karena menurut al-Biqa'i, air adalah kebutuhan manusia yang sangat mendasar melebihi kebutuhan makanan. Seseorang bisa hidup dalam beberapa waktu, jika masih mempunyai air minum, walaupun tidak ada makanan. Tetapi belum tentu bisa bertahan hidup, jika tidak mempunyai air minum, walaupun tersedia makanan.

(3) Begitu juga air adalah bahan dasar dari penciptaan manusia, sebagaimana firman-Nya,

وَهُوَ ٱلَّذِی خَلَقَ مِنَ ٱلۡمَاۤءِ بَشَرࣰا فَجَعَلَهُۥ نَسَبࣰا وَصِهۡرࣰاۗ وَكَانَ رَبُّكَ قَدِیرࣰا

“Dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air lalu dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa.” (Qs. al-Furqan: 54)

(4) Bahkan air adalah bahan dasar dari penciptaan segala sesuatu yang hidup, sebagaimana firman-Nya,

أَوَلَمۡ یَرَ ٱلَّذِینَ كَفَرُوۤا۟ أَنَّ ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَٱلۡأَرۡضَ كَانَتَا رَتۡقࣰا فَفَتَقۡنَـٰهُمَاۖ وَجَعَلۡنَا مِنَ ٱلۡمَاۤءِ كُلَّ شَیۡءٍ حَیٍّۚ أَفَلَا یُؤۡمِنُونَ

“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” (Qs. al-Anbiya': 30)

 

Pelajaran (3) Antara Mukjizat Nabi Musa dan Nabi Muhammad ﷺ

أَنِ ٱضۡرِب بِّعَصَاكَ ٱلۡحَجَرَۖ فَٱنۢبَجَسَتۡ مِنۡهُ ٱثۡنَتَا عَشۡرَةَ عَیۡنࣰاۖ

“"Pukullah batu itu dengan tongkatmu!" Maka memancarlah dari padanya duabelas mata air.”

(1) Inilah salah satu mukjizat Nabi Musa, yaitu berupa tongkat. Selain bisa membelah lautan menjadi dua bagian, tongkat ini bisa memukul batu dan memancarkan darinya duabelas mata air yang cukup untuk minum ratusan ribu manusia yang hidup di tengah padang pasir yang tandus.

(2) Nikmat Allah kepada Bani Israel dalam hal ini sangat besar dengan melimpahnya air di tengah-tengah mereka. Tetapi nikmat itu akan lebih terasa besar jika air itu datang pada waktu dibutuhkan. Dan ini yang terjadi pada diri Bani Israel.

(3) Dikatakan bahwa air yang memancar dari tanah adalah "ayat", yaitu tanda keagungan Allah, dan air yang memancar dari batu adalah "mukjizat". Maka ada yang lebih hebat dari itu semua adalah apa yang terjadi pada diri Nabi Muhammad ﷺ di mana air memancar dari jari jemari beliau untuk diminum ribuan pasukan Islam pada peristiwa Hudaibiyah, sebagaimana yang tersebut dalam hadits Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau berkata,

عَطِشَ النّاسُ يَومَ الحُدَيْبِيَةِ والنَّبيُّ ﷺ بيْنَ يَدَيْهِ رِكْوَةٌ فَتَوَضَّأَ، فَجَهِشَ النّاسُ نَحْوَهُ، فَقالَ: ما لَكُمْ؟ قالوا: ليسَ عِنْدَنا ماءٌ نَتَوَضَّأُ ولا نَشْرَبُ إلّا ما بيْنَ يَدَيْكَ، فَوَضَعَ يَدَهُ في الرِّكْوَةِ، فَجَعَلَ الماءُ يَثُورُ بيْنَ أصابِعِهِ كَأَمْثالِ العُيُونِ، فَشَرِبْنا وتَوَضَّأْنا. قُلتُ: كَمْ كُنْتُمْ؟ قالَ: لو كُنّا مِئَةَ ألْفٍ لَكَفانا، كُنّا خَمْسَ عَشْرَةَ مِئَةً

