|
|
|
|
|
Syiah Antara Gerakan Politik dan Aliran Agama |
|
Ditulis Oleh DR. Ahmad Zain An-Najah, M.A
|
|
Sunday, 28 February 2010 |
|
Di dalam makalah ini, penulis tidak akan membicarakan tentang Aqidah Syiah secara rinci dan mendetail, karena selain membutuhkan tulisan panjang, yang dirasa tidak efektif dan kurang efesien dalam forum Seminar yang memberikan waktu yang sangat terbatas, begitu juga pembahasan tentang Syiah sudah ditulis oleh para uilama-ulama dahulu di dalam buku-buku mereka, serta bisa didapati juga pada buku-buku kontemporer dalam berbagai bahasa, disamping itu bisa diakses dari internet. Penulis hanya menyampaikan pandangan secara umum terkaitan dengan bahaya Aqidah Syiah dalam tataran politik dan keyakinan kaum muslimin secara bersamaan. Kenapa bisa dikatakan seperti itu ? Kalau kita mau meneliti, akan kita dapatkan bahwa pembicaraan tentang Syiah sudah dilakukan oleh para ulama terdahulu di dalam buku-buku mereka yang menyatakan bahwa Syiah pada awalnya adalah kelompok-kelompok menyimpang ( firqah ) dalam Islam, seperti halnya Khowarij, Mu’tazilah, Qadariyah, Jabariyah dan lain-lainnya. Yang menarik, bahwa pembicaraan tentang Syi’ah mulai muncul lagi pada masa sekarang, khususnya sejak munculnya Revolusi Iran yang dipimpin oleh Khomeni pada tahun 1979 H, yang pada awalnya disebut-sebut sebagai Revolusi Islam Iran, tetapi ternyata adalah Revolusi Syiah Iran. Banyak dari kalangan Ahlus Sunnah yang terpedaya dengan slogan yang diusung oleh Revolusi ini dengan menyebutkan : لا شرقية لا غربية إسلامية إسلامية لا شيعية لا سنية إسلامية إسلامية Mereka dari kalangan Ahlus Sunnah banyak yang menggantungkan harapan dari Revolusi ini. Tetapi beriring dengan pergantian hari, ternyata terungkap sedikit demi sedikit maksud dan tujuan utama revolusi ini, yaitu menguasai dunia dengan menyebarkan ajaran Syiah Imamiyah. |
|
Selengkapnya...
|
|
|
( Bab VII ) Nasionalisme Membahayakan Aqidah Al Wala’ Dan Al Bara’ |
|
Ditulis Oleh DR. Ahmad Zain An-Najah, M.A
|
|
Sunday, 14 February 2010 |
|
Siapa saja yang membaca al Qur’an dengan tadabbur dan seksama, akan mendapatkan bahwa Al Wala’ dan Al Bara’ ( yang merupakan pengejawantahan dari kalimat tauhid ) adalah masalah yang sangat prinsipil. Ayat-ayat di dalam al-Qur’an, yang menyuruh seorang muslim untuk memberikan loyalitasnya hanya kepada Allah, Rasul, dan orang-orang beriman sangat jelas dan gamblang. Aqidah Al Wala’ dan Al Bara’ ini merupakan inti kekuatan umat Islam. Syeikh Hamad bin Atiq, salah satu tokoh ulama abad 20, pernah menyebutkan urgensi Al Wala’ dan Al Bara’ di dalam kehidupan umat, salah satu tulisannya adalah: “Bahwa tidak ada suatu hukum paling jelas yang disebutkan dalam Al-Qur’an, setelah kewajiban bertauhid dan haramnya syirik kecuali masalah Al Wala’ dan Al Bara’.”[1] Seorang muslim yang berpegang teguh prinsip ini, tak akan goyah sedikitpun menghadapi hantaman yang silih berganti. Rasulullah akan memberikan predikat “keimanan terkuat” bagi yang sanggup mempertahankan prinsip ini, dalam suatu hadits disebutkan: [1] Muhammad Sa’id Al Qohtoni, Al Wala’ wal Bara’, (Dar al- Toyyibah), hal.6 |
|
Selengkapnya...
|
|
|
( Bab VI ) Menjawab Beberapa Kekeliruan |
|
Ditulis Oleh DR. Ahmad Zain An-Najah, M.A
|
|
Monday, 08 February 2010 |
|
Disana ada beberapa kekeliruan dan kesalahpahaman di dalam menyikapi pahama Nasionalisme. Oleh karenanya, dalam bab ini akan dijelaskan kekeliruan-kekeliruan tersebut beserta jawaban –jawabannya agar para pembaca menjadi jelas, dan tidak diselimuti kerancuan di dalam menyikapi paham Nasionalisme ini. Kekeliruan Pertama : Sebagian kaum muslimin berpendapat bahwa faham Nasionalisme termasuk salah satu dari ajaran Islam. Bahkan menurut mereka, paham ini pernah di contohkan oleh Rasulullah saw, pada waktu kedatangan beliau pertama kali ke Madinah, ketika beliau mengadakan perjanjian dengan kaum Yahudi yang tinggal di kota tersebut, yang kemudian perjanjian itu terkenal dengan “Konstitusi Madinah”. Ironisnya lagi, pemahaman-pemahaman yang sering mengaburkan ajaran Islam ini, sering diungkapkan oleh sarjana-sarjana muslim lulusan Barat, seperti Nur Chalis Majid, Dawam Raharjo dan kawan-kawannya.[1] Sebenarnya Konstitusi Madinah yang ditanda tangani oleh Rasulullah saw tersebut, tidak bisa dijadikan dasar untuk melegalisasikan Nasionalisme. Perjanjian antara kaum muslimin dan bangsa Yahudi untuk bekerja sama dalam menjaga keamanan kota Madinah tersebut sangat berbeda dengan gerakan Nasionalisme yang dimotori oleh antek-antek penjajah [1] Syafi’i Anwar, Pemikiran Dan Aksi Islam Di Indonesia, Paramadina, Desember 1995, hal.195 |
|
Selengkapnya...
|
|
| << Awal < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Berikutnya > Akhir >>
| | Hasil 1 - 3 dari 206 | |
|
|
Who's Online |
|
Saat ini ada 1 tamu online |
|
Kontak |
|
Untuk berkomunikasi dengan kami silakan kontak di : 081319063442 |
|
Random Image |
|
Tidak ada gambar |
|
Pengunjung |
| Visits today: |
0 |
| Visits yesterday: |
36 |
| Visits month: |
400 |
| Visits total: |
20144 |
| Max.monthly visits: |
1804 |
| occurred: |
2010-1 |
| Pages this month: |
1173 |
| Pages total: |
56351 |
| Data since: |
2008-07-11 |
|
|
|