Karya Tulis
11 Hits

Tafsir An-Najah (Qs. 7: 164-166) Tiga Kelompok Penduduk Ailah


وَإِذۡ قَالَتۡ أُمَّةࣱ مِّنۡهُمۡ لِمَ تَعِظُونَ قَوۡمًا ٱللَّهُ مُهۡلِكُهُمۡ أَوۡ مُعَذِّبُهُمۡ عَذَابࣰا شَدِیدࣰاۖ قَالُوا۟ مَعۡذِرَةً إِلَىٰ رَبِّكُمۡ وَلَعَلَّهُمۡ یَتَّقُونَ

“Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: "Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengadzab mereka dengan adzab yang amat keras?" Mereka menjawab: "Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa.”

(Qs. al-A’raf: 164)

 

Pelajaran (1) Amar Ma'ruf Nahi Mungkar

(1) Menurut Ibnu Katsir ayat ini menyebutkan tiga kelompok dari penduduk Ailah, yaitu:

(a) Kelompok pertama adalah kelompok yang melanggar larangan Hari Sabtu.

(b) Kelompok kedua adalah kelompok yang ber-amar ma'ruf dan nahi mungkar kepada mereka yang melakukan pelanggaran.

Menurut al-Qurthubi jumlah yang melanggar larangan Hari Sabtu sekitar tujuh puluh ribu orang, sedangkan jumlah yang ber-amar ma'ruf dan nahi mungkar sekitar dua belas ribu orang.

Kesimpulannya: jumlah yang melanggar tiga kali lipat lebih dari yang ber-amar ma'ruf.

(c) Kelompok ketiga yaitu kelompok yang diam, tidak melanggar dan tidak pula ber-amar ma'ruf dan nahi mungkar. 

(2) Menurut Ibnu ‘Asyur, sebenarnya kelompok ketiga ini dahulu pernah mengingatkan kelompok pertama yang bermaksiat, tetapi karena yang diingatkan tetap dalam kemaksiatan, maka kelompok ini kemudian berhenti melakukan amar ma'ruf dan nahi mungkar.

(3) Kelompok ketiga inilah yang kemudian berkata kepada kelompok kedua, “Mengapa kalian menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengadzab mereka dengan adzab yang amat keras?”

(4) Kelompok kedua yang melakukan amar ma'ruf dan nahi mungkar menjawab dengan dua jawaban:

(a) Pertama, agar ada alasan di hadapan Allah bahwa kami telah melaksanakan ber-amar ma''ruf dan nahi mungkar.

(b) Kedua, kami berharap dari amar ma'ruf dan nahi mungkar ini, mereka bertakwa dan sadar akan kesalahannya, serta kembali kepada jalan yang benar.

 

Pelajaran (2) Selamat dari Kebinasaan

فَلَمَّا نَسُوا۟ مَا ذُكِّرُوا۟ بِهِۦۤ أَنجَیۡنَا ٱلَّذِینَ یَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلسُّوۤءِ وَأَخَذۡنَا ٱلَّذِینَ ظَلَمُوا۟ بِعَذَابِۭ بَـِٔیسِۭ بِمَا كَانُوا۟ یَفۡسُقُونَ

“Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik.” (Qs. al-A’raf: 165)

(1) Firman-Nya,

فَلَمَّا نَسُوا۟ مَا ذُكِّرُوا۟ بِهِۦ

“Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka.”

1. Maksudnya mereka tidak mengindahkan peringatan yang disampaikan orang-orang yang melakukan amar ma'ruf dan nahi mungkar. 

2. Ibnu Katsir menyebutkan bahwa orang-orang yang melakukan maksiat dan kemungkaran dibinasakan oleh Allah, sedangkan orang-orang yang melakukan amar ma'ruf dan nahi mungkar diselamatkan dari kebinasaan.