“Pada saat peristiwa Hudaibiyah, orang-orang merasa kehausan sementara Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam di hadapan beliau ada sebuah bejana air terbuat dari kulit lalu beliau wudlu'. Maka orang-orang datang mengerumuni beliau untuk mengambil air. Beliau bertanya: "Ada apa dengan kalian?" Mereka menjawab: "Kami tidak memiliki air untuk berwudlu' dan minum kecuali air yang ada pada anda." Maka beliau letakkan tangan beliau di atas bejana kulit tersebut, air pun memancar dari sela-sela jari beliau bagaikan mata air. Maka kami dapat minum dan berwudlu'. Aku (Salim) bertanya: "Berapa orang jumlah kalian saat itu?" Dia (Jabir) menjawab: "Seandainya jumlah kami saat itu seratus ribu pasti air itu mencukupi kami. Saat itu jumlah kami seribu lima ratus orang".” (HR.al-Bukhari dan Muslim)

 

Pelajaran (4) Setiap Orang Beramal Sesuai dengan Bidangnya

قَدۡ عَلِمَ كُلُّ أُنَاسࣲ مَّشۡرَبَهُمۡۚ

“Sesungguhnya tiap-tiap suku mengetahui tempat minum masing-masing.”

(1) Dari duabelas mata air yang memancar tersebut, setiap kabilah dan anggotanya yang jumlahnya ribuan telah mengetahui tempat dan jatah air minumnya masing-masing. Sehingga mereka tidak berdesakan dan berebut ketika mengambil air minum.

Ini merupakan karunia Allah yang begitu besar kepada Bani Israel yang seharusnya mereka bisa mensyukurinya.

(2) Yang menarik apa yang disampaikan oleh Syekh Nashir bin Sulaiman al-'Umari, terkait dengan penggalan ayat ini. Beliau memasukkan penggalan ayat ini sebagai salah satu Kaidah Qur'an.

Terdapat beberapa ayat dan hadits yang menguatkan ayat ini (Qs. al-A'raf: 160) diantaranya adalah:

(a) Firman Allah,

قَدۡ عَلِمَ كُلُّ أُنَاسࣲ مَّشۡرَبَهُمۡۚ

“Sesungguhnya tiap-tiap suku mengetahui tempat minum masing-masing.” (Qs. al-Baqarah: 60)

(b) Firman Allah,

قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَى شَاكِلَتِهِ

“Katakanlah: "Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing".” (Qs. al-Isra’: 84)

Berkata al-Farra', “Setiap orang beramal sesuai dengan cara dan pikiran yang telah menjadi karakternya.”

(c) Hadits Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda,

اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِما خُلِقَ له

“Beramallah kalian, karena setiap orang akan dimudahkan kepada yang dicipta baginya.” (HR.al-Bukhari dan Muslim)

(3) Salah satu pelajaran yang bisa diambil dari Kaidah Qur'an di atas, bahwa setiap orang hendaknya mengetahui bakat dan kemampuannya masing-masing supaya bisa beramal lebih maksimal.

Berkata Aktsam bin Shaifi ketika menulis wasiat kepada Thai',

لَنْ يَهْلِكَ امْرُؤٌ عَرَفَ قَدْرَهُ

“Tidak akan celaka seseorang yang mengetahui kadar kemampuannya.”

(4) Ibnu Abdul Barr di dalam at-Tamhid (7/185) menukil perkataan Imam Malik bahwa Allah telah membagi amal kepada setiap orang seperti membagi rezeki. Sebagian orang ada yang rajin dalam ibadah shalat, sebagian lain semangat dalam berpuasa, sebagian lain mempunyai kecenderungan di dalam berjihad, sebagian lain fokus di dalam menuntut ilmu. Beliau sendiri (Imam Malik) ditakdirkan Allah untuk fokus dalam ilmu dan mengajarkannya kepada umat. Beliau juga menasehati agar setiap muslim ridha dengan amal dan bakat yang Allah takdirkan untuk dirinya.

 

Pelajaran (5) Awan, al-Manna dan as-Salwa

وَظَلَّلۡنَا عَلَیۡهِمُ ٱلۡغَمَـٰمَ وَأَنزَلۡنَا عَلَیۡهِمُ ٱلۡمَنَّ وَٱلسَّلۡوَىٰۖ

“Dan Kami naungkan awan di atas mereka dan Kami turunkan kepada mereka manna dan salwa.”

(1) Ini adalah nikmat yang begitu besar kepada Bani Israel ketika awan menutupi mereka dari terik sinarnya matahari dan Allah memberikan rezeki kepada mereka tanpa kerja keras dan memeras keringat, berupa al-Manna (makanan yang rasanya seperti madu) dan as-Salwa (semacam daging burung puyuh).

(2) Kedua makanan ini jatuh setiap hari dari langit di atas pohon-pohon bahkan di depan rumah mereka. Kecuali Hari Sabtu, kedua makanan ini tidak ada, karena pada hari itu adalah hari libur bagi Bani Israel.

(3) Kata al-Manna dan as -Salwa disebutkan dalam al-Qur'an sebanyak tiga kali, yaitu:

(a) Qs. al-A’raf: 160

(b) Qs.Thaha: 80

(c) Qs. al-Baqarah: 57

(4) Keempat nikmat di atas, yaitu batu yang memancarkan air, awan serta al-Manna dan as-Salwa merupakan nikmat dari Allah yang belum pernah diberikan kepada umat-umat sebelum mereka. Allah berfirman,

وَآتَاكُمْ مَا لَمْ يُؤْتِ أَحَدًا مِنَ الْعَالَمِينَ

“Dan (Dia) memberikan kepada kamu apa yang belum pernah diberikan kepada seorang pun di antara umat yang lain.” (Qs. al-Maidah: 20)

Menurut Ibnu ‘Abbas bahwa yang dimaksud adalah empat nikmat yaitu: batu yang memancarkan air, awan, serta al-Manna dan as-Salwa.

 

Pelajaran (6) Makanan yang Bergizi

كُلُوا۟ مِن طَیِّبَـٰتِ مَا رَزَقۡنَـٰكُمۡۚ وَمَا ظَلَمُونَا وَلَـٰكِن كَانُوۤا۟ أَنفُسَهُمۡ یَظۡلِمُونَ

“(Kami berfirman): "Makanlah yang baik-baik dari apa yang telah Kami rezkikan kepadamu." Mereka tidak menganiaya Kami, tapi merekalah yang selalu menganiaya dirinya sendiri.”

(1) Di sini, Allah memerintah Bani Israel untuk memakan makanan yang baik dari rezeki Allah. Makanan yang baik adalah makanan yang halal dan bergizi.

(2) Penutupan ayat mengisyarakan bahwa al-Manna dan as-Salwa adalah makanan yang halal dan bergizi.  Keterangannya sebagai berikut:

(a) Al-Manna mengandung karbohidrat nabati yang merupakan sumber energi yang dibutuhkan oleh tubuh. Rasanya manis seperti madu.

(b) Adapun as-Salwa kandungannya antara lain:

  • Kaya protein yang dapat menstabilkan kolestrol jahat, sehingga bagus untuk kesehatan jantung. 
  • Kandungan lemaknya rendah hanya sekitar 4,2 gram di setiap porsi.
  • Kandungan zat besinya sekitar 20% dan dapat mengatasi anemia.

(3) Ringkasnya bahwa makanan yang dimakan Bani Israel selama berada di padang pasir at-Tih selama empat puluh tahun adalah makanan yang sangat bergizi dan berkwalitas, sehingga hal ini mempengaruhi kecerdasan anak keturunan mereka.

(4) Di antara hikmah mereka di hukum Allah untuk tinggal di padang at-Tih selama empat puluh tahun adalah tumbuhnya generasi baru yang berbeda karakter dan sifatnya dengan orang tua mereka yang selama ini dikenal dengan generasi yang lemah, bodoh dan malas serta keras kepala. Makanan yang bergizi adalah faktor penting untuk membentuk fisik yang tangguh dan otak yang cerdas  sehingga mampu melaksanakan perintah-perintah Allah melalui lisan para rasul-Nya.

 

***

Karawang, Selasa, 28 November 2023

KARYA TULIS