Adapun kelompok ketiga tidak disebut di dalam ayat ini. Hal ini sesuai dengan kaidah,

الجزاء من جنس العمل

“Balasan itu sesuai dengan amal perbuatan.”

3. Pertanyaannya, apakah mereka ikut dibinasakan bersama orang-orang yang bermaksiat atau ikut terselamatkan bersama orang-orang yang melakukan amar ma'ruf dan nahi mungkar?

4. Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini, sebagai berikut:

(4.1) Pendapat pertama mengatakan bahwa mereka selamat bersama orang-orang yang melakukan amar ma'ruf dan nahi mungkar. Ini pendapat al-Hasan al-Bashri dan Ikrimah. Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Katsir.

Dalil mereka adalah sebagai berikut:

a. Firman-Nya,

لِمَ تَعِظُونَ قَوۡمًا ٱللَّهُ مُهۡلِكُهُمۡ أَوۡ مُعَذِّبُهُمۡ عَذَابࣰا شَدِیدࣰاۖشَدِیدࣰاۖ

“Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazdab mereka dengan azab yang amat keras?” (Qs. al-A’raf: 164)

Ar-Razi menyebutkan bahwa ayat ini menunjukkan kelompok ketiga ini dahulu pernah melakukan amar ma'ruf dan nahi mungkar, tetapi kemudian berhenti karena mereka menganggap orang-orang yang mereka ingatkan tidak akan bergeming dari perbuatan maksiatnya.

b. Firman-Nya,

وَأَخَذۡنَا ٱلَّذِینَ ظَلَمُوا۟ بِعَذَابِۭ بَـِٔیسِۭ

“Dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik.” (Qs. al-A’raf: 165)

Berkata Ibnu Katsir, “Mafhum dari ayat ini bahwa yang masih tersisa (tidak berbuat zhalim, mereka selamat dari siksaan ini.”

(4.2) Pendapat kedua mengatakan bahwa mereka ikut dibinasakan bersama orang-orang yang bermaksiat. Ini pendapat Ibnu Zaid. Alasannya, karena mereka meninggalkan amar ma'ruf dan nahi mungkar.

 

Pelajaran (3) Menjadi Kera yang Hina

 فَلَمَّا عَتَوۡا۟ عَن مَّا نُهُوا۟ عَنۡهُ قُلۡنَا لَهُمۡ كُونُوا۟ قِرَدَةً خَـٰسِـِٔینَ

“Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang dilarang mereka mengerjakannya, Kami katakan kepadanya: "Jadilah kamu kera yang hina.” (Qs. al-A'raf: 166)

(1) Kata (عَتَوۡا۟) artinya tidak peduli dan melawan. Yaitu tidak peduli dengan apa yang dilarang dan sengaja melawan larangan tersebut dengan cara melanggarnya.

Menurut al-Biqa'i artinya sengaja melakukan dosa. Makna aslinya adalah keras, kaku dan bandel.

(2) Kata (كُونُوا۟) “Jadilah kalian” ini bukan perintah untuk melakukan sesuatu, tetapi perintah tentang penciptaan, sama dengan firman Allah,

إنَّما قَوْلُنا لِشَيْءٍ إذا أرَدْناهُ أنْ نَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

“Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: "kun (jadilah)", maka jadilah ia.” (Qs. an-Nahl: 40)

(3) Kata (قِرَدَةً) artinya kera. Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas bahwa pada pagi harinya mereka menjadi kera-kera yang kecil.  Masyarakat sekitarnya bisa melihat mereka dalam keadaan seperti itu selama tiga hari. Kemudian Allah membinasakan mereka.

(4) Kata (خَـٰسِـِٔینَ) artinya:

(a) yang dijauhkan dan terusir.

(b) yang terhinakan.

(5) Berkata al-Qurthubi, “Ayat ini menunjukkan bahwa maksiat menyebabkan datangnya bencana.”

 

***

Karawang, Jum'at, 1 Desember 2023

KARYA TULIS